Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 103

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 103

Sayangnya, selagi kita belum memperoleh keputusan menang atau kalah, di kedua belah pihak terdapat orang-orang yang terluka. Aku pikir baiklah kita menjanjikan lain hari untuk bertemu kembali."

"Begitu paling baik!" sahut Pheng Lian Houw.

"Sebelum menemui Coan Cin Cit Cu, mati pun kita tak dapat memejamkan mata! Tentang harinya, silakan Khu Totiang yang menetapkan sendiri."

Khu Cie Kee tahu luka Ma Giok dan Ong Cie It memerlukan perawatan selama beberapa bulan, sedangkan saudara-saudaranya yang lain terpencar ke berbagai arah sehingga sukar mencari mereka dalam waktu singkat. Karena itu, ia menyahut, "Baiklah, setengah tahun kemudian pada hari Pwee Gwee Tiong Ciu, kita berkumpul sambil memandangi sang rembulan sembari menyakinkan kembali ilmu silat. Bagaimana penglihatan Pheng Ceecu?"

Pheng Lian Houw setuju dengan pilihan hari tersebut, yakni pertengahan musim rontok. Ia tahu betul jika Coan Cin Cit Cu berkumpul semua, ditambah bantuan dari Kanglam Cit Koay, jumlah mereka menjadi sangat besar, sehingga pihaknya sendiri perlu mencari kawan. Selama setengah tahun, pasti ia sempat mencarinya. Kebetulan Chao Wang menghendaki mereka pergi ke Kanglam untuk mencuri surat wasiat Gak Hui, maka kedua pihak bisa sekalian bertemu di sana.

Maka itu, ia pun berkata, "Khu Totiang, sungguh pandai kau memilih hari Pwee Gwee Tiong Ciu itu! Karena itu, aku anggap baik sekali jika kita memilih juga tempat yang tepat. Aku terpikir pada kampung halaman Kanglam Cit Hiap."

"Bagus, bagus!" sahut Khu Cie Kee. "Baiklah, bila tiba waktunya, kita boleh berkumpul di lauwteng Yan Ie Lauw di tengah Telaga Lam Ouw di Kee-hin. Aku menganggap tidaklah menjadi halangan jika Tuan mengundang beberapa sahabat."

"Baiklah, begini ketetapan kita!" kata Pheng Lian Houw singkat.

"Pheng Ceecu," ujar Cu Cong setelah kepastian itu, "dua bungkus obat di tanganmu itu, yang putih untuk dimakan, yang kuning untuk dipakai di luar."

Selama itu tangan kanan Pheng Lian Houw sudah kaku sebagian. Saat berbicara dengan Khu Cie Kee, ia menahan sakit. Maka itu, begitu mendengar perkataan Cu Cong, tanpa ragu sedikit pun ia langsung memakan obat yang putih itu.

Kwa Tin Ok dengan suaranya yang dingin berkata, "Pheng Ceecu, dalam tempo tujuh kali tujuh, empat puluh sembilan hari, kau mesti pantang minum arak! Kau juga mesti menjauhi paras elok! Kalau tidak, nanti pada hari Pwee Gwee Tiong Ciu di Yan Ie Lauw, kita tidak bakal kekurangan satu orang, hingga karenanya pastilah lenyap kegembiraan kami!"

Pheng Lian Houw merasa bahwa ia diejek, tetapi karena orang bermaksud baik, ia tidak menunjukkan kemurkaan. "Terima kasih atas perhatianmu!" ucapnya.

Ia sungkan menyebutkan kebaikan hati orang. See Thong Thian sudah lekas menolong kawan itu memakai obat luar, setelah itu ia memapah untuk diajak berlalu. Wanyen Kang berlutut di tanah, ia paykui empat kali kepada mayat ibunya, kemudian ia paykui beberapa kali kepada Khu Cie Kee, gurunya itu. Setelah itu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berlalu dengan mengangkat kepala.

"Eh, Kang-jie, apakah artinya itu!" sang guru membentak.

Wanyen Kang tidak menyahut. Ia juga tidak berjalan bersama rombongan Pheng Lian Houw, ia hanya mengambil sebuah tikungan di pojok jalan. Khu Cie Kee terdiam. Namun, ia segera sadar, maka ia terus memberi hormat kepada Kwa Tin Ok seraya berkata, "Jikalau hari ini kami tidak mendapat pertolongan Liok Hiap, pastilah kami bertiga sudah kehilangan jiwa. Mengenai muridku itu, yang tidak ada sekelingking murid Liok Hiap, untuk pertemuan nanti di Cui Siang Lauw di Kee-hin, di sini aku menyatakan takluk."

Kanglam Liok Koay senang mendengar perkataan sang imam; dengan begitu tidak sia-sialah usaha mereka selama delapan belas tahun di gurun pasir. Kwa Tin Ok lantas menjawab dengan merendah.

Sampai di situ, selesailah pembicaraan mereka. Ma Giok dan Ong Cie It lantas dipapah masuk ke dalam rumah penginapan. Coan Kim Hoat pergi membeli peti mati untuk merawat jenazah Yo Tiat Sim dan Pauw Sek Yok, suami istri. Khu Cie Kee bersusah hati melihat Bok Liam Cu yang sangat berduka itu.

"Nona, bagaimana kehidupan ayahmu selama beberapa tahun ini?" tanyanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment