Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 57

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 57

Kuda itu lantas mengerti dan berlari ke arah bukit untuk mendaki. Ia dapat berlari tidak kalah pesatnya seperti saat menuruni bukit tadi.

"Lepas panah!" teriak orang-orang Sangum.

Kwee Ceng tidak takut; ia memegang tubuh Tusaga untuk dijadikan tameng. Melihat itu, tidak ada satu serdadu pun yang berani memanah karena khawatir akan mengenai pemimpin muda mereka. Dengan selamat, Kwee Ceng tiba di samping Temuchin. Ia melempar tubuh Tusaga ke tanah, tepat di dekat sang khan yang agung.

Bukan main girangnya Temuchin. Ia segera menuding dada Tusaga dengan ujung tombaknya sembari berteriak kepada Sangum, "Lekas kau suruh semua orangmu mundur seratus tombak!"

Sangum murka sekaligus bingung. Ia kaget dan tidak menyangka putranya dapat ditawan musuh saat berada dalam perlindungan pasukan yang begitu besar. Ia tidak bisa berbuat lain selain mengeluarkan titah agar pasukannya mundur seratus tombak. Mereka memang mundur, namun pengepungan tidak dibubarkan. Malah, kereta-kereta besar dikelilingkan di sekitar bukit itu dalam tujuh hingga delapan lapis.

Temuchin memuji Kwee Ceng yang diperintahkan menggunakan tali untuk meringkus Tusaga. Tiga kali Sangum mengirim utusan untuk meminta putranya dibebaskan dengan syarat Temuchin menyerah, namun ketiga kalinya pula Temuchin mengusir utusan tersebut. Tanpa terasa, langit telah gelap. Temuchin khawatir Sangum akan menyerbu, sehingga ia memerintahkan orang-orangnya untuk terus berjaga.

Kira-kira tengah malam, seorang pria dengan pakaian putih muncul di kaki bukit. Ia berteriak, "Di sini Jamukha! Aku ingin bicara dengan Saudara Temuchin!"

"Kau naiklah kemari!" jawab Temuchin.

Jamukha mendaki dengan perlahan. Ia melihat Temuchin berdiri menantikan dengan raut wajah yang angker. Saat Jamukha mendekat, ia ingin memeluk, karena sudah menjadi adat istiadat bangsa Mongolia bagi saudara muda untuk memeluk saudara tuanya. Namun, Temuchin justru menghunus goloknya.

"Adakah kau masih menganggap aku sebagai kakak angkatmu?" tegur Temuchin.

Jamukha menghela napas lalu duduk bersila. "Kakak, kau telah menjadi khan yang agung, mengapa kau masih memiliki ambisi yang begitu besar? Mengapa kau bercita-cita mempersatukan bangsa Mongolia? Apa sebenarnya yang kau kehendaki? Berbagai kepala suku bilang bahwa leluhur kita sudah turun-temurun hidup seperti ini selama ratusan tahun, mengapa kau hendak mengubahnya? Tuhan juga tidak memperkenankan itu," kata Jamukha.

"Apakah kau masih ingat cerita tentang leluhur kita, Maral Goa?" tanya Temuchin. "Kelima putranya tidak hidup rukun. Ia memasakkan daging kambing untuk mereka, lalu memberikan sebatang anak panah kepada masing-masing dan menyuruh mereka mematahkannya. Dengan mudah mereka melakukannya. Lalu, ia memberikan lima batang anak panah yang digabung menjadi satu dan memerintahkan mereka untuk mematahkannya. Mereka gagal. Ingatkah apa pesan leluhur kita itu?"

Dengan perlahan Jamukha menjawab, "Jikalau kamu masing-masing bercerai-berai, kamu menjadi seperti anak panah ini yang mudah dipatahkan. Jikalau kamu berpadu hati dan bersatu tenaga, kamu menjadi seperti lima batang anak panah yang digabung, yang tidak dapat dipatahkan oleh siapa pun."

"Kau masih ingat itu, bagus!" seru Temuchin. "Kemudian bagaimana?"

"Kemudian mereka bersatu padu dan menjadi leluhur bangsa Mongolia," sahut Jamukha.

"Benar begitu!" kata Temuchin. "Kita juga orang gagah, kenapa tidak mempersatukan bangsa Mongolia? Kita harus saling bahu-membahu untuk memusnahkan bangsa Kim!"

Jamukha terkejut. "Negeri Kim itu banyak tentaranya dan panglima perangnya, emasnya tersebar, ransumnya bertumpuk bagaikan gunung. Bagaimana mungkin bangsa Mongolia bisa melawan mereka?"

"Hm!" Temuchin mendengus. "Jadi kau suka jika kita semua dihina dan ditindas bangsa Kim?"

"Mereka tidak menghina kita," kata Jamukha. "Raja Kim bahkan telah menganugerahkan pangkat Ciauwtouwusu kepadamu."

Temuchin menjadi mendongkol. "Mulanya aku juga menyangka raja Kim itu baik hati. Siapa tahu permintaannya makin lama makin hebat! Sudah minta kerbau dan kambing, dia minta kuda, dan sekarang dia menghendaki orang-orang perang kita membantunya berperang!"

"Wang Khan dan Sangum tidak ingin memberontak terhadap negara Kim," kata Jamukha pula.

"Berontak? Hm! Berontak!" seru Temuchin menghina. "Lalu bagaimana dengan kau sendiri?"

"Aku datang untuk meminta kau jangan gusar, Kakak. Aku minta supaya kau memulangkan Tusaga kepada Sangum. Aku tanggung Sangum nanti melepaskan kau pulang dengan selamat!"

"Aku tidak percaya Sangum! Aku juga tidak percaya kau!"

"Sangum bilang, kalau satu putranya terbinasa, dia bakal melahirkan dua putra lagi. Kalau satu Temuchin terbinasa, selamanya tidak akan ada Temuchin lagi! Jikalau kau tidak membebaskan Tusaga, kau tidak akan melihat matahari esok!"

Temuchin membacok ke udara. "Aku lebih suka terbinasa dalam perang daripada menyerah!" serunya.

Jamukha bangkit berdiri. "Kita membagi-bagikan kerbau dan kambing rampasan kepada tentara, kau mengatakannya itu milik pribadi, bukan milik suku. Mengenai itu, para kepala suku mengatakan kau berlaku buruk, tidak sesuai dengan ajaran leluhur!"

Temuchin berseru, "Akan tetapi semua orang perang yang muda senang dengan caraku itu!"

"Baiklah, Saudara Temuchin," kata Jamukha. "Harap kau tidak menganggap aku tidak berbudi."

Temuchin mengeluarkan bungkusan kecil dari sakunya dan melemparkannya ke depan Jamukha. "Inilah tanda mata ketika kita angkat saudara untuk ketiga kalinya, sekarang terimalah kembali! Besok kau bawalah golokmu untuk berperang di sini!" Sembari berkata begitu, ia menggerakkan tangan di lehernya, "Yang dibunuh itu adalah musuh, bukannya kakak angkatmu!"

Jamukha memungut bungkusan itu. Ia mengeluarkan kantung kulit dari sakunya dan meletakkannya di samping kaki Temuchin, lalu berbalik turun dari bukit. Temuchin mengawasi punggung itu dengan perasaan duka. Ia tidak menyangka saudara angkat yang bagaikan saudara kandung bisa berubah sedemikian rupa. Ia membuka kantung kulit itu dan mengeluarkan isinya: kepala panah dan biji piesek yang sering mereka mainkan semasa muda. Ia menghela napas, lalu menggunakan golok untuk mencongkel tanah dan mengubur tanda mata tersebut.

Kwee Ceng mengawasi dengan perasaan berat. Ia mengerti bahwa yang dikubur Temuchin adalah persahabatan yang paling ia hargai.

Setelah menguruk tanah, Temuchin berdiri dan memandang ke depan. Ia melihat api yang dinyalakan tentara Sangum dan Jamukha, yang menerangi tanah datar layaknya bintang di langit. Ia diam sejenak, lalu berpaling ke arah Kwee Ceng.

"Apakah kau takut?" tanya Temuchin.

"Aku tengah memikirkan ibuku," sahut Kwee Ceng.

"Kau adalah orang gagah yang baik sekali," puji Temuchin. Ia menunjuk api di kejauhan, "Mereka juga orang-orang gagah! Sayang sekali bangsa Mongolia saling bunuh satu sama lain. Coba jika semua bersatu?" Ia memandang ujung langit, "Kita pasti dapat membuat seluruh dunia menjadi ladang tempat kita menggembala ternak!"

Kwee Ceng kagum mendengar cita-cita khan yang agung ini. Ia berkata, "Khan yang agung, kita bisa menang perang. Kita tidak akan dikalahkan oleh Sangum yang berhati kecil dan hina dina itu!"

Temuchin menjadi bersemangat. "Benar! Mari kita ingat pembicaraan kita malam ini. Selanjutnya, akan aku anggap kau sebagai anak kandungku!" Ia merangkul pemuda itu.

Sementara itu, cuaca mulai terang. Di dalam pasukan Sangum dan Jamukha terdengar suara terompet. "Bala bantuan tidak datang. Hari ini kita akan mati di gunung ini!" kata Temuchin.

Musuh mulai bergerak untuk memulai penyerbuan. Temuchin bersama ketiga putranya dan semua panglimanya mendekam di belakang tumpukan tanah. Tidak lama kemudian, sebuah bendera kuning muncul. Di bawahnya terdapat Sangum, Jamukha, dan Chao Wang Wanyen Lieh, putra keenam raja Kim yang mengenakan jubah perang bersalut emas.

"Temuchin, adakah kau hendak memberontak terhadap negara Kim yang agung?" tanya pangeran itu.

Juji, putra sulung Temuchin, segera memanah sang pangeran. Namun, di belakang pangeran itu muncul seseorang yang dengan gesit menangkap anak panah tersebut. Wanyen Lieh berseru, "Tolong Tusaga! Bekuk Temuchin!"

Atas titah itu, empat orang melompat maju untuk mendaki gunung. Kwee Ceng terperanjat menyaksikan kegesitan empat orang tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment