Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 94

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 94

Tubuh lelaki bangsat itu mulanya masih hangat, lalu perlahan-lahan menjadi dingin. Hatiku pun turut menjadi dingin karenanya. Seluruh tubuhku gemetar, dinginnya luar biasa.

"Lelaki bangsat, apakah benar-benar kau telah mati?" tanyaku. "Kau yang begitu lihai, mengapa kau mati tidak keruan?"

Aku mencabut pisau belati dari pusarnya, darah lantas memancar keluar. Sebenarnya apa yang aneh? Orang dibunuh, darahnya pasti mengalir keluar. Aku sendiri, entahlah, sudah berapa banyak orang yang kubunuh.

Sudahlah, aku pun harus mati bersama lelaki bangsat itu. Hanya saja, tanpa ada orang yang memanggilnya "lelaki bangsat", oh, bagaimana hambar rasanya!

Lantas kubawa ujung belati itu ke mulutku, di bawah lidah. Itulah tempat kematianku. Tiba-tiba aku meraba huruf-huruf ukiran di gagang pisau belati itu. Aku lantas meraba-raba. Itu adalah dua huruf, "Yo Kang".

Ah, rupanya pembunuh lelaki bangsat itu bernama Yo Kang! Mana mungkin aku tidak menuntut balas? Sebelum membinasakan Yo Kang, mana boleh aku mati? Maka itu aku meraba dada si lelaki bangsat, hendak mencari rahasia kitab *Kiu Im Cie Keng* itu.

Sia-sia aku mencari, aku tidak mendapatkannya. Aku penasaran! Aku lalu mencari di rambut kepalanya, terus ke bawah. Tidak ada bagian anggota tubuhnya yang aku lewatkan.

Ketika aku meraba dadanya, di sana aku merasakan kulit daging yang agak luar biasa. Bwee Tiauw Hong lantas mengeluarkan suara tertawa kering dari tenggorokannya. Hebat suara itu, menyeramkan, membuat Kwee Ceng sampai bergidik.

Bwee Tiauw Hong merasa ia telah berada pula di gurun pasir, hujan besar telah membasahi seluruh tubuhnya, akan tetapi tubuh itu ia rasakan panas sekali. Dia merasa seperti telah meraba dada suaminya, yang selalu ia panggil dengan sebutan "lelaki bangsat", sebagaimana ia sendiri dipanggil "perempuan bangsat" oleh suaminya itu.

Nyata dada itu ditato dengan jarum, membentuk huruf-huruf dan peta. Itulah rahasia *Kiu Im Cie Keng*. Hian Hong khawatir kitabnya dicuri orang, maka ia menato tubuhnya sendiri, setelah itu ia membakar kitab aslinya.

"Memang," demikian ia melamun, "Suhu yang demikian lihai saja, kitabnya masih bisa kami curi. Maka siapa berani menjamin kitab kami pun tak ada yang bakal mencurinya? Maka ia berkata pada waktu itu, 'Bagus sekali pikiranmu ini. Ini artinya, selama orangnya masih hidup, kitabnya pun ada; setelah orangnya mati, kitabnya lenyap bersama.'"

Aku lantas menggunakan pisau belati untuk mengiris kulit dada si lelaki bangsat. Ah, hendak aku memberi obat pada kulit itu supaya tidak membusuk dan rusak, aku ingin membawanya di tubuhku. "Aku ingin kau selalu mendampingiku."

Ketika itu aku tidak bersedih lagi, sebaliknya aku tertawa terbahak-bahak. Dengan kedua tanganku, aku lantas menggali sebuah liang besar. Di situ aku kubur si lelaki bangsat.

"Kau ajarkan aku cengkeraman *Kiu Im Pek-ku Jiauw*, sekarang dengan kepandaian itu aku menggali liang kubur untukmu."

Lantas aku menyembunyikan diri di dalam gua; aku khawatir Kanglam Cit Koay dapat mencariku. Sekarang ini aku bukan tandingan mereka, maka tunggulah aku selesai dengan pelajaranku. Hm! Saat itu tiba, akan aku jambret setiap batok kepala, setiap hati manusia! Aku akan belajar, tidak peduli aku bisa terluka di dalam atau tidak. Peduli apa!

Berselang dua hari, selagi perutku lapar, aku mendengar suara pasukan tentara lewat di depan guaku. Mereka berbicara dengan bahasa Nuchen dari negara Kim. Aku lantas keluar dari tempat persembunyian dan meminta makanan. Pangeran yang memimpin pasukan itu mengasihaniku; dia suka menolong, malah ia terus mengajakku ke istananya di Tiongtouw. Belakangan aku mendapat tahu, pangeran itu adalah Pangeran Chao Wang, putra keenam dari Raja Kim.

Aku bekerja di taman belakang, menyapu rumput. Di sana, secara diam-diam, aku menyempurnakan ilmu kepandaianku. Beberapa tahun telah lewat tanpa ada yang mengetahui perbuatanku itu. Semua orang menganggap akulah seorang wanita tua yang buta yang harus dikasihani.

"Kemudian pada suatu tengah malam..." Ah! Pangeran cilik yang nakal itu datang ke taman belakang untuk mencari telur burung, dan ia memergokiku sedang berlatih dengan cambuk perak. Ia lantas merengek dan memaksa meminta pelajaran dariku. Terpaksa aku ajarkan dia tiga jurus. Sekali saja, ia telah dapat belajar dengan baik. Ternyata ia berotak sangat terang!

Aku jadi gembira, maka aku terus mengajarinya. Aku hendak mengajari dia segala macam kepandaian asal ia bersumpah tidak membuka rahasia kepada siapa pun, tidak terkecuali kepada *ongya* dan *onghui*. Aku mengancam, asal rahasia bocor, akan aku cambuk hingga pecah batok kepalanya!

"Lewat beberapa bulan, pangeran cilik itu memberitahukan kepadaku bahwa *ongya* hendak pergi lagi ke Mongolia. Lantas aku minta supaya aku diajak, agar aku bisa bersembahyang di kuburan suamiku. *Ongya* menerima baik permintaan itu. Dia sangat menyayangi pangeran kecil itu, yang segala keinginannya senantiasa dipenuhi."

Oh, di sana aku tidak dapat menemukan tulang-belulang si lelaki bangsat. Lantas aku hendak mencari Kanglam Cit Koay. Sungguh aku sangat beruntung, di sana aku mendapatkan tujuh saudara imam dari Coan Cin Kauw. Mataku tidak bisa melihat, bagaimana mungkin aku bisa melawan mereka? Di antara mereka, yang lihai tenaga dalamnya adalah Tan Yang Cu Ma Giok. Asal ia membuka mulutnya, walaupun ia tidak berbicara keras, suaranya dapat terdengar sampai di tempat jauh.

Perjalananku ke Mongolia itu tidak sia-sia. Aku dapat mendesak Ma Giok hingga ia secara tidak sengaja mengajariku sepatah kata rahasia ilmu dalam. Sepulangnya ke istana, aku berdiam di dalam terowongan bawah tanah, di mana aku menyempurnakan kepandaianku. Ilmu dalam itu tidak dapat dipelajari tanpa petunjuk, aku mempelajarinya dengan memaksa. Kesudahannya, separuh tubuhku ini tidak dapat digerakkan.

Aku melarang si pangeran cilik datang kepadaku. Ia tidak tahu bahwa pelajaranku telah tersesat. Coba kalau bocah ini tidak menerobos masuk ke dalam terowongan, pastilah aku akan mati kelaparan di dalam situ. Hm, rupanya si lelaki bangsatlah yang memimpin bocah itu datang kepadaku supaya ia menolongku, agar kemudian aku membunuh bocah itu untuk menuntut balas untuknya!

Saking senang dan gembiranya, Tiauw Hong tertawa terpingkal-pingkal tak hentinya. Dia tertawa haha tercampur hmhm, tertawa dingin!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment