Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 28

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 28

Kwee Ceng menyaksikan semuanya, ia gembira. Setelah bertempur selama lebih dari satu jam, dari lima ribu serdadu Temuchin, lebih dari seribu telah terbunuh, akan tetapi serdadu musuh juga banyak yang telah rubuh, jumlahnya beberapa ribu jiwa. Hanya karena jumlah mereka jauh lebih besar, mereka unggul. Penyerang di pojok timur utara tampak lebih garang.

Musuh telah mendesak hingga hampir sukar untuk dicegah lagi. Putra ketiga Temuchin, Ogatai, yang berada di samping ayahnya, menjadi cemas. "Ayah, apa boleh kita kerek bendera dan membunyikan terompet?" dia bertanya. Dengan matanya yang tajam, Temuchin mengawasi ke bawah kepada tentara musuh, lalu dengan suara dalam, ia menyahuti: "Musuh masih belum lelah."

Ketika itu, penyerangan musuh di timur laut bertambah hebat. Di sana, sebuah bendera besar dikerek. Itu adalah tanda bahwa di sana ada tiga kepala perang yang memegang pimpinan. Di pihak Mongolia, orang terpaksa mundur. Jelmi lari naik ke atas bukit. "Kha Khan, anak-anak tak sanggup bertahan!" dia teriaki kepada junjungannya. "Tak sanggup bertahan!" berseru Temuchin dengan gusar. "Bagaimana dapat kau banggakan diri sebagai seorang pendekar gagah perkasa?"

Air muka Jelmi menjadi berubah, lantas ia merampas sebatang golok besar dari tangan seorang serdadu. Dengan membawa golok itu, sambil berseru-seru dengan seruan-seruan perang bangsanya, ia menerjang barisan musuh. Ia membuka jalan hingga di depan sebuah bendera hitam. Sejumlah serdadu musuh mundur melihat orang demikian bengis. Jelmi maju menyerang tiga serdadu musuh yang bertubuh besar, ia membunuh satu demi satu. Kemudian, dengan melemparkan goloknya, ia merangkul ketiga bendera besar itu untuk dibawa lari mendaki bukit. Setibanya di atas, ia menancapkan tiga batang bendera itu di tanah.

Musuh kaget menyaksikan lawannya demikian kuat. Di lain pihak, tentara Mongolia bertempik sorak, mereka lantas menutup kebocoran di timur utara itu. Berselang lagi satu jam, di pihak musuh, di pojok barat selatan, tampak seorang panglima dengan pakaian perang hitam, hebat ilmu panahnya. Sebentar saja, ia telah merubuhkan belasan tentara Mongolia. Dua perwira Mongolia maju hendak menerjang, tetapi mereka disambut oleh anak panah dan rubuh karenanya.

"Bagus ilmu panahnya!" Temuchin memuji musuh itu. Justru itu, sebatang anak panah menyambar sebelum pimpinan Mongol ini dapat berdaya, lehernya telah terkena anak panah itu, sedang satu anak panah lainnya menyambar ke arah perutnya. Biar bagaimana juga, Temuchin adalah seorang peperangan yang ulung. Walaupun lehernya terluka dan sakit sekali rasanya, ia tidak menjadi gugup. Dengan kedut lesnya, ia membuat kudanya berjingkrak berdiri dengan dua kaki belakangnya.

Dengan begitu, anak panah tidak lagi menyambar ke perut orang, hanya menancap di dada kuda, menancap sampai ke batas bulu. Maka, tidak ampun lagi, rubuhlah binatang tunggangannya itu berikut penunggangnya. Semua serdadu Mongol kaget, semua lantas meluruh untuk menolongi kepala perang mereka. Musuh menggunai ketika baik ini untuk menerjang naik dengan hebat. Kutuku di arah barat telah memimpin tentaranya melawan musuh, ia kehabisan anak panah, dan tombaknya pun telah patah, terpaksa ia balik mundur.

Merah matanya Jelmi melihat kawannya itu mundur. "Kutuku, apakah kau ngiprit seperti kelinci?" ia menegur dengan ejekannya. Kutuku tidak gusar, sebaliknya ia tertawa. "Siapa lari ngiprit?" katanya. "Aku kehabisan anak panah!" Temuchin yang rebah di tanah telah menarik keluar anak panahnya dari kantong panahnya yang tersulam, ia melemparkan itu kepada adik angkatnya itu.

Mendapatkan anak panah, Kutuku segera beraksi. Beruntun tiga kali, ia memanah kepada musuh yang berada di bawah sebuah bendera hitam, sebatang busur membuat musuh itu rubuh. Sesudah itu, ia memburu ke bawah bukit untuk merampas kuda musuh, akan kemudian ia lari pula naik ke atas. "Saudaraku yang baik, hebat kau!" Temuchin memuji adik angkatnya itu. Kutuku mandi keringat. "Apakah sekarang sudah boleh kita menaikkan bendera dan membunyikan terompet?" ia tanya, suaranya perlahan.

Temuchin menutup lukanya dengan telapak tangannya, darah muncrat keluar dari sela-sela jari tangannya itu. Dalam keadaan terluka, ia memandang ke arah musuh. "Musuh masih belum lelah," sahutnya. "Kita tunggu sebentar lagi." Kutuku lantas berlutut di depan kakak angkatnya itu, yang berbareng menjadi pemimpinnya. "Kami semua rela berkorban untuk kau," katanya. "Tapi Kha Khan, tubuhmu penting sekali!" Mendengar itu, melihat sikap orang, Temuchin lantas berlompat untuk naik ke atas seekor kuda.

"Semuanya membela mati bukit ini!" ia berseru. Dengan goloknya yang panjang, ia membunuh tiga musuh yang menerjang ke arahnya. Musuh yang tengah merangsak naik kaget melihat kepala perang lawannya dapat naik kuda pula, sendirinya mereka mundur, hingga penyerangan mereka menjadi reda. Temuchin lihat keadaan itu, ia menggunai ketikanya yang baik. "Naikkan bendera! Tiup terompet!" dia berteriak dengan titahnya.

Tentara Mongolia bertempik sorak, lalu bendera putih yang besar dikerek naik, disusul sama bunyi terompet yang riuh. Serempak dengan itu, tentara Mongolia dengan bersemangat menyerang dari segala penjuru, di mana mereka berada. Musuh berjumlah besar, barisan mereka tengah kacau, maka itu diserang demikian mendadak, mereka menjadi bertambah kacau. Panglima dengan seragam hitam itu nampak keadaan jelek, ia berteriak-teriak untuk mencegah kekacauan, akan tetapi sia-sia saja percobaannya itu, tentaranya tak dapat dikendalikan lagi.

Maka itu tidak usah berselang dua jam, runtuhlah pasukan perang yang besar itu, termusnahkan pasukan Mongolia yang jumlahnya lebih sedikit tetapi yang semangatnya berapi-api. Sisa tentara lantas lari serabutan, si panglima seragam hitam sendiri terpaksa kaburkan kudanya. "Tangkap musuh itu!" Temuchin memberi titah. "Hadiahnya sepuluh kati emas!" Beberapa puluh serdadu Mongol sudah lantas kaburkan kuda mereka untuk mengejar panglima berbaju hitam itu.

Mereka itu mendekati saling susul. Akan tetapi lihay panah si panglima, tak pernah gagal, maka itu belasan serdadu lantas saja terjungkal dari kuda mereka, hingga yang lainnya menjadi terhalang. Dengan begitu pula, pada akhirnya, panglima itu dapat meloloskan diri. Kwee Ceng dari tempat sembunyinya sangat mengagumi panglima berbaju hitam itu.

Dengan pertempuran ini, Temuchin, yaitu pihak Mongolia, telah memperoleh kemenangan besar, dan musuhnya, yaitu bangsa Taijiut, telah musnah lebih dari separuhnya. Maka sejak itu, Temuchin tidak usah khawatirkan lagi ancaman dari pihak musuhnya itu. Dengan kegirangan, sambil bersorak-sorak, tentara Mongolia mengiringi kepala perangnya berangkat pulang.

Kwee Ceng tunggu sampai orang sudah pergi semua, tak kecuali mereka yang mengurus korban-korban, baharu ia keluar dari tempat sembunyinya. Ketika ia tiba di rumahnya, waktu sudah tengah malam, justru ibunya sedang berdebar-debar hatinya memikirkan anaknya yang dikhawatirkan menghadapi ancaman bahaya. Kwee Ceng segera menerangkan kepada ibunya kenapa ia pulang lambat sekali.

Senang Lie Peng akan menyaksikan anaknya bercerita dengan cara sangat gembira, anak ini tidak sedikit juga menunjukkan hati jeri, maka itu ia menjadi teringat kepada suaminya. "Dasar turunan orang peperangan, ia mirip dengan ayahnya?" pikir ibu ini. Maka diam-diam ia pun bergirang.

Tiga hari kemudian, pagi-pagi sekali, Lie Peng berangkat ke pasar yang terpisahnya kira-kira tigapuluh lie lebih dari rumahnya untuk menukar tenunannya, dua helai permadani, dengan barang-barang makanan. Kwee Ceng ditinggal di rumah untuk menjagai binatang piaraan mereka. Anak ini ingat akan peperangan yang ia saksikan, ia jadi gembira sekali, ia anggap peperangan itu dapat dibuat permainan, maka dengan memainkan cambuknya, sambil ia duduk di atas kudanya, ia mencoba menggiring kambingnya pulang pergi.

Ia mau anggap dirinya adalah seorang panglima perang! Tengah anak ini main jenderal-jenderalan itu, tiba-tiba ia dengar tindakan kaki kuda di arah timur, apabila ia menoleh, ia tampak seekor kuda lari mendatangi, di bebokong kuda ada satu tubuh manusia yang mendekam. Begitu datang dekat, kuda itu kendorkan larinya. Penunggang kuda itu yang mendekat, terus angkat kepalanya, memandang kepada si bocah itu, siapa lantas menjadi kaget sekali, hingga ia keluarkan teriakan tertahan.

Penunggang kuda itu mukanya penuh debu bercampur darah, adalah si panglima perang berbaju hitam yang gagah, yang Kwee Ceng saksikan dan mengaguminya, di tangan kirinya ia mencekal goloknya yang telah buntung, golok yang mana pun ada darah yang sudah mengental, sedang panahnya tidak kedapatan padanya. Mungkin ia yang tengah melarikan diri telah bertemu pula dengan musuh.

Di pipi kanannya ada sebuah luka besar dan masih mengucurkan darah. Paha kudanya pun terluka, darahnya masih mengalir. Tubuh panglima itu bergoyang-goyang, matanya bersinar merah. "Air, air, lekas bagi air?" katanya, suaranya parau. Kwee Ceng lantas lari mengambil air dingin dari jambangannya, yang mana si panglima lantas saja sambar untuk digelogoki.

"Mari lagi satu mangkok!" dia meminta pula. Panglima itu baharu minum setengah mangkok, air itu sudah bercampur dengan darah yang mengalir dari lukanya, tetapi ia rupanya telah puas telah dapat air, tiba-tiba ia tertawa, hanya habis itu wajahnya berjengit, tubuhnya terus rubuh dari atas kudanya itu. Dia jatuh pingsan. Kwee Ceng kaget dan bingung, ia menjerit. Tak tahu ia mesti berbuat apa.

Selang sekian lama, orang itu sadar dengan sendirinya. "Lapar! Lapar!" kali ini ia bersuara. Kwee Ceng lekas-lekas mengambilkan beberapa potong daging kambing, orang itu memakannya dengan sangat bernafsu, setelah itu ia dapat pulang tenaganya. Demikian dia bisa gerakkan tubuhnya untuk berduduk. "Adik yang baik, banyak-banyak terima kasih kepadamu!" dia mengucap.

Dari lengannya ia tarik sebuah gelang emas yang kasar dan berat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment