Chapter 150
"Dia beradat keras sekali." Oey Yong merasa heran hingga berpikir, "Mustahilkah seorang perempuan yang dirangkul dan dipeluk kehilangan kesucian dirinya? Hingga sekalipun orang yang mencintai dan menghormatinya tidak lagi memandangnya dan tidak memedulikannya?" Nona itu tidak mengerti. Saat sampai di dalam ruangan, ia duduk menyandar di tiang dengan mata terpejam hingga akhirnya tertidur pulas.
Saat malam tiba, Lee Seng dan rombongannya menyiapkan meja perjamuan sesuai janji untuk menghormati Ang Cit Kong, pemimpin besar mereka, serta Kwee Ceng dan Oey Yong. Namun, hingga tengah malam, Cit Kong tetap tidak muncul.
Lee Seng mengetahui tabiat aneh sang pangcu, sehingga ia tidak ambil pusing dan terus menjamu pasangan muda-mudi itu. Semua orang sangat menyukai Kwee Ceng dan Oey Yong. Bahkan, Nona Thia turut menyiapkan beberapa jenis hidangan dan memerintahkan budaknya untuk mengantar ke tempat pesta. Setelah perjamuan yang penuh kegembiraan, Kwee Ceng dan Oey Yong pun berdamai.
Wanyen Lieh tidak pulang ke Pak-khia sehingga sulit untuk mencarinya. Oleh karena itu, mereka harus memenuhi janji untuk pergi ke Tho Hoa To. Untuk itu, mereka harus pergi ke Kee-hin terlebih dahulu guna menemui Kanglam Liok Koay untuk berembuk lebih lanjut. Oey Yong setuju, maka keesokan paginya mereka melanjutkan perjalanan ke selatan.
Saat itu, awal bulan enam, hawa udara terasa sangat panas terik. Cocok dengan pepatah orang Kanglam: "Bulan enam tanggal enam, telur bebek terjemur hingga matang!" Meskipun menggunakan payung, sengatan panas tetap menyiksa.
Suatu hari, sampailah Kwee Ceng di Kee-hin, namun gurunya belum tiba. Ia pun menulis surat kepada keenam gurunya dan menitipkannya kepada kuasa rumah Ciu Sian Lauw agar diserahkan apabila Kanglam Liok Koay tiba. Ia menulis bahwa dirinya bersama Oey Yong akan pergi ke Tho Hoa To, seraya menitipkan salam hormat dan terima kasih.
Oey Yong girang bukan main saat tiba di kampung halamannya sendiri. "Ayah, Ayah!" teriaknya, "Yong-jie pulang!" Ia berlari-lari sambil terus menggapai-gapai Kwee Ceng. Kwee Ceng melihat gadis itu berlari ke timur dan ke barat tanpa arah, hingga akhirnya menghilang dari pandangan. Ia heran dan segera berlari menyusul, namun setelah menempuh belasan tembok, ia justru tersesat.
Ia melihat jalan kecil di empat penjuru dan bingung menentukan arah. Setiap kali memaksa maju, ia selalu kembali ke tempat asal. Ia teringat keadaan di Kwie-in-chung yang diatur luar biasa oleh Oey Yong, sehingga ia menyimpulkan bahwa pulau ini pun memiliki jalan rahasia berupa barisan atau susunan khusus. Agar tidak membuang tenaga, Kwee Ceng duduk di bawah pohon tho untuk menanti Oey Yong menjemputnya.
Namun, setelah menanti lama, Oey Yong tidak kunjung muncul. Kwee Ceng mulai tidak sabaran. Ia memanjat pohon tinggi untuk mengamati keadaan sekitar. Di selatan ada laut, di barat ada batu gundul, sementara di timur dan utara semuanya adalah pohon bunga berwarna merah, kuning, hijau, dan ungu. Tidak ada tembok maupun asap mengepul; segalanya sunyi.
Hati Kwee Ceng mulai tidak tenang. Ia berlari ke depan memasuki pepohonan lebat, namun mendadak berhenti dan menyesali tindakannya, "Celaka! Aku pergi tanpa tujuan. Jika Yong-jie mencari, mungkin dia tidak akan menemukanku!" Ia berusaha lari balik, namun ia justru tersesat ke tempat lain. Pemuda itu juga kehilangan kuda merahnya yang sejak tadi mengikutinya karena ia tadi memanjat pohon.
Ketika hari beranjak sore, ia putus asa dan duduk terduduk di tanah. Ia merasa haus dan lapar, terutama saat teringat masakan lezat yang dibuat Oey Yong untuk Ang Cit Kong. Ia menjadi gelisah, "Jika Oey Yong dikurung ayahnya dan tidak bisa menolongku, bukankah aku akan mati kelaparan di sini?" Ia menyesal karena sakit hati ayahnya belum terbalas. Ia pun teringat ibunya yang berada sendirian di gurun pasir. Jika ia mati, kepada siapa ibunya akan mengandalkan hidup? Karena lelah berpikir, ia akhirnya tertidur.
Dalam mimpi, Kwee Ceng pergi bersama Oey Yong ke kota raja Pak-khia, menyantap hidangan lezat, dan gadis itu bernyanyi merdu untuknya. Tiba-tiba ia terbangun karena mendengar suara seruling. Ia memasang telinga dan melihat sinar rembulan yang indah. Suara seruling itu datang dari jauh. Merasa tenang, ia bangkit dan melangkah ke arah suara tersebut. Setiap kali menemui jalan buntu, suara itu seolah berpindah posisi. Ia teringat jalan rahasia di Kwie-in-chung, maka jika jalan buntu, ia akan memanjat pohon.
Semakin dekat, suara itu terdengar makin nyata. Akhirnya, saat menikung, ia melihat tempat dengan gumpalan pohon bunga putih yang menyerupai telaga kecil. Suara seruling di sana naik dan turun secara bergantian. Anehnya, saat ia bergerak ke timur, suara itu berpindah ke barat; saat ia ke selatan, suara itu ada di utara. Ia seolah dipermainkan.
Setelah berlari mondar-mandir, kepala Kwee Ceng menjadi pusing. Ia kini tidak memedulikan suara itu dan berlari ke tengah gumpalan bunga di mana terdapat tanah menonjol. Ternyata itu adalah kuburan dengan batu nisan bertuliskan: "Kuburan dari Phang-sie, nyonya pemilik dari Tho Hoa To".
"Ini tentu kuburan ibu Oey Yong," pikir Kwee Ceng. "Yong-jie kehilangan ibu sejak kecil, kasihan sekali dia." Ia berlutut di depan kuburan itu untuk memberi hormat empat kali. Saat ia melakukan *pai*, suara seruling berhenti tiba-tiba hingga suasana menjadi sunyi. Namun saat ia bangkit, seruling itu kembali berbunyi di sebelah depan. "Biarpun ada ancaman bencana, akan aku ikuti," tekad Kwee Ceng.
Ia terus melangkah menerobos pepohonan lebat. Tiba-tiba ia tertegun karena irama seruling berubah; semangatnya seolah tertarik dan jantungnya berdebar. "Hebat, lagu apakah itu?" gumamnya. Irama yang semula lembut menjadi cepat dan memaksa orang untuk menari, seolah mengandung hawa nafsu yang membuat telinga memerah dan urat-urat tegang.
Ia segera menjatuhkan diri untuk duduk bersamadhi mengikuti ajaran Ma Giok. Awalnya ia masih terpengaruh dan hampir melompat bangun untuk menari, namun perlahan hatinya menjadi mantap. Setelah mencapai ketenangan, hatinya kosong dan tidak lagi terpengaruh suara seruling itu. Ia merasa seperti mendengar suara gelombang dan angin, bahkan rasa haus dan laparnya lenyap.
Ia membuka mata dan melihat sepasang sinar tajam berkilauan sejauh dua tombak di depannya. "Entah binatang apakah itu?" gumamnya seraya melompat mundur. Seketika sinar itu lenyap. "Benar aneh Pulau Tho Hoa To ini," pikirnya. "Macan tutul atau rase yang paling gesit pun tidak mungkin bergerak secepat ini." Ia kemudian mendengar suara napas memburu. "Ah, itu orang! Sinar tadi adalah matanya. Rupanya ia belum pergi jauh?"
Kwee Ceng tertawa sendiri, namun ia tidak tahu apakah orang itu musuh atau bukan. Suara seruling masih terdengar, namun iramanya berubah menjadi suara penasaran atau kenang-kenangan, seperti hati wanita muda yang sedang menanti di kamar. Kwee Ceng tidak terpengaruh, karena ia masih muda dan lebih banyak belajar silat daripada memahami urusan wanita.
Ia merasa kasihan mendengar suara napas yang memburu dan merintih, seolah orang itu sedang mempertahankan diri melawan gangguan seruling. Kwee Ceng mendekat. Di bawah sinar bulan yang terhalang dahan pohon, ia melihat seseorang sedang duduk bersila dengan rambut panjang terurai hingga ke tanah. Alis dan kumisnya panjang menutupi lubang hidung dan mulut. Satu tangannya diletakkan di depan dada, yang lain di belakang.
Kwee Ceng terkejut. Ia ingat sikap semadhi yang diajarkan Tan Yang Cu Ma Giok saat di gurun pasir, yaitu ilmu untuk menutup hati agar tidak terpengaruh suara guntur atau air bah. Ia heran mengapa orang itu takut pada suara seruling. Saat seruling terdengar makin hebat, tubuh orang itu bergerak-gerak hendak melompat. Meskipun masih bisa mempertahankan diri, Kwee Ceng tahu orang itu tidak akan bertahan lama.
Irama seruling terus berganti. "Sudah, sudah!" seru orang itu, tampak hendak bangkit. Kwee Ceng kaget dan tanpa berpikir panjang, ia melompat maju, menjulurkan tangan kiri untuk menahan bahu orang itu, sementara tangan kanannya menepuk jalan darah *tay-cui-hiat* di pundak.