Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 104

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 104

Setelah beberapa tahun berlalu, saat usia Wanyen Kang bertambah, aku mulai memberikan dia pelajaran ilmu silat.

"Mungkinkah dia binatang sampai sedemikian jauh belum mengetahui asal-usulnya sendiri?" tanya Tin Ok.

"Mengenai hal itu, aku pernah mencoba mencari tahu," jawab Khu Cie Kee. "Aku mendapati kenyataan bahwa ia telah terpengaruh oleh harta dan kemuliaan. Karena itu, aku tidak lantas membeberkan rahasianya. Aku berpikir untuk menunggu sampai ia bertemu dan bertanding dengan Kwee Sie-heng. Setelah itu, baru aku hendak mendamaikan mereka agar bisa menolong ibunya dan menempatkan mereka di suatu tempat tersembunyi."

"Aku sama sekali tidak menyangka bahwa Saudara Yo ternyata masih hidup. Bahkan, bersama saudaraku, kami terkena tipu daya hingga mengalami pengalaman pahit seperti ini."

"Ah!" Mendengar hal itu, Bok Liam Cu menangis seraya menutupi wajahnya.

Kwee Ceng lantas ikut bicara, menuturkan bagaimana ia bertemu dengan Yo Tiat Sim dan bagaimana mereka juga bertemu dengan Pauw Sek Yok pada malam itu. Semua orang lantas memuji Pauw Sek Yok, yang ternoda karena terpaksa, tetapi akhirnya berkorban demi kehormatan dan cinta sucinya terhadap sang suami. Setelah itu, pembicaraan mereka beralih kepada soal pertandingan pada bulan kedelapan nanti.

"Seluruh anggota Coan Cin Pay bakal hadir, lantas apa yang perlu dikhawatirkan?" tanya Cu Cong.

"Aku khawatir mereka mengundang banyak kawan hingga jumlah kita menjadi lebih sedikit," Ma Giok mengutarakan kekhawatirannya.

"Bisakah mereka mengundang banyak orang pandai?" tanya Cie Kee.

"Bukan begitu, Sutee," jawab Tan Yang Cu seraya menghela napas. "Selama beberapa tahun ini, aku memang telah memperoleh banyak kemajuan hingga dapat memancarkan pengaruh partai kita. Namun, di sisi lain, jangan sampai kita melupakan dan tidak dapat menuruti adat orang muda?"

Cie Kee tertawa. "Jadi kita harus tahu bahwa di luar langit masih ada langit, di atas orang pandai ada lagi orang yang lebih pandai?"

"Memang begitu," jawab Ma Giok lagi. "Lihat saja beberapa orang tadi, bukankah mereka itu tidak di bawah kita? Seandainya mereka dapat mengundang lagi beberapa orang, maka hasil pertemuan di Yan Ie Lauw nanti sukar ditentukan dari sekarang, siapa yang bakal kalah dan siapa yang bakal menang."

"Tapi mungkinkah kita, Coan Cin Pay, bakal roboh di tangan beberapa jahanam itu?" Khu Cie Kee menegaskan.

"Segala apa tak dapat diduga, Saudaraku. Buktinya ialah kejadian tadi. Kalau tidak ada Kwa Toako dan Cu Jieko datang membantu, bukankah nama baik kita yang dibangun selama puluhan tahun akan runtuh? Tidakkah kita bertiga bakal kehilangan nyawa di sini?" kata Ma Giok.

Tin Ok dan Cu Cong lekas-lekas merendahkan diri. "Mereka itu telah menggunakan tipu muslihat. Kemenangan mereka itu tak dapat dibanggakan."

Ma Giok menghela napas. "Memang kita harus berhati-hati. Lihat saja Ciu Susiok kita. Ia telah mewariskan kepandaiannya kepada guru kita, kepandaiannya itu sepuluh kali lipat melebihi kita, tetapi ia terlalu mengandalkan diri sampai sekarang sudah belasan tahun tidak diketahui di mana keberadaannya. Maka itu, Ciu Susiok harus dijadikan contoh."

Mendengar perkataan kakaknya ini, Cie Kee terdiam. Kanglam Liok Koay tidak mengetahui bahwa Coan Cin Cit Cu masih mempunyai Susiok (paman guru). Mereka heran, tetapi tidak berani menanyakan keterangan lebih lanjut. Ong Cie It sendiri membungkam selama kedua saudaranya berbicara.

Kemudian Khu Cie Kee melirik kepada Kwee Ceng dan Bok Liam Cu. "Kwa Toako," katanya tertawa, "Tidak kecewa murid yang kau pimpin itu. Yo Sutee mendapatkan menantu seperti ini, ia mati pun sudah tenang."

Wajah Liam Cu memerah. Ia bangkit, sembari menunduk ia berjalan hendak keluar. Ong Cie It memperhatikan cara orang bangkit dan bertindak. Mendadak berkelebat suatu ingatan di otaknya. Ia turun dari pembaringannya dan sebelah tangannya melayang ke pundak Liam Cu. Serangan mendadak ini sangat hebat. Tatkala sang nona sadar, pundaknya sudah ditekan. Percuma ia hendak mempertahankan diri, ia terhuyung. Namun, tangan kiri Cie It menyusul, dan sebelum jatuh, ia sudah dapat ditolong.

Liam Cu heran dan kaget. Dengan terlongong-longong ia mengawasi sang imam.

Ong Cie It lantas tertawa. "Jangan kaget, Nona. Aku sedang menguji kepandaianmu. Bukankah orang yang mengajarimu ilmu silat itu hanya memiliki sembilan jari dan berpakaian sebagai pengemis?"

Nona Bok menjadi lebih heran lagi. "Eh, mengapakah Totiang mengetahui hal itu?" ia balik bertanya.

Cie It tertawa pula. "Kiu Cie Sin Kay Ang Locianpwee itu memang aneh sepak terjangnya. Dia mirip dengan naga sakti yang menampakkan kepala tetapi tidak ekornya. Kau telah mendapat pengajaran dari dia, Nona, kau beruntung sekali. Sangat sukar untuk mendapatkan kesempatan seperti yang kau alami itu."

"Hanya sayang guruku itu tidak mempunyai waktu luang, dia cuma bisa mengajari selama tiga hari," tambah sang nona.

"Apakah kau tidak mengenal kata cukup, Nona?" Ong Cie It menegaskan. "Kau tahu, pengajarannya selama tiga hari itu melebihi pengajaran orang lain selama sepuluh tahun!"

"Totiang benar juga," kata Liam Cu. Ia terdiam sejenak, lalu bertanya, "Apakah Totiang mengetahui di mana keberadaan Ang Locianpwee sekarang?"

Cie It tertawa pula. "Pertanyaanmu menyulitkan aku, Nona! Dua puluh tahun yang lampau aku menemui dia di puncak Gunung Hoa San. Setelah itu, aku tidak melihat dan mendengarnya lagi."

Liam Cu merasa kecewa, perlahan-lahan ia melangkah keluar.

"Ong Totiang, siapakah Ang Locianpwee itu?" Han Siauw Eng bertanya. Sejak tadi sang nona tertarik mendengar sebutan orang yang memiliki tingkat lebih tinggi dan tua (locianpwee) tersebut.

Imam bermarga Ong itu tersenyum dan kembali ke pembaringannya. "Han Lie-hiap, pernahkah kau mendengar sebutan Tong Shia, See Tok, Lam Tee, Pak Kay, dan Tiong Sin Thong?"

Nona Han berpikir sejenak. "Rasanya pernah aku mendengar, tetapi aku tidak tahu apa artinya semua itu."

Tiba-tiba Kwa Tin Ok memotong, "Ang Locianpwee itu bukankah Pak Kay dari Lam Tee Pak Kay tersebut?"

"Benar," Ong Cie It menjawab. "Tiong Sin Thong adalah almarhum Ong Cinjin yang menjadi guru kami."

Kanglam Liok Koay kagum mendengar tokoh bermarga Ang tersebut sama tersohornya dengan guru Coan Cin Cit Cu.

Khu Cie Kee menoleh kepada Kwee Ceng, sembari tertawa ia berkata, "Bakal istrimu itu adalah murid Kiu Cie Sin Kay yang ternama. Di kemudian hari, siapa yang nanti berani menghinamu?"

Wajah Kwee Ceng menjadi merah. Ia berniat membantah, tetapi tidak dapat membuka mulut.

"Ong Totiang," kemudian Han Siauw Eng bertanya pula, "Kau cuma menekan pundak sang nona, cara bagaimana kau bisa mengetahui ia adalah murid Kiu Cie Sin Kay itu?"

Selagi Cie It belum menyahut, Cie Kee menggapai Kwee Ceng yang langsung datang menghampiri. Mendadak ia menekan pundak sang anak muda. Kwee Ceng pernah mendapat pelajaran rahasia ilmu dalam dari Ma Giok, yaitu pelajaran yang disebut Hian-bun Ceng-cong. Ia juga telah meminum darah ular, sehingga tenaga dalamnya kokoh sekali; karena itulah ia tidak roboh ditekan sang imam.

Khu Cie Kee tertawa. "Anak yang baik!" katanya seraya mengangkat tekanannya.

Kwee Ceng tidak berani melawan tenaga dalam sang imam, tetapi justru karena ia tidak bersiaga, ia tertekan kembali. Kali ini tekanan itu tidak mampu ditahan, ia roboh terjengkang. Namun, ia tidak terguling. Begitu tangannya menyentuh tanah, ia sudah melompat berdiri kembali. Menyaksikan itu, semua orang tertawa.

"Anak Ceng," Cu Cong lantas berkata, "Khu Totiang telah memberikanmu pelajaran, ingatlah baik-baik."

Kwee Ceng menyahuti sambil mengangguk.

"Han Lie-hiap," Khu Cie Kee berkata kepada Han Siauw Eng, "Siapa pun yang mempelajari ilmu silat, jikalau ditekan seperti tadi, pasti akan roboh terjengkang. Hanya ilmu silat Kiu Cie Sin Kay yang tidak mempan tekanan, paling-paling orang hanya terhuyung ke depan. Sebabnya, kepandaian Ang Locianpwee itu banyak yang bertentangan dengan ilmu silat pada umumnya."

Liok Koay kagum atas pengetahuan luas kaum Coan Cin Pay.

"Apakah Ong Totiang pernah melihat Kiu Cie Sin Kay bersilat?" tanya Cu Cong.

"Dua puluh tahun yang lalu," sahut Ong Cie It, "Kiu Cie Sin Kay berkumpul berlima bersama Oey Yok Su di puncak Gunung Hoa San untuk merundingkan ilmu silat pedang. Karena aku senantiasa mendampingi guruku, aku dapat mendengar penguraian Kiu Cie Sin Kay itu."

"Bukankah Oey Yok Su itu adalah Tong Shia dari Tong Shia See Tok?" tanya Tin Ok lagi.

"Benar," jawab Tiang Cun, yang kemudian berpaling pada Kwee Ceng sambil tertawa, "Syukur Ma Suko telah mengajarkanmu ilmu silat, tetapi di antara kalian belum ada hubungan murid dan guru. Jikalau tidak, mungkin akan terbit salah paham. Kau mesti lebih rendah tingkatannya daripada bakal istrimu itu, dengan begitu seumur hidup, kau tidak akan pernah dapat menanjak naik."

Kwee Ceng jengah, wajahnya merah. "Tidak dapat aku menikah dengannya," katanya.

Khu Cie Kee heran hingga air mukanya berubah. "Kenapakah?" tanyanya.

Han Siauw Eng menyayangi muridnya itu. Ia merasa kasihan dan mewakilkan menjawab, "Kami cuma mengetahui turunan Yo Toako adalah anak laki-laki. Maka itu, selama di Mongolia, anak Ceng ini sudah bertunangan. Oleh Khan Besar dari Mongolia, Jenghiz Khan, ia telah diangkat menjadi Kim-to Hu-ma."

Mendengar keterangan itu, Khu Cie Kee tertawa dingin. "Bagus betul! Orang lain punya satu putri, pantaslah dia berbeda daripada yang lainnya. Tetapi di sini yang mengenai adalah pesan orang tua mereka. Adakah kamu tidak mempedulikan itu?"

Kwee Ceng menjadi ketakutan, ia lantas menekuk lutut. "Teecu belum pernah sekali pun bertemu dengan ayah almarhum," katanya, "Dari itu tidak tahu mengenai pesan ayah. Sukalah Totiang memberi petunjuk?"

Cie Kee tertawa.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment