Chapter 63
"Kau mempunyai urusan penting, jagalah supaya jangan terganggu oleh urusan sampingan."
"Umpama benar mereka main gila, Kanglam Cit Koay tidak akan melepaskan mereka!" kata Han Po Kie. Dia tetap menyebut diri Cit Koay meskipun sudah belasan tahun semenjak meninggalnya Thio A Seng, hingga sekarang mereka tinggal berenam (Liok Koay). Itulah tandanya ia tidak bisa melupakan saudara angkatnya itu.
Habis bersantap, Kwee Ceng lantas memberi hormat kepada keenam gurunya untuk mengucapkan selamat jalan. Liok Koay merasa lega melepas muridnya yang terlihat sudah dapat diandalkan dalam menghadapi Hong Ho Su Koay. Memang perlu murid ini melakukan perjalanan sendiri, sebab pengalaman tidak dapat diajari; hal itu mesti diperoleh sendiri.
Mereka memberikan pesan, paling terakhir pesan Hie Jin yang singkat saja: "Jikalau tidak unggul, menyingkir!" Pesan ini diberikan sebab ia melihat saat melayani Empat Siluman dari Hong Ho, muridnya ini ngotot hingga membahayakan diri sendiri.
"Memang," kata Coan Kim Hoat, "ilmu silat tidak ada batasnya. Di luar gunung ada gunung lainnya yang lebih tinggi, di sebelah orang ada lagi orang lain yang lebih pandai. Biarpun kau sangat lihai, tidak dapat kau menjadi yang terhebat di kolong langit. Maka, ingatlah pesan gurumu yang keempat ini."
Kwee Ceng mengangguk. Ia berpamitan kepada enam gurunya, lantas menuju ke selatan. Belum ada dua li, ia sudah menghadapi jalan bercabang dua. Ia menuruti pesan Tin Ok, lantas mengambil jalan kecil. Jalanan ini lebih jauh, sebab kecil dan berliku-liku; di sini sangat sedikit orang berlalu lintas. Jalanan pun sukar, banyak kerikil dan pasirnya, serta ada pepohonan kecil yang liar. Untungnya, ia menunggang kuda dan kudanya pun dapat lari pesat.
Sekira tujuh atau delapan li, Kwee Ceng tiba di jalanan pegunungan yang sulit dan berbahaya; jalanan sempit dan banyak batu besarnya. Mau tidak mau, ia berlaku hati-hati. Ia pun meraba gagang pedangnya. "Kalau sam-suhu melihat sikapku ini, dia pasti akan mendamprat aku," pikirnya.
Selagi berjalan terus, di sebuah tikungan, Kwee Ceng terkejut. Di depan ada tiga nona dengan pakaian serba putih, ketiganya duduk di atas punggung unta. Mereka melintang di tengah jalan. Dari jauh, ia menahan kudanya; hatinya pun tercekat. "Tumpang jalan!" serunya nyaring.
Ketiga nona itu tertawa tergelak. "Adik kecil, takut apa?" kata salah satu di antaranya. "Lewat saja! Kami pun tidak akan mengganggu padamu!"
Kwee Ceng jengah, mukanya terasa panas. Ia bimbang, apakah harus bicara dulu atau menerjang saja. "Kudamu bagus, mari kasih aku lihat!" kata nona yang lain dengan nada bicara kepada anak kecil. Tentu saja Kwee Ceng tidak puas diperlakukan demikian. Ia mengawasi jalanan yang sempit itu; di tempat begitu, ia tidak dapat bertempur dengan mereka.
Maka, ia lantas mengambil keputusan. Ia menarik les kudanya dan menjepit dengan kedua kakinya. Dengan cara ini, ia membuat kudanya kaget untuk lari tiba-tiba, seolah hendak menerjang ketiga orang itu. "Awas! Buka jalan!" serunya seraya menghunus pedang. Pesat lari kudanya, sebentar saja ia sudah dekat.
Satu nona melompat turun dari untanya, ia maju seraya mengulurkan tangan untuk menyambar les kuda dan menahannya. Tapi Kwee Ceng membentak, kudanya meringkik, terus melompat tinggi melewati ketiga nona itu. Ketiga nona itu terkejut, Kwee Ceng sendiri pun demikian, heran atas lihainya kuda itu.
Belum sempat ia menoleh ke belakang, ia sudah mendengar bentakan ketiga nona itu. Tepat waktu ia menoleh, ia melihat dua benda berkilauan menyambarnya. Ia ingin berhati-hati karena khawatir senjata rahasia itu beracun, ia menyambutnya dengan kopiah yang ia lepas dengan cepat.
"Bagus!" puji kedua nona.
Kwee Ceng memeriksa kopiahnya. Ternyata dua senjata rahasia itu adalah gin-so, yaitu torak terbuat dari perak yang indah, ujungnya tajam, begitu pula kedua pinggirannya. "Kamu tega hendak mengambil jiwaku," pikir si anak muda dengan mendongkol. "Bukankah kita tidak kenal satu sama lain dan tidak bermusuhan?" Tapi ia tidak mau membalas; tak sudi ia melayani, gin-so itu ia masukkan ke dalam sakunya. Ia hanya dapat melihat, gin-so bertabur emas yang berbentuk unta-unta kecil.
Sampai di situ, pemuda ini melarikan pula kudanya. Ia tidak menaruh perhatian ketika mendengar dua ekor burung dara terbang lewat di atas kepalanya dari utara ke selatan. Ia hanya khawatir nanti ada yang mencegat lagi. Tidak sampai satu jam, ia sudah melalui seratus li lebih. Ia singgah sebentar, terus berjalan lagi. Sebelum sore, ia sudah tiba di Kalgan. Ia percaya ketiga nona tadi tidak akan dapat menyusulnya, sebab ia menduga jarak kedua pihak sudah sejauh perjalanan tiga hari.
Kalgan adalah kota hidup untuk perhubungan antara selatan dan utara; penduduknya padat, perdagangannya ramai. Di situ terutama terdapat banyak kulit dan bulu binatang yang datang dari berbagai tempat. Di sini Kwee Ceng turun dari kudanya, ia berjalan seraya menuntun binatang itu, matanya menoleh ke kiri dan ke kanan. Belum pernah ia melihat kota seramai ini.
Kebetulan tiba di depan restoran, ia merasa lapar. Maka ia menambatkan kudanya di luar, lalu masuk ke dalam untuk memilih tempat duduk. Ia memesan sepiring daging kerbau dan dua kati mi. Seorang diri ia makan dengan bernafsu. Ia tidak memakai sumpit, melainkan mengikuti kebiasaan orang Mongolia dengan memakai tangannya.
Tengah bersantap, ia mendengar suara kerisik di luar rumah makan. Ia lantas ingat kepada kudanya, ia melompat bangun untuk melongok keluar. Ia mendapatkan kudanya sedang makan rumput dengan tenang. Yang membuat banyak ribut adalah dua jongos terhadap satu pemuda yang bertubuh kurus dan berpakaian butut. Pemuda itu berumur lima belas atau enam belas tahun, kepalanya ditutup dengan kopiah kulit yang sudah pecah dan hitam dekil, mukanya pun hitam kusam hingga tidak terlihat tegas wajahnya. Di utara, sekalipun di musim semi, hawa udara dingin, dan pemuda ini tidak memakai sepatu. Teranglah ia seorang melarat.
Di tangannya, ia mencekal sepotong bakpao. Ia mengawasi kedua jongos dengan tertawa, hingga terlihat dua baris giginya yang putih rata; gigi yang bagus itu tidak sebanding dengan dandannya yang compang-camping.
"Mau apa lagi!" tegur satu jongos. "Kenapa kau tidak mau lantas pergi!"
"Baiklah, pergi ya pergi," kata pemuda itu seraya memutar tubuhnya.
"Eh, lepas bakpao itu!" perintah jongos yang satunya.
Pemuda itu meletakkan bakpao itu yang tapinya sekarang tertanda tapak tangan, hitam dan kotor. Tentu saja kue itu tak laku dijual. Jongos itu menjadi gusar. Ser! Kepalannya melayang. Pemuda itu menunduk, kepalan itu lewat di atas kepalanya.
Kwee Ceng menjadi kasihan; ia tahu orang itu tentu sudah lapar. "Jangan!" cegah Kwee Ceng kepada si jongos. "Aku yang membayar uangnya."
Ia menjumput bakpao itu, lalu menyodorkannya kepada si pemuda. Pemuda itu menyambutnya. "Makhluk yang harus dikasihani, ini aku bagi kau!" katanya, lalu melemparkan bakpao itu kepada seekor anjing kurus di depan pintu. Anjing kecil itu menubruk dengan kegirangan, terus melahap bakpao tersebut.
"Sayang-sayang," kata satu jongos, "bakpao yang lezat dikasih ke anjing."
Kwee Ceng pun heran, tetapi ia diam saja. Ia kembali ke mejanya untuk melanjutkan bersantap. Pemuda itu mengikuti ke dalam. Ia mengawasi anak muda kita, Kwee Ceng, melihat kelakuan orang itu, ia menjadi malu hati.
"Mari makan bersama!" undang Kwee Ceng.
"Baik!" tertawa pula pemuda itu. "Aku sendirian tidak gembira, aku memang lagi mencari kawan."
Ia bicara dengan logat Selatan. Kwee Ceng mengerti ucapan orang itu. Bukankah ibunya berasal dari Lim-an, Cek-kang, dan ia biasa mendengar ibunya bicara? Ia malah girang mendengar lagu suara orang sekampung. Pemuda itu menghampiri untuk duduk bersama. Kwee Ceng meneriaki jongos, meminta tambahan makanan. Jongos itu melayani dengan ogah-ogahan sebab melihat pakaian orang yang butut dan kotor itu.
"Apakah kau sangka aku melarat dan jadinya tak pantas aku makan barang makananmu?" si pemuda menegur jongos itu. "Aku khawatir, meski kau menyuguhkan makananmu yang paling jempol, bagiku itu rasanya masih kurang cocok," lanjutnya lagi.
"Apa!" sahut jongos itu tawar. "Coba lojinkee menyebutkannya, pasti kami dapat membuatnya! Hanya aku khawatir, habis kau makan, kau tidak punya uang untuk membayarnya!" Dengan sengaja ia menyebut "lojinkee" atau orang tua yang dihormati, untuk menyindir.
Pemuda itu mengawasi Kwee Ceng. "Tidak peduli aku makan berapa banyak, maukah kau yang mentraktir?" tanyanya.
"Pasti!" sahut Kwee Ceng tanpa berpikir lagi. Ia menoleh kepada si jongos, akan memerintahkan, "Potongkan aku sekati daging kerbau serta setengah kati hati daging kambing!" Ia telah hidup terlalu lama di Mongolia hingga tahunya makanan yang paling lezat di kolong langit ini adalah daging kerbau dan kambing.
Ia menoleh pula kepada si anak muda, "Kita minum arak atau tidak?" tanyanya.
"Kita jangan repot makan daging, baik kita makan buah-buahan dulu!" menyahut si anak muda. Ia lantas berkata pada jongos, "Eh, kawan, lebih dulu kau sediakan empat rupa buah kering dan empat rupa buah segar, dua yang asam manis, dua yang manis bermadu."
Jongos itu heran hingga ia terperanjat. Ia tidak menyangka orang itu bicara demikian takabur. "Toaya menghendaki buah apa yang segar bermadu?" tanyanya dengan suara tawar.
"Rumah makanmu ini rumah makan kecil dan tempatmu ini tempat melarat, pasti tidak dapat kamu menyediakan barang bagus," kata si anak muda. "Sekarang begini saja! Empat rupa buah kering itu ialah leci, lengkeng, co, dan ginheng. Buah yang segar yaitu kau cari yang baru dipetik; yang asam aku ingin buah ento harum dan kiang-sie-bwee. Entah di sini ada yang jual atau tidak. Yang manis bermadu? Ialah jeruk tiauwkie, anggur hiangyoh, buah tho-tong-song-tiauw, dan buah lay-hauw-long-kun."
Mendengar itu, jongos itu menjadi melongo.