Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 173

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 173

Tong Shia terkejut. Ia merasakan kakinya basah atau lembap, lalu segera melompat naik. Pada saat itu, ia melihat Hong Cit Kong dan Ouyang Feng sudah tiba di depan mulut gua. Mereka menginjak tanah tanpa kendala apa pun, sehingga ia lantas turun di samping putrinya.

Hampir bersamaan, ia mencium bau busuk. Ia menunduk untuk memeriksa dan mendapati kedua kakinya penuh dengan kotoran manusia. Semua orang terheran-heran, mengapa Huang Yaoshi bisa tertipu. Dalam kemurkaannya, Huang Yaoshi menyambar sebatang cabang pohon dan menggunakannya untuk menyerang tanah ke arah barat dan timur guna mencari tahu apakah tanah tersebut berlubang atau tidak. Ternyata, selain tiga tempat yang ia injak tadi, tanah lainnya berisi dan keras. Maka tahulah ia sekarang, ketika Zhou Botong meloloskan diri, orang itu menginjak tanah dengan hebat hingga membuat tiga lubang. Setelah itu, ketiga lubang tersebut digunakan sebagai tempat jongkok untuk membuang kotoran.

Dengan penasaran, Huang Yaoshi masuk kembali ke dalam gua. Tidak ada barang lain di sana kecuali beberapa botol dan mangkuk. Hanya di tembok terlihat huruf-huruf yang samar. Ouyang Feng tertawa dalam hati menyaksikan Huang Yaoshi "terjebak", tetapi sekarang, melihat orang itu memperhatikan tembok, ia merasa heran dan mendekat.

Di tembok gua itu tampak ukiran huruf yang berbunyi: "Huang Laoxie! Kau telah mematahkan kedua kakiku, kau telah mengurungku lima belas tahun di dalam gua ini. Sebenarnya aku pun mesti mematahkan kedua kakimu agar aku puas, tetapi setelah aku memikirkan masak-masak, aku memberi ampun padamu dan urusan kita boleh disudahi saja. Sebagai gantinya, aku menyuguhkanmu tumpukan besar kotoran serta beberapa botol air kencing. Silakan kau memakainya. Silakan!"

Di bawah tulisan itu terdapat sehelai daun yang menutupi empat huruf terakhir. Huang Yaoshi yang penasaran memegang daun itu untuk mengangkatnya. Di bawah daun ada sehelai benang; saat daun diangkat, benang itu ikut tertarik. Mendadak terdengar suara di atas kepala mereka. Huang Yaoshi sadar dan segera melompat menyingkir ke kiri. Ouyang Feng yang licik pun segera melompat ke kanan. Bersamaan dengan itu, terdengar suara nyaring dari atas kepala mereka, tempat beberapa botol yang berisi air jatuh. Mereka pun terkena siraman hingga kepala mereka basah dan berbau air kencing.

Menyaksikan itu, Hong Cit Kong tertawa terbahak-bahak. "Sungguh harum! Sungguh harum!" serunya. Huang Yaoshi murka dan sangat kesal sehingga ia tidak tahan untuk mencaci maki. Ouyang Feng juga sangat kesal, namun ia pandai bersandiwara. Ia tidak menunjukkan kemurkaannya, sebaliknya ia tertawa seolah itu adalah sebuah lelucon. Huang Rong segera lari pulang untuk mengambil pakaian ganti bagi ayahnya. Ia juga membawa sepotong baju milik ayahnya dan menyerahkannya kepada Ouyang Feng.

Selesai berganti pakaian, Huang Yaoshi kembali masuk ke dalam gua untuk memeriksa dengan teliti. Kini tidak ada lagi jebakan. Ia memeriksa huruf-huruf tadi, dan di bagian yang tertutup daun, ia melihat dua baris huruf halus berbunyi: "Daun ini jangan sekali-kali diangkat atau ditarik, sebab di atas ini ada air kencing berbau yang dapat mengalir turun. Berhati-hatilah, jangan menganggap bahwa kau tidak diberi ingat terlebih dahulu!" Huang Yaoshi merasa kesal sekaligus geli karena ia telah menjadi korban keteledorannya sendiri. Namun, tiba-tiba ia sadar; saat terkena siraman tadi, ia merasakan air kencing itu masih agak hangat. Itu artinya orang tersebut belum lama pergi.

Ia segera lari keluar seraya berkata, "Lao Wantong belum pergi jauh, mari kita susul dia!" Guo Jing terkejut. Ia tahu betul jika mereka bertemu, pasti akan terjadi pertempuran. Ia hendak mencegah mertuanya, tetapi sudah terlambat, Huang Yaoshi sudah berlari ke timur. Mereka semua tahu jalanan di pulau ini luar biasa rumit, sehingga mereka menyusul dengan berlari secepat mungkin.

Tidak lama kemudian, mereka melihat Zhou Botong berada di depan dengan langkah perlahan. Huang Yaoshi menghentakkan kakinya dan tubuhnya melesat jauh. Dalam sekejap, ia tiba di belakang orang yang pernah ia kurung itu dan menyambar ke arah leher. Zhou Botong rupanya mengetahui datangnya serangan, ia berkelit ke kiri seraya membalikkan tubuh dan berkata, "Oh, Huang Laoxie yang harum semerbak!"

Sambaran Huang Yaoshi ini adalah ilmu yang telah ia latih selama puluhan tahun dengan kecepatan luar biasa, namun Zhou Botong dapat menghindar dengan begitu sederhana. Huang Yaoshi terkesiap. Ia tidak menyerang lebih jauh dan hanya mengawasi orang itu. Ia lantas heran karena ternyata kedua tangan Zhou Botong terikat di depan dada, tetapi wajahnya tersungging senyuman dan sikapnya menunjukkan kebahagiaan yang luar biasa.

Guo Jing maju selangkah, "Toako!" panggilnya. "Sekarang tetua sudah menjadi mertuaku, maka kita adalah keluarga sendiri!"

Zhou Botong menghela napas. "Ah, mengapakah kau tidak mendengar kataku?" katanya menyesal. "Huang Laoxie ini sangat licik dan aneh, mungkinkah anak perempuannya bisa dijadikan sahabat olehmu? Nanti, seumur hidupmu, kau akan merasakan kepahitan."

Huang Rong mendekat dan tertawa. "Zhou Toako, lihat itu di belakangmu, siapa yang datang?" Zhou Botong segera menoleh, namun tidak melihat siapa-siapa. Tepat saat itu, tangan gadis itu melayang, melemparkan bungkusan baju bau milik ayahnya ke arah punggung orang itu. Zhou Botong benar-benar lihai. Ia mendengar suara angin dan segera berkelit, sehingga bungkusan itu jatuh ke tanah.

Melihat itu, Zhou Botong tertawa terpingkal-pingkal. "Huang Laoxie," katanya, "Sudah kau kurung aku selama lima belas tahun, sudah kau siksa aku selama itu juga, tetapi aku cuma membuatmu menginjak kotoran dua kali dan membasahi kepalamu satu kali. Kalau sekarang kita menyudahinya, apakah itu tidak pantas?"

Huang Yaoshi tidak menjawab dan bertanya, "Kau telah merusak kawat-kawat kurunganmu, kenapa sekarang kau mengikat kedua tanganmu?"

Zhou Botong tertawa lagi. "Dalam hal ini aku mempunyai alasanku sendiri," sahutnya singkat.

Ketika Zhou Botong baru dikurung di dalam gua, ia beberapa kali hendak menerjang keluar untuk mengadu jiwa dengan Huang Yaoshi. Namun kemudian, ia mendapat pikiran baru. Ia ragu dapat mengalahkan tetua dari Pulau Bunga Persik itu. Lantas ia mencari kawat yang digunakan untuk pagar di depan guanya guna mengurung dirinya sendiri. Kawat itu rapat seperti sarang laba-laba. Ia melatih dirinya agar tidak menuruti hati yang panas karena dianggap merugikan diri sendiri.

Sampai akhirnya ia bertemu dengan Guo Jing dan mendengar perkataan anak muda itu, ia mendapat ilham. Maka ia menciptakan ilmu silat berkelahi seorang diri. Kemudian bersama Guo Jing, ia bertempur menggunakan empat tangan, tetapi mereka memecah konsentrasi hingga seolah-olah menjadi empat orang. Maka sekarang, walaupun Huang Yaoshi sangat lihai, ia tidak dapat melawan Zhou Botong yang bertubuh satu tetapi seperti terdiri dari dua orang.

Setelah itu, Zhou Botong memikirkan cara untuk membalas dendam pada Huang Laoxie yang telah menyiksanya. Sepeninggal Guo Jing, ia duduk bersila di dalam gua. Dalam diam, ia teringat pada pengalamannya selama puluhan tahun tentang suka duka, budi, dan permusuhan. Ia tengah melamun ketika mendengar suara seruling serta suara zheng dicampur siulan panjang. Semangatnya mendadak terbangun hingga hampir tidak bisa menguasai diri. Ia menjadi murka, tetapi kemudian ia teringat sesuatu.

"Adik angkatku itu kalah ilmunya denganku, tetapi kenapa ia tidak tergoda bujukan seruling Huang Laoxie?" pikirnya. Setelah bergaul sekian lama, ia baru sadar. "Ya, ya! Dia sangat jujur dan polos, dia tidak punya pikiran sesat. Tetapi aku, yang sudah berusia lanjut, masih berkutat memikirkan cara untuk membalas dendam! Kenapa aku menjadi berpikiran picik? Sungguh lucu!"

Zhou Botong bukan penganut Quanzhen, tetapi ia mengenal baik tujuan partai itu yang bersikap tenang dan "tidak berbuat sesuatu" (wuwei), maka pikirannya mudah terbuka. Sambil tertawa panjang, ia bangkit berdiri. Ia melihat cuaca terang dengan awan putih di langit, hatinya pun menjadi lapang. Sekejap itu pula, hilang ingatannya akan siksaan Huang Laoxie selama lima belas tahun; ia menganggap itu hanya urusan sepele. Namun, dasar ia seorang yang jenaka, ia berpikir, "Kali ini aku pergi, tidak akan datang lagi ke Pulau Bunga Persik. Jika aku tidak meninggalkan sesuatu untuk Huang Laoxie si tua bangka sesat itu, bagaimana nanti dia bisa mengingat hari-harinya?"

Segera setelah itu, ia membuat jebakan dengan kotorannya. Ia mengisi beberapa botol dengan air kencingnya, menggantungnya dengan sehelai benang, dan membuat pesawat rahasia. Dengan mengungkit batu, ia meninggalkan surat peringatan itu, lalu pergi meninggalkan gua.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment