Chapter 84
Ia tidak menyangka akan menghadapi seorang nona, bahkan seorang nona yang begitu cantik dan manis, dengan suara yang halus dan merdu.
Tanpa sadar, ia mengulurkan tangannya, hendak memetik setangkai bunga, lalu memberikannya kepada nona itu.
Oey Yong menyambut.
"Loya-cu, terima kasih!" katanya, kembali tertawa dengan suaranya yang halus dan merdu itu.
Di ambang pintu, semua orang lainnya berkumpul; mereka berdiri mengawasi kedua orang itu.
Ketika Oey Yong kemudian memutar tubuhnya untuk berlalu.
"Ongya," Pheng Lian Houw bertanya, "Apakah nona ini, nona dari istana ini?" "Bukan," jawab Wanyen Lieh sambil menggelengkan kepala.
Hanya dengan menjejakkan kaki kirinya, Lian Houw sudah melesat ke depan nona itu.
"Tunggu, Nona!" katanya, "Aku pun akan memetik setangkai bunga untukmu!" Lalu ia mengulurkan tangan kanannya, hendak menangkap lengan nona itu, namun dengan kecepatan luar biasa ia mengubah tujuannya, untuk meraba buah dada nona itu.
Oey Yong kaget bukan kepalang.
Ia sebenarnya hendak berpura-pura tidak mengerti ilmu silat.
Ia gagal.
Lian Houw, sebagai jago di antara berandal di Hoopak, sangat tajam penglihatannya dan cerdik.
Mau tidak mau, ia menggerakkan tangan kanannya; jari-jarinya menyambut tangan jago itu.
Lian Houw terperanjat ketika ia merasakan getaran di jalur darahnya (koik-tie-hiat); ia segera menarik tangannya kembali, sehingga ia dapat lolos dari bahaya.
Ia menjadi heran, nona itu demikian muda tetapi demikian lihai; ia pun tidak mengenal ilmu silat nona itu.
Yang lain-lain pun terkejut dan heran.
"Nona, margamu apa?" Lian Houw kemudian bertanya, "Siapakah gurumu?" "Bukankah bunga bwee ini permai sekali?" tanya Oey Yong sambil tertawa.
Ia terus berlagak bodoh; ia tidak menunjukkan keterkejutannya tadi.
"Bukankah kau menghendaki aku menancapkannya di dalam pot?" Sikap ini kembali membuat orang-orang heran dan mulai menduga-duga.
"Kau dengar atau tidak, apa yang kami tanya?" Lian Houw menegur.
Ia tidak sabar; ia lalu menunjukkan kesembronoannya dengan mencampuri pembicaraan.
"Apakah itu yang kau bicarakan?" balik tanya Oey Yong, tertawa.
Justru itu, Pheng Lian Houw dapat mengenali bahwa nona ini adalah nona yang pada siang harinya sudah mempermainkan Hauw Thong Hay, hanya saja waktu itu ia menyamar menjadi seorang bocah dekil.
"Lao Houw, apakah kau tidak kenal nona ini?" tanyanya kepada sahabatnya.
Ia tertawa.
Thong Hay tercengang.
Lalu ia mengawasi nona itu, dari atas sampai bawah dan sebaliknya.
Cepat sekali, ia mengenalinya.
Mendadak saja hawa amarahnya meluap.
"Ha, anak busuk!" ia mendamprat.
Ia pun lantas merentangkan kedua tangannya untuk menubruk.
Dengan berkelit ke samping, Oey Yong membebaskan dirinya.
Tapi di sini ia dihadang See Thong Thian, yang tubuhnya tiba-tiba berkelebat dan tangannya menyambar lengannya.
"Kau hendak lari ke mana?" tegur Kwie-bun Liong Ong.
Oey Yong terkejut.
Ia tidak menyangka lengannya bisa disambar secara demikian.
Tapi ia tidak gugup; ia pun tidak kekurangan akal.
Dengan dua jari tangan kirinya, ia menotok kedua mata pria bermarga See itu.
Hebatnya See Thong Thian, hampir tidak tampak bagaimana ia menggerakkan tangannya, namun tangan kiri nona itu pun sudah kemudian berhasil dicekalnya.
"Tidak tahu malu!" mendamprat Oey Yong, yang kaget sekali.
"Tidak tahu malu apa?!" balik tanya See Thong Thian.
"Orang tua bangka menghina anak kecil! Laki-laki menghina anak perempuan!" sahut Oey Yong.
See Thong Thian terperanjat.
Ia memang seorang tua dan kenamaan juga.
Memang, dengan perbuatannya ini, jelas ia telah menghina anak kecil, seorang anak perempuan.
"Masuk ke dalam!" katanya seraya mengendurkan cekalannya.
Oey Yong tahu bahwa ia tidak dapat menolak, ia lantas turut masuk.
"Nanti aku membuatnya cacat dulu, baru kita bicara!" kata Hauw Thong Hay, yang sangat mendongkol.
Ia terus maju, untuk memenuhi ucapannya itu.
"Tanyakan dulu, siapa gurunya dan siapa yang memerintahkannya datang ke sini!" kata Pheng Lian Houw.
Hauw Thong Hay tidak memedulikan jago dari Hoopak itu; salah satu tangannya sudah melayang.
Oey Yong berkelit.
"Benar-benarkah kau hendak berkelahi?" ia bertanya.
"Aku hendak mencegahmu melarikan diri!" jawab Thong Hay.
Ia paling takut nona itu minggat, karena sudah jelas, ia tidak akan dapat mengejarnya.
"Jikalau kau benar hendak mengadu kepandaian denganku, baiklah!" kata Oey Yong yang sikapnya sabar tapi sedikit mengejek.
Ia terus mengisi enam buah cawan arak di atas meja.
Satu cawan ia letakkan di batok kepalanya, dan dua yang lain ia genggam di antara kedua tangannya.
Lantas ia menantang: "Beranikah kau mencontoh aku ini?"
"Setan alas!" berseru pria bermarga See itu, jago tunggal dari Sungai Hong Hoo.
Oey Yong tidak mengambil pusing; ia memandang ke arah kerumunan orang banyak.
Ia berkata, "Aku tidak bermusuhan dengan Tuan ini, bagaimana jadinya apabila aku keliru menggerakkan tangan dan melukainya?"
Thong Hay maju selangkah, kedua matanya terbuka lebar.
"Kau dapat melukaiku? Kau?!" katanya sengit.
Kembali Oey Yong tidak mengambil pusing.
Ia berkata lagi, "Dengan cara begini aku hendak mengadu kepandaian dengannya! Siapa yang araknya tumpah lebih dahulu, dialah yang kalah. Sepakatkah kau?"
Nona ini menggunakan kecerdikannya.
Ia tahu bahwa ia tidak akan dapat meloloskan diri dari orang-orang lihai ini.
Sekalipun terhadap Hauw Thong Hay, ia menang hanya karena ia mengandalkan kegesitan dan kelincahannya.
Ia percaya, dengan bergurau secara demikian, ia akan dapat lolos.
"Siapa bersedia main-main denganmu!" Thong Hay membentak.
Kembali ia menyerang dengan kecepatan bagaikan angin.
"Bagus!" Oey Yong tertawa, seraya ia berkelit.
"Pada tubuhku ada tiga buah cawan, kau sendiri boleh bertangan kosong! Nah, mari kita adu kepandaian!" Amarah Thong Hay bukan kepalang.
Ia berusia jauh lebih tua; meski ia tidak sangat kesohor seperti See Thong Thian, kakak seperguruannya itu, ia tetap ternama juga.
Sekarang ia dipermainkan secara demikian!
Tanpa berpikir sejenak pun, ia mengambil sebuah cawan arak untuk diletakkan di batok kepalanya; kemudian ia menyambar dua yang lain, masing-masing dengan sebelah tangan.
Kemudian, dengan sama cepatnya, ia menekuk sedikit kaki kirinya, lalu menyusul melayangkan kaki kanannya untuk menendang nona itu!
"Bagus! Nah, ini barulah namanya enghiong sejati!" Oey Yong berseru sambil tertawa, seraya ia berkelit.
Belum sempat ia melanjutkan perkataannya, ia sudah ditendang pula, kali ini berulang-ulang.
Karena dengan kedua tangan menggenggam cangkir dan kepala ditaruh cangkir juga, Thong Hay tidak dapat berbuat lain selain menggunakan kedua kakinya.
Oey Yong akhirnya kerepotan, akan tetapi ia selalu dapat melompat berkelit atau mengelak tubuhnya, menyingkir dari tendangan.
Untuk ini, ia harus seolah-olah memutari ruangan itu.
Nio Cu Ong memperhatikan gerakan kaki nona cilik itu.
Itulah gerakan bagaikan "Awan berjalan atau air mengalir".
Tubuh tetap tegak, tidak bergerak sedikit pun, dan kedua kaki seperti tersembunyi tetapi bergerak cepat.
Di pihak sana, tindakan Hauw Thong Hay cepat dan lebar.
Nona itu berkelit bukan hanya sekadar berkelit saja; ia berulang kali mencoba membenturkan sikunya ke lengan lawannya, supaya benturannya dapat membuat arak tumpah atau cawan pecah.
"Bocah ini begitu lihai, sebenarnya sulit untuk melatih diri hingga seperti ini?" pikir jago tua ini.
"Hanya saja, lama-lama ia toh akan menjadi bukan tandingan Lao Hauw?"
Saat itu, tiba-tiba Cu Ong teringat obat-obatannya, maka lenyaplah keinginannya menyaksikan pertempuran; ia ingin lari ke pintu, untuk terus ke kamarnya, guna mencari si pencuri obat.
Tentu saja ia tidak sempat memikirkan bagaimana halnya dengan si pencuri obat itu sendiri.
Kwee Ceng belum sampai pingsan tatkala ia merasakan bau ular menjadi semakin hebat.
Ia sadar akan bahayanya apabila binatang berbisa itu sampai dapat mematuknya.
Maka ia lalu menempelkan wajahnya di tubuh ular itu.
Oleh karena ia tidak dapat menggerakkan tubuhnya, atau kaki dan tangannya, sekarang tinggal mulutnya yang masih bebas.
Mendadak saja ia teringat sesuatu.
Lantas ia menguatkan hatinya, agar tidak sampai roboh pingsan, lalu ia menggigit leher ular itu.
Binatang itu kaget dan kesakitan; ia bergerak, hingga lilitan pada anak muda itu menjadi semakin keras.
Tanpa memedulikan apa pun, Kwee Ceng menggigit terus, lalu terus menghisap, menyedot darah binatang itu.
Ia tidak mengambil pusing lagi apakah binatang itu berbisa.
Ia juga tidak mengindahkan pula bau darah yang sangat tidak enak.
Ia hanya mengetahui, bahwa jika darahnya berkurang, maka tenaga binatang itu juga akan berkurang, dan dengan begitu, lilitannya akan mengendur.
Itu pun artinya ia akan terlepas dari bahaya maut.
Maka ia menghisap terus-menerus, hingga tanpa sadar, perutnya mulai kembung.
Dugaan bocah ini tepat.
Setelah darahnya terkuras banyak, tenaga binatang itu segera berkurang, lilitannya segera mengendur, dan sesaat kemudian, ia melepaskan lilitannya itu, tubuhnya pun jatuh sendiri.
Pada saat itu, ia kehabisan tenaga, napasnya pun lantas berhenti!
Kwee Ceng terjatuh duduk.
Tapi ia masih sadar; ia segera mengerahkan semangatnya, untuk menjalankan napasnya dengan teratur.
Dengan dapat bersemedi, ia segera dapat memulihkan tenaganya.
Namun anehnya, sekarang ia merasakan darahnya bergerak ke seluruh tubuhnya.
Ia mengerti bahwa itulah darah ular yang sedang bekerja.
Ia terus bersemedi sampai ia merasa sangat lega hati dan tubuhnya.
Segera setelah merasa segar sepenuhnya, ia menggunakan tenaganya untuk melonjak bangun.
Yang pertama diingat bocah ini adalah obat-obatan di dalam sakunya.
Ia lantas meraba.
Ia menjadi girang sekali.
Obat-obatan itu masih ada.
Karena itu, ia segera teringat pula kepada Bok Ek.
"Dia dan anak gadisnya dikurung oleh Wanyen Kang, aku telah mengetahui hal itu, bagaimana mungkin aku tidak menolong mereka?" demikian ia berpikir.
Ia lantas bekerja.