Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 194

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 194

Oey Yong melepaskan cekalannya sesudah orang itu lemas dan kewalahan tidak keruan. Ia muncul di permukaan air, akan tetapi meski telah menanti sekian lama, ia tidak melihat orang itu timbul, sehingga ia menjadi heran.

Lekas-lekas ia menyelam kembali.

Ia dapat membuka matanya di dalam air, sehingga ia dapat melihat orang itu sedang bergerak ke arah darat.

Ia terperanjat saking heran dan kagumnya.

Tak ayal lagi, ia berenang menyusul.

Ia menggerakkan tangan dan kakinya tanpa suara. Setelah jaraknya dekat, ia menikam dengan tempulingnya.

Kebetulan Auwyang Kongcu sedang mempercepat gerakannya, ia lolos dari tikaman itu.

Sementara itu, ia sudah tiba di tempat yang dangkal, ia dapat berdiri dengan kepalanya di luar air.

Ia melepaskan pegangannya, membuka kedua matanya, dan menghela napas, melegakan hatinya.

Oey Yong pun menghela napas.

Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi terhadap anak muda itu, terpaksa ia menyelam pergi.

Auwyang Kongcu merayap naik ke darat. Ia merasakan telinganya berdenging dan matanya kabur, tetapi ia masih ingat untuk segera rebah tengkurap di tanah guna mengeluarkan air dari dalam perutnya.

Habis itu, ia merasakan lemah sekali, seperti baru sembuh dari semacam penyakit berat.

Terus ia beristirahat.

"Biar aku mampusi dulu si pengemis bangkotan!" demikian keputusannya.

"Hendak aku lihat, budak itu nanti menurut padaku atau tidak!"

Walaupun ia telah berkeputusan demikian, Auwyang Kongcu tidak segera turun tangan untuk mewujudkannya. Ia masih sangat lelah, maka ia beristirahat terus. Ia menjalankan napasnya untuk mengatur pernapasannya.

Sesudah berselang lama, baru ia bangkit berdiri untuk mencari sebatang pohon kuat yang ia patahkan sebagai senjata guna menotok jalan darah.

Tiba di dekat gua, ia bertindak dengan hati-hati. Bagaimana pun, ia masih jerih terhadap pengemis tua itu. Di mulut gua, ia memasang telinga. Ia tidak dapat mendengar suara apa pun. Ia masih menanti beberapa saat, baru ia bertindak masuk. Ia tidak berani masuk langsung, melainkan mepet ke pinggiran, majunya setindak demi setindak.

Sekarang ia bisa melihat Pak Kay sedang duduk bersila menghadap matahari. Orang tua itu sedang berlatih dengan ilmu dalamnya. Dilihat dari air mukanya yang segar, ia seperti tidak tengah menderita luka parah.

"Baiklah, aku mencoba dulu untuk mengetahui dia dapat berjalan atau tidak," pikir si anak muda yang sangat berhati-hati. Setelah diperdaya Oey Yong, ia menjadi semakin cerdik.

"Paman Ang!" ia berseru.

"Celaka! Celaka!"

Ang Cit Kong dapat mendengar teriakan itu; ia langsung membuka matanya. "Ada apa?" ia bertanya.

"Adik Oey mengejar kelinci, dia terjatuh ke dalam jurang!" sahut Auwyang Kongcu, suaranya dibuat tidak lancar. "Dia terluka parah, sampai tidak dapat bangun!"

Nampaknya Ang Cit Kong kaget. "Lekas tolongi dia!" seru dia.

Mendengar perkataan orang itu, girangnya Auwyang Kongcu bukan kepalang. Ia mengerti, kalau pengemis tua itu bisa berjalan, mestinya ia sudah melompat bangun dan berlari pergi guna menolong nona itu.

Maka ia bertindak maju ke mulut gua sembari tertawa lebar, "Dia telah menggunakan seribu satu akal untuk mencelakai aku, mana sudi aku menolonginya? Pergi kau sendiri yang menolonginya!"

Ang Cit Kong terperanjat. Kata-kata dan sikap anak muda itu menandakan bahwa ia tak takut lagi kepadanya.

"Rupanya ia telah mengetahui kepandaianku sudah musnah," pikirnya. "Inilah tandanya telah habis perjalanan hidupku!"

Tapi Pak Kay tidak hendak menyerah begitu saja, maka ia bersiap sedia untuk mati bersama. Diam-diam ia mencoba mengumpulkan tenaganya di tangan untuk menghajar dengan sekali pukul. Kesudahannya, ia kaget sekali. Begitu bertenaga, ia merasakan luka di punggungnya sakit, semua tulangnya seperti hendak buyar.

Sementara itu, ia melihat Auwyang Kongcu datang sambil menyeringai. Tanpa terasa ia menghela napas panjang, lantas ia memejamkan kedua matanya untuk menantikan kebinasaannya.

Ketika itu Oey Yong di dalam air telah berpikir, menduga bahwa selanjutnya makin sukar melayani Auwyang Kongcu yang mestinya jadi semakin licin. Ia menyelam beberapa tombak jauhnya, baru ia muncul di permukaan air.

Ketika ia melihat daratan, ternyata bukan tempat di mana tadi ia bergulat dengan Auwyang Kongcu. Di sini pepohonannya lebih lebat.

Tiba-tiba saja ia teringat pulaunya sendiri, maka ia berpikir, "Alangkah baiknya kalau aku dapat mencari suatu tempat bersembunyi untuk aku berdiam bersama suhu sambil merawatnya, tentulah si bangsat tidak gampang dapat mencari kita?"

Habis berpikir, si nona mendarat. Ia tidak berani langsung jalan begitu saja, ia berjalan di sepanjang tepian karena khawatir bertemu dengan keponakannya, Auwyang Hong.

"Coba dulu aku tidak terlalu gemar bermain dan aku pelajari ilmu Kie-bun Ngo-heng, sekarang tentulah dapat aku melayani bangsat itu," pikirnya pula. Ia seperti melamun. "Ah, sayang Ayah telah menyerahkan peta Tho Hoa To kepadanya! Jahanam itu sangat cerdas, tentulah ia pun dapat memahami peta itu."

Berjalan seperti melamun, Oey Yong kurang memperhatikan jalanan yang dilalui. Tiba-tiba ia tersandung akar rotan dan terhuyung. Berbarengan dengan itu, di atas kepalanya terdengar bunyi sesuatu yang disusul jatuhnya butir-butir tanah keras seperti batu.

Segera ia melompat menyamping, lalu mengangkat kepala dan memandang ke atas. Apa yang ia saksikan membuatnya kaget sekali hingga jantungnya berdebar kencang. Di atas lamping itu ada sebuah batu besar. Batu itu tampak merongkong sebelah dan seolah bergoyangan, sehingga sewaktu-waktu bisa jatuh ke bawah. Peluruhan batu barusan datangnya dari bawah batu besar itu. Di batu itu pun melilit banyak pohon rotan, salah satunya yang menjalar ke bawah, yang barusan ia injak sehingga ia tersandung.

Hancur remuk tubuhnya, andaikata batu itu jatuh dan menimpanya.

Masih Oey Yong mendongak mengawasi sampai kagetnya lenyap. Ia heran atas letak batu itu. Itulah pengaruh alam. Hanya dengan disentil sekali saja, mungkin batu itu akan jatuh ambruk. Entah sudah berapa puluh tahun batu itu bercokol di tepi jurang tersebut.

Sampai di situ, batal Oey Yong maju terus. Ia sekarang berjalan kembali karena ingin melihat gurunya. Belum jauh berjalan, tiba-tiba ia mendapat satu pikiran.

"Yang Maha Kuasa hendak membinasakan jahanam itu, maka diciptakanlah batu luar biasa ini," pikirnya. "Kenapa aku jadi setolol ini?"

Girang luar biasa, nona ini sampai berjingkrak dan jungkir balik dua kali. Ia lantas lari kembali ke tempat batu tadi, ia memasang mata untuk memperhatikan letaknya. Di samping itu, ada banyak pohon yang besar dan tinggi. Kalau orang melompat menyingkir, paling jauh hanya empat atau lima kaki. Kalau batu jatuh, burung sekalipun tak keburu terbang menyingkir.

Segera nona ini mengeluarkan pisau belatinya yang panjangnya kira-kira empat dim. Itulah pisau untuk menyembelih ayam atau memotong daging. Ia genggam pisau itu di tangan kanan, lantas ia bertindak turun ke lembah. Ia memotong tujuh atau delapan akar rotan yang melilit batu besar itu. Ia tidak mengganggu semuanya, hanya memotong putus beberapa puluh akar lainnya.

Ia bekerja cepat, sesekali menahan napas dan menghela. Ia pun berlaku hati-hati supaya tidak membuat batu itu tergerak. Karena ia mesti memotong puluhan akar, ia mandi keringat. Kemudian, setelah memastikan semua akar itu terputus, ia bertindak pergi. Ia mencoba mengingat baik-baik tempat ini. Ia berjalan sambil bernyanyi perlahan, suatu tanda ia merasa puas sekali.

Selagi mendekati gua, si nona tidak melihat Auwyang Kongcu. Ia berjalan terus. Sekonyong-konyong ia mendengar suara tertawa panjang dan nyaring yang keluar dari dalam gua. Ia mengenali suara si anak muda yang disusul dengan kata-katanya yang nyaring: "Kau sombongkan kepandaianmu yang lihai, sekarang kau roboh di tangan kongcumu! Kau takluk tidak? Baiklah, karena aku kasihan pada usiamu yang sudah lanjut, aku menyerah untuk kau menyerang dulu tiga kali! Bagaimana?"

Takutnya Oey Yong bukan main. Ia insyaf akan bahaya yang mengancam gurunya itu. Namun, ia cerdik luar biasa. Di saat berbahaya seperti itu, ia mendapat akal.

"Ayah, Ayah!" ia berteriak-teriak. "Kenapa kau datang ke mari? Eh, kau juga Auwyang Peehu? Kenapa kau pun datang?"

Nyaring suara si nona, terdengar sampai di dalam gua. Auwyang Kongcu tengah mempermainkan Ang Cit Kong dan hendak membinasakannya, ia menjadi kaget sekali mendengar suara si nona.

"Ah, kenapa pamanku bisa datang bersama-sama Oey Lao Shia?" pikirnya. Ia sangat curiga hingga ia berpikir pula, "Jangan-jangan ini pun permainan gilanya si budak cilik. Ia hendak menolong pengemis bangkotan ini, ia menipu aku supaya aku keluar."

"Tapi tak apa, baik aku melihat dulu. Pengemis ini toh tak bakal lolos dari tanganku!" Maka ia bertindak keluar dari gua.

Oey Yong berada di tepian, di pasir. "Ayah! Ayah!" suaranya terdengar, tangannya diulap-ulapkan.

Auwyang Kongcu memandang jauh ke sekeliling, tetapi ia tidak melihat siapa pun, baik Oey Yok Su maupun pamannya. Maka ia tertawa terbahak-bahak.

"Adikku, kau memancing aku supaya aku menemanimu?" katanya. "Kau lihat, bukankah aku sudah keluar?"

Si nona menoleh, ia tertawa, matanya pun bermain. "Siapa yang sudi mendustaimu?" katanya manis. Ia lari di sepanjang pasir.

Auwyang Kongcu tertawa. "Kali ini aku telah bersiaga," katanya. "Jikalau kau berpikir untuk menyeret pula aku ke laut, marilah kita mencoba-coba!"

Sembari berkata, pemuda ini lari untuk mengejar. Hebat ilmu ringan tubuhnya, sebentar saja ia sudah mendekati si nona.

"Celaka!" keluh Oey Yong.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment