Chapter 176
Oey Yok Su tidak menjawab. Ia hanya memandang Kwee Ceng dan bertanya dengan bengis, "Bagian bawah dari *Kiu Im Cin-keng* itu, bukankah kau yang memberikannya kepada Ciu Pek Thong?"
"Ada sehelai barang yang aku berikan pada Ciu Toako, tetapi aku tidak tahu barang apa itu," sahut Kwee Ceng.
"Jikalau aku tahu..." Bagaikan orang yang tidak tahu tata krama serta tidak mengenal berat dan ringannya urusan, Ciu Pek Thong memotong kata-kata adik angkatnya itu. Kegemarannya bergurau memang luar biasa. "Kenapa kau bilang tidak tahu?" serunya. "Bukankah kau telah merampasnya dari Bwee Tiauw Hong dengan tanganmu sendiri? Syukur Oey Yok Su si tua bangka itu tidak mengetahuinya! Mestinya kau pun telah berkata bahwa kau paham kitab itu, sehingga di kolong langit ini tidak ada tandinganmu!"
Kwee Ceng kaget bukan main. "Toako!" serunya. "Kapan aku pernah mengatakan demikian?"
Ciu Pek Thong mendelik. "Memangnya kau telah mengatakan demikian!" ia memastikan.
Kwee Ceng membaca *Kiu Im Cin-keng* tanpa mengetahui bahwa itu adalah kitab ajaib, hal yang memang sulit dipercaya orang. Maka, saat Ciu Pek Thong membeberkannya, Oey Yok Su menjadi kalap. Ia tidak ingat lagi apakah si tua bangka berandalan itu sedang bergurau atau tidak; ia justru menganggap orang itu telah melepaskan sikap kekanak-kanakannya dan sedang berbicara dengan sungguh-sungguh.
Ia lantas memberi hormat kepada Pek Thong, Ang Cit Kong, dan Auwyang Hong. "Silakan!" katanya. Setelah itu, dengan menarik tangan Oey Yong, ia memutar tubuh untuk segera pergi. Oey Yong hendak berbicara dengan Kwee Ceng, namun baru saja ia memanggil, "Engko Ceng!", ayahnya sudah menariknya beberapa tombak jauhnya dan membawa gadis itu masuk ke dalam rimba.
Ciu Pek Thong tertawa terbahak-bahak, tapi mendadak ia merasakan dadanya sakit dan berhenti tiba-tiba. Ia hanya berhenti sebentar, lalu tertawa lagi. "Oey Lao Shia telah kena aku tipu! Aku bergurau, dia mengira itu benar-benar terjadi!"
Ang Cit Kong menjadi heran. "Jadi, benar tadinya Ceng-jie tidak mengetahui perihal kitab itu?" tegasnya.
"Memang ia tidak tahu!" Pek Thong tertawa. "Dia hanya mengira itu latihan napas saja. Jikalau dia mengetahuinya lebih dulu, mana dia sudi belajar padaku? Adikku, kau sekarang telah ingat baik-baik isi kitab itu, bukan? Kau tidak akan melupakannya lagi?"
Setelah berkata demikian, Pek Thong tertawa lagi, tetapi segera berjengkit kesakitan dengan wajah menyeringai. Lucunya, sembari berjalan, ia terus tertawa meski menahan sakit.
"Ah, Loo Boan Tong!" Ang Cit Kong membanting kakinya. "Bagaimana kau masih bergurau saja! Nanti aku bicara dengan Saudara Yok!" Ia berlari ke dalam rimba ke arah tadi Oey Yok Su berlalu bersama putrinya. Namun, begitu memasukinya, ia kehilangan jejak ayah dan anak itu. Ia melihat jalan melintang tidak karuan hingga tak tahu harus mengambil arah mana. Semua bujang gagu pun telah bubar setelah berlalunya majikan mereka. Terpaksa, Ang Cit Kong kembali.
Mendadak ia ingat Auwyang Kongcu memiliki peta Tho Hoa. "Auwyang Sieheng," katanya lantas. "Aku minta sudi kiranya kau meminjamkan petamu sebentar."
Pemuda itu menggeleng. "Tanpa perkenan dari Oey Peehu, *siauwtit* tidak berani meminjamkannya kepada orang lain," tolak Auwyang Kongcu. "Harap Ang Peehu memaafkan aku."
"Hm!" Cit Kong mendengus dingin. Lalu ia berkata dalam hatinya, "Benar-benar aku bodoh! Mengapa aku hendak meminjam peta dari bocah ini? Dia justru sangat menginginkan agar Oey Lao Shia membenci muridku!"
Ketika itu, dari dalam rimba muncul serombongan orang berseragam putih yang diantar oleh seorang bujang gagu. Itulah tiga puluh dua pelayan penari milik Auwyang Hong. Mereka segera memberi hormat seraya menekuk lutut kepada Auwyang Hong, "Oey Laoya menitahkan kami agar turut *looya* pulang."
Tanpa memandang lagi kepada mereka, Auwyang Hong memberi tanda agar mereka naik perahu. Kemudian, ia menoleh kepada Ang Cit Kong dan Ciu Pek Thong seraya berkata, "Perahu Saudara Yok itu mungkin memang memiliki rahasia, maka legakanlah hatimu. Nanti perahuku akan mengikutinya dari belakang; jikalau ada perlu, aku akan memberikan bantuan."
"Siapa yang sudi kau berbuat baik kepadaku?" bentak Ciu Pek Thong gusar. "Aku justru hendak mencoba-coba ada keanehan apa pada perahu Oey Lao Shia ini! Jikalau kau mengikuti kita, lalu tidak ada bahaya atau bencana, bukankah itu tidak ada artinya?"
Auwyang Hong tidak marah, ia bahkan tertawa. "Baiklah! Sampai kita bertemu lagi!" Ia memberi hormat, lalu naik ke perahunya.
Kwee Ceng sendiri mengawasi dengan nanar jalan yang dilalui Oey Yong tadi.
"Adikku, mari kita naik perahu!" ajak Ciu Pek Thong sambil tertawa. "Hendak aku melihatnya, apakah perahu ini bisa membuat kita bertiga mampus?" Lalu, dengan sebelah tangan menarik Ang Cit Kong dan tangan lainnya menarik adik angkatnya, ia melangkah turun ke perahu yang besar dan indah itu.
Di sana terdapat delapan bujang gagu yang menanti untuk melayani mereka. Semuanya membungkam. Melihat mereka, Ciu Pek Thong tertawa lagi. "Mungkin kalau suatu hari Oey Lao Shia kumat tabiatnya, dia juga bakal menggunting lidah putrinya! Kalau itu sampai terjadi, barulah aku percaya dia memiliki kepandaian hebat."
Kwee Ceng menggigil mendengar itu. Memang hebat jika Oey Yok Su benar-benar nekat memotong lidah anaknya karena gusar.
"Apakah kau takut?" tanya Pek Thong sambil tertawa terbahak-bahak. Tanpa menunggu jawaban, ia memberi tanda kepada para bujang gagu itu untuk menjalankan perahu. Mereka berlayar mengikuti angin selatan.
"Sekarang mari kita periksa ada apa yang aneh di dasar perahu ini!" ajak Cit Kong. Pek Thong dan Kwee Ceng menurut, lalu mereka mulai bekerja. Mereka memeriksa mulai dari depan, ke tengah, terus ke belakang. Semuanya dicat mengkilap. Makanan pun lengkap: ada beras, daging, dan sayuran. Sama sekali tidak ada bagian yang mencurigakan.
Ciu Pek Thong menjadi sangat dongkol. "Oey Lao Shia menipu!" teriaknya sengit. "Dia bilang perahu ini berbahaya, toh bahayanya tidak ada! Sungguh menyebalkan!"
Cit Kong tetap curiga. Ia melompat naik ke atas tiang layar, namun tidak mendapatkan apa-apa yang luar biasa. Berdiam di atas kapal, ia justru merasa segar. Ditiup angin, tiga batang layarnya membuat perahu melaju ke utara.
Ketika Ang Cit Kong berpaling ke belakang, ia mendapati kendaraan air Auwyang Hong mengikuti dengan jarak dua *lie*. Terlihat nyata layarnya yang putih bersulam ular berkepala dua yang sedang menjulurkan lidah. Cit Kong melompat turun dan memberi tanda kepada anak buah agar perahu diarahkan ke barat laut. Ketika arah telah diubah, ia kembali melihat ke belakang. Perahu Auwyang Hong pun turut berubah arah, tetap mengikuti.
"Apa perlunya ia mengikuti terus?" gumam Cit Kong dalam hati. "Benarkah ia bermaksud baik? Si tua bangka licik itu tidak biasanya bertabiat baik budi!"
Apa yang dipikirkannya itu tidak diberitahukan kepada Pek Thong. Ia tahu tabiat aneh dan tak terduga kawan ini, ia khawatir Pek Thong akan kumat amarahnya. Ia hanya menitahkan anak buah kapal mengubah tujuan ke timur lurus. Karena arah diubah, perahu berputar dan layar-layarnya menjadi miring sehingga lajunya berkurang. Belum lama, terlihat perahu Auwyang Hong pun menuju ke timur.
"Bagus juga jika kita mengadu ilmu di tengah laut," pikir Cit Kong kemudian. Ia masuk ke dalam gubuk perahu dan melihat Kwee Ceng duduk termenung, tanda bahwa pemuda itu sedang kalut.
"Muridku," tegur sang guru, "Mari aku ajarkan kau ilmu mengemis nasi. Jikalau tuan rumah tetap tidak sudi memberi sedekah, kau ikuti dia selama tiga hari tiga malam, supaya kau buktikan nanti, dia sudi memberi atau tidak!"
Pek Thong tertawa mendengar itu. "Jikalau tuan rumah memelihara anjing galak?" tanyanya. "Jikalau kau tidak pergi, anjing jahat itu bakal menggigit! Habis, bagaimana?"
"Tuan rumah yang demikian tidak punya rasa kemanusiaan. Kalau malamnya kau santroni dan mencuri hartanya sepuas hati, bukankah itu tidak melanggar hukum *Thian*?" kata Cit Kong.
"Adikku," Pek Thong terus bertanya kepada Kwee Ceng, "Mengertikah kau maksud gurumu? Itu berarti dia menganjurkan kau menguntit mertuamu itu! Umpama kata dia tetap tidak hendak menyerahkan putrinya dan malah hendak menghajarmu, maka pergilah kau di waktu malam dan bawalah lari gadisnya itu!"
Mendengar itu, mau tidak mau Kwee Ceng tertawa. Kemudian ia tampak mondar-mandir dengan gelisah. Ia mendadak teringat sesuatu.
"Toako," ia bertanya, "Sekarang kau hendak pergi ke mana?"
"Tidak ada tujuan, Adikku," sahut Pek Thong. "Ke mana saja asal pesiar."
"Aku ingin meminta sesuatu, Toako." Pek Thong segera menggoyangkan tangannya. "Jikalau kau mau minta aku kembali ke Tho Hoa To untuk membantumu mencuri istri, itulah tidak akan aku lakukan!"
Wajah Kwee Ceng memerah. "Bukan itu, Toako! Aku ingin kau pergi ke Kwie-in Chung di Telaga Thay Ouw."
Mata orang tua itu membelalak. "Untuk apakah?"
"Untuk mengurus urusan Hek Hong Siang Sat. Dia dihajar mertuaku hingga kedua kakinya lumpuh dan susah untuk pulih kembali. Aku lihat kaki Toako bisa sembuh, maka aku ingin kau mengajarkan ilmunya agar kakinya pulih seperti sediakala!"
"Oh, itulah gampang!" sahut Pek Thong.
Kwee Ceng girang dan hendak menghaturkan terima kasih, tatkala pintu terbuka dan muncul seorang anak buah dengan roman pucat karena ketakutan. Karena tidak dapat bicara, ia hanya bisa menggerak-gerakkan tangannya.