Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 155

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 155

Ia memulangkan buku itu kepadaku. Sembari tertawa, ia berkata, "Ciu Toako, kau telah diperdaya oleh See Tok. Kitab ini bukanlah *Kiu Im Cin-keng*!"

Aku kaget bukan main. "Mengapa bukan?" tanyaku.

"Inilah kitab warisan kakak seperguruanku. Bentuknya pun serupa," jawab Nyonya Oey. "Apa gunanya jika sampulnya saja yang sama? Kitabmu ini adalah kitab ramalan milik tukang ramal!"

Kwee Ceng terkejut. "Mungkinkah Auwyang Hong telah menukarnya selagi Ong Cinjin belum keluar dari peti mati?" tanyanya.

"Mulanya aku pun menduga demikian," sahut Pek Thong. "Namun, Oey Lao Shia sangat licin, dan aku tidak dapat memercayai semua perkataan Nyonya Oey. Nyonya itu mengawasiku yang hanya terdiam membisu. Rupanya ia menduga aku bersangsi, maka ia berkata lagi, 'Ciu Toako, bagaimanakah bunyi kitab *Kiu Im Cin-keng* yang asli? Tahukah kau?' Aku menjawab bahwa semenjak kitab itu berada di tangan kakak seperguruanku, tidak pernah ada orang yang membacanya. Kakak pun berpesan, selama tujuh hari tujuh malam ia bergulat mendapatkan kitab itu demi menyingkirkan akar bencana besar bagi kaum rimba persilatan, ia sama sekali tidak pernah terpikir untuk memilikinya sendiri. Maka, ia telah melarang semua murid Coan Cin Pay untuk mempelajari ilmu di dalam kitab itu."

"Ong Cinjin memang sangat jujur dan disegani semua orang," sambung Nyonya Oey. "Hanya karena itulah ia sampai diperdaya orang. Ciu Toako, cobalah kau periksa kitab ini."

Aku bersangsi, tetapi mengingat pesan kakak seperguruanku, aku tidak berani memeriksa kitab tersebut.

"Inilah kitab ramalan yang terdapat di mana-mana di wilayah Kanglam," kata Nyonya Oey lagi. "Harganya tidak sampai setengah peser. Lagipula, seandainya ini adalah *Kiu Im Cin-keng* yang asli dan kau tidak ingin mempelajarinya, apa ruginya jika kau hanya melihatnya saja?"

Aku terdesak dan merasa penasaran, akhirnya aku memeriksa kitab itu. Aku menemukan berbagai pelajaran silat serta rahasianya; sama sekali bukan buku ramalan. Selagi aku memeriksanya, Nyonya Oey berkata, "Kitab semacam ini telah kubaca habis semenjak berumur lima tahun. Aku dapat membacanya di luar kepala dari awal sampai akhir. Kami anak-anak di Kanglam, sepuluh dari sembilan orang pernah bersekolah. Jika tidak percaya, Ciu Toako, mari aku membacakannya untukmu."

Benar saja, ia membacanya dari awal hingga akhir dengan lancar. Aku merasa tubuhku dingin. Lalu, nyonya itu berkata lagi, "Halaman mana pun yang kau buka dan tanyakan padaku, asal kau menyebut kalimatnya, aku dapat membacanya di luar kepala. Buku yang dibaca sejak kecil ini tidak akan pernah kulupakan."

Aku mencoba mengujinya beberapa kali, dan ia benar-benar mampu menghafalnya tanpa satu kesalahan pun. Karena itu, Oey Lao Shia tertawa terbahak-bahak. Aku menjadi sangat mendongkol, lalu mengambil kitab itu, merobek-robeknya, hingga membakarnya sampai hangus!

"Setelah itu, mendadak Oey Lao Shia berkata padaku, 'Loo Boan Tong, tidak usah kau merajuk dengan tabiat kekanak-kanakanmu itu! Nah, ini baju berduriku, aku hadiahkan padamu!' Aku tidak tahu bahwa aku telah dipermainkan. Aku hanya menduga ia merasa tidak enak hati, sehingga ingin menghadiahkannya untuk meredakan kemarahanku. Selain mendongkol, aku pun mengerti bahwa aku tidak akan bisa memiliki pusaka Tho Hoa To, maka aku menolak hadiah itu. Aku mengucapkan terima kasih, lalu pulang. Setelahnya, aku mengunci diri di kampung halaman untuk mendalami ilmu silatku. Saat itu aku belum sanggup menandingi Auwyang Hong, maka aku berlatih keras selama lima tahun. Aku berpikir, setelah mendapatkan berbagai macam ilmu, aku akan pergi ke wilayah barat untuk mencari See Tok dan meminta kembali kitab yang asli itu."

"Kalau Toako pergi bersama Ma Totiang dan Khu Totiang, bukankah itu jauh lebih baik?" tanya Kwee Ceng.

"Aku menyesal, karena tabiatku yang suka menang sendiri, aku malah dipermainkan orang," sahut Pek Thong. "Aku tidak mengerti bahwa aku telah dijadikan bulan-bulanan. Memang, seandainya aku bicara dulu dengan Ma Giok, rahasia itu akan terbongkar. Beberapa tahun setelahnya, tersiar berita di kalangan kangouw bahwa murid Oey Lao Shia dari Tho Hoa To, yaitu Hek Hong Siang Sat, telah mendapatkan kitab *Kiu Im Cin-keng* dan menguasai berbagai ilmu silat luar biasa, bahkan mereka menggunakannya untuk berbuat jahat. Mulanya aku tidak percaya, tetapi belakangan cerita itu semakin santer."

"Setahun kemudian, Khu Cie Kee datang memberitahuku bahwa ia telah mendapat kepastian bahwa murid-murid Tho Hoa To benar-benar telah memiliki *Kiu Im Cin-keng*. Aku gusar mendengar warta itu. Aku berkata dengan sengit, 'Oey Yok Su tidak pantas menjadi sahabat!' Khu Cie Kee heran dan bertanya apa sebabnya. Aku menjawab, 'Sebab dia pergi ke See Tok untuk meminta kitab itu tanpa sepengetahuanku, dan setelah mendapatkannya, ia tidak segera mengembalikannya padaku. Setidaknya ia harus memberitahuku lebih dulu.'"

"Setelah Oey Tocu mendapat kitab itu, mungkin mulanya ia berniat memberitahu Toako," kata Kwee Ceng. "Hanya di luar dugaannya, kitab itu dicuri oleh muridnya yang jahat. Aku tahu betul, mengenai kejadian itu ia murka bukan main, hingga empat muridnya yang lain, yang tidak tahu apa-apa, dipotong kakinya dan diusir."

Ciu Pek Thong menggelengkan kepala. "Kau sama jujurnya dengan aku," ujarnya. "Seandainya kau yang mengalami kejadian seperti itu, kau pasti tidak akan menyadari bahwa orang telah menipumu. Ketika itu, Khu Cie Kee selain membicarakan urusan tersebut, juga meminta pengajaran beberapa ilmu silat padaku. Setelah beberapa hari, ia pergi. Dua bulan kemudian, ia datang lagi membawa kabar bahwa Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong benar-benar telah menguasai ilmu dari buku yang dicuri dari gurunya. Dengan menempuh bahaya, Khu Cie Kee mengintai Hek Hong Siang Sat dan mendengar pembicaraan mereka. Nyatanya, Oey Lao Shia mendapatkan kitab *Kiu Im Cin-keng* itu bukan dengan merampas dari tangan See Tok, melainkan mencurinya dari tanganku sendiri."

Kwee Ceng heran. "Bukankah Toako telah membakarnya sampai habis?"

"Mungkinkah Nyonya Oey telah menukarnya dan memberikan kitab palsu kepada Toako?"

"Tidak!" sahut Pek Thong. "Dalam hal itu aku sudah waspada. Selagi istri Oey Lao Shia membaca, aku tidak pernah memisahkan diri darinya. Ia tidak mengerti ilmu silat, seandainya pun ia gesit, ia tidak akan bisa lolos dari pengamatanku. Bukankah kita yang ahli senjata rahasia memiliki mata yang sangat awas? Ia tidak menukar kitab, ia hanya menggunakan kecerdasan otaknya untuk menghafal bunyi kitab itu di luar kepala!"

Kwee Ceng heran hingga ia kembali menegaskan pertanyaannya.

"Adikku, jika kau membaca sesuatu, berapa kali kau harus membacanya agar bisa hafal di luar kepala?" tanya Pek Thong sabar.

"Yang gampang cukup dengan dua atau tiga puluh kali bacaan," jawab si adik angkat. "Yang sulit membutuhkan enam puluh sampai tujuh puluh kali, mungkin delapan puluh atau sembilan puluh kali."

"Kau benar, karena kau memang tidak terlalu cerdas," kata kakak angkat itu.

"Memang adikmu ini bebal sekali, Toako. Baik dalam membaca buku maupun belajar ilmu silat, kemajuanku sangat lambat."

Pek Thong menghela napas. "Tentang membaca buku, kau memang tidak mengerti banyak. Mari kita bicara soal ilmu silat. Kalau gurumu mengajarkan suatu ilmu, bukankah memerlukan pengulangan beberapa puluh kali baru kau mengerti?"

Wajah Kwee Ceng memerah. "Benar," sahutnya. "Akan tetapi di dunia ini ada orang yang hanya dengan melihat orang berlatih sesaat saja, ia sudah bisa menirunya."

"Itulah benarnya. Seperti putrinya Oey Tocu, Ang Insu; mengajari dia cukup dua kali, tidak pernah sampai tiga kali."

"Nona itu sangat cerdas otaknya, mungkin ia akan berumur pendek seperti ibunya," kata Pek Thong pelan. "Hari itu, saat Nyonya Oey meminjam kitab, ia hanya membacanya dua kali, tetapi ia tidak melupakan satu huruf pun. Rupanya setelah berpisah denganku, ia segera mengambil kuas dan kertas untuk mencatatnya, lalu memberikannya kepada suaminya."

Kwee Ceng terperanjat. "Nyonya Oey tidak mengerti isi kitab itu, bagaimana ia sanggup menghafalnya? Mengapa di kolong langit ini ada orang yang sedemikian cerdas?"

"Aku rasa sahabatmu yang cilik itu, yaitu Nona Oey, pun dapat berbuat demikian," ujar Ciu Pek Thong. "Setelah mendapat keterangan dari Khu Cie Kee, aku memanggil tujuh murid Coan Cin Pay untuk mendamaikan urusan itu dan memaksa Hek Hong Siang Sat mengembalikan kitab tersebut. Khu Cie Kee mengusulkan agar aku jangan turun tangan. Ia bilang, biar Hek Hong Siang Sat sehebat apa pun, mereka tidak akan mampu melawan mereka bertujuh. Katanya, kalau aku turun tangan sendiri, aku akan ditertawakan kaum kangouw. Bukankah tingkatanku jauh lebih tinggi? Aku setuju. Lantas, aku menyuruh Cie Kee dan Cie It untuk mencari Hek Hong Siang Sat, sementara lima lainnya mengawasi agar mereka tidak meloloskan diri. Ketika Khu Cie Kee sampai di Hoolam, Hek Hong Siang Sat telah lenyap. Kemudian didapat keterangan bahwa Hek Hong Siang Sat kabur karena dikepung oleh Liok Seng Hong, salah satu murid Oey Lao Shia yang lain. Untuk itu, Seng Hong mengumpulkan banyak jagoan dari Tionggoan. Meski begitu, mereka berhasil lolos dan menghilang."

Kwee Ceng mengangguk. Ia berkata, "Pantas jika Liok Chungcu membenci Hek Hong Siang Sat."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment