Chapter 222
Maka itu, ia memuji si pembangun kamar rahasia, yang demikian teliti dalam pembuatan kamarnya itu.
Orang bisa bersembunyi di dalamnya, tetapi orang yang ada di dalam pun bisa melihat ke luar.
So Kouw duduk seorang diri di tanah sambil tangannya menggapai kaca ular sutera. Mulutnya bergantian ditutup dan dibuka, suaranya perlahan.
Oey Yong memasang kupingnya, mendengarkan, maka tahulah ia bahwa si tolol itu sedang menyanyikan lagu meninabobokan anak kecil supaya tertidur.
Mulanya ia merasa lucu, tetapi kemudian ia merasakan suara itu halus dan mengharukan.
Tanpa sadar ia berpikir, "Adakah ini nyanyian ibunya dahulu yang ia dengar? Kalau ibuku tidak menutup mata, ibu pun akan menyanyikan lagu seperti ini untukku." "Yong-jie, kau memikirkan apa?" tanya Kwee Ceng melihat orang itu terdiam saja.
"Lukaku tidak berbahaya, kau jangan bersusah hati." Oey Yong mengusap-usap matanya, ia tertawa.
"Sekarang, cepat kau ajari aku caranya menyembuhkan lukamu," katanya.
Kwee Ceng menurut, dengan perlahan ia membaca di luar kepala kitab Kiu Im Cin-keng bagian pengobatan luka-luka.
Isi pasal ini menjelaskan tentang luka yang disebabkan serangan tenaga dalam, dan bagaimana cara melawannya untuk memulihkan kesehatan.
Hanya mendengar satu kali saja, Oey Yong telah dapat menghafalkan itu.
Hanya beberapa bagian yang kurang jelas, dengan mendiskusikannya bersama, ia pun akan dapat mengerti.
Maka itu, di lain waktu, mereka sudah mulai berlatih.
Dua orang ini cocok satu sama lain, sebab si pemuda berbakat baik, dan si pemudi itu sangat cerdas.
Mereka berlatih dengan Oey Yong mengeluarkan tangan kanannya, yang ditahan oleh Kwee Ceng dengan telapak tangan kirinya, kemudian mereka saling menolak dengan menukar tangan.
Latihan ini dilakukan setiap dua jam sekali. Maka, saat beristirahat dengan tangan kirinya Oey Yong memotong semangka, yang separuh untuk Kwee Ceng, dan separuh lagi untuknya sendiri.
Selagi makan buah itu, tangan mereka yang satu sisi terus ditempelkan satu sama lain.
Setelah berlatih hingga sekitar pukul satu atau dua siang (jam *bie-sie*), Kwee Ceng merasakan dadanya sedikit lega, tidak sesak seperti semula.
Jelas itu adalah tanda berjalannya hawa hangat dari tangan Oey Yong, yang masuk ke dalam tubuhnya.
Dengan begitu, rasa nyeri di pinggangnya turut berkurang.
Hal ini membuatnya girang, hingga ia berlatih semakin bersungguh-sungguh.
Ketika tiba pada istirahat yang ketiga kali, dari lubang di atas terlihat masuknya sinar matahari yang lemah.
Itulah tanda dari telah datangnya sang sore.
Cuaca jadi semakin suram.
Dengan berlalunya waktu, Kwee Ceng merasa semakin lega pernapasannya, dan Oey Yong pun bertambah segar.
Dengan begitu, mereka bisa melewati waktu istirahat itu dengan berbincang-bincang.
Tidak lama, keduanya hendak memulai latihan mereka lebih jauh, telinga mereka mendengar suara lari yang keras ke arah rumah makan dan berhenti di depan pondok.
Setelah itu terdengar masuknya beberapa orang, sebagaimana itu terdengar dari langkah kaki mereka yang ramai.
"Cepat sediakan nasi dan lauk pauknya!" begitu terdengar satu suara keras dan kasar.
"Tuan-tuanmu sudah kelaparan hingga hampir mati!" Kwee Ceng dan Oey Yong saling berpandangan.
Mereka mengenali suara Sam tauw-kauw Hauw Thong Hay.
Si nona lantas mengintai dari lubang kecil di tembok di sisinya.
Sekarang ia mendapat kepastian bahwa itulah rombongan musuh mereka, sebab di sana ada Wanyen Lieh bersama Yo Kang, Auwyang Hong, Pheng Lian Houw, Nio Cu Ong, dan See Thong Thian.
Sa Kouw tidak kelihatan, entah ke mana perginya orang tolol itu.
Hauw Thong Hay menggebrak meja dengan kalang kabut, masih tidak ada jawaban untuknya.
Pheng Lian Houw dan Nio Cu Ong memperhatikan rumah itu, lalu mereka mengerutkan kening.
"Tidak ada orang di sini?" kata Cu Ong.
"Kalau begitu, biarlah kita pergi ke kampung untuk membeli makanan!" kata Thong Hay, ia mendongkol tetapi ia bersedia bekerja.
Pheng Lian Houw tertawa, ia berkata, "Hebat sekali kawanan Gie-lim-kun itu, mereka seperti kawanan kantung nasi, tetapi mereka bisa menyelinap di segala tempat. Mereka bahkan membuat arwah-arwah pun tak berdaya, hingga sekarang kita sudah satu hari tidak bisa makan!
Pangeran adalah orang Utara, tetapi Pangeran tahu bahwa di sini ada dusun sunyi senyap ini. Hebat!" Wanyen Lieh tahu orang-orang memujinya, tetapi ia tidak lantas kegirangan hingga terlihat jelas di wajahnya, sebaliknya, ia tampak muram.
"Sembilan belas tahun yang lalu, pernah aku datang ke mari," katanya sambil menghela napas.
Orang-orang melihat wajah pangeran ini, yang agaknya berduka, dan mereka heran.
Mereka tidak usah menunggu lama, Hauw Thong Thay telah kembali membawa arak dan makanan. Maka Pheng Lian Houw segera menuangkan arak untuk mereka masing-masing, kemudian ia berkata kepada pangeran, "Hari ini Pangeran mendapatkan surat wasiat, itulah bukti bahwa Negara Kim yang terbesar akan menggentarkan pengaruhnya di kolong langit. Untuk itu, kami semua hendak memberi selamat kepada Pangeran!
Saudara-saudara, mari minum!" Ia pun mengangkat cawannya, untuk menenggak isinya hingga habis.
Nyaringnya suara Pheng Lian Houw membuat Kwee Ceng dari tempat sembunyinya dapat mendengar itu.
Pemuda ini terkejut.
"Kalau begitu, berhasilkah mereka mencuri surat wasiat Gak Ongya!" pikirnya.
Begitu ia berpikir demikian, ia pun merasakan napasnya sesak.
Oey Yong terkejut.
Keterkejutan pemuda itu dapat ia rasakan pada tangannya, yang terus menempel pada tangan pemuda itu.
Ia mengerti sebab gangguan itu.
Itu berbahaya untuk anak muda itu.
Maka, dengan cepat ia menggeser kepalanya, mendekati telinga orang itu untuk berbisik, "Ingat kesehatanmu!
Mereka bisa mencuri apa saja! Asal gurumu yang kedua turun tangan, sepuluh surat wasiat pun dapat ia curi!" Kwee Ceng menganggap kata-kata itu benar.
Ia tahu betul kepandaian gurunya yang nomor dua itu, yaitu Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong si Mahasiswa Tangan Lihay.
Maka itu ia berusaha menenangkan diri, tidak suka ia mendengar lebih jauh pembicaraan mereka.
Ia memejamkan kedua matanya.
Oey Yong mengintai lagi, justru saat Wanyen Lieh mengangkat cawan araknya.
Setelah menenggak habis, pangeran ini berkata dengan gembira, "Semuanya hamba percayakan kepada tuan-tuan.
Jasa Auwyang Sianseng adalah yang nomor satu! Jikalau sianseng tidak mengusir bocah bermarga Kwee itu, pastilah kita harus bekerja lebih sulit lagi." Auwyang Hong tertawa kering, suaranya bagaikan porselen pecah.
Hati Kwee Ceng berdenyut mendengar tawa orang itu.
Oey Yong pun bingung, hingga ia berkata sendiri,
"Terima kasih kepada langit dan bumi, biarlah makhluk berbisa tua bangka ini jangan mengoceh lebih lama di sini, bisa-bisa Kakak Ceng nanti celaka karenanya?" "Tempat ini sangat terpencil dan sunyi," berkata Auwyang Hong, "Tentara Song tidak akan bisa menyusul kita sampai di sini.
Sebenarnya apa isi surat wasiat Gak Bu Bok itu? Baiklah kita bersama melihatnya, untuk menambah wawasan kita." Sembari berkata, ia merogoh sakunya untuk mengeluarkan kotak batu itu, yang lalu ia letakkan di atas meja.
Di mulut See Tok mengatakan demikian, tetapi dalam hatinya ia sudah memutuskan: apabila surat wasiat itu berfaedah, ia akan merampasnya untuk menjadi miliknya sendiri. Namun jika itu hanya ilmu perang biasa, yang baginya tidak penting, ia rela mengalah dan menyerahkannya kepada Wanyen Lieh, dengan begitu ia akan berbuat jasa untuk pangeran itu.
Sejenak itu, semua mata diarahkan kepada kotak batu itu. Oey Yong melihat semua itu, dan segera otaknya bekerja.
"Dengan cara apa aku harus mengambil tindakan untuk memusnahkan surat wasiat itu?" demikian pikirnya.
"Memusnahkannya adalah yang terbaik daripada surat wasiat itu jatuh ke tangan manusia-manusia jahat dan berbahaya ini!" Lalu terdengar suara Wanyen Lieh, "Ketika hamba memeriksa surat peninggalan Gak Hui itu, yang bunyinya seperti teka-teki, lalu dihubungkan dengan catatan hikayat beberapa kaisar di dalam istana kaisar bermarga Tio itu, maka tahulah hamba bahwa surat wasiat ini disimpan di Cui Han Tong, di dalam kotak batu yang berada lima belas langkah di arah Timurnya.
Buktinya sekarang, dugaanku itu tidak salah. Aku percaya, tidak ada orang yang tahu mengapa terjadi pengacauan kita di dalam istana semalam?" Kelihatannya pangeran ini sangat puas, terlebih setelah orang-orang kembali memujinya.
Wanyen Lieh mengelus kumisnya.
"Kang, bukalah kotak itu!" ia memerintah.
Yo Kang menurutinya.
Ia maju, mendekat.
Terlebih dahulu ia menyingkirkan segel kotak itu, setelah itu ia membuka tutupnya.
Maka ke dalam kotak itu menyorotlah pandangan mata semua orang.
Apa yang dilihat membuat semua hadirin menjadi tercengang karena heran, sehingga untuk sesaat itu tidak ada seorang pun yang dapat bersuara.
Semua mata diarahkan tajam ke dalam kotak batu, yang diharapkan isinya istimewa. Siapa sangka kotak itu ternyata kosong melompong, tidak ada benda apa pun di dalamnya. Jangan kata surat wasiat tentang siasat perang, sehelai kertas kosong pun tidak ditemukan.
Oey Yong tidak dapat ikut melihat isi kotak, tetapi ia melihat jelas wajah semua orang, maka ia pun menduga bahwa kotak itu kosong.
Diam-diam ia bersyukur.
Wanyen Lieh menjadi sangat lesu, ia duduk sambil memegangi meja, sebelah tangannya menopang dagu.
Ia berpikir keras sekali.
Dalam hatinya ia berkata, "Aku telah berpikir matang, aku menduga surat wasiat itu berada di dalam kotak ini. Kenapa surat itu tak ada sedikit pun bayangannya?" Begitu ia berpikir demikian, ia pun mendapat sebuah gagasan, wajahnya menjadi bercahaya saking gembiranya.
Disertai suara nyaring, kotak itu pecah menjadi beberapa keping.