Chapter 58
Mereka menggunakan ilmu meringankan tubuh. Jadi, mereka adalah orang-orang Rimba Persilatan, bukan tentara biasa. Setibanya empat orang itu di tengah jalan, mereka dihujani anak panah oleh Jebe dan Borchu, tetapi dengan tamengnya, mereka menepis setiap anak panah tersebut.
Kwee Ceng merasa khawatir, "Kita di sini semuanya tentara, bukankah kita bukan tandingan jago-jago Rimba Persilatan itu?" pikirnya.
"Bagaimana sekarang?" Salah satu dari empat orang itu, seorang pemuda berpakaian hitam, telah sampai di atas gunung. Ia dirintangi oleh Ogotai yang bersenjatakan sebatang golok besar. Pemuda itu mengayunkan tangannya, sebatang panah tangan menyambar ke arah leher putra Temuchin itu, disusul dengan bacokan goloknya.
Berbarengan dengan itu, berkelebatlah sebatang golok putih mengilap, menikam dari samping ke arah lengan penyerang itu. Ia terkejut, sambil berkelit, ia melompat mundur. Ia melihat di depannya ada seorang anak muda dengan alis tebal dan mata besar yang memegang pedang. Orang ini menghalangi jalan Ogotai. Ia heran, di dalam rombongan Temuchin ada orang yang pandai ilmu pedang.
"Kau siapa?" ia menegur. "Beritahukan marga dan namamu!"
"Aku Kwee Ceng!" sahut anak muda itu.
"Tidak pernah aku dengar namamu! Lekas kau menyerah!" kata orang itu sombong.
Kwee Ceng melihat tiga kawan orang ini sudah tiba di atas gunung dan tengah bertempur dengan Chilaun, Boroul, dan yang lainnya. Di lain pihak, orang-orang Sangum hendak bergerak pula. Mukhali langsung menodongkan goloknya ke leher Tusaga.
"Siapa berani maju, akan langsung kupenggal!" teriak Mukhali.
Sangum menjadi khawatir dan bingung. "Tuan Pangeran, titahkanlah mereka turun!" mohonnya kepada Wanyen Lieh. "Mari kita pikirkan daya lain supaya anakku tidak binasa!"
"Tetapkan hatimu, anakmu tidak bakal binasa!" kata Wanyen Lieh sambil tertawa.
Orang-orang Sangum tidak berani naik, sedangkan empat orang utusan Wanyen Lieh itu terus meladeni Kwee Ceng. Kwee Ceng menggunakan ilmu pedang *Wat Lie Kiam* ajaran Han Siauw Eng untuk menghadapi musuh yang bersenjatakan golok itu. Segera ia sadar bahwa lawan ini bukan sembarang orang karena tenaga tangannya sangat berat.
Kwee Ceng tidak mengerti cara bersilat orang tersebut, padahal ia pernah mendengar berbagai macam ilmu silat dari ketujuh gurunya. Lawan mengancam ke kanan, tiba-tiba ancamannya berubah di tengah jalan menjadi bacokan ke kiri. Mau tidak mau, Kwee Ceng harus mundur. Teringat pengajaran guru pertamanya, "Saat bertempur, kau mesti memengaruhi lawan, tetapi jangan biarkan dirimu yang dipengaruhi. Jika aku terus menangkis, bukankah itu berarti aku terdesak?"
Karena itu, saat datang bacokan berikutnya, ia tidak mundur lagi. Sebaliknya, ia menyambut seraya menekuk kaki kanan dan tangan kiri bersiap sedia. Tangan kanannya yang memegang pedang membalas menikam lurus. Musuh terkejut melihat Kwee Ceng nekat, lalu menarik pulang goloknya. Kwee Ceng memanfaatkan kesempatan itu untuk menikam bertubi-tubi. Kali ini, ia yang membuat lawannya repot.
Di pihak lain, tiga kawan musuh itu sudah berhasil merobohkan empat atau lima lawan. Saat salah satu di antaranya melihat kawannya terdesak, ia melompat menghampiri sambil membawa tombak. "Kakak Seperguruan, biarkan aku membantumu!" teriaknya.
"Kau lihat saja dari samping, perhatikan kepandaian kakak seperguruanmu!" seru orang yang memegang golok itu. Ia adalah yang tertua di antara empat orang undangan Wanyen Lieh. Di hadapan ribuan serdadu, ia malu jika harus dibantu adik seperguruannya.
Kwee Ceng memanfaatkan kelengahan lawan yang sedang bicara. Ia menekuk kaki kirinya dan menikam dari bawah ke atas, sebuah gerakan *Kie Hong Teng Kauw* atau "Burung Hong bangkit dan ular naga mencelat". Musuh kaget dan melompat berkelit, namun ujung baju kirinya robek tersayat.
Saat itu, Temuchin telah dikelilingi oleh Jebe dan yang lainnya. Sikap garang mereka membuat dua musuh lainnya yang memegang ruyung besi dan sepasang kapak pendek tidak berani maju. Mereka memutuskan untuk menonton kakak pertama mereka.
Sebelum berkelahi lagi, si pemegang golok melompat keluar gelanggang. "Kau murid siapa? Mengapa datang kemari untuk mengantarkan nyawa?"
Kwee Ceng melintangi pedangnya dengan tenang. "Saya murid dari *Kanglam Cit Koay* (Tujuh Pendekar Aneh dari Kanglam). Bolehkah saya mengetahui marga dan nama Tuan-tuan?"
Orang itu menoleh kepada ketiga saudaranya, lalu berkata, "Tentang nama kami, kau hanyalah seorang anak kecil yang tidak akan tahu. Lihat golokku!" Ia pun menyerang kembali.
Kwee Ceng bertempur dengan berani. Meskipun lawan lebih terlatih, Kwee Ceng memiliki pengetahuan luas dari ketujuh gurunya. Ia terus mendesak lawan hingga tiga puluh jurus berlalu. Puluhan ribu serdadu dan Temuchin terdiam menyaksikan pertempuran itu. Saudara seperguruan si lawan pun cemas melihat kakaknya belum berhasil menang.
Akhirnya, lawan menjadi nekat dan membacok melintang dengan kejam. Kwee Ceng melihat pinggangnya terancam, tetapi ia mendahulukan menikam ke arah lengan lawannya. Musuh girang karena mengira Kwee Ceng akan celaka, tetapi Kwee Ceng mengegos sedikit dan menikam terus ke dada lawannya.
Si kakak seperguruan kaget bukan main. Sambil berteriak, ia melepaskan goloknya dan menepis pedang Kwee Ceng dengan tangan kosong. Tangkisan itu sangat keras hingga pedang Kwee Ceng terlepas ke tanah. Kwee Ceng selamat dari maut, tetapi tangannya bercucuran darah.
"Sayang sekali," batin Kwee Ceng. Jika ia lebih cepat sedikit saja, ia akan berhasil menikam dada lawannya. Selagi musuh mundur, Kwee Ceng memungut golok musuh yang terjatuh.
Tiba-tiba ada angin menyambar di belakangnya. "Awas!" Jebe berteriak. Kwee Ceng yang mendengar peringatan itu tidak berbalik, melainkan menekuk tubuh dan menendang ke belakang. Tendangannya membuat tombak musuh terpental. Sambil memutar tubuh, ia membacok lengan lawan menggunakan jurus "Burung walet masuk ke sarang" dari ilmu pedang *Lam San*.
"Bagus!" seru lawan yang bersenjatakan tombak. Ia kembali menyerang, namun Kwee Ceng membalas dengan tendangan ke bahu musuh. Penyerang bertombak itu terkejut dengan kegesitan Kwee Ceng. Ia penasaran karena merasa pengalamannya selama dua puluh tahun seharusnya cukup untuk mengalahkan anak muda itu.
Kwee Ceng bertempur dengan mata awas dan otak bekerja. Ia tahu musuh ingin merebut kembali goloknya dan ingin cepat menang. Kwee Ceng melawannya dengan sabar, cepat, dan keras hingga membuat musuh mulai lelah. Saat musuh kehilangan tenaga, Kwee Ceng tidak lagi membacok, melainkan memapas sepanjang batang tombak ke arah jari tangan musuhnya.
Musuh terkejut dan terpaksa melompat mundur. Menghadapi lawan bertombak, Kwee Ceng kini memiliki keuntungan.