Chapter 14
Orang buta itu matanya tidak awas, tetapi pendengarannya luar biasa jeli. Tidak peduli orang berbisik dari jarak jauh, ia dapat mendengarnya. Maka dengan itu ia berseru kepada saudara-saudaranya.
"Saudara-saudara, ada yang mentraktir kita. Maka makan dan minumlah dengan puas!" Mahasiswa itu menoleh kepada Wanyen Lieh, matanya menyapu, lalu ia mengangguk-angguk. Akan tetapi, sembari tertawa, ia bertanya pula, "Mana wanita baik-baik yang kau perdayakan?" Wanyen Lieh sudah memutuskan untuk tidak menimbulkan kerewelan. Ia lantas berpaling ke arah lain, berpura-pura tidak mendengar pertanyaan itu.
Walaupun demikian, hatinya tetap bekerja.
Di situ ada sembilan buah meja. Sekarang baru datang tujuh orang. Dari itu, masih ada dua meja yang kosong.
"Siapa lagi dua tamu itu? Bukankah tujuh orang itu yang akan menjadi tuan rumah?" Sampai waktu itu, hidangan masih belum disajikan, baru arak yang dikeluarkan. Maka tujuh orang itu hanya meneguk air kata-kata.
Tengah putra raja ini berpikir, ia mendengar datangnya suara memuji dari bawah loteng: "Amitabha Buddha!" Suara itu sangat jernih dan tegas, nyata terdengar hingga ke atas loteng.
"Nah, Ciauw Bok Taysu tiba!" seru si buta yang terus bangkit. Perbuatan itu diikuti oleh enam kawannya. Dengan sikap menghormati, mereka berdiri untuk menyambut orang yang baru tiba itu, yang baru suaranya terdengar.
"Amitabha Buddha!" kembali terdengar pujian, dan sekarang itu disusul dengan munculnya satu tubuh kurus kering bagaikan pohon mati, tetapi yang gerakannya cepat pesat seolah ia tidak menginjak lantai.
Wanyen Lieh melihat seorang pendeta berusia empat puluh lebih, yang berkemeja jubah kase merah dengan lapisan dalam jubah kuning, sedang tangannya memegang sepotong kayu, yang ujungnya telah hitam bekas terbakar.
Ia tidak tahu apa faedahnya puntung kayu itu.
Pendeta itu dan tujuh saudara tersebut saling memberi hormat dan saling menegur. Habis itu, si mahasiswa melarat pun memimpin tamunya ke sebuah meja kosong untuk dipersilakan duduk.
Si hweshio menjura, ia berkata, "Orang itu telah datang menyatroni. Siauwceng merasa bahwa siauwceng bukanlah tandingannya, maka itu siauwceng bersyukur yang lihat-wie telah sudi membantu. Budi yang besar ini, walaupun tubuhku hancur lebur, tak dapat siauwceng membalasnya." Pendeta itu ialah Ciauw Bok Taysu, merendahkan diri. Ia menyebutkan dirinya "siauwceng", si pendeta yang kecil dan rendah.
"Harap kau tidak sungkan, Ciauw Bok Taysu," kata si buta. "Kami tujuh bersaudara pun berterima kasih kepadamu yang biasa melimpahkan kebaikan terhadap kami. Tentang orang itu, dia memang sangat agung kepandaiannya, tanpa sebab tanpa alasan, dia mencari gara-gara terhadap Taysu. Dengan perbuatannya itu, mana dia pandang mata lagi kaum Rimba Persilatan di Kanglam ini? Karena kesombongannya itu, meskipun dia tidak memusuhi kau, Taysu, kami bersaudara pasti tidak mau diam saja?"
Belum lagi habis suaranya si buta ini, di tangga loteng telah terdengar suara yang sangat berat dan nyaring, seperti ada sesuatu yang mendaki. Mungkin itu bukan suara gajah, tetapi setidaknya kerbau.
Menyusul itu pun lantas terdengar suara kaget dari kuasa ciulauw serta jongosnya: "Benda begitu berat mana dapat dibawa naik ke atas! Eh, lantai loteng nanti kena bikin bobol! Lekas, lekas cegah dia, jangan kasih dia naik!"
Suara berat itu tapinya terdengar terus, disusul dengan patahnya sehelai papan undakan tangga, kemudian disusul dengan mengerekeknya dua helai papan undakan lainnya.
Bagaikan orang yang matanya kabur, Wanyen Lieh segera melihat munculnya seorang tojin, seorang imam yang tangannya menyangga sebuah jambangan perunggu yang besar sekali, yang mana dibawa naik ke loteng sambil imam itu berlompat, hingga dengan begitu "rupanya" tak usah ia bertindak lagi di undakan tangga.
Dan untuk kagetnya putra raja Kim ini, ia kenali si imam adalah Tiang Cun Chu Khu Cie Kee atau Tiang Cun Cinjin!
Wanyen Lieh ini mendapat tugas dari ayahnya menjadi utusan bangsa Kim ke Tiongkok, kepada kerajaan Song. Ia pun bercita-cita besar sekali, maka itu ia sudah lantas berhubungan dengan menterinya kerajaan Song untuk dijadikan si menteri serta konco-konconya sebagai alat untuk menyambut dari dalam bila sudah waktunya ia turun tangan.
Utusan Song yang datang dari Yankhia menemaninya sepanjang jalan, Ong To Kian, karena keserakahannya sudah terima sogokan besar dan berjanji suka bekerja sama, utusannya ini telah rela akan menakluk dan menjadi hambanya kerajaan Kim. Dan menteri yang bekerja sama dengan Wanyen Lieh adalah Perdana Menteri Han To Cu.
Girang sekali ini putra raja Kim melihat ikhtiarnya telah berjalan baik sekali.
Hanya kemudian ia menjadi sangat kaget akan mendapatkan Ong To Kian mati terbunuh secara gelap, kepalanya hilang berikut hati dan jantungnya.
Han To Cu juga kaget dan ketakutan karenanya. Ia khawatir sekali rahasianya nanti bocor. Oleh karena ini, untuk menjaga diri, ia turun tangan terlebih dahulu. Ingin ia merubuhkan menteri atau panglima yang paling keras kepala hendak melawan negara Kim. Yang pertama ia ingin singkirkan adalah Sien Kee Ci, Kepala dari Cip-eng-thian dan pengurus Ciong-yu-koan. Sebenarnya menteri ini tidak berkuasa atas pemerintahan, ia hanya pandai silat dan surat-menyurat, dan kesetiaannya terhadap negara adalah luar biasa. Ia sangat mengharap dapat membangun pula kerajaan Song hingga menjadi jaya seperti semula, sedang rakyat umumnya mengandalkan padanya.
Kalau Han To Cu menganggap paling baik mengirim orang untuk membunuh menteri itu, adalah Wanyen Lieh menghendaki menawan terlebih dulu pembunuh Ong To Kian, guna mengorek informasi darinya, kalau mendapat tahu siapa yang menitahkan dia melakukan pembunuhan yang hebat itu.
Wanyen Lieh tahu, tidak dapat ia mengandalkan saja kepada pihak Song, dari itu ia tugaskan enam atau tujuh pengawal pribadinya dari Lim-an. Rombongan ini dapat menyergap Khu Cie Kee di Gu-kee-cun, hanya apa lacur mereka menghadapi musuh yang terlalu tangguh untuk mereka.
Wanyen Lieh sendiri belum sampai turun tangan atau pundaknya telah terkena panah. Hampir ia tak dapat lolos seperti orang-orangnya. Syukur ia ditolong oleh Pauw Sek Yok. Ia lari ke istananya Han To Cu untuk bersembunyi sambil berobat.
Sementara itu, ia lantas tak dapat melupakan Pauw-sie, yang ia anggap cantik dan manis, meskipun sebagai putra raja, ia telah melihat banyak wanita elok.
Setelah sembuh dari lukanya, ia perintahkan orang untuk selidiki tentang Pauw-sie itu. Sesudah itu, ia minta Han To Cu mengirim orang untuk menawan Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian, sedang ia sendiri menyamar sebagai orang baik-baik sebagai penolong nyonya yang ia sukai itu.
Pauw-sie tidak tahu akal muslihat orang. Ia menyangka pemuda itu bermaksud baik, suka ia mengikuti, maka di luar pengetahuannya sendiri, ia telah jatuh ke dalam genggaman putra raja Kim itu.
Demikian Wanyen Lieh, bukan main kagetnya ia akan melihat Khu Cie Kee, sampai ia tak dapat menguasai dirinya lagi. Tanpa merasa, ia membuatnya terlepas dan jatuh sepasang sumpit yang ia pegang. Syukur untuknya, Khu Cie Kee tidak mengenalinya, sebab tempo ia diserang dengan panah, ia belum terlihat nyata. Ia sudah lantas jatuh terguling, dan sekarang, imam itu lagi menghadapi Ciauw Bok Taysu serta tujuh orang luar biasa itu, ia tidak memperhatikan putra raja itu.
Lega juga hatinya Wanyen Lieh apabila selang sekian lama ia mendapatkan imam itu tidak memperhatikan padanya. Pikirnya, orang itu telah tidak mengenalinya.
Hanya di lain pihak, ia terkejut bukan main apabila ia sudah kenali jambangan perunggu yang dibawa-bawa si imam itu. Itu bukan jambangan biasa, hanya tempat pembakaran kertas emas di kuil, yang beratnya tiga atau empat ratus kati, yang sekarang diisikan penuh dengan arak, hingga beratnya bertambah, melainkan di tangan si imam, nampaknya enteng sekali. Imam ini seolah tidak menggunakan tenaga.
Akan tetapi, setiap kali si imam bertindak, tentu lantai loteng terdengar suara meletik nyaring, suatu bukti dari beratnya jambangan itu, sedang di bawah loteng, orang ribut ketakutan dan berlarian keluar ke jalan besar, tak terkecuali si kuasa restoran, jongos-jongos, dan koki-koki. Semua mereka itu khawatir loteng ambruk dan mereka nanti tertimpa.
"Benar-benar toheng telah dapat mencari siauwceng hingga ke mari!" terdengar suaranya Ciauw Bok Taysu, keras tetapi dingin. "Sekarang mari siauwceng perkenalkan dahulu kau dengan Kanglam Cit Koay!"
Khu Cie Kee menjura membungkuk tubuh. "Barusan pintu berkunjung ke kuil Taysu," ia berkata. "Di sana ada pesan untukku, katanya Taysu mengundang pintu datang ke Cui Sian Lauw ini untuk membuat pertemuan. Dengan lantas pintu memikir-mikir, mungkin Taysu mengundang sahabat-sahabat. Buktinya benarlah dugaan pintu itu. Sudah lama pintu dengar nama besar dari Kanglam Cit Koay, sekarang kita dapat bertemu, sungguh pintu merasa sangat beruntung! Nyatalah pengharapanku seumur hidup telah kesampaian."
Ciauw Bok Taysu tidak menjawab si imam, hanya berpaling kepada tujuh kawannya yang ia sebutkan Kanglam Cit Koay itu, "Tujuh Manusia Aneh dari Kanglam," dan menunjuk kepada si imam, ia memperkenalkan, "Ini dia Totiang Tiang Cun Cu Khu Cie Kee yang tuan-tuan telah lama kagumi nama besarnya!"
Kemudian tanpa menunggu sesuatu dari Kanglam Cit Koay itu, seraya menunjuk si buta, ia melanjutkan, "Inilah tertua dari Cit Koay, yaitu Hui Thian Pian-hok Kwa Tin Ok. Dan ini ialah..." Lalu dengan terus-terusan ia memperkenalkan enam orang lainnya. Selama mana, selama ia menyebutkan setiap nama, Khu Cie Kee menjura kepada orang-orang yang diperkenalkan itu.
Selagi orang diajar kenal, Wanyen Lieh memasang kuping dan matanya, ia mengerahkan otaknya akan mengingat baik-baik nama Kanglam Cit Koay itu. Selain Kwa Tin Ok yang berjuluk Hui Thian Pian-hok, si Kelelawar Terbangkan Langit, yang kedua ialah si mahasiswa melarat yang mencuri atau mencopet uangnya adalah Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong, Mahasiswa Tangan Lihai.