Chapter 32
Akan tetapi, pada akhirnya ia menjadi kecewa.
Bangsa Mongol paling mengutamakan menghormati tamu; perbuatan Yung Chi ini justru perbuatan yang memandang enteng, tidak menghargai tuan rumah, sehingga semua serdadu Mongol saling memandang satu dengan lainnya.
Anak-anak Mongol itu juga terdidik menghormati tamu mereka, walaupun masih kecil. Mereka dapat menghargai diri sendiri, dan melihat perbuatan Yung Chi itu, mereka tidak mempedulikannya.
Yung Chi menjadi penasaran.
Ia merogoh sakunya lagi untuk mengambil uang emas lainnya. Ia melemparkannya kembali seraya berseru, "Ayo, anak-anak, ramai-ramai kalian rebut!"
"Ayo rebut, setan-setan cilik!" Mendengar itu, semua orang Mongol berubah air mukanya.
Pada masa itu, bangsa Mongol belum mengenal tulisan, adat kebiasaan mereka masih "kasar". Akan tetapi, mereka biasa menaati adat istiadat, mereka polos dan menjunjung kehormatan, terutama terhadap tamu. Mereka sangat menghormati; dari mulut mereka tidak pernah keluar kata-kata kotor, dan terhadap musuh, atau bahkan saat bergurau, tidak pernah mereka mengutuk atau mencaci.
Apabila ada tamu mendatangi tenda mereka, kenal atau tidak, tamu itu tentu disambut dan dilayani dengan baik.
Sebaliknya, pihak tamu tidak selayaknya berlaku tidak hormat atau memandang enteng.
Jika tamu berbuat tidak mengindahkan kehormatan di antara tuan rumah dan tamu, perbuatan itu dipandang sebagai kejahatan paling besar.
Kwee Ceng bukan orang Mongol. Selama berada bersama ibunya, ia sering mendengar ibunya itu bercerita tentang kejahatan bangsa Kim yang ada di Tiongkok; mereka suka merampas dan memperkosa wanita, menganiaya dan membunuh rakyat jelata, bagaimana bangsa Kim itu telah bersekongkol dengan pengkhianat-pengkhianat Han untuk membinasakan Gak Hui dan lainnya. Maka, sekarang melihat orang Kim itu demikian kurang ajar, ia lantas memungut beberapa keping emas. Ia lari mendekati Yung Chi, lalu menimpuknya seraya berseru, "Siapa sudi mengambil emasmu yang bau!" Yung Chi berkelit, tetapi ada juga uang yang mengenai pipinya. Meski ia tidak merasakan terlalu sakit, ia toh malu bukan main.
Bukankah ia telah dipermalukan di depan orang banyak? Orang Mongol sendiri, dari Temuchin sampai semua bawahannya, merasa puas. "Setan cilik, kau cari mati?" Yung Chi membentak.
Ia mendongkol bukan main.
Biasanya di Tiongkok, sedikit saja ia merasa tidak puas, ia langsung membunuh orang.
Belum pernah ada yang berani menghina dia.
Ia lantas merampas sebatang tombak panjang dari salah satu pengiringnya. Dengan itu ia hendak menimpuk bocah bermarga Kwee itu.
"Tahan, Kakak!" Wanyen Lieh mencegah.
Ia melihat gelagat tidak baik, tetapi tombak sudah melayang.
Ketika Kwee Ceng menghadapi saat ajalnya, tiba-tiba sebatang anak panah menyambar dari pasukan Mongol di sebelah kiri. Tombak itu tepat mengenai sasaran dan jatuh bersama anak panah itu.
Kwee Ceng tertolong, tetapi ia telah bermandikan keringat dingin. Dengan ketakutan, ia mengangkat kaki.
Sebaliknya, tentara Mongol memperdengarkan gemuruh seruan memuji serangan panah itu.
"Kakak, jangan layani dia!" Wanyen Lieh berkata kepada kakaknya.
Yung Chi jeri akan menyaksikan keangkeran tentara Mongolia itu. Akan tetapi, memandang Kwee Ceng, ia tetap panas hatinya, sehingga ia mendelik kepada bocah itu.
"Bocah haram jadah!" ia mencaci dengan perlahan.
Temuchin bersikap tenang. Bersama putra-putranya, ia menyambut kedua tamu itu dengan menyuguhkan koumiss dan daging kambing dan kuda.
Wanyen Yung Chi membacakan firman yang dengannya Temuchin diangkat menjadi Pak-kiang Ciauwtouwsu dari negeri Kim, pangkat turun-temurun, agar ia selamanya menjadi seperti pelindung di utara dari negeri Kim itu.
Temuchin menerima pengangkatannya sambil berlutut. Ia menyambut firman dan pelat emas itu.
Malam itu, bangsa Mongol menjamu tamu-tamunya yang dilayani dengan hormat dan telaten.
Selagi minum, Wanyen Yung Chi berkata, "Besok kami hendak pergi menganugerahkan gelar kepada Wang Khan. Apakah Ciauwtouwsu suka turut pergi bersama?"
Temuchin senang dengan ajakan itu, ia menyatakan bersedia turut.
Wang Khan itu adalah pemimpin dari pelbagai suku di dataran, angkatan perangnya besar dan kuat.
Ia berasal dari suku Kerait, ia pun disebut Togrul Khan.
Ia adalah saudara angkat Yesukai, ayah Temuchin.
Dahulu, ketika Yesukai mati diracuni musuhnya, Temuchin terlunta-lunta dan ia kemudian pergi ke Wang Khan untuk menumpang.
Lalu Wang Khan mengangkatnya menjadi anak pungut.
Kemudian, ketika istri Temuchin dirampas bangsa Merkit, musuhnya, ia dapat merebut pulang istrinya itu dengan bantuan Wang Khan dan adik angkatnya, yaitu Jamukha.
Waktu itu, Temuchin menikah belum lama dan Juji, putranya, masih belum lahir.
Temuchin girang mengetahui ayah angkatnya pun dianugerahi pangkat.
"Siapakah lagi yang dianugerahi negara Kim yang besar?" ia bertanya.
"Tidak ada lagi," jawab Wanyen Yung Chi. Wanyen Lieh segera menambahkan, "Untuk di utara ini, Khan sendiri serta Wang Khan adalah orang-orang gagah perkasa, orang lain tidak ada yang dapat disamakan dengannya."
"Kami di sini masih punya seorang gagah lainnya. Pangeran Keenam mungkin belum pernah mendengarnya," kata Temuchin.
Ia menyebut Wanyen Lieh dengan sebutan "Pangeran Keenam".
"Apakah benar?" Wanyen Lieh berkata dengan cepat.
"Siapakah dia?" "Dialah adik angkatku, Jamukha," jawab Temuchin.
"Dia jujur dan berbudi tinggi, dia pandai memimpin angkatan perang. Aku mohon Pangeran Ketiga dan Pangeran Keenam juga berkenan menganugerahinya suatu pangkat."
Pergaulan Temuchin dengan Jamukha sangat erat. Ketika mereka mengangkat saudara, Temuchin baru berumur sebelas tahun.
Adalah kebiasaan bangsa Mongolia, ketika mengangkat saudara, mereka saling memberi barang tanda mata.
Ketika itu, Jamukha memberikan Temuchin biji *pie-sek* yang terbuat dari tulang binatang, dan Temuchin membalasnya dengan biji *pie-sek* yang terbuat dari tembaga.
*Pie-sek* itu adalah biji yang biasa dipakai orang Mongol untuk menimpuk kelinci, tetapi anak-anak menggunakannya untuk main timpuk-timpukan.
Maka, setelah mengangkat saudara, keduanya bermain timpuk-timpukan di sungai Onon, yang airnya telah membeku menjadi es.
Pada tahun kedua, selagi bermain panah-panahan dengan panah kecil yang terbuat dari kayu, Jamukha menghadiahi Temuchin kepala panah yang terbuat dari tulang mata kerbau, dan Temuchin sebaliknya menghadiahi kepala panah yang terbuat dari *kau pek*.
Lagi sekali mereka mengangkat saudara.
Kemudian, setelah keduanya dewasa, mereka berdua tinggal bersama-sama dengan Wang Khan. Mereka selalu saling menyayangi; setiap pagi mereka berlomba bangun pagi, dan siapa yang menang, ia diberi minum susu dari gelas kumala oleh Wang Khan.
Maka, tidak heran, ketika istri Temuchin dirampas orang, Wang Khan dan Jamukha bekerja sama membantu merebutnya pulang.
Kali ini, Temuchin dan Jamukha saling menghadiahi ban emas dan kuda.
Inilah untuk ketiga kalinya mereka mengangkat saudara.
Sekarang, mereka saling minum arak dari satu cawan. Malamnya, mereka tidur berselimutkan sehelai selimut.
Kemudian, karena masing-masing mencari air dan rumput sendiri serta memimpin barisan sendiri-sendiri, mereka jadi berpencar. Akan tetapi, hubungan mereka masih tetap kekal.
Mengingat saudara angkatnya itu, Temuchin mengajukan usul ini.
Wanyen Yung Chi telah minum hingga separuh mabuk. Tanpa berpikir, ia langsung menjawab, "Bangsa Mongolia berjumlah banyak. Kalau semuanya diberi pangkat, mana mungkin negeri Kim yang besar dapat memiliki demikian banyak pembesar?"
Wanyen Lieh mengedipkan mata kepada kakaknya, tetapi sang kakak tidak mempedulikannya.
Temuchin tidak senang dengan jawaban itu.
"Kalau begitu, tidak apa, serahkan saja pangkatku kepadanya!" ia berkata.
Yung Chi menepuk pahanya, ia berseru, "Apakah kau memandang enteng pangkat yang diberikan Kerajaan Kim yang besar?"
Temuchin tahu diri, ia menutup mulutnya.
Wanyen Lieh pun lantas menyela dengan berbicara sambil tertawa, untuk mengalihkan topik pembicaraan.
Pada hari kedua, pagi harinya Temuchin berangkat dengan mengajak keempat putranya serta lima ribu serdadunya, untuk mengantar Wanyen Yung Chi dan Wanyen Lieh pergi menganugerahkan pangkat kepada Wang Khan.
Matahari telah memancarkan cahaya ketika Temuchin telah berada di atas kudanya dan lima ribu serdadunya telah siap dengan rapi.
Akan tetapi, pada waktu itu, tentara Kim masih tidur nyenyak di kemahnya.
Tadinya Temuchin gentar menyaksikan penampilan gagah tentara Kim itu, dengan seragam dan alat senjata yang mentereng, serta kuda tunggangan yang besar-besar. Tetapi sekarang, menyaksikan mereka yang suka tidur, berulang kali ia mendengus.
Kepada Mukhali, ia bertanya, "Bagaimana pandanganmu terhadap tentara Kim itu?"
"Seribu serdadu kita dapat melawan lima ribu serdadu mereka!" sahut Mukhali.
Temuchin girang sekali dengan jawaban itu.
"Pandanganmu sering cocok dengan pandanganku," ia berkata.
"Katanya, negeri Kim memiliki dua juta serdadu, kita hanya lima ratus ribu." Ketika itu ia menoleh. Ia tampak kudanya Tuli, tetapi Tuli sendiri tidak kelihatan orangnya.
"Mana Tuli?" ia bertanya dengan gusar.
Tuli itu putra keempat, masih kecil. Akan tetapi, dalam hal mendidik anak atau melatih tentara, Temuchin memakai aturan keras, sehingga ia tidak senang tidak melihat anaknya itu.
Semua orang menjadi cemas hatinya.
"Dia biasanya tidak berani bangun sampai siang, nanti aku tengok," kata Boroul, yang menjadi guru Tuli. Ia khawatir pemimpin itu menggusari putranya.
Tetapi baru ia hendak memutar kudanya, di sana kelihatan dua bocah berlari-lari mendatangi sambil berpegangan tangan.
Mereka adalah Tuli bersama Kwee Ceng.
"Ayah!" panggil Tuli ketika ia tiba di depan ayahnya itu.
"Ke mana kau pergi?" tanya Temuchin.
"Barusan aku membuat *anda* bersama Saudara Kwee di tepi sungai," sahut Tuli.
Membuat "*anda*" itu berarti mengangkat saudara.
"*Anda*" itu kata dalam bahasa Mongol.
Sambil mengatakan demikian, Tuli mengulurkan tangannya yang menggenggam sehelai handuk merah yang tersulam bunga-bungaan indah, yaitu handuk buatan Lie Peng untuk putranya.