Chapter 118
"Mari kita lihat," ujar mereka. Mereka mengayuh perahu, hendak menghampiri tukang pancing itu. Ternyata, orang itu telah berhenti memancing, menyimpan pancingnya, dan mengayuh perahunya pergi.
Ketika jarak perahu mereka tinggal beberapa tombak lagi, terdengar tukang pancing itu berkata, "Di tengah telaga bertemu dengan sepasang tamu mulia, aku girang sekali! Sudikah kalian singgah untuk minum arak bersamaku?"
"Kami khawatir mengganggu Lotiang," sahut Oey Yong. Ia merasa heran dengan tutur kata yang rapi dari si tukang pancing itu.
"Tidak sama sekali, justru aku malah bergirang. Silakan!" ajak nelayan itu lagi.
Dengan beberapa kali kayuhan, Oey Yong merapatkan perahunya ke perahu nelayan tersebut. Bersama Kwee Ceng, ia berpindah perahu setelah menambat perahu mereka sendiri. Keduanya pun memberi hormat.
Nelayan itu membalas hormat sambil tetap duduk. "Maaf, Jiwi, kakiku sakit, jadi aku tidak dapat berdiri."
"Jangan merendah, Lotiang," sahut muda-mudi itu.
Mereka melihat seseorang yang berusia empat puluh tahun lebih dengan wajah kurus, mirip orang yang sedang menderita sakit parah. Tubuhnya jangkung, bahkan saat duduk pun ia tampak jauh lebih tinggi daripada Kwee Ceng. Ia tidak sendirian; di bagian belakang perahu, seorang pelayan sedang mengipasi perapian untuk memanaskan arak.
Oey Yong memperkenalkan diri mereka yang sedang asyik bermain perahu, lalu memohon maaf karena telah mengganggu ketenangan nelayan tersebut.
"Kau merendah," kata si nelayan sambil tertawa. "Namaku Liok. Apa Jiwi berdua baru pertama kali ini bertamasya di telaga ini?"
"Benar," sahut Kwee Ceng.
Kedua pemuda itu—karena Oey Yong sedang menyamar—kemudian diundang minum dan makan sayur-mayur yang terdiri dari empat jenis. Mereka mengucapkan terima kasih, lalu makan dan minum bersama. Araknya terasa wangi dan sayurannya pun lezat, seolah masakan seorang hartawan.
"Siauwko, kau masih muda sekali, tetapi pandai melantunkan syair Naga Air itu," puji orang bermarga Liok tersebut.
"Lotiang pun sama," balas Oey Yong. Keduanya kemudian berbincang mengenai syair tersebut dengan gembira. Kwee Ceng, yang tidak mengerti sastra, hanya terdiam dan kagum.
Saat itu, langit mulai mendung. Orang bermarga Liok itu mengundang kedua tamunya untuk berkunjung ke rumahnya dan menginap beberapa hari. Ia mengatakan bahwa rumahnya terletak di tepi telaga.
"Bagaimana menurutmu, Engko Ceng?" tanya Oey Yong kepada kawannya.
Sebelum Kwee Ceng sempat menjawab, orang itu meyakinkan bahwa rumahnya dekat dan di sana terdapat puncak yang indah. "Jiwi sedang bertamasya, maka jangan menampik," desaknya.
"Kalau begitu, Yong-jie, mari kita merepotkan Tuan Liok," jawab Kwee Ceng kepada kekasihnya. Ia pun mengucapkan terima kasih.
Orang bermarga Liok itu girang dan segera menyuruh pelayannya mengayuh perahu. Sesampai di tepian, langit mulai gelap. Kwee Ceng berkata ingin mengembalikan perahu sewaan dan menitipkan kuda serta keledainya di rumah si tukang perahu.
"Tidak usah," cegah si orang bermarga Liok. "Di sini semua orang mengenalku, biar dia saja yang mengurusnya," ujarnya sambil menunjuk pelayannya.
"Kudaku cukup nakal," kata Kwee Ceng.
"Kalau begitu baiklah, nanti aku menanti di gubukku," jawab orang bermarga Liok itu. Ia tertawa, lalu mengayuh perahunya dan menghilang di antara pohon-pohon yangliu.
Namun, pelayannya tetap ikut bersama Kwee Ceng dan Oey Yong untuk mengembalikan perahu serta mengambil kuda dan keledai mereka. Kemudian, mereka harus berjalan berliku-liku untuk sampai di rumah si orang bermarga Liok, sebuah rumah besar dengan pekarangan yang sangat luas. Untuk tiba di depan pekarangan, mereka harus melintasi sebuah jembatan gantung.
Muda-mudi itu saling mengawasi, kagum dengan kemegahan rumah tersebut. Di depan pintu, mereka disambut seorang pemuda berusia dua puluh tahunan yang membawa empat pelayan. Ia berkata diutus oleh ayahnya untuk menyambut. Kwee Ceng membalas hormat dan mengucapkan terima kasih. Ia memperhatikan pemuda yang mengenakan jubah panjang itu; wajahnya mirip dengan ayahnya, hanya saja tubuhnya lebih besar dan kekar.
Pemuda itu menyebutkan namanya, Koan Eng. Sembari berbicara, mereka masuk ke dalam rumah yang terdiri dari tiga ruangan. Kedua tamu itu semakin kagum karena rumah tersebut begitu indah dengan tiang-tiang berukir.
"Segera persilakan tamu masuk!" terdengar suara orang bermarga Liok dari ruang belakang.
"Ayahku sedang terganggu kakinya, ia menunggu di ruang baca Timur," ujar Koan Eng. Mereka melintasi pintu angin dan melihat pintu ruang baca yang terbuka lebar. Di dalam, si nelayan duduk di atas pembaringan. Kini, ia tidak lagi mengenakan pakaian nelayan, melainkan pakaian sastrawan, dan tangannya memegang kipas.
Ia menyambut dengan gembira dan mengundang mereka duduk. Koan Eng tidak berani duduk bersama, ia hanya berdiri di samping. Kedua tamu itu mengagumi ruang baca yang penuh dengan koleksi kitab dan barang kuno. Namun, Oey Yong terpaku saat melihat sepasang lian di tembok yang bertuliskan, "Dalam tumpukan pakaian menyimpan pedang mustika" dan "Dalam suara seruling dan tambur ada tamu tua".
Ia heran dengan kata-kata tersebut karena itulah kalimat yang sering disenandungkan ayahnya. Di bawah lian itu tertulis nama penulisnya, "Coretan Ngo Ouw Hoat-jin selama dalam sakitnya". Istilah "Ngo Ouw Hoat-jin" berarti "Orang cacat dari Thay Ouw". Ia menduga tuan rumah ini adalah orang cacat tersebut. Bukankah ia memang sedang menderita sakit kaki?
Tuan rumah bertanya, "Bagaimana pandanganmu tentang lian itu, Laotee?"
"Jika saya mengaco, harap Chung-cu tidak berkecil hati," sahut Oey Yong. Ia kini memanggil tuan rumah dengan sebutan "Chung-cu". Ia berkata bahwa lian tersebut mengandung kemurkaan dan rasa penasaran, meski tulisannya sangat bagus dan keren. Ia menganggap sang penulis telah menyimpan pedangnya untuk hidup menyendiri di tempat sepi.
Mendengar itu, tuan rumah menghela napas. "Saya masih muda dan tidak tahu apa-apa, saya telah sembarangan bicara, mohon Chung-cu memaafkan," tambah Oey Yong.
"Jangan berkata demikian, Oey Laotee," ujar Liok Chung-cu. "Apa yang tersimpan di dalam hatiku selama ini, baru hari ini bisa dilihat oleh orang seperti dirimu. Bisa dibilang, kaulah orang yang paling mengenal diriku." Kemudian, ia menoleh kepada putranya dan menyuruhnya menyiapkan hidangan.
Oey Yong dan Kwee Ceng meminta tuan rumah untuk tidak merepotkan diri, tetapi tuan rumah yang muda sudah telanjur pergi.
"Laotee, pandanganmu tajam. Kau pasti berasal dari keluarga terpelajar, mungkin ayahmu seorang sastrawan besar," ujar tuan rumah. "Siapakah ayahmu? Bolehkan aku mengetahui nama besarnya?"
"Saya tidak tahu apa-apa, Chung-cu terlalu memuji," sahut Oey Yong. "Ayahku hanya membuka sekolah di kampung halaman."
Tuan rumah menghela napas. "Orang terpelajar memang jarang menemui nasib baik, dari dahulu hingga sekarang sama saja," katanya. "Oey Laotee, kita seperti sahabat lama, maka aku ingin meminta kau melukis sesuatu untukku sebagai tanda peringatan. Sudikah kau meluluskannya?"
Oey Yong tersenyum. "Oh, Chung-cu! Coretan buruk saya hanya akan mengotori mata Chung-cu saja!"
Mengetahui orang tersebut bersedia, tuan rumah menjadi sangat girang dan segera menyuruh pelayannya menyiapkan peralatan tulis. Oey Yong tidak menolak lagi. Setelah berpikir sebentar, ia melukis seorang mahasiswa paruh baya yang sedang berdiri di latar tengah, menengadah sambil menghela napas memandangi bulan yang bersinar permai. Mahasiswa itu tampak kesepian, namun tangannya memegang gagang pedang dengan gagah. Di samping lukisan itu, ia menuliskan syair "Siauw Tiong San" karya Gak Hui. Sebagai tanda tangan, ia menyebut dirinya sebagai anak muda bermarga Oey.
Liok Chung-cu sangat girang dan memuji lukisan itu. Setelah bersantap, mereka kembali ke ruang baca untuk berbincang. Tuan rumah bercerita tentang Gua Thio Kong dan Sian Koan, lalu meminta kedua tamunya tinggal beberapa hari lagi untuk mengunjungi kedua gua itu.
"Sekarang, silakan Jiwi beristirahat," ujar tuan rumah akhirnya. Kwee Ceng dan Oey Yong mengucapkan terima kasih lalu bangkit mengikuti pelayan yang membawa lentera menuju kamar yang telah disediakan.
Saat melewati ambang pintu, Oey Yong mendongak dan terkejut melihat delapan lempengan besi berbentuk pakua di atas pintu. Namun, ia tidak berkata apa-apa dan terus mengikuti pelayannya.
Kamar yang disediakan lengkap dengan dua tempat tidur. Pelayan menyajikan teh dan berpesan agar mereka membunyikan genta di pinggiran tempat tidur jika membutuhkan sesuatu. Mereka juga berpesan agar kedua tamu itu tidak keluar kamar pada malam hari.
"Engko Ceng, lihat, tempat apa ini?" bisik Oey Yong setelah pelayan pergi. "Kenapa kita dilarang keluar pada malam hari?"
"Rumah ini pekarangannya luas dan berliku-liku, mungkin dikhawatirkan kita tersesat," sahut Kwee Ceng.
"Bagaimana pendapatmu tentang tuan rumah kita?" tanya sang nona.
"Dia mirip seorang perwira yang telah mengundurkan diri," jawab pemuda itu.
"Tidak salah! Dia tentu mengerti ilmu silat, bahkan lihai. Kau lihat tidak tadi pakua besi di atas pintu ruang baca?"
"Pakua besi? Apa itu?" tanya Kwee Ceng.
"Itulah senjata yang digunakan untuk melatih ilmu Pek-khong-ciang, latihan memukul udara kosong. Ayah pernah mengajarkan ilmu itu kepadaku. Dulu aku bosan, tapi siapa sangka di sini aku melihat alat itu?"
"Kelihatannya Liok Chung-cu tidak bermaksud jahat. Maka itu, selama dia tidak membicarakan sesuatu, lebih baik kita berpura-pura bodoh saja." Oey Yong tersenyum, lalu memadamkan api lilin.