Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 129

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 129

Han Siauw Eng bermata tajam. Segera ia melihat Oey Yong hadir bersama, maka ia menarik ujung baju kakaknya seraya berbisik, "Sabar, urusan ini kita boleh bicarakan perlahan-lahan kemudian." Nona lihai ini dapat mengenali Oey Yong walaupun sedang menyamar sebagai seorang pemuda.

Tuan rumah tidak mengenal siapa enam orang itu, tetapi karena Kwee Ceng memanggil guru kepada mereka, ia lantas memberi hormat. Ia meminta dimaafkan karena tidak dapat berjalan. Ia pun segera memerintahkan pelayan menyiapkan sebuah meja untuk tetamu baru ini. Kwee Ceng tidak berlengah lagi menjelaskan perihal gurunya.

Liok Chungcu menjadi girang sekali. "Sudah lama aku mendengar nama besar dari Tuan-tuan, hari ini aku dapat menemuinya, sungguh aku beruntung!" katanya.

Berbeda dari tuan rumah, Kiu Cian Jin duduk tetap di kursinya. Ia cuma tersenyum, lalu makan dan minum seorang diri.

"Siapa Tuan ini?" tanya Han Po Kie. Ia kesal atas sikap orang yang acuh tak acuh dan sombong itu.

"Baiklah Liok-hiap ketahui," kata tuan rumah, "Tuan ini adalah gunung Tay San dan Bintang Pak Tauw dari kaum rimba persilatan di zaman ini, yang kepandaian ilmu silatnya tidak ada orang di kolong langit ini yang dapat menandinginya."

Mau tidak mau Liok Koay heran. "Apakah dia Oey Yok Su dari Tho Hoa To?" tanya Han Siauw Eng.

"Apakah dia Kiu Cie Sin Kay?" tanya Han Po Kie.

"Meskipun Tuan dari Pulau Tho Hoa To serta Kiu Cie Sin Kay sangat lihai, tidak mungkin mereka dapat menandingi Tiat-ciang Sui-siang-piauw Kiu Locianpwee!" Liok Koan Eng lantas memperkenalkan.

Kwa Tin Ok heran. "Oh, Locianpwee Kiu Cian Jin!" katanya. Kiu Cian Jin tertawa keras sampai rumahnya bagaikan tergetar.

Ketika itu beberapa pelayan telah selesai menyiapkan meja serta hidangan, dan keenam tetamu itu lantas mengambil tempat duduk mereka. Kwee Ceng pindah duduk di sebelah bawah gurunya. Ia menarik tangan Oey Yong untuk diajak duduk bersama, tetapi si nona menggoyangkan kepala sambil tertawa, ia menolak untuk pindah duduk.

Liok Chungcu tertawa, ia berkata, "Aku menyangka Saudara Kwee tidak mengerti ilmu silat, kiranya kau adalah murid dari enam orang pandai. Benar-benar mataku rabun, tidak dapat aku melihat mustika yang disembunyikan."

Kwee Ceng bangkit dan memberi hormat. "Kepandaianku tidak seberapa," katanya, "Dengan menerima pengajaran guruku, aku tidak berani banyak bertingkah. Harap Chungcu sudi memaafkannya."

Senang Tin Ok mendengar pembicaraan itu. Terang sudah Kwee Ceng pandai membawa diri.

"Tuan-tuan adalah orang-orang kenamaan kaum rimba persilatan di Kanglam ini," berkata Kiu Cian Jin, "Kebetulan sekali aku si orang tua punya urusan yang penting. Jikalau dalam hal itu aku bisa memperoleh bantuan kamu, sungguh bagus sekali!"

"Ketika Tuan-tuan datang, baru saja Kiu Locianpwee hendak memberi penjelasan," kata tuan rumah. "Sekarang silakan Locianpwee memberi petunjuk kepadaku."

Kiu Cian Jin menurut, ia lantas berkata, "Kita yang menempatkan diri dalam dunia rimba persilatan, pokok penting dari tujuan kita adalah perbuatan-perbuatan mulia, menolong rakyat dari kesengsaraan. Sekarang ini tinggal ditunggu harinya saja angkatan perang negara Kim meluruk ke Selatan. Jikalau Kerajaan Song tidak dapat melihat situasi dan tidak sudi menyerah, asal saja peperangan terjadi, celakalah rakyat, entah berapa banyak jiwa yang bakal binasa! Bukankah ada kata-kata, siapa menurut Thian dia makmur, siapa menentang Thian dia musnah? Maka aku datang ke Selatan ini untuk menggabungi semua orang gagah di Kanglam, guna bersama menyambut angkatan perang Kim itu, supaya Kerajaan Song digencet dari luar dan dalam hingga habislah tenaganya. Kalau usaha ini berhasil, di samping pangkat mulia dan kedudukan yang senang buat kita, rakyat pasti sangat bersyukur. Dengan begitu tidaklah sia-sia kita mempunyai kepandaian silat yang lihai."

Mendengar itu, air muka Kanglam Liok Koay berubah. Bahkan dua saudara Han sudah hendak membuka suara, syukur Coan Kim Hoat dapat segera menarik ujung baju mereka seraya matanya melirik kepada tuan rumah, menunjuk untuk memperhatikan sikap tuan rumah itu.

Sebegitu jauh Liok Chungcu menghormati tetamunya yang tua itu, tetapi sekarang, mendengar perkataan tersebut, ia heran bukan main. Ia mencoba tertawa ketika ia berkata, "Meskipun aku bodoh, tetapi dengan menempatkan diri di kalangan kaum kang-ouw, aku masih mengerti tentang *tiong* dan *gie*, kesetiaan dan kebajikan, dan tidak dapat aku melupakannya. Angkatan perang Kim itu hendak menyerbu ke Selatan, itu artinya mereka bakal mencelakai rakyat negeri. Kalau itu sampai terjadi, aku akan turut semua tindakan orang gagah di Kanglam ini untuk menentangnya hingga aku binasa! Untuk ini aku akan mengangkat sumpah! Locianpwee, kata-katamu ini rupanya hendak memancing aku, bukan?"

"Laotee, mengapa pandangan matamu begini pendek?" tanya tetamu itu. "Apakah kebaikannya membantu Kerajaan Song melawan bangsa Kim? Paling banyak kau bakal mengalami nasib sebagai Gak Bu Bok yang binasa secara menyedihkan di paseban Hong Po Teng?"

Mendengar ini, tuan rumah kaget dan gusar. Ia mulanya mengharap mendapat bantuan melawan Hek Hong Siang Sat, siapa tahu ia justru dibujuk untuk mengkhianati negara sendiri! Maka sia-sia belaka orang tua ini pandai ilmu silatnya kalau jiwanya demikian rendah dan tidak tahu malu.

Ia lantas mengebaskan tangan bajunya. Ia berkata, "Malam ini aku sedang menghadapi musuh, sebenarnya aku berniat memohon bantuan Locianpwee, tetapi karena kita tidak sepaham, walaupun leherku bakal memuncratkan darah, tidak berani aku melayani Locianpwee terlalu lama pula! Silakan!" Ia memberi hormat pula, tandanya ia mengusir tetamunya itu.

Kanglam Liok Koay beserta Kwee Ceng dan Oey Yong girang dalam hatinya.

Kiu Cian Jin tidak tertawa, ia pun tidak menyahuti. Dengan tangan kiri mencekal cawan arak, tangan kanannya dibawa ke mulut cawan itu, terus diputar-putar. Mendadak tangan kanannya itu dikebaskan dan disambarkan terbalik. Maka, yang mengejutkan semua orang, cawan arak itu terpapas separuhnya!

Liok Chungcu berdiam diri, hatinya bekerja keras memikirkan cara untuk menghadapi orang tua ini yang sudah mengancam dengan kepandaiannya yang luar biasa. Namun, Ma Ong Sin dan Han Po Kie tidak dapat bersabar lagi. Ia melompat bangun dari kursinya menghadapi orang tua itu.

"Manusia tak tahu malu, mari kita mengadu kepandaian!" tantangnya.

Kiu Cian Jin tidak gentar. "Sudah lama aku mendengar nama Kanglam Cit Koay, baiklah hari ini diuji tulen atau palsunya!" katanya. "Tuan-tuan, baiklah kau maju semua berbareng!"

Tuan rumah menduga Han Po Kie bukan tandingan orang itu, mendengar tantangan tersebut, ia girang sekali. Ia lantas berkata, "Memang biasanya Kanglam Liok Koay maju berbareng dan mundur berbareng. Musuh seorang bagi mereka berenam, musuh sepasukan tentara besar bagi mereka berenam juga, tidak pernah ada salah satu di antaranya yang sudi ketinggalan!"

Inilah kata-kata yang disengaja. Mendengar ini, Cu Cong mengerti maksudnya.

"Baiklah!" katanya, "Mari kita bersama-sama melayani jago rimba persilatan yang kenamaan ini!" Lalu dengan mengebaskan tangannya, lima saudaranya segera bangkit bersiap sedia.

Kiu Cian Jin berdiri, ia mengangkat kursinya, lalu bertindak ke tengah ruangan yang mau dijadikan gelanggang pertarungan. Di situ ia meletakkan kursi itu, terus duduk pula, kaki kanannya disusun di atas kaki kirinya.

Dengan duduk tenang, ia berkata, "Sambil duduk begini, aku si orang tua akan menemani Tuan-tuan bermain-main!"

Tin Ok terkesiap hatinya. Jikalau orang bukan lihai luar biasa, tidak mungkin ia membawa sikap demikian rupa.

Selagi guru-gurunya belum bergerak, Kwee Ceng memajukan diri ke depan. Ia tidak percaya semua gurunya bisa menang melawan jago tua ini yang kepandaiannya telah ia saksikan sendiri. Tentu saja ia bersedia binasa untuk membantu gurunya, maka ia menjadi nekat.

"Locianpwee, aku yang muda memohon pengajaran dari kau," katanya seraya menjura.

Kiu Cian Jin melongo, akhirnya ia tertawa. "Tidak mudah ayah dan ibumu memelihara kau, kenapa jiwa kecilmu hendak cuma-cuma diantarkan di sini?" katanya.

"Anak Ceng, mundur!" berseru Tin Ok yang kagum dengan keberanian muridnya itu tetapi juga menyayanginya.

Namun, Kwee Ceng sudah bulat tekadnya. Ia khawatir nanti gurunya mencegah, maka tanpa berkata lagi, ia menekuk kakinya yang kiri, tangan kanannya digerakkan melingkar, lalu dengan keras tangannya itu ditolakkan maju.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment