Chapter 82
Kwee Ceng kagum bukan main. Ia berada di samping sang nona, tetapi ia tak sempat melihat gerakan tangan orang. Mendadak ia mengingat kejadian di rumah makan di Kalgan, tatkala kawanan nona-nona serba putih hendak merampas kudanya, tiba-tiba mereka roboh tanpa berkutik.
"Pastilah mereka telah terkena tangan lihai dari si Yong ini," pikirnya.
"Eh, kau memikirkan apa?" tegur si nona sambil tertawa melihat Kwee Ceng termenung.
Ia lantas menarik Sim Ceng Kong dan Ma Ceng Hiong ke belakang pot-pot kembang untuk disembunyikan, kemudian menarik tangan si pemuda untuk menyusul si pengurus.
Di depan Hoa Cui Kok, Oey Yong mendorong tubuh si pengurus agar ia masuk. Ia sendiri bersama Kwee Ceng lantas melompat ke atap untuk mengintai dari jendela sehingga mereka dapat melihat jelas ke dalam.
Ruang dalam itu terang sekali; di sana terdapat meja penuh dengan pelbagai hidangan dan arak. Namun, yang membuat Kwee Ceng terperanjat hingga hatinya berdenyut adalah saat matanya bertemu dengan hadirin yang duduk mengitari meja itu. Ia mengenali Auwyang Kongcu dari Pek To San, Kwie-bun Liong-ong See Thong Thian, Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay, Som Sian Lao-koay Nio Cu Ong, dan Cian-ciu Jin-touw Pheng Lian Houw.
Menemani mereka, duduk di sebelah bawah adalah Chao Wang Wanyen Lieh, yaitu Liok-hong-cu atau pangeran keenam dari negara Kim. Duduk di sampingnya, di atas kursi tay-su-ie yang besar dan tebal, adalah Tay-cu-in Leng Tie Siangjin. Kedua matanya terbuka sedikit dan mukanya bagaikan kertas kuning, suatu tanda lukanya tidak ringan.
Diam-diam Kwee Ceng girang sekali, lalu berkata di dalam hatinya, "Kau hendak mencelakai Ong Totiang, sekarang kau sendiri merasakan akibatnya."
Si pengurus masuk untuk berlutut di depan Nio Cu Ong dan mempersembahkan surat dari siauw-ongya. Nio Cu Ong menyambut, membaca surat itu, mengawasi si pembawa, kemudian mengangsurkan surat itu kepada Wanyen Lieh.
"Ongya, benarkah ini tulisan siauw-ongya?" tanyanya.
Chao Wang membaca surat itu lalu mengangguk. "Benar," katanya.
"Berikanlah dia obat itu," perintah Nio Cu Ong kepada kacung di sisinya. "Tadi siauw-ongya mengirimkan empat macam obat. Kau ambilkan masing-masing satu tail, berikan kepada koankee ini."
Bocah itu menyahut, lalu mengajak si koankee atau pengurus itu mengundurkan diri. Kwee Ceng berbisik di telinga Oey Yong, "Mari kita pergi, lekas! Semua mereka itu sangat lihai!"
Oey Yong tertawa perlahan sambil menggelengkan kepala. Rambutnya mengenai muka si pemuda hingga Kwee Ceng merasa geli sampai ke hatinya. Pemuda itu tidak hendak membantah, ia hanya menggerakkan tubuh untuk melompat turun. Baru saja ia bergerak, si nona menyambar tangannya untuk menahan. Nona itu menyantelkan kedua kakinya pada atap, lalu perlahan-lahan menurunkan tubuh si pemuda.
Kwee Ceng terkejut, "Ah, aku ceroboh sekali. Tidakkah ini berbahaya? Bukankah orang-orang di dalam itu lihai semua? Jikalau aku melompat, bagaimana mereka tidak memergokinya?" Ia sadar, karena baru terjun ke dunia kangouw, ia kurang berpengalaman.
Ia segera mengikuti si pengurus dan kacung itu. Sekali ia menoleh ke belakang, ia mendapati Oey Yong belum turun; dengan bergelantungan, nona itu masih mengawasi ruangan. Oey Yong tidak segera berangkat. Ia mengintai terus untuk mengetahui apakah orang di dalam menyadari keberadaannya. Ia baru pergi setelah melihat Kwee Ceng sudah berada belasan tombak jauhnya.
Ketika ia mengawasi ke dalam, sinar matanya bertemu dengan mata tajam Pheng Lian Houw yang kebetulan berpaling. Ia tidak berani mengintip lagi, ia hanya memasang telinga.
Seorang bersuara serak berkata, "Saudara-saudara, bagaimana pandangan kalian mengenai Ong Cie It? Adakah ia datang dengan sengaja atau hanya kebetulan?"
"Peduli ia datang dengan sengaja atau bukan!" sahut seseorang dengan suara nyaring. "Dia telah merasakan pukulan Leng Tie Siangjin. Jikalau ia tidak mampus, sedikitnya ia mesti bercacat seumur hidupnya!"
Oey Yong mengawasi pula. Ia mendapati orang itu adalah Pheng Lian Houw yang matanya tajam, dengan tubuh kerdil.
Seorang lagi bersuara tandas sambil tertawa, "Selama berada di wilayah Barat, aku pernah mendengar nama Coan Cin Cit Cu yang kesohor itu. Sekarang terbukti mereka benar-benar lihai. Coba Leng Tie Siangjin tidak menghadiahkan dia pukulan Tay-cu-in, pastilah hari ini kita roboh di tangan mereka."
Seorang yang suaranya keras berkata, "Auwyang Kongcu, janganlah kau menempelkan emas di mukamu. Kita berdua pihak sama-sama menanggung kerugian, siapa pun tidak ada yang menang."
Orang yang dipanggil Auwyang Kongcu itu berkata lagi, "Biar bagaimana, kalau ia tidak kehilangan jiwanya, dia bakal bercacat. Siangjin cuma perlu beristirahat sekian waktu."
Tuan rumah mempersilakan tetamunya meminum arak. Sesudahnya terdengar seseorang berkata, "Tuan-tuan telah datang dari tempat yang jauh, atas itu siauw-ong sangat berterima kasih. Sungguh keberuntungan bagi Negara Kim karena tuan-tuan telah dapat diundang!"
"Dia tentulah Chao Wang Wanyen Lieh," pikir Oey Yong.
Chao Wang melanjutkan, "Leng Tie Siangjin adalah paderi suci dari Tibet, Nio Losianseng adalah guru silat kenamaan Kwan-gwa, Auwyang Kongcu biasa hidup di wilayah Barat dan belum pernah datang ke Tionggoan. Pheng Ceecu jago dari Tionggoan dan See Pangcu jago dari sungai Hong Hoo. Dari lima tuan-tuan, satu saja sudi membantu, pasti usaha besar Negara Kim bakal berhasil, apalagi sekarang kelimanya telah datang semua. Hahahaha!"
"Jikalau ongya ada titah, pasti kami akan lakukan dengan sepenuh tenaga," kata Nio Cu Ong sambil tertawa. "Yang dikhawatirkan adalah tenagaku tidak cukup dan menyia-nyiakan kepercayaan ongya. Jikalau itu sampai terjadi, pastilah kami kehilangan muka."
Kelima orang itu adalah jagoan kawakan, maka meskipun bicara merendah, sifat jumawa mereka masih terasa. Chao Wang mengangkat cawannya kembali. "Siauw-ong telah mengundang tuan-tuan, pasti siauw-ong akan menaruh kepercayaan penuh. Urusan sebesar apa pun tidak akan aku sembunyikan. Di lain pihak, apabila tuan-tuan telah mengetahui segalanya, aku percaya tuan-tuan tidak akan memberitahukannya kepada pihak mana pun untuk mencegah pihak yang bersangkutan bersiap sedia."
"Baik Ongya, tetapkan hati, tidak akan kami biarkan rahasia bocor," jawab mereka. Mereka tegang, percaya bahwa Chao Wang akan memercayakan rahasia besar.
"Di tahun Thian-hwee pada masa Sri Baginda Thay Cong kami dari Negara Kim," tutur Chao Wang, "tepatnya tahun Soan-hoo ketujuh dari Kaisar Hwie Cong dari Keluarga Tio. Ketika itu dua panglima besar kami, Ienmeho dan Kanlipu, memimpin angkatan perang menerjang kerajaan Song. Mereka berhasil menawan Kaisar Hwie Cong dan Kim Cong. Sejak dahulu, negeri kami belum pernah sekuat itu. Walaupun demikian, sampai sekarang Keluarga Tio itu tetap duduk sebagai raja di Hangciu. Tahukah tuan-tuan sebabnya?"
Semua orang terdiam, heran sang pangeran membicarakan urusan negara. Cuma Nio Cu Ong yang memohon penjelasan.
"Dunia telah mengetahui kerajaan kami berulang kali kalah di tangan Gak Hui, tentang ini tak usah disembunyikan lagi," kata Chao Wang. "Wunchu, panglima kami, pandai mengatur tentara, akan tetapi menghadapi Gak Hui, dia selalu dipecundangi. Benar, kemudian Gak Hui dapat dibinasakan oleh Cin Kwee yang dititahkan pemerintah kami, akan tetapi tenaga kami sudah lemah. Kami tidak sanggup lagi berperang ke Selatan. Atas ini, aku tidak puas, ingin mendirikan jasa besar untuk negaraku. Untuk ini, aku membutuhkan bantuan tuan-tuan."
Chao Wang tampak bersemangat, suaranya sedikit bergetar. "Baru beberapa bulan yang lalu, di luar dugaanku, aku menemukan surat peninggalan pemerintahku yang dulu. Itulah surat Gak Hui yang bunyinya luar biasa. Rupanya ia mengerti bahwa ia tidak bakal hidup lebih lama lagi, namun ia sangat mencintai negaranya, maka ia meninggalkan warisannya. Itulah surat yang merupakan rahasia ilmu perang. Ia mengharapkan warisannya jatuh ke tangan orang yang bisa memakainya untuk melawan negara Kim. Tapi Cin Kwee menjaga keras sekali, sampai hari matinya Gak Hui, surat itu tidak diberikan kepada orang luar."
Para hadirin sangat tertarik, sampai-sampai mereka melupakan arak dan hidangan. Oey Yong pun tertarik hatinya.
"Gak Hui tahu warisan itu tidak dapat diloloskan, ia menyimpannya di tubuhnya," lanjut Chao Wang.