Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 87

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 87

"Akurkah kau?" "Asal kau dapat lolos, akan aku menyerah kalah!" Thong Thian menjawab.

Oey Yong lantas menghela napas.

"Sayang, sayang," katanya dengan masgul. "Ayahku cuma mengajarkan aku menyerang masuk, dia tidak mengajarkan aku ilmu menerjang keluar..."

"Apakah itu menyerang masuk dan menerjang keluar?" tanya See Thong Thian.

Biar bagaimana, ia belum pernah mendengar ilmu masuk dan keluar itu.

"Itulah ilmu untuk merobohkan kau," sahut si nona.

"Kau punya ilmu Menukar Wujud Memindahkan Kedudukan ini, walaupun sudah tidak dapat dicela, apabila dibandingkan dengan kepandaian ayahku, bedanya masih jauh sekali!" Thong Thian gusar.

Ia percaya ilmunya sudah di puncak kemahiran.

"Kau ngaco, budak cilik!" bentaknya. "Siapakah ayahmu itu?"

"Jikalau aku sebutkan nama ayahku, aku khawatir kau nanti kaget hingga semangatmu terbang!" Oey Yong menjawab. "Ketika dulu ia mengajarkan aku menyerang masuk, ayahku menjaga di mulut pintu, aku memasukinya dari luar. Beberapa kali aku mencoba, aku gagal. Mengenai kepandaianmu ini, memang dari dalam aku tidak sanggup menerjang keluar, akan tetapi kalau dari luar, tak usah menggunakan tenaga untuk meniup debu, pasti aku akan dapat lolos."

Thong Thian mendongkol sekali. "Dari luar masuk ke dalam sama dengan dari dalam pergi keluar, tidakkah itu sama saja?" ia bertanya. "Baiklah, kau boleh coba dari luar!" Ia lantas menggeser tubuhnya guna mengizinkan si nona pergi keluar. Ingin ia menyaksikan orang menyerang masuk untuk mengetahui apa macam ilmu tersebut.

Oey Yong lantas saja meleset keluar, terus ia tertawa geli.

"See Liong Ong, kau telah tertipu olehku!" katanya nyaring. "Kau telah bilang sendiri, asal aku berada di luar, kau akan menyerah kalah dan tidak bakal mengganggu aku lagi. Kau lihat, bukankah aku sekarang telah berada di luar? Nah, sampai ketemu lagi!"

See Thong Thian berdiri diam. Memang telah terjadi perjanjian itu, tidak peduli si nona menggunakan akal bulus. Saking menyesalnya, ia mengetuk kepalanya sampai tiga kali.

Pheng Lian Houw bersahabat erat sekali dengan Kwie-bun Liong. Ia tidak suka membiarkan kawannya itu diperdayakan demikian, ia juga tidak senang orang dapat pergi begitu saja. Karena itu, ia segera mengayunkan kedua tangannya. Maka menyambarlah dua renteng senjata rahasia yang berupa *kim-chie* atau uang emas.

Orang bermarga Pheng ini adalah seorang ahli hingga memperoleh julukan "Cian Ciu Jin-touw", yang berarti pembunuh manusia seribu tangan. Maka tidaklah heran kalau ia memiliki keistimewaan tersendiri. Senjata rahasianya itu seperti bumerang. *Kim-chie* lewat di atas kepala Oey Yong, lalu berbalik sendiri dan terus menyerang ke arah punggung.

Oey Yong heran dan kaget. Ia melihat serangan lewat di atas kepalanya dan berpikir mengapa kepandaian orang ini begitu buruk. Tapi, justru saat ia heran, ia mendengar suara angin, lalu kedua senjata rahasia itu berbalik menyambar dari kiri-kanan mengarah batok kepalanya. Ia menjadi kaget sekali. Ia memiliki mustika pelindung tubuh, tidak demikian dengan kepalanya. Kalau ia terserang jitu, celakalah ia.

Karena itu, ia melompat ke depan. Baru saja ia menaruh kaki, *kim-chie* yang belakangan sudah menyambar pula. Hebatnya, dua renteng *kim-chie* dari Pheng Lian Houw terdiri dari beberapa puluh biji yang datang saling susul. Tidak mungkin *kim-chie* itu ditangkis. Tidak ada jalan lain, terpaksa ia terus melompat maju. Maka, dalam sekejap ia telah kembali ke ruangan besar!

Tidak ada niat Pheng Lian Houw untuk melukai si nona; ia menyerang dengan senjata rahasianya guna menggiring nona itu kembali ke dalam. Kalau tidak demikian, pasti Oey Yong tidak sanggup membebaskan diri dari bahaya maut atau setidaknya terluka. Melihat itu, semua orang bersorak saking gembira.

Lian Houw sendiri lantas berdiri di ambang pintu. "Bagaimana?" ia tertawa. "Kau kembali ke dalam?"

Oey Yong mengejek, "Kepandaianmu menggunakan senjata rahasia bagus sekali. Melainkan sayang, kau gunakan itu untuk menghina seorang anak perempuan!"

"Apa yang aneh? Siapa yang menghina kau?" Lian Houw bertanya. "Aku toh tidak melukai kamu?"

"Kalau begitu, kau biarkanlah aku berlalu dari sini," kata si nona.

"Kau bilang dulu, siapa yang mengajarkan kamu ilmu silat," ujar Lian Houw.

Nona nakal itu tertawa. "Aku telah mempelajari ini sejak aku dalam kandungan ibuku," jawabnya.

"Kau tidak hendak memberitahu, apakah dengan begitu kau menyangka aku tidak akan mengetahuinya?" Lian Houw berkata seraya sebelah tangannya menyambar pundak orang.

Oey Yong tidak menangkis, ia pun tidak berkelit. Ia tahu tidak dapat melawan jago ini, ia mencoba berlaku nekat hendak menyangkal terus-menerus. Lian Houw melihat orang diam saja, saat tangannya hampir mengenai pundak si nona, ia lantas menariknya kembali.

"Lekas menangkis!" ia berseru. "Lekas! Dalam sepuluh jurus, aku orang bermarga Pheng pasti akan mengetahui asal-usulmu!"

Ia memang luas pengetahuannya dan mengenali ilmu silat pelbagai golongan, tetapi ilmu silat Oey Yong membuatnya sangsi. Karena itu, ia ingin menempur selama sepuluh jurus untuk memperoleh kepastian.

"Jikalau sampai sepuluh jurus kau masih belum dapat mengetahui?" tanya Oey Yong.

"Aku akan memerdekakanmu! Awas!"

Sambil menjawab demikian, Lian Houw menyambar dengan tangan kiri yang disusul dengan tinju kanan, dibarengi tendangan kaki kanan. Inilah pukulan berantai tiga kali yang hebat. Oey Yong terkesiap melihat datangnya serangan saling susul, akan tetapi ia tidak menjadi kaget atau gugup. Sebat sekali ia mundur sambil memutar tubuh dengan sebelah kaki, hingga memperlihatkan sikap "Si ayam emas berdiri dengan satu kaki". Dengan begitu, ia lolos dari bahaya.

Dalam hatinya, Pheng Lian Houw berkata, "Inilah ilmu silat Jie Long Kun dari keluarga Luow dari Ceciu, Shoatong. Keluarga itu memang mengutamakan kelincahan. Coba aku desak pula dia dengan dua jurus." Lalu pikiran ini ia wujudkan dengan cepat sekali.

"Inilah jurus yang kedua!" seru si nona yang menangkis dengan tangan kiri untuk memusnahkan serangan orang. Ia bersilat dengan ilmu silat Iwee-kee.

Pheng Lian Houw menjadi heran. "Inilah jurus Pak-kek-sie dari ilmu silat Liok Hap dari Kangpak," pikirnya pula. "Ilmu silat ini bertentangan dengan Jie Long Kun yang adalah dari pihak Gwa-kee. Kenapa dia dapat meyakinkan dalam dan luar secara bersamaan?"

Lantas orang bermarga Pheng ini melanjutkan serangannya yang ketiga dan keempat, karena jurus kedua dan ketiga dapat dihindarkan si nona, demikian pula dengan yang keempat. Oey Yong menolong diri dengan ilmu silat Keluarga Swee dari Thay-goan, yaitu ilmu silat "Cut In Ciu" atau "Keluar dari Mega".

Lian Houw menjadi bertambah heran. "Heran, bocah ini mempunyai ilmu silat campur aduk seperti ini! Mungkinkah ia sengaja berbuat begini untuk mencegah aku mengenali asal-usulnya? Baik aku gunakan pukulan yang kejam, dengan begitu tidak mungkin ia tidak menggunakan ilmu silatnya yang sejati guna menolong diri," katanya dalam hati.

Oleh karena berpikir begitu, Lian Houw segera menyerang dengan jurusnya yang kelima yang hebat sekali. Jika yang keempat pertama bengis, namun tidak sekejam ini. Semua orang terkejut melihat kawannya bersikap kejam begitu, dengan sendirinya mereka khawatir untuk Oey Yong, sedang si nona pun segera menjadi kelabakan. Ia hanya bisa berkelit dan menangkis, tidak dapat mencoba membalas menyerang.

Auwyang Kongcu, pemilik dari Pek To San, lantas berkata, "Budak ini barusan menggunakan jurus 'Menggantung kumala di gantungan emas'. Itulah ilmu silat Lo Cia Sie dari partai Siong Yang Pay. Dia menyusuli itu dengan jurus 'Menunggang harimau mengalah tindak' dari ilmu silat Tiang Kun dari Kwantong, yang mirip dengan ilmu silatnya saudara Som Sian Lao Koay. Ah, inilah 'Tepukan tiga kali' dan 'Gunting emas', jurus dari Cu-ngo Tay Kok Kiam dari Kanglam. Banyak benar ragam ilmu silatnya. Ah, dia celaka! Kenapa ia tidak berkelit ke kiri?"

Pheng Lian Houw mendesak terus, sampai pada jurus kedelapan, tangan kirinya menggertak, tangan kanannya meninju. Oey Yong tahu tangan kiri itu adalah ancaman belaka, maka berniat ia berkelit ke kanan. Namun, saat itu juga ia mendengar perkataan terakhir dari sang pemilik Pek To San. Tiba-tiba ia mendapat pikiran baru, segera ia menerjang tangan kiri orang bermarga Pheng itu dengan jurus "Tibanya air mata es dingin," salah satu jurus dari ilmu silat "Soat San Pat To" dari See Hek, wilayah Barat.

Melihat itu, Auwyang Kongcu tertawa dan mengatakan, "Ha, dia menggunakan ilmu silatnya tetanggaku!"

Pheng Lian Houw mendengus mendengar suara orang bermarga Auwyang itu. Terang si gadis ini telah diberi bisikan, hingga gagallah serangannya. Karena ini, ia menjadi mendongkol terhadap si nona. Ia berkata dalam hatinya, "Mustahil aku tidak mampu menghajar habis kau, budak!"

Ia memang kejam. Kalau mulanya ia menaruh belas kasihan, itu disebabkan si nona cantik dan manis, usianya pun masih sangat muda. Tapi sekarang, setelah ia dilayani dengan ilmu silat dari delapan partai, ia menjadi penasaran, lalu menjadi gusar karena bisikan dari sang pemilik Pek To San itu. Segera ia menyerang dengan jurus kesembilan. Ia menggunakan jurus "Menolak jendela untuk memandang rembulan," ia bergerak dengan kedua tangannya; tangan kiri dibalik ke bawah, tangan kanan ke atas.

Oey Yong terkejut melihat gerakan lawan ini sampai ia mengeluh dalam hatinya. Batok kepalanya bakal hancur luluh kalau ia sampai terkena serangan itu. Untuk menangkis, sudah tidak keburu lagi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment