Chapter 209
Dalam hal tenaga, Leng Tie Siangjin dan See Thong Thian berimbang.
See Thong Thian berdiri tegak dan sudah bersiap sedia, sebenarnya ia lebih unggul.
Namun, Leng Tie juga telah mengerahkan seluruh tenaganya. Karena sedang gusar dan jengkel, kekuatannya pun berlipat ganda.
Akibatnya, See Thong Thian terpukul mundur tiga langkah lalu jatuh berguling.
Pada saat yang sama, Leng Tie sendiri pun tidak luput.
Akibat hantaman tangan kiri See Thong Thian, tubuhnya roboh melintang di atas perahu.
Namun, pendeta itu hanya terjatuh sekejap. Begitu menyentuh geladak perahu, ia langsung melompat bangkit kembali.
Begitu berhasil berdiri tegak, Leng Tie segera menyadari bahwa orang yang menyambut dan menyerangnya adalah See Thong Thian.
Ia tidak tahu apa maksud orang itu dan menjadi gusar. Dalam hati ia menggerutu, "Celaka, kau pun ingin mempermainkanku!" Ia langsung maju hendak menghajar Thong Thian.
Peng Lian Houw mengerti bahwa sang pendeta telah salah paham. Ia bergegas maju menghalangi sambil berseru lantang, "Taysu, jangan gusar, jangan salah paham! Sebenarnya Kakanda See bermaksud baik!" Sementara itu, perahu kecil telah diturunkan.
Ciu Pek Thong memegang tongkat yang mengganjal mulut ikan hiu, lalu mengangkat dan mengibaskannya. Tubuh ikan besar itu pun terangkat, terlempar, dan mencebur ke laut.
Akibat kibasan itu, tongkat di tangan Pek Thong patah.
Begitu menyadari mulutnya tidak lagi terganjal, hiu itu pasti sangat gembira dan langsung menyelam untuk berenang pergi.
Oey Yong tertawa.
"Kakak Ceng," katanya, "Lain kali mari kita bersama Kakanda Ciu menunggangi seekor ikan dan berlomba cepat!"
"Bagus!" seru Loan Boan Tong sambil bertepuk tangan sebelum Kwee Ceng sempat menjawab.
Setelah itu, mereka berempat turun ke perahu kecil.
Wanyen Lieh sangat cerdik. Melihat kehebatan Auwyang Hong, ia langsung menyadari betapa besarnya manfaat jika orang ini bersedia membantunya mencari surat wasiat Gak Hui.
Oleh karena itu, ia segera memegang tangan Leng Tie Siangjin dan menariknya ke hadapan orang sakti tersebut.
"Kita semua adalah sahabat. Kuharap Sianseng tidak berkecil hati," katanya untuk mendamaikan situasi.
"Aku juga berharap Siangjin tidak menganggap serius masalah ini. Demi diriku, anggap saja kejadian tadi sebagai gurauan belaka."
Auwyang Hong tertawa lalu mengulurkan tangannya.
Leng Tie Siangjin masih belum puas. Ia membatin, "Kau hanya menggunakan ilmu kuncian Kim-na-hoat dan menyerang secara tiba-tiba. Ilmu pukulan Tay-in-ciu milikku yang telah kupelajari selama puluhan tahun ini, masakan tidak sanggup menandingimu?"
Karena itu, ia mengulurkan tangannya dengan seluruh tenaga yang telah dikerahkan, lalu mencengkeram tangan Auwyang Hong dengan kuat.
Namun tiba-tiba, ia merasa seolah memegang baja yang membara merah. Rasa panas dan sakitnya luar biasa, membuat ia dengan gugup melepaskan cengkeramannya dan menarik kembali tangannya.
Auwyang Hong memahami niat orang itu. Karena tidak ingin bertindak keterlaluan, ia hanya tersenyum lebar.
Leng Tie segera memeriksa tangannya. Tidak ada tanda atau bekas luka apa pun, padahal baru saja ia merasa seperti terbakar.
Ia sangat heran hingga menduga, "Mungkinkah orang ini menguasai ilmu gaib?"
Melihat Nio Cu Ong masih terbaring kaku di lantai tanpa bergerak, Auwyang Hong melangkah mendekat.
Ia menduga bahwa saat orang itu didesak oleh Kwee Ceng hingga tercebur, ia ditangkap dan ditotok oleh Ciu Pek Thong. Maka, setelah memeriksa sejenak, ia pun menotok jalan darah orang itu.
Begitu ditotok, Sam Sian Lao Koay langsung sadar kembali.
Wanyen Lieh sangat gembira. Ia segera memerintahkan anak buahnya untuk menyajikan hidangan demi menjamu paman dan keponakan tersebut.
Sebab secara tidak langsung, Auwyang Hong kini dipandang sebagai pemimpin rombongan orang-orang tangguh tersebut.
Sambil menjamu, Wanyen Lieh menceritakan niatnya untuk mencuri surat wasiat Gak Hui di kota Lim-an kepada Auwyang Hong, dan memohon agar See Tok bersedia memberikan bantuannya.
Auwyang Hong sebenarnya sudah pernah mendengar hal tersebut dari keponakannya. Ketika diminta secara langsung, hatinya pun tergerak.
Namun, ia memiliki rencana lain. Ia membatin, "Aku, Auwyang Hong, kaupikir orang macam apa? Mana sudi aku diperintah olehmu? Aku tahu Gak Hui tidak hanya pandai memimpin pasukan, tetapi ilmu silatnya juga luar biasa. Di dalam surat wasiat itu, selain strategi perang, mungkin ada catatan mengenai ilmu silat. Baiklah, kuterima permintaan ini agar aku bisa melihat surat wasiat itu terlebih dahulu. Masakan aku, si tua berbisa, tidak sanggup menguasai surat itu sendiri?"
Oleh karena itu, ia segera menyetujui permintaan Wanyen Lieh dengan baik.
Kedua orang itu memiliki niat terselubung masing-masing.
Wanyen Lieh membutuhkan surat wasiat Gak Hui untuk memimpin pasukannya demi mencapai tujuan gerakannya.
Ia sama sekali tidak menduga bahwa orang lain pun mengincar hal yang sama, bahkan orang itu jauh lebih cerdik darinya.
Nio Cu Ong turut menyemarakkan perjamuan tersebut.
Hanya Auwyang Kongcu yang tidak dapat menikmati suasana. Ia hanya minum sedikit arak dan makan sekadarnya, lalu mendahului masuk ke dalam perahu untuk beristirahat karena kakinya masih terluka.
Di tengah perjamuan yang sedang berlangsung, tiba-tiba Auwyang Hong meletakkan cawan araknya dan raut wajahnya berubah.
Melihat perubahan itu, semua orang terkejut. Mereka tidak tahu kesalahan apa yang telah mereka perbuat hingga menyinggung orang sakti ini.
Baru saja Wanyen Lieh hendak bertanya, Auwyang Hong sudah menyela, "Dengar!"
Semua orang segera menajamkan pendengaran mereka. Namun, mereka tidak mendengar suara apa pun selain desau angin laut dan hantaman ombak.
Mereka menjadi heran, lalu semua mata tertuju kepada pria bermarga Auwyang tersebut.
Auwyang Hong masih terus menajamkan pendengarannya. Sesaat kemudian ia berkata, "Apakah kalian sudah mendengarnya? Itu suara seruling!"
Kini mereka benar-benar mendengar suara seruling tersebut, meskipun masih sangat samar karena terhalang oleh deru angin dan ombak laut.
Jika tidak diberi tahu oleh Auwyang Hong, niscaya mereka masih belum bisa mendengarnya.
Auwyang Hong bangkit berdiri lalu berjalan ke haluan perahu. Di sana ia berjongkok, dan dari mulutnya terdengar suara kuak-kwek yang berat dan dalam. Sikapnya benar-benar mirip seekor katak besar.
Menyaksikan hal itu, semua orang merasa heran sekaligus geli, namun tidak ada satu pun yang berani tertawa.
Mereka terus mendengarkan. Tidak lama kemudian, suara seruling dan suara mirip katak itu terdengar semakin jelas. Mereka bahkan menyadari bahwa suara seruling dan sahutan mirip katak tersebut saling bersahutan membentuk sebuah irama lagu.
Begitu mereka terus mendengarkannya, tiba-tiba hati mereka merasa tidak tenang, seolah terombang-ambing dalam kegelisahan.
Leng Tie Siangjin mencoba menenangkan dirinya. Ia membatin, "Ini benar-benar ilmu sesat! Entah permainan apa yang sedang ia lancarkan! Aku harus berhati-hati!"
Para anak buah kapal dan Wanyen Lieh adalah orang-orang pertama yang tidak sanggup menahan daya pikat dari suara seruling dan sahutan mirip katak tersebut. Mereka mulai berjingkrak-jingkrak.
Melihat hal itu, tiba-tiba Auwyang Hong menghentikan suara anehnya, lalu berseru dengan sangat keras. Bersamaan dengan seruan itu, suara seruling tadi pun seketika berhenti.
Ia kemudian memandang jauh ke tengah laut. Kini semua orang berani mendekat dan ikut mengawasi ke arah pandangan tersebut, meskipun dengan jantung berdebar-debar karena khawatir akan menyaksikan hal ajaib lainnya.
Mereka berdiri beberapa kaki di belakang See Tok, bersiap siaga seandainya ada bahaya yang mengancam.
Tidak lama kemudian, di kejauhan tampak tiga lembar layar hijau. Layar tersebut milik sebuah perahu ringan yang melaju sangat cepat menuju ke arah kapal besar mereka.
Semua orang menjadi heran dan bertanya-tanya dalam hati, "Mungkinkah suara seruling tadi berasal dari perahu ini? Mengingat jarak kita sejauh ini, mungkinkah suaranya terdengar sampai kemari?"
Auwyang Hong segera memerintahkan anak buah kapal untuk memutar haluan agar dapat menyongsong perahu ringan tersebut. Dengan cepat, kedua kapal pun saling mendekat.
Di haluan perahu ringan tersebut berdiri seorang pria berjubah panjang hijau, dan di tangannya memang terlihat sedang memegang sebatang seruling kuningan.
Pria itu segera berseru dengan suara yang nyaring dan merdu, "Saudara Hong, apakah kau melihat putriku?"
"Putrimu itu sangat cerdik dan liar, mana berani aku bertindak sembarangan terhadapnya!" jawab See Tok.
Ketika jarak kedua perahu hanya tinggal beberapa depa, tanpa terlihat bagaimana pria berjubah hijau itu bergerak, sebuah bayangan berkelebat cepat dan tahu-tahu ia sudah berada di atas geladak perahu besar.
Menyaksikan kehebatan orang tersebut, kebiasaan Wanyen Lieh untuk mengambil hati orang berkuasa pun kambuh. Ia segera menyambutnya dan berkata, "Sianseng, bolehkah saya mengetahui marga Anda? Sungguh suatu kehormatan luar biasa saya dapat bertemu dengan Sianseng!"
Sungguh luar biasa pangeran ini. Sebagai seorang bangsawan tinggi, ia bersedia bersikap sedemikian rendah hati kepada orang asing yang tidak dikenalnya.
Namun, ketika melihat dandanan mewah orang Kim ini, pria itu hanya melirik sekilas lalu mengabaikannya begitu saja.
Melihat sang pangeran kehilangan muka, Auwyang Hong segera menengahi, "Saudara Yok, mari kuperkenalkan! Tuan ini adalah Chao Wang, putra keenam dari raja Negeri Kim!"
Ia kemudian berpaling kepada Wanyen Lieh dan melanjutkan, "Inilah Tocu Oey Yok Su dari Pulau Tho Hoa To, yang ilmu silatnya nomor satu di kolong langit ini, tanpa tandingan."
Mendengar nama itu, Peng Lian Houw dan yang lainnya langsung tersentak mundur. Mereka memang telah mengetahui bahwa ayah Oey Yong adalah tokoh yang luar biasa sakti, sehingga seketika itu juga mereka merasa jeri.
Semua orang terdiam. Semenjak putrinya melarikan diri dari rumah, Oey Yok Su memang sudah menduga bahwa gadis itu pasti menyusul Kwee Ceng.