Chapter 163
Apabila seseorang terkena gigitan ularnya, ia akan merasakan kegatalan luar biasa dan dalam waktu singkat akan mati. Tidak ada pertolongan lagi, sekalipun Auwyang Hong sendiri berubah pikiran dan hendak mengampuninya.
Oey Yong menyebut ular itu karena ia menduga, sebab kedua binatang tersebut tidak seperti binatang lainnya. Tidak disangka, tebakannya tepat mengenai pantangan See Tok, si Racun dari Barat itu.
"Terhadap pertanyaan kau, Gakhu Tayjin, mana aku berani berdusta?" jawab Auwyang Kongcu. Ia merasa terdesak oleh si nona sehingga tidak berani menyangkal.
"Cis!" seru Oey Yong. "Jika kau berani berbohong, aku akan menampar telingamu beberapa kali! Sekarang dengar pertanyaanku! Kita pernah bertemu di istana Chao Wang di Pak-khia, benar atau tidak?"
Auwyang Kongcu hanya mengangguk. Ia tidak berani membuka suara karena hajaran Kwee Ceng membuatnya merasakan nyeri yang hebat. Jika ia membuka mulut, rasa sakitnya akan semakin menjadi-jadi. Selain itu, ia memang sedang merasa pusing dan berkeringat dingin. Dengan diam, ia berusaha menahan napas dan menguatkan diri.
Oey Yong bertanya lagi, "Ketika itu kau bersama See Thong Thian, Pheng Lian Hauw, Nio Cu Ong, dan Leng Tie Siangjin, kalian mengepung aku seorang diri. Benar atau tidak?"
Auwyang Kongcu berniat menyangkal bahwa ia bekerja sama dengan rombongan See Thong Thian atau sengaja mengepung si nona. Namun, ketika ia memaksa bicara, dadanya terasa sangat sakit. Ia hanya mampu berucap, "Aku... aku tidak bekerja sama dengan mereka."
"Baiklah, aku tidak memerlukan jawaban dengan mulutmu!" ujar Oey Yong. "Jika aku bertanya, cukup anggukkan atau gelengkan kepalamu. Sekarang dengar pertanyaanku: See Thong Thian bersama-sama Pheng Lian Hauw, Nio Cu Ong, dan Leng Tie Siangjin memusuhiku. Benar tidak?"
Auwyang Kongcu mengangguk. Ia menuruti perkataan tersebut dan tidak berani membuka mulut.
"Mereka hendak menangkapku tetapi tidak berhasil," lanjut Oey Yong. "Kemudian kau muncul. Benar tidak?"
Itulah hal yang sebenarnya, maka Auwyang Kongcu mengangguk.
"Ketika itu aku berada di ruang besar istana Chao Wang. Aku sendirian, tidak ada seorang pun yang membantuku. Keadaanku sungguh menyedihkan. Ayahku pun tidak mengetahui bahaya yang mengancamku, ia tidak dapat menolongku. Benar tidak?"
Auwyang Kongcu mengangguk dengan terpaksa. Ia tahu pertanyaan si nona yang membawa-bawa nama ayahnya itu bertujuan untuk memancing kemarahan Oey Yok Su.
Setelah mendapatkan jawaban itu, Oey Yong menarik tangan ayahnya dengan manja. "Ayah, lihatlah," katanya. "Kau sedikit pun tidak menyayangi anakmu. Jika Ibu masih hidup, tidak mungkin ia membiarkanku diperlakukan seperti ini."
Mendengar penyebutan nama istrinya yang sangat dicintai, hati Oey Yok Su merasa pilu. Ia mengulurkan tangan kirinya untuk merangkul putrinya.
Auwyang Hong yang sangat cerdas dan licin melihat suasana tidak menguntungkan baginya. Sebelum Oey Yong bertanya kembali, ia segera menyela, "Nona Oey, begitu banyak orang Rimba Persilatan kenamaan ingin menangkapmu, tetapi karena ilmu silat keluargamu yang hebat, mereka tidak dapat berbuat apa-apa, bukan?"
Oey Yong tertawa dan mengangguk. Oey Yok Su pun tersenyum karena senang ilmu silatnya dipuji.
Auwyang Hong berpaling kepada tuan rumah, "Saudara Yok, keponakanku telah melihat putrimu demikian lihai, ia sangat jatuh hati. Inilah sebabnya mengapa kami datang kemari dengan menempuh perjalanan ribuan li untuk meminangnya."
Oey Yok Su tertawa. "Ya, sudahlah!" katanya.
Auwyang Hong menoleh kepada Ang Cit Kong, "Saudara Cit, kami paman dan keponakan mengagumi orang-orang Tho Hoa To. Mengapa kau sebaliknya? Mengapa kau selalu membela bocah-bocah ini? Coba jika keponakanku tidak panjang umur, pastilah ia sudah mati terkena hujan jarum emas yang menjadi kepandaianmu itu."
Auwyang Hong berusaha mengungkit peristiwa ketika Ang Cit Kong menolong Auwyang Kongcu dari serbuan jarum rahasia Oey Yong, meski See Tok telah memutarbalikkan fakta. Namun, Ang Cit Kong adalah orang yang polos dan sabar. Ia tidak ambil pusing dengan perkataan orang, bahkan tertawa lebar sambil menenggak arak dari botolnya.
Kwee Ceng yang jujur dan benci kedustaan tidak tinggal diam. "Sebenarnya Cit Kong yang menolong keponakanmu itu, mengapa sekarang kau bicara seperti ini!" tegurnya.
Oey Yok Su membentak, "Kita sedang bicara, bagaimana bocah sepertimu berani menyela?"
Kwee Ceng merasa penasaran, lalu berkata dengan nyaring kepada Oey Yong, "Yong-jie, beberkanlah urusan Auwyang Kongcu yang merampas Nona Thia agar ayahmu tahu!"
Oey Yong tidak menuruti permintaan itu karena ia mengenal tabiat ayahnya yang dijuluki Tong Shia, si Sesat dari Timur. Terkadang ayahnya membenarkan apa yang tidak benar dan sebaliknya. Ada kemungkinan perbuatan busuk Auwyang Kongcu dianggap remeh. Maka, ia menggunakan siasat lain.
Ia berpaling kembali kepada Auwyang Kongcu, "Bicaraku belum habis! Dulu di istana Chao Wang, kau mengadu kepandaian denganku. Kau sengaja melipat tangan ke belakang dan bilang bahwa tanpa menggunakan tangan, kau bisa mengalahkanku. Benar bukan?"
Auwyang Kongcu mengangguk.
"Kemudian aku mengangkat Ang Cit Kong menjadi guruku," lanjut Oey Yong. "Lalu di Poo-eng, kita mengadu silat untuk kedua kalinya. Saat itu kau bilang aku boleh menggunakan ilmu warisan ayahku atau Ang Cit Kong, sementara kau hanya akan menggunakan satu jenis ilmu pamanmu untuk mengalahkanku."
Auwyang Kongcu membatin, "Semuanya itu ditetapkan olehmu sendiri, bukan aku."
Melihat keraguan itu, Oey Yong mendesak, "Bukankah hari itu kita telah menetapkannya demikian sebelum bertempur?"
Mau tidak mau, Auwyang Kongcu mengangguk.
"Ayah, lihatlah!" ujar Oey Yong kepada ayahnya. "Dia tidak menghargai Cit Kong, dia juga tidak menghormatimu! Dia ingin bilang bahwa Cit Kong dan Ayah kalah jauh dengan pamannya. Bukankah itu berarti meski Cit Kong dan Ayah mengepung pamannya, dia tetap tidak bisa dikalahkan? Tapi aku tidak percaya!"
"Ah, budak cilik, jangan memainkan lidahmu!" sahut Oey Yok Su. "Di antara kaum persilatan di kolong langit, siapa yang tidak mengenal kehebatan Tong Shia, See Tok, Lam Tee, dan Pak Kay?"
Meski berkata demikian, di dalam hati ia mulai merasa tidak puas terhadap Auwyang Kongcu dan ingin agar pembicaraan itu dihentikan. Ia menoleh kepada Ang Cit Kong, "Saudara Cit, ada urusan apakah kau datang berkunjung ke Tho Hoa To?"
"Aku datang untuk memohon sesuatu darimu," sahut Cit Kong singkat.
Oey Yok Su tahu bahwa Cit Kong adalah orang yang jenaka namun jujur dan benci kejahatan, sehingga ia menghormati sang raja pengemis. Ia juga tahu bahwa Cit Kong biasanya menyelesaikan urusan sendiri bersama murid-murid Kay Pang dan tidak pernah meminta bantuan orang lain. Karena sekarang Cit Kong meminta tolong, ia merasa sangat senang.
"Persahabatan kita sudah terjalin puluhan tahun. Saudara Cit, jika ada titah darimu, mana mungkin aku berani menolaknya?"
"Ah, jangan terlalu cepat menerima permohonanku," ujar Cit Kong. "Aku khawatir permohonan ini sulit dilakukan."
Oey Yok Su tertawa, "Jika urusannya gampang, tidak mungkin kau sampai meminta bantuanku!"
Cit Kong tertawa sambil bertepuk tangan, "Benar! Kau memang saudara sejati! Jadi, kau pasti menerima?"
"Sepatah kataku adalah kepastian!" sahut Oey Yok Su mantap. "Lompat ke api, terjun ke air, aku akan lakukan!"
Mendengar itu, Auwyang Hong melintangkan tongkat ularnya. "Saudara Yok, tunggu dulu! Perlu kita tanyakan dulu urusan apa itu."
Ang Cit Kong tertawa, "Racun tua bangka, urusan ini tidak ada sangkut pautnya denganmu, jangan ikut campur! Lebih baik kau siapkan perut kosongmu untuk menenggak arak kegirangan nanti!"
Auwyang Hong heran, "Minum arak kegirangan?"
"Tidak salah! Minum arak kegirangan!" tegas Cit Kong. Ia menunjuk Kwee Ceng dan Oey Yong bergantian. "Mereka berdua adalah muridku. Aku sudah berjanji kepada mereka untuk memohon kepada Saudara Yok agar mereka dibiarkan menikah. Sekarang, Saudara Yok sudah menerimanya!"
Kwee Ceng dan Oey Yong terperanjat bahagia dan saling berpandangan. Sebaliknya, Auwyang Hong, keponakannya, dan Oey Yok Su menjadi sangat terkejut.
"Saudara Cit, kau keliru!" ujar Auwyang Hong cepat. "Putri Saudara Yok sudah dijodohkan dengan keponakanku, dan hari ini aku datang ke Tho Hoa To untuk menetapkannya."
"Saudara Yok, benarkah itu?" tanya Cit Kong.
"Benar," jawab Oey Yok Su.
"Aku minta, Saudara Cit jangan berkelakar denganku!" Cit Kong menunjukkan roman wajah yang sangat serius.