Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 106

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 106

"Dia bukannya siluman perempuan!" Sembari berkata begitu, ia menarik tangan yang putih mulus dan lemas dari si nona, kemudian ia mengangkat kepalanya untuk mengawasi wajah orang tersebut.

Ia agaknya hendak mengatakan pula, "Suhu, budi kamu besar laksana gunung, walaupun tubuhku hancur luluh, sukar aku membalasnya." Tapi, Yong-jie bukannya siluman, dia adalah seorang nona yang baik sekali. Ia hendak bicara banyak, tetapi hanya sampai di situ, pikirannya melamun.

Mulanya Oey Yong tersenyum karena menganggap orang itu jenaka sekali, tetapi kemudian hatinya tergerak.

Ia lantas berkata, "Engko Ceng, semua gurumu sangat benci kepadaku, percuma kau bicara banyak dengan mereka. Sudahlah, jangan engkau kembali! Mari kita pergi ke sebuah gunung sunyi atau ke sebuah pulau terpencil di laut supaya mereka selama umurnya tidak dapat mencari kita."

Kwee Ceng tetap menatap. "Yong-jie," katanya dengan suara mantap, "Tidak dapat tidak, kita mesti kembali."

"Tapi mereka itu hendak memisahkan kita, nanti kita tidak bakal bertemu lagi," kata si nona.

"Biar mati, kita tidak bakal berpisah!" si pemuda memastikan.

Semangat Oey Yong terbangun. Kalau tadi hatinya berdebar, sekarang hatinya menjadi mantap. "Benar!" pikirnya. "Paling banyak kita mati! Mustahil ada yang lebih hebat dari kematian."

Maka ia berkata, "Engko Ceng, untuk selama-lamanya aku akan mendengar perkataanmu! Sampai mati pun kita tidak akan berpisah!"

"Memang!" sahut si anak muda. "Aku sudah bilang, kau adalah seorang nona yang manis!"

Nona itu tertawa. Ia merogoh kantong kulitnya dan mengeluarkan sepotong besar daging mentah, lalu menggulungnya dengan lumpur dan menimbunnya. Ia menyalakan api dengan kayu kering.

"Biarlah si kuda kecil merah beristirahat," kata si nona. "Setelah beristirahat baru kita kembali."

Kwee Ceng mengangguk dengan hati puas. Tidak lama kemudian, keduanya mulai menyantap daging bakar itu, sementara kuda mereka juga sudah kenyang memakan rumput.

Sebentar kemudian, dengan menaiki kuda, mereka mengambil jalan dari arah mereka datang tadi. Pada waktu lohor, mereka tiba di hotel. Saat turun dari kuda, Kwee Ceng memegang tangan Oey Yong untuk diajak masuk. Pelayan hotel girang melihat kembalinya anak muda itu dan menyambut dengan wajah berseri-seri karena ia pernah menerima persen dari Kwee Ceng.

"Kau baik, Tuan?" tegurnya. "Mereka itu sudah berangkat pergi. Tuan ingin makan apa, silakan sebutkan."

Kwee Ceng terperanjat. "Mereka sudah pergi?" ia mengulangi. "Adakah pesanannya?"

"Tidak, mereka menuju ke selatan. Kepergiannya sudah dua jam yang lalu," jawab pelayan itu.

"Mari kita susul mereka!" ajak Kwee Ceng kepada kekasihnya.

Oey Yong menurut, maka mereka meninggalkan rumah penginapan itu dan memacu kuda mereka ke arah yang disebutkan pelayan, yang merasa heran melihat orang pergi dengan terburu-buru. Di sepanjang jalan mereka terus memasang mata, namun sampai sore mereka tidak dapat menemukan Kanglam Liok Koay.

"Mungkin suhu telah mengambil jalan lain," kata Kwee Ceng.

Ia membalikkan kudanya. Han-hiat Po-ma (kuda darah keringat) sangat kuat; walaupun ditunggangi dua orang, ia dapat lari dengan cepat dan tidak merasa lelah. Hanya sampai cuaca gelap, mereka tetap tidak melihat Kanglam Liok Koay atau ketiga orang Coan Cin Pay.

Kwee Ceng menjadi masgul, namun Oey Yong menghibur, "Pada hari raya Tiong Ciu, mereka bakal berkumpul di Yan Ie Liauw di Kee-hin. Di sana kau pasti akan dapat menemukan mereka."

"Untuk sampai ke hari raya Tiong Ciu, waktunya masih setengah tahun lagi," kata si anak muda dengan lesu.

Namun si nona tertawa manis, "Selama setengah tahun, kita toh dapat berwisata ke segala tempat ternama! Apakah itu tidak jauh lebih bagus?"

Mau tidak mau, Kwee Ceng menyatakan setuju dan hatinya menjadi lega. Keduanya lantas memasuki dusun untuk mencari penginapan guna melewatkan malam. Keesokan harinya, Kwee Ceng membeli seekor kuda putih besar untuk dirinya supaya Oey Yong dapat menaiki kuda merah kecil itu seorang diri. Memang tidak leluasa jika mereka terus menunggang seekor kuda. Oey Yong tidak dapat menampik kehendak pemudanya itu.

Demikianlah, dengan menuntun kuda, mereka berjalan perlahan-lahan untuk menikmati keindahan suasana. Mereka pergi tanpa tujuan. Sering kali mereka turun dan duduk bersandar di tempat yang sepi. Kalau singgah dan bermalam, mereka pun menyewa sebuah kamar. Hati mereka lapang; tidak ada pikiran yang bukan-bukan yang mengganggu. Mereka hanya memikirkan perjalanan, dan hari-hari mereka pun terasa terbuka lebar.

Pada suatu hari, sampailah mereka di sebelah barat perbatasan antara Liongkeng-hu dan Tayleng, di sebelah timur kota raja. Ketika itu sudah mendekati hari raya Toan-yang, hawa udara mulai panas. Dahi Oey Yong telah berkeringat. Selagi mereka hendak mencari tempat untuk berteduh, si nona mendengar suara gemericik air. Ia lantas melarikan kudanya ke arah suara itu. Betapa girangnya ia mendapatkan sebuah kali kecil, sampai ia berseru.

Kwee Ceng memacu kudanya menyusul. Kali itu berair bening hingga tampak dasarnya. Di kedua tepinya tumbuh banyak pohon yang-liu, yang cabang dan daunnya menjuntai ke air. Di dalam air pun terlihat sejumlah ikan berenang ke sana kemari. Oey Yong gembira sekali hingga ia membuka pakaian luarnya, lalu terjun ke air.

Kwee Ceng terkejut hingga ia menjerit. Ia lari ke tepian, namun hatinya lega saat melihat si nona berenang di dalam air, menangkap dua ekor ikan yang panjangnya kira-kira satu kaki. Ketika diangkat ke permukaan, ekor dan kepala kedua ikan itu bergerak-gerak.

"Sambut!" seru si nona seraya mengayunkan kedua tangannya.

Kwee Ceng segera menyambut, tetapi karena licin, ikan itu melejit dan lolos, jatuh ke tanah dan melompat-lompat. Oey Yong tertawa geli.

"Engko Ceng, mari turun, kita berenang!" panggilnya.

Kwee Ceng tidak bisa berenang, ia menggelengkan kepala karena dibesarkan di gurun pasir.

"Turunlah, nanti aku ajari!" kata si nona.

Pemuda ini tertarik, maka ia pun membuka baju luarnya lalu turun ke kali. Ia tidak menerjun seperti si nona, tetapi turun dengan perlahan-lahan. Si nona sangat jahil; ia menghampiri, tahu-tahu ia merobohkan kaki Kwee Ceng sehingga tubuh pemuda itu terpelanting. Ia kaget dan sempat meneguk air.

Oey Yong lekas memegangi tangan Kwee Ceng sambil menertawakannya. "Begini cara menggerakkan tangan," si nona benar-benar mengajari. Ia pun memberitahu bahwa saat menyelam, harus menahan napas dan mata dapat dirapatkan atau dibuka.

Bagi Kwee Ceng, pelajaran berenang itu gampang sekali. Dengan mengatur napas, dengan cepat ia dapat mengerti. Demikian ia bisa berenang hilir mudik dan menyelam timbul. Ia menjadi bertambah gembira karena kawannya sangat manis dan lincah.

Tidak puas dengan mandi di satu tempat saja, mereka berenang mudik sampai telinga mereka mendengar suara air nyaring. Ternyata, di sebelah selatan ada air terjun yang tingginya lebih dari sepuluh tombak; bagaikan rantai perak, air meluncur turun.

"Engko Ceng," kata si nona dengan gembira, "Mari kita mendaki air terjun itu!"

"Baik, mari kita mencoba!" sambut Kwee Ceng.

"Kau pakailah baju lapismu!"

"Tidak usah!" sahut si nona. "Mari kita mulai!"

Kata-kata itu disusul gerakan tubuh yang lincah dari si nona, dibarengi dengan gerakan si pemuda. Namun air terjun itu sangat deras, keduanya gagal. Beberapa kali mereka mencoba, tetapi tidak berhasil. Kwee Ceng penasaran sekali.

"Baiklah kita beristirahat, besok kita coba pula!" katanya.

"Baik!" tawa Oey Yong yang juga penasaran.

Besoknya percobaan diulangi, kali ini mereka dapat naik hingga setombak lebih. Hati mereka menjadi besar, mereka mencoba terus. Ini merupakan latihan yang bagus bagi mereka yang ilmu ringan tubuhnya sudah sempurna. Latihan terus dilakukan hingga pada hari kedelapan, Kwee Ceng bisa mencapai puncak air terjun itu. Dengan menyambar dan menarik tangan, ia membantu Oey Yong naik juga. Bukan main girangnya muda-mudi ini.

"Mari kita turun pula!" ajak Kwee Ceng.

Lalu keduanya terjun mengikuti aliran air terjun itu. Demikian mereka berlatih naik dan turun. Dalam sepuluh hari, Kwee Ceng dapat berenang dengan baik, walaupun masih kalah lincah dari si nona dalam hal menangkap ikan. Puaslah hati sepasang anak muda ini, maka pada hari kesebelas barulah mereka melanjutkan perjalanan ke selatan.

Sampai di hulu Sungai Tiang Kang, hari mulai sore. Terbuka hati Kwee Ceng menyaksikan kebesaran sungai itu, yang airnya terus mengalir dengan gelombang yang saling susul.

"Kau mau berenang, Engko Ceng?" tanya si nona.

"Marilah!"

"Baik!" sahut si anak muda. Ia melompat turun dari kuda putihnya dan menepuk pinggul hewan itu. "Kau tidak punya guna, pergilah!" Ia melepaskan tali kekang.

Di lain pihak, ia menghampiri kuda merah. Setelah kuda itu ditepuk, dengan berani ia terjun ke sungai, meringkik keras dan panjang, lalu berenang pergi. Kwee Ceng dan Oey Yong segera terjun untuk menyusul. Pandai sekali kuda merah itu berenang di depan. Di tempat itu tidak ada orang lain, sehingga mereka tidak menarik perhatian siapa pun.

Belum begitu lama, tiba-tiba cuaca menjadi gelap. Mega berkumpul, langit mendung, lalu terdengar suara guntur bersahut-sahutan disertai kilat menyambar-nyambar.

"Takutkah kau, Yong-jie?" tanya Kwee Ceng.

"Ada bersama-sama kau, aku tidak takut!" jawab si nona tertawa.

Di bawah hujan deras, mereka berenang terus hingga sampai di tepi seberang. Mereka menanti sampai hujan berhenti. Saat itu hari telah malam dan rembulan memancarkan sinarnya di langit yang bersih. Mendung sirna, mega pun lenyap.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment