Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 169

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 169

Ang Cit Kong menyaksikan itu semua dengan senyuman, tanpa mengeluarkan suara. Namun, di dalam hatinya ia membatin, "Si sesat bangkotan, anak adalah tanggung jawab orang tua. Jika kau ingin menikahkan dia dengan pemuda yang gemar berfoya-foya, itu urusanmu! Tetapi, aku si pengemis tua ini benar-benar ingin bertarung melawanmu. Saat ini aku sendirian, dua tanganku tidak akan sanggup melayani empat tangan sekaligus. Biarlah, aku akan mencari Toan Hongya terlebih dahulu agar ia dapat membantuku. Sampai saat itu tiba, semuanya akan menjadi jelas!"

Pada saat itu, Oey Yok Su telah merogoh sakunya untuk mengeluarkan sejilid buku yang sampul depannya dilapisi kain merah. Sembari melakukan hal itu, ia berkata, "Aku hanya memiliki seorang anak perempuan dari istriku. Istriku tidak beruntung; ia mengembuskan napas terakhir sesaat setelah melahirkan anak ini. Sekarang, aku merasa beruntung karena Saudara Cit dan Saudara Hong memandangku dengan hormat dan bersama-sama melamar gadisku ini. Jika istriku masih hidup, tentu ia akan merasa sangat girang."

Mata Oey Yong memerah mendengar ayahnya menyebut-nyebut mendiang ibunya.

"Buku ini ditulis sendiri oleh istriku semasa hidupnya," lanjut Oey Yok Su. "Ini adalah warisan dari hati dan darahnya. Sekarang, aku minta kedua *sieheng* membaca buku ini. Setelah selesai, kalian harus menghapalnya di luar kepala. Siapa pun yang dapat menghapalnya paling banyak tanpa melakukan kesalahan, kepada dialah akan kuserahkan anakku ini."

Ia berhenti sejenak dan menoleh ke arah Ang Cit Kong, lalu mendapati Pak Kay sedang tersenyum. Ia pun meneruskan, "Menurut aturan, Kwee *sieheng* sudah menang satu pertandingan. Tetapi, kitab ini memiliki keterikatan dengan kehidupanku, dan istriku meninggal dunia karena kitab ini. Maka dari itu, aku ingin memohon dalam hatiku agar dia sendiri yang memilih calon menantunya, supaya ia dapat memayungi salah satu *sieheng* ini."

Sampai di situ, kesabaran Ang Cit Kong habis. Tadi ia masih bisa menguasai diri dan hanya tersenyum, namun kini tidak lagi.

"Oey, si bangkotan sesat!" serunya nyaring. "Siapa yang sudi mendengar obrolan setanmu yang panjang lebar itu? Kau terang-terangan tahu bahwa muridku tolol; ia tidak mengerti ilmu surat dan syair. Sekarang kau menyuruhnya membaca dan menghapal di luar kepala, lalu kau menggertak dengan istrimu yang sudah mati! Sungguh kau tidak tahu malu!"

Setelah berkata demikian, si pengemis mengibaskan tangannya dan memutar tubuh untuk pergi. Oey Yok Su tertawa dingin. "Saudara Cit! Jika kau datang ke Tho Hoa To ini hanya untuk membuat ulah, mestinya kau belajar ilmu silat lagi selama beberapa tahun!"

Ang Cit Kong membalikkan tubuhnya, sepasang alisnya terangkat. "Apa?!" tanyanya bengis.

"Kau tidak mengerti ilmu *Kie-bun Ngo-heng*. Jika kau tidak mendapat perkenan dariku, jangan harap kau bisa keluar dari pulau ini!" jawab sang tuan rumah.

"Aku akan melepaskan api untuk membakar ludes semua bunga dan pohonmu yang bau itu!" seru Cit Kong keras.

"Jika kau punya kepandaian, cobalah kau bakar!" tantang Oey Yok Su.

Melihat kedua orang tua itu hendak berkelahi, Kwee Ceng maju ke tengah. "Oey Tocu! Ang Locianpwee!" serunya. "Biarlah nanti *teecu* mencoba membaca buku itu bersama Auwyang Toako dan menghapalnya di luar kepala. *Teecu* memang bebal; seumpama *teecu* kalah, itu sudah sepantasnya."

Oey Yok Su mendelik kepada pemuda itu. "Apa panggilanmu kepada gurumu?" tegur Oey Yok Su.

"Teecu baru saja mengangkat guru. Karena belum memberitahukan hal itu kepada enam guruku, saat ini aku belum berani mengubah panggilanku," jelas Kwee Ceng.

"Hah! Di mana-mana ada saja kerewelan!" kata Tong Shia kesal. Pengetahuan Oey Yok Su memang luas, namun sepak terjangnya biasa menyalahi aturan atau kebiasaan, sehingga ia tidak puas melihat pemuda itu menjunjung tinggi tata krama.

"Bagus!" seru Ang Cit Kong. "Aku belum menganggapmu sebagai muridku! Kau ingin dipermalukan, terserah padamu! Silakan, silakan!"

Oey Yok Su tidak berkata apa-apa lagi, ia hanya berpaling kepada anaknya. "Kau duduklah baik-baik, jangan membuat kekacauan!" Ia berpesan demikian karena khawatir anaknya akan membantu Kwee Ceng. Oey Yong tersenyum dan tidak menyahut, namun dalam hatinya ia mulai mencari akal. Ia tahu kali ini Kwee Ceng pasti akan kalah, maka ia mengasah otaknya untuk mencari jalan keluar agar bisa melarikan diri bersama pemuda itu.

Oey Yok Su lantas memerintahkan Kwee Ceng dan Auwyang Kongcu duduk berjejer di sebuah batu besar. Ia berdiri di depan mereka sambil memegang kitab yang ia sodorkan agar bisa dibaca bersama. Judul kitab itu adalah "Kiu Im Cin-keng" Bagian Bawah, dengan model huruf *Toan-jie*.

Begitu melihatnya, Auwyang Kongcu girang luar biasa. Ia membatin, "Dengan segala macam akal aku memaksa Bwee Tiauw Hong menyerahkan kitab ini. Siapa sangka sekarang mertuaku ini hendak berbuat baik dan membiarkanku membaca kitab luar biasa ini!"

Kwee Ceng melihat enam huruf tersebut, namun tak satu pun yang ia kenal. Ia berpikir, "Dia sengaja hendak menyusahkanku! Surat yang berkelok-kelok bagaikan cacing ini mana aku kenal? Biarlah, aku menyerah kalah saja."

Saat itu, Oey Yok Su mulai membalik kulit buku tersebut. Ternyata, huruf-huruf di dalamnya menggunakan model *Kay-jie*, yakni huruf biasa yang tertulis sangat bagus. Jelas itu adalah tulisan tangan seorang wanita. Begitu membaca baris pertama, hati Kwee Ceng bergetar. Baris itu berbunyi, "Aturan dari langit, rusak itu berlebihan, tambalan tak kecukupan, maka itu kosong lebih menang daripada luber, tak cukup menang."

Semua kalimat itu pernah ia dengar dari Ciu Pek Thong dan ia sudah menghapalnya. Maka, ia pun melihat lebih jauh. Betapa girangnya ia karena semua kalimat di dalamnya adalah huruf-huruf yang sudah ia hafal dengan benar.

Oey Yok Su menunggu sampai ia merasa mereka sudah selesai membaca, lalu ia membalik halaman berikutnya. Hal ini dilakukan terus-menerus. Hanya saja, huruf-huruf itu makin lama makin tidak lengkap susunannya. Di bagian belakang menjadi kacau, sedangkan tulisannya sendiri semakin lemah, seperti ditulis dengan kehabisan tenaga.

Hati Kwee Ceng terkesiap karena ia teringat keterangan Ciu Pek Thong mengenai Oey Hujin, istri Oey Yok Su, yang menuliskan isi kitab tersebut secara dipaksakan karena tubuhnya yang lemah. Tenaganya habis saat melahirkan Oey Yong hingga akhirnya meninggal dunia. Inilah kitab yang ditulis di saat-saat kematian sang nyonya.

"Mungkinkah apa yang diperintahkan Ciu Toako untuk kuhapal adalah isi kitab ini?" pikir Kwee Ceng. "Adakah ini *Kiu Im Cin-keng*? Tidak, tidak mungkin! Kitab bagian bawahnya sudah dihilangkan oleh Bwee Tiauw Hong, bagaimana sekarang bisa berada di tangan Oey Yok Su?"

Oey Yok Su melihat Kwee Ceng yang bengong. Ia menduga kepala pemuda itu pasti sudah pusing. Ia tidak ambil pusing dan terus membalik halaman.

Mulanya, Auwyang Kongcu dapat membaca dengan baik. Namun, ketika sampai pada penjelasan cara melatih ilmu silat, ia bingung karena kata-katanya seolah terputar balik. Kemudian, hatinya mencelos saat mendapati ada huruf-huruf yang melompat, hingga kalimatnya tidak lagi lancar. Ia menghela napas dalam hati, "Kiranya dia tetap tidak ingin memperlihatkan kitab yang asli." Namun, ia berpikir lagi, "Walau aku tidak dapat melihat isi kitab yang lengkap, aku toh jauh lebih banyak mengingatnya daripada si tolol ini. Dalam ujian ini, pastilah aku yang bakal menang. Oh, nona cantik yang bagaikan putri kayangan ini, akhirnya akan menjadi milikku juga!"

Kwee Ceng juga membaca setiap halaman yang dibalik oleh Oey Yok Su. Ia mendapati kenyataan bahwa isinya sama persis dengan yang diajarkan Ciu Pek Thong, hanya bagian-bagian yang lompat saja yang tidak terbaca, namun ia tahu isinya karena ia telah menghapal semua ajaran kakak angkatnya yang jenaka itu.

Ia mengangkat kepala dan memandang ke arah pohon, tidak dapat menduga apa hubungan ajaran Ciu Pek Thong dengan kitab ini. Setelah membalik halaman terakhir, Oey Yok Su mengawasi kedua pemuda itu.

"Nah, siapa yang hendak membaca di luar kepala lebih dulu?" tanyanya.

Sebelum menjawab, Auwyang Kongcu berpikir, "Isi kitab ini kacau sekali dan sangat sukar dihapal. Maka, lebih baik aku langsung menghapalnya sekarang selagi ingatanku masih segar. Dengan begitu, pastilah aku yang akan membaca lebih banyak dan kesalahan tentu lebih sedikit."

Segera ia menyahut, "Aku yang menghapal lebih dulu!"

Oey Yok Su mengangguk. "Kau pergilah ke ujung rimba ini, jangan sampai kau mendengar dia menghapal," perintahnya kepada Kwee Ceng.

Kwee Ceng menurut dan pergi menjauh beberapa puluh langkah. Oey Yong menjadi sangat girang. Ia berpikir inilah kesempatan terbaik untuk mengajak pemuda itu kabur. Ia pun mulai mengangkat kaki dan hendak berjalan perlahan menghampiri Kwee Ceng.

Namun tiba-tiba, "Yong-jie, mari!" panggil Oey Yok Su. "Kau juga harus mendengar mereka membaca di luar kepala, supaya kau tidak menuduhku berat sebelah!"

Hati sang nona mencelos. Ayahnya memang adil, tetapi kenyataannya sangat berat sebelah. Bukankah ia jadi dicegah mendekati Kwee Ceng? Maka, ia berkata, "Ayah yang berat sebelah, tidak perlu ayah menyebut-nyebut orang lain!"

Oey Yok Su tidak gusar, bahkan tertawa. "Tidak tahu aturan! Kemari!" panggilnya lagi.

"Aku tidak mau datang!" sahut sang anak sambil membelalak. Meski berkata demikian, kakinya tetap melangkah menghampiri sang ayah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment