Chapter 123
"Kalau benar kau hendak menolongku, pergilah cari seseorang," ujar Wanyen Kang.
"Aku tidak sudi mencari Perdana Menteri She Soe itu!" potong si nona.
"Bukan Soe Sinsiang, melainkan guruku," Wanyen Kang memberi tahu.
"Oh?" Si nona terdiam.
"Kau bawalah ikat pinggangku ini," kata Wanyen Kang lagi. "Pada gelang emas ikat pinggang itu, kau ukir kata-kata: 'Wanyen Kang mendapat susah di Kwie-in-chung di tepi telaga Thay Ouw.' Tiga puluh li di utara kota Souwciu ada sebuah bukit belukar, di sana kau cari sembilan buah tengkorak yang bertumpuk menjadi satu: satu di atas, tiga di tengah, dan lima di bawah. Ikat pinggangku ini, kau letakkan di bawah tengkorak itu."
Liam Cu heran, "Untuk apa itu?" tanyanya.
"Guruku telah buta kedua matanya," Wanyen Kang memberi keterangan. "Jika ia dapat memegang ikat pinggang dan gelang emas itu, ia akan dapat mencari aku. Setelah meletakkan ikat pinggang itu, jangan kau berlambat, segeralah pergi. Guruku memiliki tabiat aneh; apabila ia mendapati seseorang di dekat tumpukan tengkorak itu, mungkin ia akan membunuhmu. Guruku sangat lihai, pasti ia dapat menolongku. Tunggulah aku di kuil Hian Biauw Koan di kota Souwciu."
"Kau bersumpah dulu bahwa kau tidak akan mengakui lagi bangsat itu menjadi ayah, dan tidak menjual negara ini untuk mencelakai rakyat!" tuntut si nona.
Wanyen Kang tidak senang, "Setelah urusanku beres, tentu aku akan bertindak menurut kata hatiku yang benar. Sekarang kau memaksa aku mengangkat sumpah, apakah maumu?"
Liam Cu melemah, "Baik, aku akan pergi menyampaikan pesan!" ucapnya. Ia meloloskan ikat pinggang si anak muda.
"Adikku, kau hendak pergi sekarang?" kata Wanyen Kang. "Mari, Adik!"
"Tidak!" jawab si nona seraya melangkah ke pintu.
"Aku khawatir belum sempat guruku datang menolong, mereka sudah keburu membunuhku," kata Wanyen Kang lagi. "Maka, untuk selama-lamanya aku tidak akan bisa melihatmu lagi?"
Liam Cu goyah. Ia kembali dan menyandarkan tubuhnya dalam rangkulan pemuda itu. Ia pasrah. Kemudian, ia berkata dengan tegas, "Kelak, jika kau tidak menjadi orang baik, aku akan mati di hadapanmu!"
Wanyen Kang terkesiap. Liam Cu segera berlompat bangun untuk pergi. Oey Yong diam-diam menunjukkan jalan seperti tadi. Setibanya di kaki tembok, Liam Cu bertekuk lutut dan mengangguk tiga kali, katanya, "Oleh karena cianpwee tidak sudi memperlihatkan diri, biarlah aku memberi hormat ke udara saja."
"Oh, aku tidak berani menerima itu!" terdengar suara halus dibarengi tawa geli.
Liam Cu mengangkat kepala, tetapi ia tidak melihat siapa pun kecuali bintang-bintang di langit. Ia merasa mengenali suara Oey Yong, namun heran mengapa orang tersebut berada di sana dan mengetahui jalan rahasia itu.
Ia berjalan belasan li, lalu beristirahat di bawah pohon besar untuk tidur. Keesokan harinya, dengan menaiki perahu, ia menyeberangi telaga Thay Ouw menuju kota Souwciu.
Souwciu adalah kota ramai di tenggara. Walaupun tidak sebanding dengan Hangciu, di sini orang hidup mewah hingga melupakan kekejaman bangsa Kim yang pernah menggilas mereka. Namun, Liam Cu tidak memikirkan kesenangan. Setelah bersantap dan matahari mulai condong ke barat, ia pergi ke luar kota utara.
Sesuai petunjuk Wanyen Kang, ia mencari guru pemuda itu. Jalanan semakin sulit. Matahari lenyap di balik bukit dan terdengar suara aneh dari burung-burung hutan. Hingga langit gelap, ia belum juga menemukan tumpukan tengkorak yang dimaksud.
"Baiklah, aku cari penginapan, besok pagi baru mencari lagi," pikirnya.
Syukur, di sebelah barat terdapat sebuah kuil tua yang rusak bernama Yoh Ong Bio. Saat ia mendorong pintu, pintu itu roboh dan debu beterbangan. Kuil itu kosong, penuh sarang laba-laba, dan tidak terawat. Liam Cu membersihkan meja yang masih utuh untuk tempatnya beristirahat. Ia menutup pintu, memasang palang, lalu memakan ransum kering. Ia menggunakan buntalannya sebagai bantal. Saat teringat Wanyen Kang, ia merasa berduka dan malu hingga air matanya menetes. Sampai kentongan kedua, barulah ia bisa terlelap.
Tiba-tiba ia terbangun. Ada suara di luar kuil, bukan suara angin atau air. Ia duduk memasang telinga. Begitu suara itu terdengar nyaring, ia melompat ke pintu untuk mengintip. Ia terkejut bukan main. Di bawah terang rembulan, terlihat ribuan, bahkan laksaan ular hijau bergulat menuju ke timur. Bau amisnya menusuk hingga ke dalam kuil. Suara ular-ular itu yang menimbulkan bunyi luar biasa tersebut.
Di belakang pasukan ular, tampak tiga orang pria berbaju putih memegang galah panjang untuk menggiring ular. Liam Cu tidak berani mengintai lama karena takut tepergok. Setelah suara itu menjauh, ia mengintip lagi. Keadaan sunyi senyap hingga ia merasa seperti bermimpi.
Ia keluar dari kuil. Di sana ia melihat suatu benda putih di atas batu, terkena sinar rembulan. Ia menghampirinya dan terkejut sekaligus girang; tumpukan tengkorak itu persis seperti yang dikatakan Wanyen Kang. Dengan hati berdebar, ia meletakkan ikat pinggang Wanyen Kang di bawah tengkorak tersebut. Saat tangannya menyentuh tengkorak itu, jari-jarinya tepat masuk ke dalam lima lubang di tulang tersebut hingga ia menjerit dan melompat mundur. Namun, ia segera sadar dan tersenyum atas ketakutannya sendiri.
"Pasti gurunya luar biasa sekali," pikirnya. Ia memang belum pernah melihat Bwee Tiauw Hong. Saat Tiauw Hong bertempur di istana, ia dan ayahnya sudah melarikan diri.
Tengah ia merenung, tiba-tiba pundaknya ada yang memegang. Ia kaget dan melompat ke depan, lalu memasang kuda-kuda. Namun, saat berbalik, orang itu sudah ada di belakangnya dan memegang pundaknya lagi. Kejadian itu terulang beberapa kali hingga ia bermandikan keringat dingin.
"Kau siapa?!" serunya gemetar.
Orang itu mencium lehernya, "Harum!" katanya.
Liam Cu berbalik dan mendapati seorang pemuda berpakaian mahasiswa sedang memainkan kipas dengan gerakan halus. Ia mengenali Auwyang Kongcu, orang yang memaksakan kematian ayah dan ibu angkatnya. Ia gusar, namun tidak berdaya, lalu mencoba lari. Auwyang Kongcu selalu muncul di depannya sambil tertawa-tawa.
Liam Cu nekat menghunus golok dan menyerang, namun dua kali serangannya gagal.
"Ah, jangan galak!" seru pemuda itu. Ia mengegos ke kiri dan menangkap pinggang ramping Liam Cu. Liam Cu berontak, namun tubuhnya lemas. Goloknya dirampas, dan ia dipeluk hingga nadinya ditekan.
"Jadilah muridku, maka akan kumerdekakan kau!" kata Auwyang Kongcu.
Saat pipinya diusap, Liam Cu yang marah dan ketakutan mendadak pingsan. Saat sadar, ia mendapati dirinya masih dipeluk Auwyang Kongcu. Ia malu dan hendak berteriak, namun mulutnya disumpal sapu tangan. Ia kini diapit oleh delapan wanita cantik berpakaian putih yang memegang senjata, namun mata mereka semua tertuju pada tengkorak di atas batu. Liam Cu menyesal dan hanya bisa menolehkan kepala.