Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 74

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 74

"Di mana Totiang dan Tuan Kwee tinggal? Nanti kami pergi mengantarkan ke sana." Beberapa pengiring lainnya lantas maju untuk memperlihatkan barang antaran mereka yang terdiri dari dua belas kotak; isinya adalah makanan dan buah-buahan yang istimewa.

"Oey Yong suka memakan makanan semacam ini, baik aku tinggalkan untuk dia," pikir Kwee Ceng. Ia polos, ia bersedia menerima antaran itu. Ong Cie It tidak berkesan baik terhadap Wanyen Kang; ia hendak menampik, akan tetapi saat melihat sikap Kwee Ceng, ia lantas menerimanya. Ia tersenyum dan berkata dalam hatinya, "Dasar bocah! Dia tidak harus dipersalahkan."

Bab 18. Mengadu Kepandaian

Habis menerima antaran itu, Ong Cie It menanyakan keterangan kamar Bok Ek, lalu ia terus masuk ke dalam kamar tersebut hingga ia mendapati orang bermarga Bok itu sedang rebah dengan muka pucat, sementara di tepi pembaringan, gadisnya duduk sambil menangis. Saat mereka melihat tamu, si nona bangkit berdiri, sementara Bok Ek sendiri mencoba duduk di atas pembaringan.

Ong Cinjin memeriksa luka Bok Ek, yang pada setiap punggung telapak tangannya bertanda lima lubang jari hingga tampak tulang-tulangnya, dan kedua lengannya bengkak besar. Luka itu telah diberi obat, tetapi mungkin karena khawatir menjadi bernanah, perbannya sudah dibuka.

"Aneh," pikir Ong Cie It. "Ilmu silat Wanyen Kang jelas adalah ajaran guruku, maka dari mana dia mendapatkan ilmu pukulan jahat ini? Dalam hal ini pasti ada rahasianya." Lantas ia memandang si nona dan bertanya, "Nona, siapakah namamu?"

Nona itu menundukkan kepalanya. "Namaku Bok Liam Cu," sahutnya perlahan.

"Luka ayahmu ini tidak enteng, dia perlu dirawat dengan baik," kata Cie It. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan dua potong uang perak yang diletakkan di atas meja, seraya menambahkan, "Besok aku akan datang untuk menjengukmu pula." Lalu, setelah menanti jawaban si nona, ia menarik tangan Kwee Ceng untuk meninggalkan hotel itu.

Di luar hotel, mereka disambut oleh empat pengiring. Setelah memberi hormat, salah satunya memberitahukan bahwa siauw-ongya mereka sedang menanti di gedung, dan sang imam serta bocah itu diundang ke sana. Ong Cie It mengangguk.

"Totiang, kau tunggu sebentar," kata Kwee Ceng. Ia lari masuk kembali ke dalam hotel, ke kamar tempat bingkisan kue dan buah dari Wanyen Kang berada. Ia memilih empat rupa kue, membungkusnya dengan sapu tangan, lalu setelah memasukkannya ke dalam saku, ia kembali ke luar untuk menemani sang imam mengikuti keempat pengiring itu menuju istana Wanyen Kang.

Tiba di muka gedung—atau lebih tepatnya istana—Kwee Ceng pertama kali melihat dua lembar bendera berkibar di tiang tinggi. Di kiri dan kanan pintu ada patung sepasang singa batu yang terlihat bengis. Undakan tangga dari batu putih terpasang hingga ke balairung depan. Di pintu besar tertulis tiga huruf besar berwarna emas: "Chao Wang Hu" atau Istana Pangeran Chao Wang. Kwee Ceng tahu bahwa Chao Wang adalah Wanyen Lieh, putra keenam dari Raja Kim. Hatinya tercekat. "Mungkinkah si pangeran muda itu adalah putranya Wanyen Lieh?" ia bertanya dalam hati. "Wanyen Lieh mengenali aku. Kalau di sini aku bertemu dengannya, ini adalah musibah."

Selagi si bocah terbenam dalam keragu-raguan, ia mendengar ramainya suara tetabuhan yang diperdengarkan untuk menyambutnya dan Ong Cie It. Ia tampak si siauw-ongya keluar menyambut dengan jubah merah, ikat pinggang permata, serta kopiah emas. Melihat dandanan pangeran itu, Ong Cie It mengerutkan kening. Ia diam saja dan dipimpin masuk ke dalam balairung, lalu dipersilakan duduk di kursi kehormatan.

"Totiang bersama Saudara Kwee sudi datang kemari, sungguh aku merasa sangat beruntung!" kata sang tuan rumah muda tersebut.

Ong Cie It tidak puas, bahkan ia mendongkol. Pangeran itu tidak berlutut di depannya dan tidak juga memanggilnya "susiok" atau paman guru.

"Sudah berapa lama kau mengikuti gurumu belajar silat?" tanya Cie It.

"Mana boanpwe mengerti ilmu silat?" sahut Wanyen Kang sambil tertawa. "Aku mengikuti suhu selama dua tahun, dan selama itu aku hanya bermain-main, hingga membuat Totiang dan Saudara Kwee menertawakan aku."

"Hm!" Ong Cie It mendengus. "Walaupun ilmu silat Coan Cin Kauw tidak tinggi, tetapi ilmu itu bukannya ilmu murahan! Gurumu bakal tiba di sini, kau tahu tidak?"

"Guruku ada di sini. Apakah Totiang ingin bertemu dengannya?" Wanyen Kang membalas bertanya.

Ong Cie It menjadi sangat heran. "Ada di mana dia sekarang?"

Wanyen Kang menepuk tangan dua kali. "Siapkan meja santapan!" perintahnya kepada pengiring yang berlalu untuk menyampaikan titah lebih lanjut. Wanyen Kang kemudian mengajak kedua tamunya ke hoa-thia (taman bunga). Mereka melintasi lorong dan mengitari bangunan indah hingga harus berjalan cukup jauh. Selama itu, Kwee Ceng menyaksikan keindahan istana sampai matanya berkunang-kunang. Hatinya tidak tenteram, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana andaikata bertemu dengan Wanyen Lieh.

Setibanya di hoa-thia, di sana sudah menanti enam atau tujuh orang dengan perawakan yang tidak rata, di antara mereka ada seseorang dengan tiga benjolan di kepala, yaitu "Sam-tauw-kauw" Hauw Thong Hay. Ia mengawasi anak muda itu dengan sorot mata bengis. Kwee Ceng terkejut hingga ia mendekatkan dirinya ke dekat sang imam.

Wanyen Kang bergembira saat berkata kepada Ong Cie It, "Totiang, beberapa tuan ini sudah lama mengagumi kau dan merasa sangat ingin bertemu denganmu!" Ia lantas menunjuk Peng Lian Houw, "Inilah Pheng Cecu, kedua pihak sudah saling mengenal." Kedua orang itu saling memberi hormat.

"Dan ini adalah Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong, locianpwe dari Tiang Pek San," Wanyen Kang memperkenalkan orang yang berambut putih tapi berwajah segar seperti bocah. Ong Cie It heran, "Kenapa Siluman Tua ada di sini juga?"

Io Cu Ong memberi hormat, "Di sini lohu dapat bertemu sama Thie Kak Sian Ong Cinjin, maka tidaklah kecewa lohu datang ke Tionggoan ini." Ia lalu memperkenalkan paderi di sampingnya, "Ini adalah Leng Tie Siangjin, ahli Tay-ciu-in dari partai Bit Cong di Tibet. Kami berdua, satu dari timur laut dan satu lagi dari barat selatan, menempuh empat ribu lie; pertemuan ini benar-benar satu jodoh!" Ong Cie It membalas hormat dengan menjura.

Tiba-tiba seorang bersuara serak berkata nyaring, "Kiranya Kanglam Cit Koay didukung dari belakang oleh Coan Cin Pay, maka mereka menjadi begini malang melintang."

Ong Cie It mengamati orang yang berbicara kasar itu; kepalanya gundul, matanya merah, dan biji matanya menonjol keluar. Dengan melihat wajahnya saja, ia sudah mengenalinya. "Bukankah Tuan adalah Kwie-bun Liong Ong See Locianpwee?" tanyanya.

"Benar!" sahut orang itu dengan suara penuh kemarahan. "Kiranya kau masih kenal aku!"

Cie It heran dalam hati, "Kita bagaikan air kali dan air sungai yang tidak saling menerjang, kapan dan dalam hal apa aku pernah berbuat salah terhadapnya?" Ia mencoba bersabar, "Nama besar dari See Locianpwee memang telah lama aku dengar."

Orang bermarga See ini tidak memedulikan sikap halus tersebut. Ia adalah Thong Thian, si Raja Naga dari Pintu Iblis. Ia jauh lebih lihai daripada Hauw Thong Hay, adik seperguruannya. Karena sifatnya yang berangasan, murid-muridnya tidak dapat mewarisi ilmu kepandaiannya dengan sempurna. Itulah sebabnya saat mendengar kekalahan empat muridnya, ia menghajar mereka habis-habisan. Ia lalu mengirim Hauw Thong Hay untuk menuntut balas, namun gagal karena dipermainkan Oey Yong.

Karena itu, Thong Thian sangat murka. Sekalipun di depan orang banyak, ia tak dapat menahan diri dan mengulurkan tangannya untuk menjambak Kwee Ceng. Bocah itu mundur, sedang Ong Cie It segera maju untuk menghalangi.

"Bagus! Benar-benar kau melindungi binatang cilik ini!" seru Thong Thian sambil menyambar sang imam.

Ong Cie It mengangkat tangannya untuk menangkis. Saat kedua tangan hampir beradu, dari samping tiba-tiba muncul seseorang. Tangan kirinya menyambar lengan See Thong Thian, tangan kanannya menyambar lengan Ong Cinjin, lalu ia mengibas keluar hingga kedua orang itu terpisah.

See Thong Thian dan Ong Cie It terperanjat. Mereka heran ada orang yang dapat memisahkan mereka dengan begitu gampang. Mereka mengawasi si pemisah itu; seorang berjubah putih, sikapnya tenang, umurnya ditaksir tiga puluh lima atau tiga puluh enam tahun. Alisnya panjang hingga ujungnya mengenai rambut di pelipis, wajahnya tampan seperti seorang sastrawan, dan dandannya seperti seorang bangsawan.

Wanyen Kang menghampiri sembari tertawa, "Tuan ini adalah Auwyang Kongcu, sancu dari Pek To San dari pegunungan Kun Lun San di Tibet."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment