Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 13

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 13

Di pinggang orang itu terselip sebuah kapak pendek yang bentuknya mirip kapak biasa, namun matanya sudah sedikit gompal.

Baru saja kedua orang itu duduk, dari tangga loteng kembali terdengar suara langkah kaki yang gaduh dari dua orang lainnya.

"Bagus, Ngoko, Liokko, kalian datang bersamaan!" sambut si nona nelayan.

Di antara kedua orang ini, yang berjalan di depan bertubuh tinggi dan kekar. Tubuhnya dibalut sejenis kain yang tampak berminyak. Karena bajunya tidak dikancingkan, terlihat dadanya yang berbulu lebat. Karena ia menggulung lengan bajunya tinggi-tinggi, terlihat pula lengannya yang berbulu hitam seperti dadanya. Melihat perawakannya, ia tampak seperti seorang jagal atau penyembelih hewan, hanya saja di tangannya tidak terlihat golok lancip.

Orang yang berjalan di belakangnya berperawakan sedang. Kepalanya ditutupi kopiah kecil dan kulit wajahnya putih. Tangannya memegang dacin atau timbangan serta sebuah keranjang bambu, sehingga ia tampak seperti seorang pedagang kecil. Mereka masing-masing mengambil tempat di sebuah meja.

"Heran!" gumam Wanyen Lieh dalam hati. "Tiga orang pertama tadi sepertinya berilmu tinggi, tetapi mengapa kedua orang yang tampak seperti rakyat jelata ini juga dipanggil saudara?"

Saat putra pangeran Jin itu sedang termenung, dari bawah loteng terdengar suara ringkikan kuda yang disusul jeritan kesakitan dua orang. Si pedagang kecil lantas tertawa.

"Shako, ada lagi orang yang hendak mencuri kuda Thui-hong-mamu!" katanya.

Si cebol pun tertawa. "Itu namanya menanggung akibat dari perbuatan sendiri!" sahutnya.

Wanyen Lieh segera melongok ke bawah loteng. Tampak dua orang sedang mengerang kesakitan sambil bergulingan di tanah. Pengurus restoran Cui Sian Lauw tertawa dan berkata kepada kedua orang malang itu, "Kalian bajingan dari luar kota, apakah kalian tidak pernah mendengar nama Han Sam-ya? Bagus, ini namanya membenturkan kepala ke batu! Ayo, lekas naik ke loteng untuk minta ampun!"

Di bawah loteng, orang-orang juga berbisik. Salah satunya berkata, "Kuda Han Sam-ya lebih cerdik daripada manusia. Dua tendangan kakinya cukup untuk melumpuhkan kedua pencuri ini." Sementara yang lain menimpali, "Mereka datang ke sini untuk mencuri, sungguh mereka sudah bosan hidup!"

"Rupanya mereka hendak mencuri kuda lalu terkena tendangan kuda," pikir Wanyen Lieh.

Kedua pencuri kuda itu mencoba merangkak bangun sambil terus mengerang kesakitan. Tiba-tiba, suara mereka bersahutan dengan bunyi dentingan besi yang beradu dengan batu di jalanan. Semua orang memandang ke arah datangnya suara tersebut.

Di tikungan jalan besar muncul seorang pincang berpakaian rombeng. Tangan kirinya memegang sepotong tongkat besi yang sesekali dipukulkan ke batu jalanan. Ternyata ia juga buta. Sungguh malang, ia cacat pada kaki sekaligus mata, sehingga harus menggunakan tongkat besi untuk mencari jalan sekaligus menopang diri. Di bahu kanannya, ia memikul sejenis senjata berburu yang ujungnya digantungi seekor macan tutul. Ia berjalan dengan langkah yang tertatih-tatih.

Wanyen Lieh semakin heran. "Belum pernah aku mendengar orang buta dan pincang pandai berburu, bahkan bisa membunuh seekor harimau?" pikirnya.

Si pincang buta ini rupanya mendengar pembicaraan orang banyak. "Bagian tubuh mana yang terkena tendangan kuda?" tanyanya dengan suara parau.

"Tempurung lutut kiri," sahut salah satu pencuri kuda itu.

"Hm!" Si buta mendengarkan suara itu, lalu dengan tiba-tiba ia menotok pinggang si pencuri. Orang itu berteriak kesakitan dan mencoba menghindar, namun sudah terlambat. Karena kesakitan, ia membuka mulutnya lebar-lebar. "Hei pengemis bangsat, kau juga hendak bermain-main denganku!" teriaknya sambil mengulurkan tangan untuk memukul.

Jika tadi si pencuri merasa kakinya sakit hingga tak dapat digerakkan, sekarang rasa sakit itu tiba-tiba lenyap. Ia pun berdiri terpaku saat mendekati si buta. Namun karena ia cukup cerdik, tangan yang sudah diangkat tinggi segera diturunkan kembali, lalu ia memberi hormat dengan menjura.

"Terima kasih, Tuan orang sakti," katanya. "Saya bodoh. Atas kekasaran saya tadi, saya mohon maaf." Ia segera berpaling kepada kawannya. "Saudara, mari lekas, mintalah bantuan Tuan ini untuk mengobatimu!"

Sambil meringis, pencuri kedua mendekat dengan susah payah. "Tuan, binatang itu menendang dadaku," katanya dengan suara lemah.

Si buta memindahkan tongkatnya ke tangan kanan, lalu dengan tangan kirinya ia mengusap dada si pencuri dan mendadak menggelitik ketiaknya. Pencuri itu kegelian hingga tertawa cekikikan. Tiba-tiba ia merasa perutnya mual, lalu ia muntah beberapa kali mengeluarkan lendir. Bersamaan dengan itu, rasa sakit di dadanya lenyap. Ia segera menjatuhkan diri dan bersujud berulang kali hingga keningnya membentur batu. "Oh, Tuan yang sakti, sungguh luar biasa!"

Si buta tidak memedulikan mereka. Ia terus berjalan memasuki restoran dan mendaki tangga loteng.

"Sungguh hari ini aku sangat beruntung!" kata Wanyen Lieh dalam hati. "Di luar dugaan, aku bisa bertemu dengan orang-orang berilmu tinggi."

Sesampainya di atas loteng, si buta melemparkan macan tutulnya ke lantai. "Pelayan, cepat urus macan ini!" perintahnya. "Rebus tulangnya menjadi kuah yang kental! Hati-hati jangan sampai kulitnya rusak!"

Seorang pelayan menyanggupi, lalu bersama dua kawannya mereka menggotong macan tutul itu pergi. Namun si buta menunjuk ke arah Wanyen Lieh dan berkata pada pelayan, "Potong dagingnya kira-kira dua kati, suguhkan kepada Tuan itu agar dia bisa mencicipi rasanya."

Wanyen Lieh terkejut. "Bagaimana dia bisa tahu aku ada di sini? Apakah dia tidak benar-benar buta?" pikirnya.

Saat itu, semua orang yang telah datang terlebih dahulu segera bangkit berdiri. "Kakak Besar!" seru mereka.

Nona nelayan berjalan ke meja nomor satu di sebelah timur dan menepuk-nepuk kursi di sampingnya. "Kakak Besar, di sini kursimu!"

"Baik," sahut si buta.

"Apakah Adik Kedua belum sampai?"

"Dia sudah tiba di sini, sebentar lagi pasti sampai," sahut orang yang perawakannya seperti jagal tadi.

Sambil berbicara, si buta berjalan menuju meja dan duduk di kursi yang ditunjukkan oleh si nona nelayan. Melihat hal itu, Wanyen Lieh menyadari bahwa si buta memang benar-benar tidak dapat melihat; ia membutuhkan suara untuk mengetahui arah tujuannya.

Putra pangeran Jin itu segera memutuskan untuk menjalin perkenalan dengan orang-orang aneh ini. Ia pun bangkit dari kursinya. Namun tepat saat ia hendak menghampiri si buta untuk berterima kasih atas pemberian daging macan tadi, terdengar langkah kaki bersepatu kulit di tangga loteng. Langkah itu terdengar seperti setengah diseret. Karena heran, ia berbalik untuk melihat.

Yang pertama muncul adalah sehelai kipas kertas minyak dengan gagang yang dekil. Kipas itu dikibaskan beberapa kali, disusul munculnya kepala seorang pria yang digoyang-goyangkan. Ia tampak seperti seorang sarjana miskin. Wanyen Lieh segera mengenali orang itu sebagai pria yang ia temui saat ia kehilangan uangnya tadi.

"Mungkin dialah yang mencuri uangku?" terka Wanyen Lieh. Hatinya mulai panas.

Tiba-tiba, sarjana itu menatap ke arahnya dengan senyum menggoda sebelum akhirnya menyapa semua orang yang ada di sana. Ternyata dialah yang dimaksud sebagai "Adik Kedua".

"Mereka semua sangat tangguh, bertikai dengan mereka tidak akan membawa keuntungan," pikir Wanyen Lieh. Ia pun memilih diam dan mengamati keadaan.

Si sarjana segera meneguk araknya lalu menggoyang-goyangkan kepalanya sambil bersenandung tentang uang yang tidak halal. Ia merogoh sakunya berulang kali, dan setiap kali menarik tangan keluar, jari-jarinya menjepit potongan uang perak hingga jumlahnya belasan keping.

Amarah Wanyen Lieh meluap karena ia mengenali uang itu sebagai miliknya yang hilang. Namun ia berusaha menahan diri karena merasa heran luar biasa. "Dia hanya menepuk pundakku dengan kipasnya, bagaimana bisa dia mencuri uangku? Sungguh kepandaian yang luar biasa!"

Nona nelayan tertawa terbahak-bahak melihat uang sebanyak itu. "Kakak Kedua, hari ini kau beruntung! Entah siapa yang sedang tertimpa sial," serunya.

Si sarjana miskin itu pun tertawa. "Adik Ketujuh, kau tahu aku punya kebiasaan tertentu terkait orang-orang Jin, bukan?"

"Oh, aku tahu!" sahut si nona.

Sarjana itu mengipasi uang di depannya tanpa henti. "Uang orang asing memang agak berbau, tapi tetap bisa digunakan!" katanya.

Mendengar itu, kawan-kawannya tertawa terbahak-bahak. Wanyen Lieh sangat heran. "Aku menyamar sebagai orang Han dengan sangat rapi, bagaimana bisa dia mengenaliku?" tanyanya dalam hati.

Lantas, ia memberi isyarat kepada pelayan dan berbisik, "Jamuan tuan-tuan ini, akulah yang membayar." Ia kemudian mengeluarkan dua keping emas dan meletakkannya di atas meja. "Bawa ini kepada pengurusmu untuk dititipkan sebagai jaminan!" pungkasnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment