Chapter 172
Di tengah-tengah pengempang, terdapat sebuah jalan yang memotong untuk tiba di tepi seberang sehingga pengempang itu terbelah menjadi dua. Oey Yok Su berjalan di jalan tersebut, memimpin orang banyak menuju sebuah rumah yang tampak terawat rapi. Tiang-tiangnya terbuat dari batang pohon cemara yang masih memiliki kulit kayu sehingga tampak alami. Di sekelilingnya, pohon-pohon rotan merambat dengan lebat. Walaupun saat itu musim panas, semua orang merasakan kesejukan di dalam rumah tersebut.
Oey Yok Su mempersilakan keempat tamunya masuk ke ruang kerja. Pelayan yang bisu segera menyuguhkan teh berwarna hijau. Saat diminum, teh tersebut terasa dingin seperti salju dan meresap hingga ke ulu hati. Ang Cit Kong tertawa dan berkata, "Orang bilang, sesudah tiga tahun menjadi pengemis, berpangkat pun dia tak sudi. Namun, Saudara Yok, jikalau aku dapat tinggal tiga tahun di duniamu yang sejuk dan nyaman ini, menjadi pengemis pun aku tak sudi!"
"Saudara Cit," sahut Oey Yok Su, "jikalau benar kau sudi tinggal bersamaku di sini untuk sementara waktu agar kita dapat minum arak dan berbincang, itu adalah hal yang sangat aku harapkan." Ang Cit Kong merasa tersentuh mendengar kesungguhan suara orang itu.
Namun, Auwyang Hong segera menyela, "Kalian berdua, jikalau tidak berkelahi, pastilah dalam waktu kurang dari dua bulan kalian sudah berhasil menciptakan semacam ilmu pedang yang sangat hebat!"
"Ha, apakah kau iri?" tanya Ang Cit Kong sambil tertawa.
"Aku bicara apa adanya!" jawab Auwyang Hong.
Ang Cit Kong kembali tertawa. "Itu pun kata-katamu yang di hati lain, di mulut lain!" ujarnya.
Dua orang ini tidak bermusuhan secara terbuka, tetapi mereka saling mendendam, terutama Auwyang Hong yang licik dan penuh tipu daya. Ang Cit Kong adalah orang yang polos dan terus terang, sedangkan See Tok (Si Bisa dari Barat) selalu menyimpan maksud tertentu. Sebelum Ang Cit Kong mati di tangannya, ia tidak akan merasa puas. Namun, karena kelicikannya, wajahnya tidak memperlihatkan kecurigaan apa pun. Kali ini pun, apa pun yang dikatakan Cit Kong, ia hanya tertawa menanggapinya.
Oey Yok Su menekan suatu bagian di mejanya. Tiba-tiba, terlihat di tembok sebelah barat sebuah lukisan pemandangan gunung dan air yang bergerak naik sendiri, memperlihatkan sebuah pintu rahasia. Ia mengulurkan tangan ke dalam pintu itu dan menarik keluar segulung kertas. Setelah mengusap-usapnya, ia memandang Auwyang Kongcu seraya berkata, "Inilah peta lengkap Pulau Tho Hoa. Di pulau ini terdapat jalan rahasia dan jalan yang disusun mengikuti jurus *patkwa*. Semua tercatat dalam peta ini. Ambillah dan pelajarilah dengan saksama."
Mendengar itu, pemuda tersebut merasa kecewa. Ia berharap dapat tinggal lebih lama di Pulau Tho Hoa, namun ternyata hanya diberi sehelai peta. Meski merasa gagal, ia menjura untuk menerima peta tersebut.
Oey Yok Su tidak langsung menyerahkannya. "Tunggu dulu!" katanya. Auwyang Kongcu tertegun dan menarik kembali tangannya.
"Setelah mendapatkan peta ini," lanjut Oey Yok Su, "kau harus pergi ke Lim-an dan mencari penginapan atau kelenteng untuk menumpang. Dalam tiga bulan, aku akan memerintahkan seseorang untuk mengambilnya kembali. Peta ini harus diingat di dalam hati; aku melarangmu membuat salinannya!"
Di dalam hati, si pemuda berkata, "Kau tidak mengizinkanku tinggal di pulaumu, siapa yang sudi memedulikan ilmu sesatmu itu? Bagaimana dalam tiga bulan aku bisa menjaga kitabmu? Jika terjadi kerusakan atau kehilangan, siapa yang bertanggung jawab? Lebih baik aku tidak mengerjakannya!" Ia hampir menolak, namun tiba-tiba pikiran lain muncul di otaknya, "Dia bilang hendak memerintah orang untuk mengambilnya, tentu saja ia akan mengutus gadisnya. Ini adalah kesempatan baik untuk berada di dekat sang nona."
Maka, ia mengubah pikirannya dan menerima peta tersebut, lalu menyimpannya ke dalam saku. Auwyang Hong segera mengangkat tangan untuk berpamitan. Oey Yok Su tidak menahan lagi, bahkan mengantar mereka hingga ke muka pintu.
"Saudara Berbisa," kata Ang Cit Kong, "akhir tahun nanti kembali tiba saatnya perundingan ilmu pedang di Gunung Hoa San. Maka, jagalah dirimu baik-baik supaya nanti kita dapat bertempur secara hebat!"
Auwyang Hong menjawab dengan nada tawar, "Menurutku, lebih baik kita tidak usah saling berebut lagi. Sekarang ini sudah ada ketentuannya siapa orang yang ilmu silatnya paling lihai di kolong langit!"
"Eh, sudah ada orangnya?" tanya Ang Cit Kong heran. "Mungkinkah kau, Saudara Beracun, sudah berhasil menciptakan ilmu silat baru yang tak ada bandingannya?"
Auwyang Hong tersenyum. "Apa sih kehebatan Auwyang Hong hingga bisa menyandang gelar nomor satu di kolong langit? Yang aku maksudkan ialah orang yang telah memberi pelajaran kepada Kwee Sieheng ini."
Mendengar itu, Ang Cit Kong tertawa. "Apakah maksudmu aku si pengemis tua? Kalau benar, aku harus memikirkannya dulu. Kepandaian Saudara Yok bertambah setiap hari, kau sendiri pun makin gagah, sedang Toan Hongya itu aku percaya dia tidak akan menyia-nyiakan kepandaiannya. Jadi, rasanya tinggallah aku si pengemis yang tertinggal."
"Tetapi, Saudara Cit," kata Auwyang Hong, "di antara orang-orang yang pernah memberi pelajaran kepada Kwee Sieheng, belum pasti kaulah yang paling lihai."
"Apa!" tegas Ang Cit Kong. Sebelum ia sempat berbicara lebih lanjut, Oey Yok Su memotong, "Ah, apakah kau maksudkan Loo Boan Tong, si Bocah Bangkotan yang nakal?"
"Benar!" sahut See Tok cepat. "Karena Loo Boan Tong sudah menguasai ilmu *Kiu Im Cin-keng*, maka kita—si Tong Shia, See Tok, Lam Tee, dan Pak Kay—bukan lagi tandingannya!"
"Hal itu belum tentu," kata Tong Shia. "Kitab itu mati, ilmu silat itu hidup!"
See Tok merasa senang mendengar perkataan tuan rumah. Sebelumnya ia tidak puas ketika Tong Shia mencoba mengalihkan pertanyaan kepada Kwee Ceng tentang di mana keberadaan Ciu Pek Thong. Sekarang soal Ciu Pek Thong muncul kembali. Karena ia pandai bersandiwara, ia tidak menunjukkan apa pun di wajahnya, bahkan dengan tawar ia berkata, "Ilmu silat *Coan Cin Pay* sangat lihai. Kita semua pernah mempelajarinya. Maka, kalau Loo Boan Tong ditambah dengan *Kiu Im Cin-keng*, seumpama Ong Tiong Yang hidup lagi, belum tentu ia sanggup menandingi adik seperguruannya ini, apalagi kita si tua bangka ini!"
"Mungkin Loo Boan Tong lebih lihai dariku, tetapi tidak akan lebih lihai darimu, Saudara Hong," kata Oey Yok Su tanpa mau menyebut julukan "Saudara Beracun". "Hal ini aku tahu pasti."
"Jangan kau merendah, Saudara Yok," sahut See Tok. "Kita berdua itu setara. Kalau kau berkata begitu, teranglah ilmu silat Ciu Pek Thong tidak dapat melampauimu! Aku justru khawatir..." Ia berhenti dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Oey Yok Su tersenyum. "Lihat saja di Hoa San nanti! Di sana Saudara Hong akan mengetahuinya sendiri!"
Auwyang Hong menatap dengan roman wajah yang serius. "Saudara Yok, aku telah lama mengagumi ilmu silatmu, akan tetapi jikalau kau bilang bisa mengalahkan Ciu Pek Thong, sungguh aku ragu. Janganlah kau memandang enteng si tua bangka berandalan itu!"
Bagaimanapun, Oey Yok Su terpancing panas hatinya oleh See Tok. "Kau tahu, Loo Boan Tong berada di Pulau Tho Hoa ini!" katanya nyaring. "Sudah lima belas tahun aku mengurungnya!"
Mendengar itu, baik Auwyang Hong maupun Ang Cit Kong terperanjat. Namun, si Bisa dari Barat itu segera tertawa terbahak-bahak. "Saudara Yok gemar sekali bergurau," katanya.
"Mari!" kata Oey Yok Su yang tidak sudi berbicara lebih banyak lagi. Ia menunjuk ke depan dan berjalan dengan langkah yang cepat, seolah-olah terbang melintasi rimba bambu. Ang Cit Kong mengikuti sambil menuntun Kwee Ceng di satu tangan dan Oey Yong di tangan lainnya. Auwyang Hong pun menarik tangan keponakannya. Mereka semua menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Hanya dalam sekejap, mereka sampai di depan gua tempat Ciu Pek Thong dikurung. Namun, setibanya di sana, Oey Yok Su terkejut melihat kawat-kawat kurungan di depan gua telah rusak. Dengan satu lompatan, ia sampai di depan gua yang sunyi itu, namun tidak tampak bayangan si bocah bangkotan tersebut.
Saat Oey Yok Su menginjak tanah dengan kaki kirinya, ia terperanjat karena merasa kakinya menginjak sesuatu yang lembek. Ia segera melompat masuk ke dalam gua dengan ilmu meringankan tubuhnya. Kini ia melihat dengan jelas bahwa gua itu kosong. Namun, kakinya kembali menginjak tanah yang terasa lembek. Tidak mungkin ia berpijak di sana, maka ia segera mengeluarkan serulingnya untuk menekan tembok gua, sehingga tubuhnya melesat keluar.
Ang Cit Kong dan Auwyang Hong bersorak memuji keindahan ilmu meringankan tubuh dari si Sesat dari Timur tersebut. Namun, saat Oey Yok Su mendarat di luar gua, kakinya mengeluarkan suara karena terperosok ke dalam sebuah lubang.