Chapter 120
"Tentu mereka sudah berhasil," pikir Kwee Ceng dan Oey Yong.
Tidak seberapa lama, beberapa perahu mendekati perahu besar. Dari dalamnya terdengar laporan, "Semua musuh sudah musnah, kepala perangnya sudah tertawan!" Koan Eng girang sekali dan segera pergi ke kepala perahu.
Dia berseru, "Saudara-saudara, bersabarlah sedikit lagi! Segera bekuk utusan negara Kim!" Pembawa kabar itu bersorak, mereka lantas berlalu untuk menyampaikan titah tersebut.
Habis itu, terdengar suara terompet dari berbagai perahu kecil. Semua perahu memasang layar menuju ke barat, mengikuti tiupan angin timur yang kencang. Perahu besar Koan Eng, yang tadinya berada di belakang, sekarang maju mendahului yang lain dengan kecepatan tinggi.
Kwee Ceng dan Oey Yong berdiam diri, mata mereka mengawasi ke depan. Meskipun angin keras menerpa punggung mereka, keduanya merasa gembira. Seandainya tidak sedang bersembunyi, tentu sang nona sudah bernyanyi. Mereka pun menarik melihat perahu-perahu kecil mencoba mendahului perahu besar itu.
Berlayar kira-kira satu jam, di depan mulai tampak cahaya terang. Dua buah perahu kecil terlihat melesat mendekat. Seorang di kepala salah satu perahu memegang bendera merah dan berteriak nyaring, "Kita sudah menemui perahu-perahu utusan negara Kim itu! Hoo Cecu sudah mulai menyerang!"
"Bagus!" sahut Koan Eng.
Tak lama kemudian, sebuah perahu lain datang melapor, "Kaki tangan negara Kim itu lihai, Hoo Cecu telah terluka! Kedua cecu Pheng dan Tang tengah mengepung mereka!" Ketika perahu itu merapat, dua orang memanggul Hoo Cecu yang terluka ke atas perahu besar.
Selagi Koan Eng hendak mengobati cecu itu, datanglah beberapa perahu lagi yang membawa kedua cecu Pheng dan Tang yang juga telah terluka. Dilaporkan pula, "Kwee Tauwnia dari puncak Piauw Biauw Hong telah kena ditombak mati oleh utusan negara Kim, mayatnya jatuh ke telaga." Mendengar itu, Liok Koan Eng menjadi gusar sekali.
"Anjing Kim itu demikian galak, nanti aku sendiri yang akan membinasakannya!" serunya.
Kwee Ceng dan Oey Yong menyesalkan kegalakan Wanyen Kang yang membunuh bangsanya sendiri. Di lain pihak, mereka khawatir akan nasib pangeran itu yang tentu tidak sanggup melayani kawanan perampok yang jumlahnya besar. Jika dia mati, bagaimana nasib Bok Liam Cu?
"Kita tolong dia atau tidak?" bisik Oey Yong.
"Kita tolong dia, tetapi dia mesti dibuat insaf dan menyesal," sahut anak muda itu. Oey Yong mengangguk.
Saat itu, Koan Eng sudah membawa sebuah golok yang tajam di kedua sisinya dan melompat ke sebuah perahu kecil. "Lekas!" serunya.
"Mari kita rampas perahu kecil di sampingnya!" ajak Oey Yong.
Saat keduanya hendak melompat, tiba-tiba terdengar tempik sorak riuh kawanan perampok. Kemudian, tampak perahu-perahu rombongan utusan Kim mulai karam karena dasarnya telah dipahat bolong. Dengan bendera merah yang dikibarkan, dua perahu datang melapor, "Anjing Kim itu jatuh ke air. Dia sudah dapat dibekuk!"
Koan Eng girang, ia melompat kembali ke perahu besar. Tidak lama kemudian, di antara suara terompet, sejumlah perahu kecil datang membawa para tawanan, yakni si utusan Kim beserta para pengawal dan pengiringnya. Semua segera digiring naik ke perahu besar.
Kwee Ceng dan Oey Yong melihat Wanyen Kang dalam keadaan terikat; matanya terpejam, rupanya ia telah banyak menelan air telaga. Kebetulan saat itu fajar telah tiba, seluruh telaga mulai terang disinari matahari dari timur. Air telaga bersinar, berkilauan seperti ular emas.
Liok Koan Eng mengumumkan, "Semua cecu berkumpul di Kwie-in-chung untuk berjamu! Semua tauwnia pulang ke markas untuk menanti hadiah!" Kaum perampok bersorak-sorai, lalu mereka berpencar dan lenyap di kejauhan. Di permukaan telaga, burung-burung melayang-layang dan terlihat layar-layar putih. Segalanya tenang sekali, seolah tidak pernah terjadi pertempuran hidup dan mati.
Kwee Ceng dan Oey Yong menunggu orang-orang itu ke darat, baru kemudian mereka diam-diam pulang untuk berpura-pura tidur. Beberapa kali dua bujang pelayan datang ke pintu kamar; mereka menyangka tetamunya sedang tidur nyenyak akibat letih pesiar kemarin, sehingga mereka tidak berani membangunkan.
Setelah beberapa saat, Kwee Ceng dan Oey Yong membuka pintu. Mereka diberi selamat pagi oleh kedua pelayan yang cepat menyediakan sarapan, seraya memberitahukan bahwa Chung-cu menantikan di ruang kerja. Keduanya mengisi perut sekadarnya, lalu pergi ke ruang kerja. Liok Chung-cu, yang sedang duduk di pembaringan, menyambut mereka sambil tertawa, "Angin besar di telaga semalam membuat gelombang mengganggu orang tidur! Apakah semalam jiwi dapat tidur nyenyak?"
Kwee Ceng jujur, pertanyaan itu membuatnya bungkam, tetapi Oey Yong menyahuti, "Tadi malam aku mendengar suara terompet kulit keong, rupanya paderi atau imam tengah membaca doa." Tuan rumah tertawa. Ia kemudian mengatakan ingin memperlihatkan kumpulan lukisannya kepada kedua tetamu itu.
"Tentu kami senang sekali melihatnya," ujar Oey Yong. "Pasti itu lukisan-lukisan yang sangat indah." Liok Chung-cu menyuruh kacungnya mengambil lukisan tersebut, dan sebentar kemudian Oey Yong mulai menikmatinya.
Selagi hatinya terpikat, tiba-tiba Oey Yong mendengar bentakan-bentakan yang disusul suara lari orang-orang. Terdengar jelas teriakan, "Kalau sudah masuk ke dalam Kwie-in-chung, untuk kabur lebih sukar daripada mendaki langit!" Diam-diam Oey Yong melirik tuan rumah. Ia mendapati pria itu tetap tenang seolah tidak mendengar apa-apa. Ia bahkan bertanya, dari empat sastrawan besar di zamannya, tulisan siapa yang paling digemari kedua tetamunya.
Selagi Oey Yong hendak menjawab, tiba-tiba pintu kamar ditabrak seseorang yang menerobos masuk dengan pakaian basah kuyup. Ia lantas mengenali Wanyen Kang, maka ia menarik Kwee Ceng seraya berbisik, "Lihat gambar, jangan pedulikan dia." Keduanya segera menunduk, terus mengamati lukisan dan tulisan.
Tuan rumah memperhatikan orang yang menerobos masuk itu. Orang itu memang Wanyen Kang. Dia tertawan karena jatuh ke air dan banyak meminum air telaga. Ketika siuman, ia mendapati pengikutnya terbelenggu dan Liok Koan Eng hendak memeriksanya. Segera ia mengerahkan tenaga, dan sekali berontak, belenggunya putus. Semua orang kaget dan bergerak untuk menangkapnya. Ia membuka kedua tangan, lalu dua orang terdekat terpelanting roboh. Ia terus menerobos untuk lari. Namun, Kwie-in-chung diatur menurut kedudukan patkwa; siapa yang tidak mengerti itu, jangan harap bisa lolos. Demikian ia lari tanpa tujuan sambil dikejar-kejar hingga menabrak pintu ruang kerja.
Liok Koan Eng tidak khawatir orang itu lolos, tetapi melihat tawanan masuk ke kamar ayahnya, ia khawatir sang ayah diserang. Ia melompat untuk menghalangi di depan ayahnya. Di muka pintu, segera terlihat sejumlah cecu berdiri menghalangi.
Dalam keadaan terdesak, Wanyen Kang tidak memperhatikan Oey Yong dan Kwee Ceng. Ia menuding Liok Koan Eng dan menegur, "Perampok jahat, kau menggunakan akal busuk dengan membocorkan perahu! Tidakkah kamu khawatir ditertawakan kaum kangouw?"
Koan Eng tertawa lebar. "Kau putra raja Kim, perlu apa kau menyebut-nyebut dua huruf kangouw itu?" balasnya.
"Selama di Pakhia, aku telah mendengar nama besar kaum kangouw di Selatan," kata Wanyen Kang berani. "Buktinya ternyata hari ini kamu hanya..."
"Hanya apa?" potong Koan Eng.
"Hanya kaum hina dina yang pandai mengandalkan orang banyak!" sahut pangeran muda itu. Koan Eng gusar sekali dihina demikian. Ia masih muda tetapi adalah kepala bagi kaum Rimba Persilatan di Kanglam. Ia berkata, "Kau ingin bertempur satu lawan satu agar mati tanpa penyesalan?"
Inilah jawaban yang diharapkan Wanyen Kang. Ia memang sengaja memancing amarah orang. Maka ia berkata, "Kalau ada orang Kwie-in-chung yang sanggup mengalahkan aku, aku akan menyerah dibelenggu, tidak akan membilang sepatah kata pun. Siapa yang hendak memberi pelajaran kepadaku?" Ia bersikap jemawa, matanya menyapu semua orang dengan tangan terlipat di belakang punggung.
Kata-kata tersebut membangkitkan amarah Cio Cecu dari puncak Bok Lie Hong. Karena tabiatnya yang kasar, ia segera maju dan menyerang dengan kedua tangan. Wanyen Kang berkelit, membuat serangan itu jatuh ke tempat kosong. Bersamaan dengan itu, kedua tangannya bekerja. Tangan kanan menyambar baju di punggung, lalu tangan kiri membantu, hingga tubuh cecu itu terangkat dan dilemparkan ke arah kawan-kawannya di ambang pintu.
Koan Eng terkejut. Orang ini lihai; mungkin tidak ada cecu yang sanggup melawannya. "Tuan, kau benar-benar lihai!" katanya. "Aku ingin meminta pengajaran beberapa jurus darimu, mari kita pergi ke thia!" Tuan rumah yang muda ini berkata demikian karena ia menduga pertandingan akan berlangsung hebat dan ia khawatir nanti akan melukai ayahnya serta kedua tetamunya yang tidak mengenal ilmu silat.
"Untuk pibu, di mana pun sama saja!" kata Wanyen Kang angkuh. "Apakah halangannya di sini? Silakan cecu memberi pengajaranmu!"
Koan Eng terpaksa, tetapi ia tetap tenang. "Baik! Kau tetamu, kaulah yang mulai!"
Wanyen Kang memang lihai. Mendadak ia mengulurkan tangan kiri untuk mengancam, disusul tangan kanan untuk menjambak baju lawan. Ia telah menggunakan jurus dari Kiu Im Pek-kut Jiauw. "Bocah kurang ajar, tahukah kau lihainya Chung-cu-mu!" kata Koan Eng dalam hati.