Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 119

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 119

"Tanganmu sungguh lihai!" Kwee Ceng memuji perlahan.

"Yong-jie, apakah ini Pek-khong-ciang?" "Cuma sebegini pelajaranku," Oey Yong tertawa.

"Ini hanya untuk main-main, tidak bisa digunakan untuk menyerang orang." Sampai di sini, keduanya pun tidur.

Mereka belum puas ketika telinga mereka menangkap suara bagaikan orang meniup terompet kulit keong. Terdengarnya samar-samar dan jauh, kemudian datang suara yang menyambutnya; tandanya terompet itu dibunyikan bukan oleh satu orang.

Suara sambutannya pun terdengar samar-samar.

"Engko Ceng, mari kita lihat," ajak Oey Yong dengan suara perlahan. Ia heran sebab terompet itu seolah saling bersahutan.

"Lebih baik kita jangan keluar, khawatir timbul gara-gara," sahut si pemuda.

"Siapa bilang untuk menimbulkan gara-gara? Aku hanya ingin melihat," jawab si nona bersikeras.

Kwee Ceng terpaksa menurut. Dengan berhati-hati, keduanya membuka jendela untuk mengintip keluar. Di paseban terlihat beberapa orang membawa lentera, beberapa lagi hilir mudik, agaknya mereka sedang repot. Di atas genting pun ada tiga atau empat orang sedang mendekam. Di antara cahaya lentera, terlihat nyata orang-orang tersebut membekali diri dengan senjata tajam.

Tidak lama kemudian, semua orang itu pergi ke luar. Oey Yong penasaran dan ingin mencari tahu, maka ia menarik tangan Kwee Ceng pergi ke jendela sebelah barat. Di luar sana tidak ada orang, keduanya pun melompat keluar. Karena kegesitannya, mereka tidak terlihat oleh orang-orang di atas genting itu.

Dengan memberi tanda lewat tangan, si nona mengajak kawannya berjalan memutar ke belakang. Jalanan di situ berliku-liku dari timur belok ke barat. Herannya, setiap paseban di tikungan memiliki model yang sama. Maka, dalam beberapa belokan saja, tidak dapat dibedakan lagi mana timur, mana barat, mana selatan, maupun mana utara. Tapi si nona lihai; ia maju terus dengan cepat tanpa merasa ragu. Pernah nampaknya di depan tidak ada jalanan, tetapi ia justru menerobos gunung-gunungan.

Kwee Ceng merasa heran saat mereka tiba di sebuah lorong yang terlihat buntu, namun di balik pintu angin ternyata ada sebuah tempat yang tenang dan indah. Ia berkata kepada kawannya, "Yong-jie, rumah ini aneh. Bagaimana cara kau mengenal semua jalanannya?" Oey Yong tidak menjawab, ia memberi tanda dengan tangannya agar si pemuda tutup mulut.

Mereka melalui beberapa tikungan sebelum tiba di tembok belakang. Di situ si nona menekuk-nekuk tangannya dan maju beberapa tindak. Kemudian Kwee Ceng mendengar ia menyebut perlahan: "Cit satu, tun tiga, ie lima, hiu tujuh, kun." Kwee Ceng tidak mengerti, hingga akhirnya si nona berkata sembari tersenyum, "Cuma di sini ada jalan keluar, yang lainnya penuh dengan alat rahasia." Habis berkata, ia melompat naik ke tembok. Kwee Ceng lantas mengikuti.

"Pekarangan ini diatur menurut patkwa," Oey Yong memberi keterangan. "Inilah keahlian ayahku. Liok Chung-cu bisa menyulitkan orang lain, tetapi tidak bagiku!" Ia tampak puas sekali.

Keduanya naik ke tanjakan bukit kecil di belakang. Memandang ke arah timur, mereka melihat sebarisan lentera obor yang menuju ke tepi telaga. Oey Yong memberi tanda, ia lari ke arah timur itu, kawannya mengikuti terus. Lantas mereka bersembunyi di belakang sebuah batu besar untuk mengintai ke tepian. Di sana berbaris perahu-perahu nelayan, dan orang-orang mulai menaiki perahu tersebut. Sejenak saja, semua api dipadamkan.

Oey Yong dan Kwee Ceng menunggu rombongan paling belakang naik. Dalam gelap gulita, mereka keluar dari tempat persembunyian, lari ke sebuah perahu yang paling besar, lalu melompat naik ke gubuk perahu. Tubuh mereka gesit dan enteng, perbuatan itu tidak diketahui siapa pun. Mereka lantas mengintai di sela-sela gubuk. Segera terlihat di dalam perahu duduk si chung-cu muda, Liok Koan Eng.

Semua perahu itu berlayar kira-kira sejauh satu lie, dari tengah telaga terdengar suara terompet. Dari perahu besar itu terlihat seseorang keluar dan meniup terompet sebagai balasan. Perahu terus berlayar. Selang beberapa lie lagi, terlihat di sebelah depan berbaris-baris perahu kecil berjalan bagaikan kawanan semut atau titik-titik di atas kertas putih, entah berapa jumlahnya.

Tukang terompet di perahu besar meniup pula terompetnya tiga kali, lantas perahu-perahu kecil segera datang menghampiri dari berbagai penjuru. Oey Yong dan Kwee Ceng heran bukan main. Agaknya bakal ada pertempuran, tetapi Koan Eng tetap tenang, tidak seperti sedang menghadapi musuh besar.

Lekas sekali semua perahu sudah datang mendekat. Dari setiap perahu melompat pindah satu, dua, atau tiga empat orang. Mereka memberi hormat kepada Koan Eng, terus duduk dengan rapi dan tetap menunjukkan sikap menghormat. Tempat duduknya tampak sudah diatur, sebab ada yang datang duluan duduk di belakang atau tengah, ada yang datang belakangan justru duduk di kursi kepala. Sebentar saja, semua sudah duduk. Mereka kelihatan keren, bukan seperti nelayan.

"Thio Toako, apa kabarmu?" tanya Liok Koan Eng seraya mengangkat tangannya, memecahkan kesunyian setelah semua orang duduk rapi.

Seorang pria kurus bangkit dan menyahut, "Perutusan negara Kim itu sudah mengatur sejak pagi akan melewati telaga, dan Toan Cie-hui akan tiba lagi dua jam lagi. Dengan alasan menyambut perutusan itu, di sepanjang jalan Cie-hui itu sudah memeras harta benda. Ini pun sebabnya dia datang terlambat."

"Berapa banyak hasilnya itu?"

"Setiap kota ada bingkisannya. Serdadu-serdadunya pun merampas di perkampungan. Aku lihat, waktu turun ke perahu, pengikutnya menurunkan dua puluh peti lebih yang semuanya tampak sangat berat."

"Berapa banyak tentaranya itu?" Koan Eng bertanya lagi.

"Dua ribu serdadu berkuda. Yang naik perahu semuanya adalah serdadu berjalan kaki. Karena perahu tidak banyak, yang ketinggalan ada sekitar seribu jiwa."

"Saudara semua, bagaimana pendapat kalian?" Koan Eng bertanya kepada hadirin.

"Kami menanti titah siauw chung-cu!" jawab mereka serempak.

Koan Eng lantas bersidakep tangan, lalu berkata, "Semua itu keringat darah rakyat, semuanya harta tidak halal. Karena mereka lewat di sini, kalau kita tidak ambil, kita menentang wet Tuhan! Mari kita ambil semuanya, nanti separuhnya kita amalkan kepada rakyat jelata, dan separuhnya kita bagi rata antara semua markas!"

"Bagus!" semua hadirin setuju.

Baru sekarang Oey Yong dan Kwee Ceng mengetahui bahwa semua orang itu adalah kepala-kepala perampok dan Koan Eng rupanya adalah pemimpin umumnya!

"Kita tidak dapat beralih lagi, mari segera kita turun tangan!" seru Koan Eng. "Thio Toako, tolong bawa lima buah perahu untuk melakukan penyelidikan di depan!" Si orang kurus menerima titah itu dan berlalu paling dulu.

Setelah itu, Koan Eng mengatur barisannya; siapa yang jadi pelopor, siapa penyambut atau pembantu, siapa yang mesti jadi "siluman air" untuk menyelam dan memahat perahu-perahu musuh, dan siapa yang mesti menjadi tukang angkut harta. Bahkan ditetapkan siapa yang harus membekuk si kepala pasukan musuh. Dia kelihatan lemah, tetapi pengaturannya sangat rapi. Maka dari itu, Kwee Ceng dan Oey Yong bertambah kagum.

Disaat orang hendak mulai berangkat, seorang hadirin bangkit dan berkata dengan suara dingin, "Kita yang bekerja tanpa modal ini, sudah cukup kalau kita makan dari kaum pedagang kaya raya. Tetapi dengan menempur pembesar dan tentara negeri, apa selanjutnya kita masih bisa berdiam di telaga ini?"

Kwee Ceng dan Oey Yong mengawasi orang itu, yang suaranya mereka rasa kenali. Tidak usah memandang lama, mereka segera mengenali orang ini ialah Toat-pek-pian Ma Ceng Hiong, salah satu dari keempat Hong Ho Su Koay, Empat Iblis dari Sungai Hong Ho, murid dari See Thong Thian. Maka heran mereka, kenapa iblis itu menyusup di antara kawanan dari Thay Ouw itu.

Wajah Liok Koan Eng menjadi merah padam. Belum lagi ia membuka suara, sudah ada dua tiga orang yang menegur Ceng Hiong.

"Ma Toako baru datang, tidak heran kau tidak mengetahui aturan kami di sini," kata Koan Eng mencoba bersikap sabar. "Bagi kami, sekali semua orang sudah mengambil keputusan, kami mesti bekerja. Biarpun kami semua ludes, kami tidak menyesal!"

"Baiklah!" kata Ceng Hiong. "Kalian lakukan usahamu, aku tidak dapat mencampuri air keruh kalian!" Ia terus memutar tubuh, berniat berlalu.

Dua orang berbadan besar melintang di mulut perahu. "Ma Toako!" kata mereka keras. "Kau sudah bersumpah memotong kepala ayam! Sumpah kita adalah, rezeki sama dicicipi, bencana sama diderita!"

Ma Ceng Hiong tidak menggubris cegahan itu. "Minggir!" ia membentak sambil mengebas kedua tangannya. Sebagai kesudahannya, dua orang tinggi besar itu roboh terpelanting.

Saat iblis ini hendak bertindak, ia merasakan sambaran angin pada punggungnya. Segera ia berkelit ke samping, tangan kirinya mencabut semacam pusut yang digunakannya untuk membalas menyerang dengan tikaman. Penyerang yang gesit itu adalah Liok Koan Eng.

Ia menangkis, kakinya dimajukan, dan tangan kanannya menyerang terus. Maka "Duk!" punggung Ceng Hiong kena terhajar hingga ia menjerit keras, memuntahkan darah, dan tubuhnya roboh binasa seketika.

"Bagus!" seru semua hadirin, di antara mereka ada yang menyambar tubuh Ceng Hiong untuk digayor ke tengah telaga.

"Semua saudara, berebutlah maju!" Koan Eng menyerukan tanpa menghiraukan lagi apa yang baru saja ia lakukan. Semua orang menyahuti, lantas mereka kembali ke perahu masing-masing.

Sebentar kemudian, semua kendaraan air itu sudah menuju ke timur. Perahu besar Koan Eng mengiringi dari belakang. Tidak lama terlihatlah jauh di sebelah depan beberapa puluh buah perahu besar yang apinya terang-terangan sedang menuju ke barat. Di antara perahu kecil lantas terdengar suara terompet keong.

Kwee Ceng dan Oey Yong memasang mata. Mereka tidak usah menanti lama sebelum kedua pihak perahu datang mendekat satu sama lain. Lantas terdengar suara bentakan-bentakan disusul dengan beradunya senjata atau tubuh yang kecemplung ke muka air. Selang tidak lama, di pihak perahu tentara terlihat api berkobar, hingga seluruh telaga menjadi merah marong.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment