Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 203

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 203

Pesiar dengan Ikan Hiu

Malam telah tiba dengan segala persiapannya yang sempurna. Hanya tinggal menanti esok pagi, Ang Cit Kong bertiga akan pergi berlayar.

Sebelum tidur, Oey Yong bertanya apakah esok hari mereka perlu berpamitan kepada Auwyang Hong.

"Kita bahkan harus membuat perjanjian untuk bertemu lagi dengannya sepuluh tahun yang akan datang," jawab Kwee Ceng. "Kita telah dihina sedemikian rupa, bagaimana bisa kita tinggal diam saja?"

"Benar!" Gadis itu bertepuk tangan. "Aku berdoa kepada Thian agar kedua jahanam itu dilindungi hingga mereka dapat kembali ke Tionggoan! Semoga si tua bangka berbisa itu diberi umur panjang sepuluh tahun lagi!"

Keesokan paginya, Ang Cit Kong yang terbangun paling awal. Telinganya yang tajam langsung menangkap suara yang mencurigakan di tepi laut. Ia segera duduk dan mempertajam pendengarannya kembali. Itu adalah suara gemercik air.

"Ceng-er, dengar!" serunya memanggil Kwee Ceng. "Suara apa itu di tepi pantai?"

Kwee Ceng terbangun. Ia segera melompat turun dari pohon lalu berlari ke tempat yang lebih tinggi. Dari sana, ia memandang ke arah laut. Apa yang dilihatnya membuat ia mengumpat habis-habisan, lalu segera berlari kencang menuju tepi pantai.

Oey Yong pun turut terbangun dan berlari menyusul. "Ada apa, Kakak Ceng?" tanyanya sambil berlari.

"Kedua jahanam itu telah membawa kabur rakit kita!" sahut Kwee Ceng dengan sangat geram.

Oey Yong terkejut setengah mati. Begitu mereka tiba di tepi pantai, tampak Auwyang Hong sedang membopong keponakannya menaiki rakit, yang segera didorong ke air. Dalam sekejap, rakit itu sudah menjauh beberapa tombak dari daratan.

Saking murkanya, Kwee Ceng berniat melompat ke air untuk berenang mengejar mereka. Namun, Oey Yong segera menarik tubuhnya.

"Kita tidak akan bisa mengejar mereka!" cegah gadis itu.

Tak lama kemudian, terdengar suara tawa lebar Auwyang Hong. "Terima kasih atas rakit yang telah kalian siapkan ini!" ejeknya.

Kwee Ceng gusar setengah mati. Ia melampiaskan kekesalannya dengan menendang pohon di sampingnya. Saat pohon itu bergoyang akibat tendangannya, tiba-tiba Oey Yong teringat sesuatu.

"Ada jalan!" serunya. Gadis itu segera memungut sebongkah batu besar, lalu membawanya ke dekat pohon untuk diselipkan di sela dahan. Ia berkata lagi, "Tarik pohon itu, kita akan melontarkannya ke arah mereka!"

Kwee Ceng sangat gembira. Ia mendekati pohon itu, mencengkeram bagian atas batangnya, lalu menariknya sekuat tenaga hingga melengkung. Setelah itu, ia melepaskannya. Pohon itu melenting kembali dengan keras, melontarkan batu besar tersebut tepat ke arah rakit.

Namun, batu itu jatuh di samping rakit. Air laut memuncrat tinggi diiringi suara dentuman yang keras.

"Sayang sekali!" keluh Oey Yong. Namun, ia dengan cepat "mengisi kembali" meriam istimewanya itu.

Serangan kedua ini tepat mengenai rakit. Namun, karena rakit tersebut dibuat dengan sangat kokoh, tidak ada kerusakan yang berarti. Mereka mengulangi serangan itu hingga tiga kali, tetapi dua di antaranya gagal.

Melihat kegagalan tersebut, Oey Yong mendapatkan ide lain. "Mari, biar aku yang menjadi pelurunya!" serunya.

Kwee Ceng terperangah, tetapi sesaat kemudian ia mengerti. Bukankah gadis itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang hebat dan sangat pandai berenang? Maka, dengan cepat ia menyerahkan pisau belatinya. "Hati-hati!" pesannya.

Kwee Ceng segera menarik kembali batang pohon itu, sementara Oey Yong memanjat ke atasnya. "Tembak!" seru gadis itu setelah bersiap.

Kwee Ceng menuruti perintahnya dan melepaskan pegangannya. Dalam sekejap, tubuh Oey Yong melesat ke udara, berputar beberapa kali sebelum akhirnya menceburkan diri ke dalam air, sekitar tiga tombak dari rakit.

Caranya terjun sangat indah, membuat air tepercik bagaikan kelopak bunga yang berguguran. Auwyang Hong dan keponakannya sampai terpana melihatnya.

Oey Yong tidak berputus asa. Ia segera menyelam dan berenang di dalam air untuk mengejar rakit tersebut. Tak butuh waktu lama baginya untuk tiba di bawah rakit.

Auwyang Hong mencoba membela diri. Dengan galah besinya, ia menusuk-nusuk ke empat penjuru air, mencoba memukul atau menusuk gadis itu, tetapi usahanya sia-sia.

Di dalam air, Oey Yong segera beraksi. Awalnya ia berniat memotong tali pengikat rakit agar balok-balok kayunya terlepas. Namun, tiba-tiba ia mendapat akal lain. Ia membatalkan niatnya untuk memotong tali itu sepenuhnya; ia hanya mengeratnya tipis-tipis di beberapa bagian. Ia ingin membiarkan rakit istimewa itu mencapai tengah laut terlebih dahulu. Nanti, setelah dihantam gelombang pasang surut, tali pengikat itu akan putus dengan sendirinya.

Setelah selesai bekerja, gadis itu tetap menyelam di dalam air untuk beberapa lama, sebelum akhirnya muncul kembali ke permukaan. Kini ia telah berada sekitar sepuluh tombak di belakang rakit. Ia sengaja berteriak-teriak seolah-olah tidak mampu mengejar lagi.

Auwyang Hong tertawa terbahak-bahak dan membiarkan rakitnya terus melaju. Tidak lama kemudian, rakit itu sudah berada jauh dari pulau terpencil tersebut.

Oey Yong berenang kembali ke pantai. Begitu ia mendarat, Ang Cit Kong dan Kwee Ceng sudah berada di sana. Sang guru dan Kwee Ceng masih terus mengumpat habis-habisan atas kelicikan dan kejahatan See Tok. Namun, mereka heran melihat raut wajah Oey Yong yang tampak gembira.

"Mengapa kau malah gembira?" tanya sang guru. Kwee Ceng pun ikut bertanya heran.

Oey Yong kemudian menceritakan apa yang baru saja dilakukannya.

"Bagus sekali!" seru Ang Cit Kong dan Kwee Ceng dengan gembira.

"Meskipun kita telah mengirim mereka menuju liang kubur di tengah lautan, kita sendiri harus bekerja keras membuat rakit yang baru," kata Oey Yong kemudian.

"Tidak apa-apa, mari kita mulai bekerja lagi!" sahut Kwee Ceng.

Mereka pun kembali untuk sarapan. Setelah itu, dengan semangat membara, mereka mulai menebang pohon, mengumpulkan balok kayu, dan mengikatnya satu sama lain untuk dijadikan rakit baru. Mereka juga memintal tali sendiri.

Beberapa hari kemudian, rakit mereka pun selesai. Sekali lagi mereka mempersiapkan segala perbekalan. Tepat ketika angin tenggara bertiup kencang, Kwee Ceng mengembangkan layar untuk memulai pelayaran mereka menuju arah barat.

Oey Yong memandang ke arah pulau yang perlahan-lahan tampak semakin mengecil di kejauhan. Akhirnya, ia menghela napas.

"Hampir saja kita bertiga kehilangan nyawa di pulau kosong itu," katanya. "Namun, hari ini, saat harus pergi, rasanya ada sesuatu yang berat di hati."

"Lain kali, jika kita memiliki waktu luang, kita bisa berpesiar lagi ke sini!" hibur Kwee Ceng.

"Bagus!" seru gadis itu dengan gembira. "Lain kali kita harus datang lagi ke sini! Tapi ingat, jangan sampai kau ingkar janji! Sekarang, mari kita beri nama pulau ini. Suhu, menurutmu nama apa yang bagus?"

"Kau menggunakan batu besar untuk menindih keponakan jahanam itu," jawab sang guru, Ang Cit Kong. "Maka, sebaiknya kita beri nama Pulau Ap Kwie (Ap Kwie To), yang berarti Pulau Menggencet Iblis."

"Nama itu kurang menarik," komentar Oey Yong.

"Kau ingin mencari nama yang menarik? Kalau begitu, jangan tanya kepada pengemis tua bangka ini!" gurau sang guru. "Tetapi si tua bangka berbisa itu pernah meminum air seniku. Lebih baik kita namai saja Pulau Minum Air Seni!"

Oey Yong tertawa geli seraya melambaikan tangannya tanda tidak setuju. Ia memiringkan kepalanya sejenak untuk berpikir. Matanya tertuju pada cahaya senja yang indah yang menyelimuti pulau terpencil tersebut.

"Bagaimana kalau diberi nama Beng Hee To?" usulnya kemudian. "Artinya, Pulau Sinar Senja."

Namun, Ang Cit Kong menggelengkan kepalanya. "Tidak cocok," katanya. "Nama itu terlalu indah."

Kwee Ceng membiarkan guru dan murid itu terus berdebat manis, sementara ia sendiri hanya tersenyum simpul di dekat kemudi.

Mereka terus berlayar selama dua hari penuh, dan arah angin masih belum berubah.

Pada malam kedua, saat Ang Cit Kong dan Oey Yong tengah tertidur, Kwee Ceng yang bertugas memegang kemudi tiba-tiba mendengar suara teriakan di antara deru angin: "Tolong! Tolong!" Suara itu parau dan berat, seperti bunyi pecahan tembikar yang saling beradu.

Ang Cit Kong rupanya juga mendengar teriakan itu dan langsung terbangun dari tidurnya. "Itu suara si tua bangka berbisa!" ujarnya.

Jeritan itu kembali terdengar. Oey Yong yang juga terbangun segera mencengkeram lengan gurunya dengan ketakutan. "Hantu! Hantu!" bisiknya.

Saat itu adalah akhir bulan keenam. Langit tidak dihiasi sang putri malam, bahkan bintang-bintang pun tampak jarang, sehingga lautan terasa gelap gulita. Dalam suasana seperti itu, jeritan misterius tersebut memang terdengar sangat mengerikan.

"Apakah itu kau, si tua bangka berbisa?" teriak Ang Cit Kong mencoba memastikan. Namun, karena tenaga dalamnya telah musnah, suaranya tidak dapat terdengar jauh.

Kwee Ceng segera mengerahkan energinya lalu berseru dengan lantang, "Apakah Paman Auwyang berada di sana?"

"Benar, aku Auwyang Hong!" jawab orang yang berteriak meminta bantuan itu. "Tolong!" ratapnya lagi.

"Tidak peduli dia manusia atau iblis, sebaiknya kita terus berlayar saja!" kata Oey Yong menghalang-halangi.

"Kita harus menolongnya!" tiba-tiba Ang Cit Kong menyela.

"Jangan, Suhu! Jangan!" cegah gadis itu. "Aku takut!"

"Dia bukan iblis," kata Ang Cit Kong.

"Meskipun begitu, orang jahat seperti dia tidak layak ditolong!" sahut Oey Yong.

"Menolong orang yang kesusahan adalah aturan utama pengemis dari Kaum Kay Pang," kata sang guru dengan tegas. "Kita berdua adalah Ketua Kay Pang dari dua generasi yang berbeda. Kita tidak boleh merusak aturan yang sangat kita hormati itu."

Oey Yong terpaksa diam. Ia hanya bisa mengawasi Kwee Ceng yang mulai mengayuh rakit menuju ke arah datangnya suara teriakan tersebut.

Begitu mereka mendekat, di tengah kegelapan malam, tampak samar-samar dua kepala orang yang terombang-ambing di antara gulungan ombak. Di dekat mereka terdapat sebatang kayu besar, yang jelas merupakan sisa-sisa dari rakit mereka yang hancur. Berkat bantuan batang kayu itulah Auwyang Hong dan keponakannya berhasil bertahan dan tidak tenggelam.

Kwee Ceng membungkuk, lalu mencengkeram kerah baju keponakan Auwyang Hong untuk mengangkatnya naik ke atas rakit.

Ang Cit Kong yang berhati mulia bahkan melupakan keselamatannya sendiri. Ia mengulur tangannya untuk membantu menarik Auwyang Hong naik.

Namun, See Tok justru mengerahkan sisa kekuatannya. Dengan memanfaatkan tarikan tenaga dari Pak Kay, ia melompat naik ke atas rakit. Malangnya bagi Ang Cit Kong, akibat tarikan yang sangat kuat itu, tubuhnya yang tanpa tenaga dalam justru terseret jatuh dan tercebur ke dalam laut!

Kwee Ceng dan Oey Yong terkejut setengah mati. Keduanya langsung terjun ke air untuk menyelamatkan sang guru.

Dengan amarah yang meluap-luap, Oey Yong langsung menegur See Tok, "Guruku berbaik hati menolongmu! Mengapa kau malah menariknya hingga tercebur ke dalam laut?!"

"Aku... aku tidak sengaja," jawab Auwyang Hong dengan suara lirih. Ia tahu bahwa Ang Cit Kong telah kehilangan seluruh kesaktiannya. Di samping itu, ia sendiri sudah sangat lelah, kelaparan, dan kehausan, sehingga terpaksa menurunkan keangkuhannya. "Saudara Cit, aku meminta maaf kepadamu."

Sang Pak Kay hanya tertawa terbahak-bahak mendengar hal itu. "Bagus, bagus sekali ucapanmu!" sahutnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment