Chapter 56
Ayah pergi dengan mengajak ketiga kakakku serta belasan pengiring. Karena itu, aku segera berangkat untuk mencarimu, tetapi di tengah jalan aku dibekuk oleh perempuan buta itu.
"Adakah dia yang membawaku menemuimu?" Putri itu tidak sadar akan bahaya yang mengancam dirinya, maka Cu Cong dan yang lainnya berkata dalam hati: "Coba tidak ada kami di sini, tentulah batok kepalamu sudah berlubang lima jari tangan!"
"Sudah berapa lama Khan pergi?" tanya Kwee Ceng dengan cemas.
"Sudah sekian lama," sahut Gochin. "Mereka menunggang kuda pilihan. Tidak lama lagi tentulah mereka sudah sampai di tempat Wang Khan. Engko Ceng, Sangum dan Jamukha bakal mencelakai ayahku itu. Bagaimana sekarang?" Ia pun menangis.
Kwee Ceng menjadi bingung. Inilah pertama kalinya ia menghadapi persoalan sulit.
"Anak Ceng, lekas kau pergi!" kata Cu Cong. "Kau pakai kuda merah itu untuk menyusul Khan yang agung! Umpama ia tidak mempercayaimu, ia harus mengirim orang untuk mencari keterangan terlebih dahulu. Dan kau, Tuan Putri, lekaslah pergi kepada kakakmu, Tuli, untuk memintanya segera menyiapkan tentara guna menyusul dan menolong ayahmu!"
Kwee Ceng menginsyafi keadaan. Tanpa ayal lagi, ia mendahului turun dari atas jurang, sementara Ma Giok, dengan mengikat tubuh Gochin, menurunkan tuan putri itu. Setibanya di lembah, Kwee Ceng kabur ke kemah tempat ia mengambil kudanya, lalu memacu hewan itu sekeras-kerasnya. Ia khawatir Temuchin keburu sampai di tempat Wang Khan, yang berarti bahaya bagi Khan yang maha agung itu.
Di sisi lain, ia merasa girang sekali. Ia puas dengan kudanya yang berlari sangat pesat, apalagi di tanah rata. Pernah ia mencoba menahan agar kuda itu berjalan perlahan karena khawatir hewan itu letih, tetapi si kuda tidak mau berhenti. Ia terus berlari, seolah tidak takut capek. Selang dua jam, barulah kuda itu mau diistirahatkan sebentar, setelah itu ia kabur kembali.
Sesudah lari lagi selama satu jam, tibalah Kwee Ceng di tempat datar di mana terdapat tiga baris tentara yang jumlahnya mungkin tiga ribu orang. Dari benderanya, ia tahu itulah pasukan Wang Khan yang siap sedia dengan panah dan golok terhunus. Dalam hati, Kwee Ceng mengeluh. Teranglah Temuchin telah lewat di situ, dan itu berarti jalan pulang dari Khan Agung telah terputus.
Ia memacu kudanya untuk menerobos barisan tentara itu. Ketika opsir pasukan menyadarinya dan berseru untuk mencegah, Kwee Ceng sudah lewat jauh. Di tengah jalan, ia tidak berani melambat; tiga pos penjagaan telah ia lewati terus. Akhirnya, ia mulai dapat melihat bendera besar milik Temuchin. Setelah mendekat, ia melihat rombongan belasan orang yang tengah maju. Ia memacu kudanya untuk tiba di samping Khan itu.
"Kha Khan, lekas kembali!" teriaknya. "Jangan pergi lebih jauh!"
Temuchin heran dan menahan kudanya. "Ada apa?" tanyanya.
"Ada bahaya," sahut Kwee Ceng, lalu ia menceritakan perihal persekongkolan Wanyen Lieh. Ia pun memberitahukan perihal tentara pencegat di belakang mereka.
Dengan roman muka bersangsai, Temuchin mengawasi bocah tanggung itu. Ia berpikir, "Memang Sangum tidak akur denganku, tetapi ayah angkatku, Wang Khan, tengah mengandalkan tenagaku. Saudaraku Jamukha sangat baik denganku, kita sehidup semati. Apa mungkin ia hendak mencelakaiku?"
Kwee Ceng tahu Khan itu ragu. Ia berkata lagi, "Kha Khan, cobalah kirim orang untuk memeriksa benar atau tidak ada tentara pencegat jalan!"
Bagaimanapun, Temuchin adalah orang yang teliti. Ia berpendirian, "Lebih baik terpedaya satu kali daripada mati konyol." Maka ia berpaling kepada Ogotai, putranya yang kedua, dan Chilaun, panglimanya, seraya berkata, "Lekas kamu pergi menyelidiki!"
Kedua orang itu segera berbalik. Temuchin memandang ke sekelilingnya. "Naik ke bukit itu!" perintahnya. "Siap sedia!"
Dalam keadaan seperti itu, Khan ini tidak gentar. Ia bersama orang-orangnya yang gagah. Begitu naik ke atas bukit, mereka menggali lubang dan memindahkan batu untuk berjaga-jaga dari serangan anak panah. Tak lama kemudian, dari selatan terlihat debu mengepul, disusul munculnya pasukan tentara yang terdiri dari beberapa ribu jiwa. Di paling depan, terlihat Ogotai dan Chilaun berlari kabur mendekat.
Jebe sangat awas. Ia melihat tentara itu tengah mengejar. "Benar-benar pasukan Wang Khan!" serunya.
Terlihat pula pasukan pengejar itu memecah diri menjadi ratusan orang dan mengambil sikap mengurung untuk memotong jalan Ogotai dan Chilaun. Kedua orang itu lari terus, tubuh mereka mendekam di punggung kuda, cambuknya dipecut berulang-ulang.
"Anak Ceng, mari kita sambut mereka!" Jebe berteriak.
Ia memacu kudanya, diikuti oleh muridnya. Hebat lari kuda Kwee Ceng; ia mendahului gurunya dan tiba lebih dahulu di dekat Ogotai dan Chilaun. Ia menggunakan panahnya; saat tiga anak panahnya melesat, tiga pengejar terdepan roboh dari kuda mereka. Dengan cepat, ia menyusul dengan anak panah keempat. Jebe lebih lihai daripada muridnya; ia turut memanah berulang kali hingga sejumlah serdadu musuh roboh terguling. Akan tetapi, musuh berjumlah besar; mereka maju bagaikan gelombang.
Ogotai dan Chilaun menahan kuda mereka dan berbalik. Mereka sekarang turut menyerang dengan panah sembari mundur ke bukit tempat Temuchin menanti. Di sini, sang Khan bersama Borchu, Juji, dan lainnya turut memanah. Panah mereka tidak pernah gagal sehingga pihak pengejar tertahan majunya.
Temuchin naik ke tempat yang lebih tinggi untuk memandang jauh ke empat penjuru. Ia menyaksikan tentara Wang Khan tengah mendatangi dari empat jurusan. Kemudian, pada sebuah pasukan, ia melihat seseorang yang menunggang kuda besar, disertai bendera kuning yang besar pula. Orang itu ialah Sangum, putra Wang Khan.
Temuchin berpikir ia harus memenangkan waktu dengan memperlambat segala sesuatu. Sendirian saja sulit baginya menembus kepungan. Tuli sendiri belum tentu datang tepat waktu karena ada kemungkinan tentaranya tidak mau mendengar perintah putra yang masih muda itu.
"Adik Sangum, aku minta sukalah kau datang ke mari untuk bicara!" teriaknya kepada saudara angkatnya itu.
Dengan diiringi pasukan pengawalnya, Sangum mendekati bukit. Beberapa puluh tentara lain melindungi dirinya dengan tameng besi untuk menangkis anak panah. Ia berlaku jumawa. Saat membuka mulut, tampak sekali kepuasannya. "Temuchin, lekas menyerah!" teriaknya.
Temuchin tidak menyahuti, ia hanya bertanya, "Apakah salahku terhadap ayahku, Wang Khan, maka kau bawa pasukanmu untuk menyerang aku?"
Sangum menjawab, "Adakah sejak zaman dahulu kala bangsa Mongol tinggal pada masing-masing sukunya? Ternak kambing dan kerbau adalah kepunyaan satu suku, tetapi kenapa kau langgar aturan leluhur kita? Kenapa kau hendak mempersatukan semua suku?"
"Bangsa Mongolia telah diperhina oleh negara Kim. Negara itu menghendaki kita setiap tahun membayar upeti beberapa laksa ekor kerbau, kambing, dan kuda. Adakah itu selayaknya?" Temuchin balik bertanya. "Asalkan kita bangsa Mongolia tidak saling menyerang, kenapa kita harus takut pada bangsa Kim?"
Kata-kata ini tajam. Ketika orang-orang Sangum mendengarnya, hati mereka terguncang. Mereka menyetujui perkataan itu.
Temuchin melanjutkan, "Bangsa Mongolia adalah bangsa pejuang yang pandai, kenapakah kita tidak mengambil emas, perak, dan permata bangsa Kim? Kenapa kita harus membayar upeti tiap tahun? Kita bangsa Mongolia ada yang rajin memelihara kerbau dan kambing, ada juga yang malas dan cuma doyan makan! Kenapa mereka yang rajin harus memberi makan mereka yang malas? Kenapa kita tidak memberikan lebih banyak kerbau dan kambing kepada yang rajin? Kenapa kita tidak membiarkan si malas mati kelaparan?"
Dahulu, bangsa Mongolia hidup dalam satu suku dan ternak adalah kepunyaan bersama. Kemudian, karena tenaga pertumbuhan bertambah dan adanya alat-alat besi, perlahan sifat itu berubah menjadi kepemilikan pribadi. Temuchin sengaja menyinggung sifat itu dan membuat tentara Sangum setuju; diam-diam mereka mengangguk.
Sangum mengerti orang tengah menghasut tentaranya. "Jikalau kau tidak mau menyerah!" bentaknya, "Asal aku menuding dengan cambukku ini, ribuan anak panah bakal dilepaskan kepadamu! Jikalau itu sampai terjadi, jangan kau bermimpi untuk hidup lebih lama lagi!"
Kwee Ceng menjadi cemas sekali. Keadaan sangat mendesak dan sulit. Bagaimana bahaya dapat dihindarkan? Selagi berpikir, ia melihat satu penunggang kuda di kaki bukit. Penunggang itu berdandan sebagai seorang panglima, mengenakan baju lapis dan mantel bulu kulit binatang tiauw yang mahal. Di tangannya ada sebatang golok besar. Dengan aksi, ia melarikan kudanya mondar-mandir.
Kwee Ceng mengenali panglima muda itu; dia adalah Tusaga, putra Sangum, yang pernah berkelahi dengannya waktu kecil. Ia teringat sesuatu, maka ia menjepit kudanya dan berlari turun gunung untuk menghampiri pemuda itu. Celaka bagi Tusaga, begitu dicengkeram, ia mati kutu dan tidak bisa berontak. Saat Kwee Ceng menariknya, tubuhnya terangkat dari kuda.
Selagi Kwee Ceng hendak menggeser pemuda itu, ia mendengar suara angin senjata mengaung dari arah belakang. Ia berpaling lekas sambil menangkis dengan tangan kirinya. Tepat tangkisan itu, sepasang tombak terpental ke udara. Segera ia membenturkan dengkul kanannya ke perut kuda.