Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 72

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 72

Tanpa ampun lagi, pengiring itu roboh terguling.

Kwee Ceng tidak berhenti sampai di situ. Ia merampas cambuk orang itu untuk menyabetkannya tiga kali. "Siapa suruh kau menganiaya rakyat jelata!" tegurnya.

Orang-orang senang melihat kejadian itu. Belasan serdadu maju untuk menolong kawannya, tetapi saat mereka mulai menyerang, Kwee Ceng menangkap mereka satu demi satu lalu melemparkannya.

Siauw-ongya menjadi gusar. "Kau masih berani main gila!" tegurnya.

Ia melompat untuk menolong dua serdadu yang dilemparkan paling belakang, kemudian menendang anak muda itu. Kwee Ceng berkelit lalu menyerang balik. Dengan begitu, keduanya kembali bertempur.

"Jangan! Jangan berkelahi!" teriak Onghui mencegah.

Terhadap ibunya, Siauw-ongya itu agaknya tidak takut, bahkan ia tampak dimanja. Ia terus berkelahi sambil menyahut, "Tidak, Ibu, hari ini aku harus menghajarnya!"

Setelah belasan jurus, Siauw-ongya berkelahi dengan hebat; rupanya ia hendak memamerkan kegagahannya di depan sang ibu. Kwee Ceng lantas terdesak dan dua kali tersungkur ke tanah.

Selama itu, Bok Ek tidak memedulikan apa pun di sekitarnya. Sepasang matanya terus diarahkan ke joli indah itu. Ketika tenda tersingkap, ia melihat satu wajah dengan mata jeli dan rambut yang bagus. Sinar mata itu ayu sekali, mengawasi kedua anak muda yang sedang bertarung. Melihat mata orang itu, Bok Ek berdiri mematung.

Kwee Ceng dirobohkan dua kali, tetapi ia tidak menyerah. Ia menjadi lebih gigih hingga kali ini tidak bisa dirobohkan lagi. Tubuhnya kuat dan mampu menahan pukulan berulang-ulang. Ia pun menang dalam hal tenaga latihan (*kang-lat*) hingga menjadi ulet sekali.

Pada waktu itu, Oey Yong dan Thong Hay telah berlari kembali. Sekarang, di rambut Thong Hay, si "Ular Naga Kepala Tiga" (*Sam-tauw-kauw*), tertancap *cauw-piauw* atau tanda barang hendak dijual. Itu berarti Thong Hay hendak menjual kepalanya sendiri. Ia tidak tahu bahwa dirinya telah dipermainkan oleh Oey Yong, lawannya yang lincah dan licik. Di belakang mereka tidak tampak dua siluman itu; mungkin mereka telah dirobohkan oleh pemuda tersebut. Nio Cu Ong dan kawan-kawan heran hingga menduga-duga sebenarnya orang macam apa Oey Yong itu.

Selagi bertempur, lengan Kwee Ceng terkena pukulan, lalu ia membalas memukul paha Siauw-ongya. Mereka semakin sengit berkelahi. Kwee Ceng menggunakan ilmu silat *Hun-kin Co-ku-hoat* untuk meremukkan otot dan tulang musuh, sementara Siauw-ongya menggunakan *Kim-na-ciu*, ilmu menangkap yang terdiri dari tujuh puluh dua jurus. Keduanya saling mengancam jiwa atau bisa mengakibatkan luka parah.

Karena itu, Leng Tie Siangjin dan Nio Cu Ong menyiapkan senjata rahasia untuk menolong jika nyawa Siauw-ongya terancam. Mereka adalah orang-orang tua yang mahir. Mereka sungkan mengepung Kwee Ceng, tetapi mereka merasa perlu mencegah Kwee Ceng berbuat jahat terhadap sang pangeran muda.

Makin lama, Kwee Ceng makin gagah. Hal ini tidak mengherankan karena ia hidup di tanah gurun. Sebaliknya, Siauw-ongya terbiasa hidup di istana dan termanja, sehingga ia kurang ulet dan mulai terdesak.

Suatu kali, Kwee Ceng menyambar ke muka Siauw-ongya. Siauw-ongya berkelit lalu membalas meninju. Kwee Ceng mendahului dengan tangan kanannya, membentur sikut kanan lawannya, lalu maju dan menggunakan tangan kirinya untuk mengunci tangan lawan, sementara tangan kanannya memegang leher lawan. Siauw-ongya terkejut dan membalas dengan melakukan hal yang sama. Keduanya berkutat; yang satu hendak mematahkan tangan, yang lain hendak mencekik.

Semua orang kaget. Onghui berparas pucat hingga separuh mukanya keluar dari tenda. Putri Bok Ek, yang tadinya terkapar di tanah, melompat bangun dengan wajah pucat.

Saat itu terdengar suara *menggelepok*. Muka Kwee Ceng kena digaplok karena Siauw-ongya mengubah siasat. Pukulan itu keras, membuat mata Kwee Ceng berkunang-kunang dan kepalanya pusing. Namun, ia masih sadar. Sambil berseru, ia menyambar baju Siauw-ongya dan mengerahkan tenaga untuk mengangkat serta melempar tubuh lawannya. Ia menggunakan ilmu silat bangsa Mongolia yang ia peroleh dari Jebe.

Siauw-ongya dilemparkan, tetapi sebelum tubuhnya lepas, ia sudah sigap. Ia mengayunkan tubuhnya sehingga tangannya menyambar tanah dan ia tidak terbanting. Secepat kilat, ia menyambar kedua kaki lawannya dan menariknya keras. Kwee Ceng roboh hingga mereka saling tindih, dengan Siauw-ongya berada di atas.

Siauw-ongya bangkit, menyambar tombak seorang serdadu, dan menikam Kwee Ceng. Dengan menggulingkan tubuh, Kwee Ceng menghindar, tetapi ia terus didesak hingga sukar untuk melompat bangun. Terpaksa ia meladeni tombak musuhnya sambil terus berguling hingga ke dekat tiang bendera *Pibu Tiauw-cin*.

Di sini, ia memanfaatkan kesempatan dengan menyambar tiang itu sebagai alat penangkis, kemudian melompat bangun untuk menyerang balik. Kini mereka bertempur dengan senjata, meskipun Kwee Ceng hanya menggunakan tiang bendera. Tiang itu terlalu panjang dan kurang tepat bagi Kwee Ceng yang menggunakan jurus *Hang Mo Thung-hoat*, ajaran guru pertamanya, Hek Pian-hok Kwa Tin Ok si Kelelawar Hitam, namun ia dapat memainkannya dengan baik. Siauw-ongya tidak mengenal ilmu silat itu dan terdesak hingga harus selalu membela diri.

Bok Ek terus memperhatikan ilmu tombak Siauw-ongya. Makin lama, ia makin heran. Itu adalah *Yo Kee Ciang-hoat*, ilmu tombak Keluarga Yo yang hanya diturunkan kepada anak laki-laki. Di wilayah Selatan Tionggoan saja yang menguasai ilmu itu sudah jarang, maka ia heran mengapa di negara Kim ada yang bisa memainkannya. Ia terus mengawasi sampai akhirnya merasa sedih dan tidak bisa membendung air matanya. Nona Bok pun memperhatikan jalannya pertempuran itu dengan berpikir keras.

Akhirnya terdengar teriakan Onghui, "Berhenti! Berhenti! Jangan berkelahi lagi!" Nyonya agung itu mendapati putranya sudah bermandikan keringat.

Mendengar suara Onghui, Peng Lian Houw masuk ke arena. Ia segera menggerakkan tangan kirinya untuk menyampok tiang bendera. Kwee Ceng merasakan telapak tangannya sakit, tiang bendera terlepas dari cekalannya dan terpental ke udara hingga benderanya berkibar-kibar.

Anak muda itu terkejut. Seumur hidupnya, kecuali Bwee Tiauw Hong, belum pernah ia menemui tandingan selihai ini. Sebelum ia sempat melihat orangnya, sebuah pukulan telah menjurus ke mukanya. Ia berkelit dengan cepat, tetapi lengannya terkena pukulan hingga ia terguling roboh.

Setelah merobohkan bocah itu, Pheng Lian Houw berpaling kepada pangeran muda sambil tertawa, "Siauw-ongya, akan aku bereskan dia ini supaya tidak mengganggu lagi." Sembari berkata, ia maju ke arah Kwee Ceng dan mengulurkan tangan kanannya ke arah kepala anak muda yang sedang merayap bangun itu.

Kwee Ceng kaget, terlebih karena kedua tangannya masih sakit. Untuk menolong diri, ia terpaksa menangkis. Saat ia terancam bahaya maut, tiba-tiba terdengar teriakan dari antara orang banyak, "Perlahan!"

Satu bayangan abu-abu perak melesat disusul serangan senjata yang melilit tangan orang bermarga Pheng itu, sehingga serangannya batal. Namun, Lian Houw segera menarik tangannya dengan keras hingga senjata yang melilitnya putus.

Orang yang baru datang itu tampak terperanjat, namun ia segera menyambar pinggang Kwee Ceng dan melompat mundur. Sekarang orang bisa melihat bahwa dia adalah seorang *tojin* atau imam paruh baya berjubah abu-abu. Tangannya mencekal sebatang *hudtim* atau kebutan, hanya saja kebutan itu tinggal sepotong, sementara potongan lainnya masih melilit di tangan Lian Houw.

Ia mengawasi Lian Houw, yang kemudian berkata, "Tuan, adakah kau Pheng Cecu yang namanya sangat tersohor? Hari ini aku dapat bertemu denganmu, sungguh aku merasa sangat girang!"

"Tidak berani aku menerima gelar yang rendah ini dijunjung sedemikian tinggi olehmu," sahut Lian Houw. "Aku mohon ketahui gelaran suci dari Totiang."

Semua orang memperhatikan imam itu yang berwajah *toapan*, dengan kumis dan janggut terbelah tiga. Kaos kaki putih serta sepatu abu-abunya bersih sekali. Ia tidak menjawab, hanya mengulurkan kakinya untuk melangkah satu tindak, lalu menariknya kembali. Bekas injakannya tertapak dalam di tanah yang kering dan keras itu.

Melihat tapak sepatu itu, Peng Lian Houw terperanjat. "Jadinya Totiang adalah Thie Kak Sian Giok Yang Cu Ong Cinjin?" tanyanya.

Imam itu menjura. "Teecu terlalu memuji. Memang benar, pinto adalah Ong Cie It. Pinto tidak berani menerima sebutan cinjin itu."

Peng Lian Houw, begitu juga Som Sian Lao Koay, Nio Cu Ong, dan Leng Tie Siangjin memperhatikan imam itu. Mereka tahu namanya tidak kalah tenar dari Tiang Cun Cu Khu Cie Kee. Sudah lama mereka mengetahui tentang imam ini, namun baru sekarang mereka bertemu orangnya langsung. Mereka mendapati orang tersebut sungguh alim dan agung.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment