Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 19

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 19

Untuk kagetnya ia mendapati beberapa potong emas dalam sakunya beterbangan.

Ia mendongkol, tetapi juga merasa gentar.

"Orang-orang ini sungguh lihai, aku dan seluruh prajuritku bukanlah tandingan mereka," pikirnya.

"Aku memiliki Pauw-sie. Jika mereka sampai tahu, ini akan berbahaya." Oleh karena kekhawatirannya, ia tidak lagi memikirkan untuk membeli pakaian bagi sang nyonya. Ia segera meninggalkan restoran itu dan bergegas kembali ke hotel. Kemudian, ia mengajak sang nyonya untuk berangkat ke Utara, pulang ke Yankhia, ibu kota kerajaan Kim.

Bersama mereka turut serta seluruh pengiringnya.

(Yankhia berarti Peking sekarang).

Sementara itu, Kwa Tin Ok dan rombongannya telah mengikuti Ciauw Bok Hweshio pergi ke kuil Hoat Hoa Sian Sie yang terletak di bagian barat luar kota Kee-hin. Di dalam kuil itu, mereka berkumpul di kamar semedhi.

Kacung hweshio lalu menyuguhkan air teh, setelah itu ia segera mengundurkan diri.

"Kesalahpahaman ini jadi semakin runyam?" Ciauw Bok Taysu mulai berkata sambil menghela napas.

"Taysu," tanya Han Siauw Eng. "Dia menyebutkan dua orang wanita, siapakah mereka itu? Bagaimana sebenarnya duduk perkaranya?"

"Nanti aku beri keterangan," sahut hweshio itu.

"Aku memiliki Suheng yang menjadi pendeta kepala di kuil Kong Hauw Sie di Hangciu?"

"Itulah Kouw Bok Siansu, bukan?" sela Tin Ok.

"Benar," sahut Ciauw Bok. "Kemarin dulu ia menulis surat padaku, ia menitahkan dua orang untuk menyampaikan surat itu. Dalam suratnya, ia bilang ada orang jahat hendak mengganggu mereka, dan karenanya ia meminta supaya aku memberi tempat berlindung kepada mereka. Kami orang beribadat harus berlaku murah hati, apalagi ia adalah kakak seperguruanku, tentu saja aku harus menerima permintaannya itu. Di luar dugaanku, baru satu dua hari orang itu tiba, lalu Tiang Cun Cu datang menyambangi sambil menuduh ada dua orang wanita dari Hangciu, dari kuil Kong Hauw Sie, yang datang bersembunyi di kuilku. Tentu saja aku menjadi tidak mengerti."

"Melihat dari sikapnya tadi, pasti ia akan datang lagi membuat onar," ujar Coan Kim Hoat.

"Maka aku pikir, kita tidak dapat tidak bersiaga."

"Itu benar," Tin Ok juga berpendapat.

Sampai di situ mereka berunding, merundingkan daya penjagaan. Mereka tidak dapat mengerti sikap Khu Cie Kee. Ciauw Bok Taysu bingung, lebih bingung lagi Kanglam Cit Koay.

Hari itu, setelah membinasakan Ong Tian Kian si pengkhianat, Khu Cie Kee pergi ke Gu-kee-cun menemui Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian untuk membuat perkenalan dengan caranya yang luar biasa itu, hingga akhirnya ia menyerang rombongan prajurit bangsa Kim dan para polisi yang mencarinya. Kejadian itu membuatnya sangat gembira.

Dari Gu-kee-cun, ia lalu pergi ke Hangciu untuk berwisata ke telaga See Ouw dan tempat sekitarnya yang indah, untuk menikmati permainan salju. Ketika ia lewat di depan Ceng ho-hong, ia melihat puluhan prajurit dalam keadaan lusuh, seragam mereka berantakan, tombak dan pedang mereka patah, seperti bekas kalah perang. Ia heran. Ia tahu tidak ada peperangan dengan bangsa Kim, tidak ada kekacauan akibat penjahat di dekat Hangciu. Habis, mengapa barisan prajurit itu? Ia menanyakan keterangan kepada beberapa penduduk, tetapi mereka juga tidak tahu apa-apa.

Karena sangat penasaran, ia mengikuti rombongan prajurit itu sampai ke tangsi mereka. Ia menunggu sampai malam, lalu diam-diam ia menyelinap. Ia menangkap seorang prajurit yang sedang tidur pulas, yang ia bawa ke ujung jalan besar untuk mendapatkan keterangan darinya. Setelah ia mendengar jawabannya, ia mengeluh. Ternyata barisan itu adalah barisan yang telah pergi ke Gu-kee-cun untuk menawan Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian. Ia berduka sekaligus murka mendengar Siauw Thian tewas dalam pertempuran itu dan Tiat Sim terluka parah. Entah ke mana ia lolos, tetapi ada kemungkinan ia pun tidak akan hidup lama.

Imam ini sangat menyesal. Ia tahu, itulah akibatnya ia telah menjalin persahabatan dengan dua orang dari marga Yo dan Kwee itu. Pasti ia tidak dapat menahan amarahnya terhadap prajurit itu.

"Siapakah perwira atasanmu?" tanyanya.

"Ciehui tayjin kami," sahut prajurit itu yang menyebutkan komandannya, "Dia marga Toan, namanya Thian Tek."

Cukup sampai di situ, Cie Kee membebaskan prajurit itu, lalu ia pergi mencari Thian Tek di tangsi, tetapi ia tidak menemukan apa-apa. Ia tidak tahu di mana perwira itu tidur malam itu.

Besok paginya, Tiang Cun Cu melihat hal yang membuat darahnya mendidih. Di depan tangsi, di atas tiang bendera yang tinggi, tergantung kepala Kwee Siauw Thian untuk dipamerkan kepada khalayak ramai. Hampir dadanya meledak.

"Khu Cie Kee, oh, Khu Cie Kee!" katanya pada diri sendiri. "Dengar baik-baik, kedua sahabat itu adalah tamumu. Kau sebaliknya membiarkan mereka celaka, rumah tangga mereka tercerai-berai dan musnah! Jika kau tidak menuntut balas untuk mereka, masih dapatkah kau disebut seorang laki-laki!"

Saking mendongkolnya, ia menghantam tembok tempat tiang itu dipasang dengan tangannya, hingga batu dan pasir kapurnya hancur. Kemudian malamnya, ia memanjat tiang itu untuk menurunkan kepala Siauw Thian, yang ia bawa ke tepi telaga See ouw untuk dikubur. Ia berlutut di depan kuburan, air matanya turun mengucur, diam-diam ia memuji dan berjanji: "Hari ini aku berjanji akan mengajarkan ilmu silat kepada anak-anakmu, supaya kelak mereka menjadi orang-orang perkasa. Jika tidak, aku tidak akan memiliki muka untuk menemui kalian di alam baka."

Segera Khu Cie Kee menyusun rencananya. Pertama-tama, Toan Thian Tek harus dicari, perwira itu harus dibinasakan guna membalaskan sakit hati Tiat Sim dan Siauw Thian. Setelah itu, ia hendak mencari istri kedua sahabat itu untuk menempatkan mereka di tempat yang aman. Kemudian, ia akan memohon belas kasihan Tuhan, supaya mereka mendapat keturunan, agar anak-anak mereka dapat ia didik menjadi orang-orang sempurna seperti yang ia janjikan.

Selama dua malam berturut-turut Cie Kee menyelinap ke tangsi Wielok nomor enam, tidak berhasil menemukan Toan Thian Tek. Ia sampai menduga, mungkin Thian Tek adalah seorang komandan yang tidak disiplin dan suka keluyuran, mungkin Thian Tek tidur di luar tangsi untuk mencari kesenangan.

Karena sudah habis kesabarannya pada hari ketiga setelah dua malam itu, ia mengambil cara singkat saja. Ia pergi ke depan tangsi, untuk memanggil: "Mana Toan Thian Tek! Suruh dia keluar!"

Kebetulan hari itu, Thian Tek ada di dalam tangsinya. Ia sedang memeriksa Lie Peng, istri Siauw Thian. Pemeriksaan dilakukan karena hilangnya kepala Siauw Thian. Ia ingin Lie Peng menyebutkan sahabat atau para sahabat Siauw Thian yang dianggapnya berani mencuri kepala Siauw Thian.

Ia kaget mendengar laporan ada orang mencarinya, lalu laporan itu disusul dengan laporan lainnya, tentang pertempuran yang terjadi dengan orang yang mencarinya. Segera ia mengintip dari jendela. Seorang imam, yang tampak gagah sekali, sedang bertarung dengan rombongan prajurit. Atau lebih tepatnya, rombongan prajurit sedang diserang oleh imam itu yang mempersenjatai diri dengan dua prajurit yang ia pegang kakinya, sementara mereka masing-masing mengeluh. Sejumlah prajurit lain menyerang dengan anak panah, tetapi serangan itu tidak membuahkan hasil. Si imam membela diri dengan dua prajurit korbannya itu.

Thian Tek gusar menyaksikan perkelahian semacam itu, dengan membawa goloknya, ia melompat keluar dari tangsi. "Kau hendak memberontak?!" tegurnya sambil menerjang.

Imam itu, yaitu Khu Cie Kee, telah menyambut serangan setelah ia melemparkan salah satu prajurit. Ia menggunakan tangan kirinya. Lengan Thian Tek lantas saja dicekal.

"Mana bajingan terkutuk Toan Thian Tek?!" tegur Cie. Ia belum mengenali perwira ini.

Thian Tek kesakitan, tubuhnya hampir tidak dapat bergerak, tetapi ia licik sekali. Ia dapat menebak maksud si imam. "Tuan mencari Toan Tayjin?" ia balik bertanya. "Dia... dia sekarang ada di telaga See Ouw, sedang bersenang-senang minum arak di atas perahu. Sebentar lohor ia baru pulang."

Cie tertipu, ia melepaskan cekalannya. Thian Tek segera berkata kepada dua prajurit yang ia kedipkan mata: "Pergi, antarkan tuan ini ke telaga untuk mencari Toan Tayjin!"

Kedua prajurit itu belum mengerti, mereka bingung. "Cepat! Cepat pergi!" Thian Tek membentak. "Jangan sampai tuan marah!"

Barulah sekarang kedua prajurit itu mengerti, mereka lantas pergi. Cie Kee mengikuti kedua prajurit itu. Thian Tek tidak berani berlama-lama. Setelah si imam pergi, ia mengajak pasukannya meninggalkan tangsi Wie-ko. Ia membawa Lie Peng bersamanya. Ia pergi ke tangsi Hiong-ciat nomor delapan yang komandannya adalah sahabat karibnya, yang memiliki pangkat sama. Kepada sahabat itu ia menceritakan perihal si imam jahat.

"Mari kita tangkap dia!" kata si komandan, yang terus hendak mengumpulkan tentaranya. Tetapi mendadak terdengar suara ribut-ribut di luar tangsi, disusul laporan tentang seorang imam yang datang mengacau. Terang Khu Cie Kee kembali lagi setelah ia tidak berhasil mencari Thian Tek. Rupanya ia telah memukul kedua prajurit pengantarnya, sehingga mereka terpaksa membuka rahasia, hingga ia lantas menyusul ke tangsi Hiong-ciat nomor delapan itu.

Thian Tek sangat ketakutan. Tanpa berpamitan dari rekannya, ia mengajak Lie Peng dan pasukannya kabur dari belakang tangsi. Kali ini ia lari keluar kota, ke tangsi Coan-ciat nomor dua. Tangsi ini terletak di tempat sepi. Di sini ia selamat, si imam tidak berhasil mengejarnya lebih jauh. Barulah sekarang ia bisa sedikit bernapas lega. Tapi ia harus menderita pada tangannya, bekas dicekal si imam. Lengan itu bengkak, terasa sangat sakit. Ia mencari tabib tentara untuk mengobati tangannya itu. Ternyata tulang lengannya patah, hingga tulang itu harus disambung.

Malam itu ia bermalam di tangsi itu, ia takut pulang. Tepat tengah malam, Thian Tek tersentak kaget. Di luar tangsi, para prajurit membuat keributan besar. Sebabnya adalah seorang prajurit jaga ketahuan hilang tanpa jejak. Tentu saja ia menjadi sangat ketakutan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment