Chapter 27
Entah sudah lewat berapa lama, ia perlahan-lahan sadar.
Betapa terkejutnya, samar-samar ia mendengar tangisan bayi.
Ia belum sadar betul, ia tidak tahu apakah dirinya berada di dunia baka atau masih hidup.
Ia hanya mendengar tangisan itu makin lama makin keras.
Ia menggerakkan tubuhnya, tapi ia merasakan ada benda berat di perutnya.
Ketika itu masih malam, rembulan bersinar terang di langit, muncul di antara awan.
Baru sekarang Lie Peng benar-benar sadar, setelah ia melihat dengan jelas, tanpa menyadari bahwa ia menangis tersedu-sedu.
Dalam keadaan seperti itu, nyatalah ia telah melahirkan anak?
Cepat nyonya itu duduk, ia mengangkat bayinya itu. Betapa girangnya, ia mendapatkan seorang bayi laki-laki.
Ia mengeluarkan air mata kegirangan yang berlimpah-limpah.
Dengan gigitan, ia memutus tali pusar, setelah itu ia memeluk anaknya.
Di bawah terang rembulan, bayi itu tampak cakap, suaranya pun nyaring, dan potongan wajahnya mirip dengan suaminya, Kwee Siauw Thian.
Raut wajah anak ini telah membantu menguatkan semangatnya. Jika tadinya ia telah berputus asa, sekarang timbullah harapannya.
Entah dari mana datangnya tenaganya, Lie Si mencoba menggunakan kedua tangannya untuk menggali pasir, membuat sebuah liang besar tempat ia dan bayinya bisa berlindung dari angin dan salju.
Dari situ ia bisa mendengar rintihan serdadu-serdadu yang terluka parah atau sekarat, serta ringkikan banyak kuda perang.
Selama dua malam satu hari, Lie Peng mendekam di liangnya itu. Lalu, pada hari ketiga, ia tidak tahan lagi menahan rasa laparnya.
Air tersedia dari salju, tetapi tidak ada makanan sama sekali.
Terpaksa ia merayap keluar.
Di sekitarnya tidak ada seorang pun, kecuali mayat-mayat serdadu dan kuda-kuda.
Karena hawa dingin, semua mayat serdadu dan bangkai itu belum busuk.
Hanya saja, pemandangannya sangat mengerikan.
Mau tidak mau, Lie Si harus menguatkan hati.
Lie Si mencoba menggeledah tubuh mayat-mayat itu untuk mencari ransum kering.
Ia menemukan sejumlah sisa makanan.
Lalu ia mencoba menyalakan api, dan dengan itu ia bisa membakar daging kuda.
Ia menemukan golok dengan mudah karena di situ banyak tergeletak alat senjata.
Selama tujuh atau delapan hari, Lie Si dapat tinggal di sana bersama bayinya. Setelah ia mulai pulih, ia menggendong bayinya untuk dibawa pergi ke arah timur.
Ia harus terus berjalan di tempat yang sepi, di mana terdapat pepohonan dan padang rumput.
Sampai tiba-tiba ia mendengar anak panah mengaung di atas kepalanya.
Ia terkejut, hingga erat sekali ia merangkul bayinya.
Segera terlihat dua penunggang kuda, datang dari arah depan.
"Siapa kau?" tanya salah satu di antara dua penunggang kuda itu.
Lie Peng tidak membuka rahasia. Ia hanya mengatakan bahwa ia sedang lewat di situ ketika ia terhalang oleh pertempuran tentara, hingga ia harus melahirkan anak seorang diri.
Dua penunggang kuda itu adalah orang Mongolia, mereka berbaik hati. Walaupun tidak tahu jelas apa yang dikatakan Lie Si, mereka mengajak nyonya itu ke tenda mereka untuk diberi tempat berteduh dan makanan, agar ibu dan bayinya itu bisa tidur guna melepaskan lelah dan kantuknya.
Orang Mongolia itu tidak berumah tangga. Sebagai pengembala, tempat tinggal mereka tidak tentu. Dengan mengiring binatang ternak mereka, mereka biasa pergi ke timur atau ke barat untuk mencari makanan bagi binatang, dan mencari air. Rumah mereka adalah tenda yang terbuat dari bulu binatang, guna melindungi diri dari gangguan angin dan hujan.
Demikianlah yang terjadi dengan Lie Si. Ketika kedua penolongnya hendak berpindah tempat, terpaksa ia ditinggalkan.
Akan tetapi, dua orang itu tidak menolong setengah-setengah. Ketika hendak berangkat, mereka meninggalkan tiga ekor kambing.
Maka mulailah Lie Peng harus berlelah-lelah untuk hidup sendiri.
Ia hidup sendiri, sebab bayinya masih belum mengerti apa pun.
Ia harus membangun sebuah gubuk beratap daun.
Untuk menghidupi dirinya, ia mulai menenun, dan hasilnya ia tukar dengan makanan.
Bisa dibayangkan, betapa hebat penderitaannya itu.
Oleh karena kebiasaan, ia pun dapat hidup sebagai orang Mongolia. Malah, tanpa terasa, enam tahun telah lewat.
Ia tidak hendak melupakan pesan suaminya. Ia memberi nama Ceng kepada putranya.
Demi kelegaan hatinya, anak itu bertubuh kuat dan cerdik. Ia bisa membantu ibunya menggembalakan kambing.
Selama bertahun-tahun, kehidupan Lie Peng cukup lumayan.
Pada suatu hari di bulan ketiga, selagi udara hangat, Kwee Ceng menggiring kambingnya untuk digembalakan.
Ia sekarang memelihara anjing sebagai pembantunya, dan untuk menempuh perjalanan jauh, ia menunggangi kuda kecilnya.
Tepat tengah hari, selagi ia menjaga kambing-kambingnya, tiba-tiba Kwee Ceng melihat seekor burung elang yang besar sekali menyambar rombongan kambingnya.
Semua binatang itu terkejut.
Bahkan, seekor anak kambing kabur ke timur.
Ia memanggil dengan berteriak-teriak, tetapi anak kambing itu terus berlari.
Maka ia menaiki kudanya untuk mengejar.
Sekitar tujuh *li*, baru ia berhasil menangkap anak kambing itu. Tetapi, selagi ia hendak menuntunnya pulang, mendadak ia mendengar suara keras dan nyaring, hingga ia terperanjat.
Ia mulanya menyangka itu guntur, sampai setelah memasang telinga beberapa saat, ia mendengar suara seperti genderang, diikuti ringkikan kuda serta suara orang banyak.
Ia menjadi takut, belum pernah ia mendengar suara semacam itu.
Tak ayal lagi, Kwee Ceng menuntun kambingnya untuk mendaki suatu tanjakan, guna bersembunyi di dalam rerimbunan.
Tetapi ia ingin mengetahui sesuatu, ia mengeluarkan kepalanya untuk mengintai.
Jauh di sebelah depan tampak debu mengepul naik, lalu muncullah pasukan tentara. Ia tidak tahu berapa jumlahnya, ia hanya melihat bahwa kepala perang telah memberikan berbagai titahnya, maka tentara itu pun terpecah menjadi dua barisan, timur dan barat.
Ada serdadu yang kepalanya dihiasi pita putih, ada yang ditancapkan bulu burung lima warna.
Sekarang, alih-alih takut, hati Kwee Ceng menjadi tertarik.
Ia mengintai terus.
Tidak lama setelah barisan teratur rapi, segera terdengar suara terompet dari sebelah belakang. Dari sana muncul beberapa barisan lain yang dikepalai oleh seorang perwira muda jangkung dan kurus, tubuhnya ditutupi mantel merah.
Ia memegang sebatang golok panjang, lalu ia memimpin tentaranya menyerbu. Dari itu, di situ kemudian terjadi suatu pertempuran.
Pihak penyerang ini berjumlah lebih sedikit. Walaupun tampaknya mereka gigih, tidak lama kemudian mereka harus mundur dengan sendirinya.
Tetapi di belakang mereka kemudian tiba bala bantuan, mereka menyerang lagi.
Meski begitu, agaknya mereka tidak dapat bertahan lama.
Tiba-tiba terdengar suara terompet riuh, disertai suara genderang. Mendengar itu, tentara penyerang kemudian berseru-seru kegirangan: "Kha Khan Temuchin telah datang!
Kha Khan telah datang!" Karena itu, orang-orang yang sedang bertempur kemudian menoleh ke arah tenggara, dari mana datangnya suara terompet dan genderang tadi.
Kwee Ceng juga turut mengalihkan pandangannya.
Ia melihat satu pasukan besar, yang datang dengan cepat.
Di tengah pasukan ditancapkan sebuah tiang yang tinggi, tempat tergantung beberapa lapis bulu putih.
Dari sana pun datang seruan-seruan kegirangan.
Atas hal ini, tentara penyerang jadi bersemangat. Mereka menyerang lagi dengan hebat, hingga mereka dapat mengacaukan lawannya.
Tiang yang tinggi itu bergerak ke arah tanjakan bukit. Kwee Ceng, dengan matanya yang jeli, dari tempat sembunyinya, mengawasi ke arah tiang itu.
Dengan begitu ia dapat melihat seorang perwira yang menunggang kuda, yang memacu kudanya itu naik ke tanjakan.
Dia memakai kopiah perang dari besi, janggutnya merah. Dari atas kudanya ia memandang ke medan pertempuran.
Di samping dia ada beberapa pengiringnya.
Tidak lama kemudian, panglima muda yang bermantel merah memacu kudanya naik ke tanjakan.
"Ayah, musuh berjumlah berkali-kali lipat lebih banyak! Mari kita mundur dulu!" serunya kepada orang di bawah tiang bendera itu.
Temuchin, demikian panglima yang dipanggil ayah itu, sudah melihat dengan jelas keadaan pertempuran itu. Ia hanya berdiam sebentar, lalu ia memberikan titahnya: "Kau bawa sepuluh ribu serdadu mundur ke timur!" demikian titahnya.
Sambil berbuat begitu, ia tetap mengawasi medan perang.
Lalu ia memberi perintah pula: "Mukhali, kau bersama pangeran kedua serta sepuluh ribu serdadu mundur ke barat! Kau, Borchu, bersama Chilaun serta sepuluh ribu serdadumu mundur ke utara!
Dan kau, Kubilai, bersama Subotai serta sepuluh ribu serdadu, lekas mundur ke selatan!
Kapan kau melihat bendera besar di puncak tinggi dan mendengar terompet dibunyikan, kau harus kembali untuk melakukan penyerangan balasan!" Semua perwira itu menyahut sebagai tanda menerima titah. Setelah itu, semua memimpin barisannya menyingkir ke arah yang telah disebutkan tadi. Maka, sebentar saja, tentara Mongolia itu tampak lari kocar-kacir ke empat penjuru arah.
Tentara musuh bersorak-sorai melihat lawannya lari tunggang-langgang. Mereka pun segera melihat bendera putih besar Temuchin di atas bukit. Mereka kemudian berseru-seru: "Tangkap hidup Temuchin!
Tangkap hidup Temuchin!" Lalu, tentara itu rapat-rapat, berlomba mendaki bukit. Mereka tidak lagi memedulikan musuh yang lari tunggang-langgang.
Temuchin tetap berdiri tegak di tempatnya. Ia dikelilingi belasan pengiringnya yang dengan memasang tameng, melindungi pemimpin itu dari serangan berbagai anak panah.
Di pihak lain, adik angkat Temuchin, yaitu Sigi Kutuku, bersama Jelmi, panglima yang gigih, dengan lima ribu prajurit mereka, melakukan pembelaan di sekitar bukit itu. Mereka tidak sudi mundur dari serangan musuh, dan tidak menghiraukan anak panah maupun golok.