Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 10

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 10

"Baik, Nyonya," sahutnya. Keduanya lantas memacu kuda mereka, kadang yang satu di depan, yang lain di belakang, atau berjalan beriringan.

Cuaca terasa nyaman karena saat itu adalah musim yang indah. Sepanjang jalan, terlihat pepohonan rimbun dan bunga-bunga bermekaran.

Untuk menyenangkan hati sang nyonya, Yen Lieh sering memulai percakapan. Sek Yok merasa heran dan mengagumi pemuda itu, teman seperjalanannya yang sebenarnya masih asing baginya. Ia mendapati sikap pemuda itu halus dan kata-katanya menarik. Pengetahuan pemuda itu luas, dan ia pandai memilih topik pembicaraan. Selain itu, pemuda itu tampan dan enak dipandang.

Pada tengah hari di hari ketiga, mereka tiba di Kee-hin, sebuah kota besar di Ciat-kang barat, kota sutra dan beras. Kota itu memang sudah ramai asalnya, dan karena letaknya yang dekat dengan ibu kota, keramaiannya bertambah.

"Mari kita cari hotel untuk singgah dan beristirahat dulu," ajak Yen Lieh.

"Hari masih siang, sebenarnya kita masih dapat melanjutkan perjalanan," ujar Sek Yok.

"Di sini ada banyak toko, Nyonya," kata Yen Lieh. "Pakaianmu sudah terlihat lama dipakai, nanti aku belikan yang baru." Sek Yok tertegun. "Bukankah ini baru dibeli?" tanyanya. "Apa yang dibilang lama?"

"Kita berjalan jauh dan banyak debu di jalan," jelas pemuda itu. "Meskipun baru dipakai satu dua hari, pakaianmu sudah tidak lagi tampak mentereng. Apalagi dengan paras ini, Nyonya, mana boleh kau tidak mengenakan pakaian dari bahan terbaik?" Diam-diam, hati Sek Yok merasa senang karena kecantikannya dipuji.

"Aku sedang berkabung," katanya perlahan.

"Tentu saja aku tahu," jawab Yen Lieh.

Nyonya itu kemudian terdiam. Yen Lieh terus bertanya kepada orang-orang, akhirnya ia mengajak nyonya itu ke hotel Siu Sui yang terbesar di Kee-hin. Setibanya di sana, mereka membersihkan diri terlebih dahulu, lalu duduk untuk bersantap.

"Tunggu di sini, Nyonya, aku hendak pergi berbelanja," kata pemuda itu kemudian. Pauw-sie mengangguk.

Yen Lieh segera keluar. Baru saja ia sampai di depan hotel, ia melihat seseorang menghampiri. Orang itu mencolok perhatiannya. Wajahnya mirip seorang sastrawan, tetapi ia berjalan sambil menyeret sepatu kulit yang mengeluarkan bunyi "ketrak-ketruk" meskipun langkahnya pelan. Penampilannya tidak karuan; pakaiannya kotor dan berminyak, begitu pula wajahnya yang penuh debu. Mungkin sudah belasan hari ia tidak mandi. Di tangannya, ia menggenggam sebuah kipas kertas minyak hitam yang sudah usang, sambil berjalan ia terus mengipas tanpa henti.

Yen Lieh berpakaian rapi. Meskipun orang itu mirip sastrawan, karena penampilannya yang jorok, Yen Lieh enggan berjalan di dekatnya, khawatir tubuhnya tersenggol. Sambil mengerutkan kening, ia mempercepat langkahnya. Tiba-tiba, orang jorok itu tertawa, suaranya kering seperti siulan burung malam. Ia tertawa beberapa kali, tawanya tajam menusuk telinga.

Tepat ketika mereka berpapasan, si jorok itu mengulurkan tangan dan dengan kipas bututnya menepuk pundak Yen Lieh. Pemuda itu sigap, tetapi tepukan itu datang begitu cepat sehingga ia tidak sempat menghindar. Ia menjadi tidak senang. "Hei, kau sedang apa?" tegurnya.

Orang itu kembali mengeluarkan tawa keringnya, lalu terus berjalan, bunyi sepatu "ketrak-ketruk" terus terdengar. Ketika tiba di ujung hotel, ia menoleh kepada jongos hotel dan berkata keras, "Hei, jongos, jangan pandang remeh baju tuanmu yang lusuh ini! Kau tahu, tuan besarmu punya uang perak! Di pihak lain, ada bocah tersesat, dengan pakaian mentereng, ia pamer untuk menyilaukan mata guna menipu, mengakali wanita, demi mengambil makanan dan hotel! Terhadap bocah seperti itu, kau harus waspada! Sebaiknya kau minta dia membayar uang sewa di muka!" Setelah berkata demikian, ia langsung pergi tanpa menunggu jawaban, sepatunya terus berbunyi, "Truk! Truk! Truk!"

Hati Yen Lieh memanas. "Binatang!" pikirnya, "Bukankah dia maksudkan aku?"

Jongos itu melirik ke arah pemuda tersebut, dan kecurigaannya pun timbul. Ia segera menghampiri. "Tuan, harap Anda tidak tersinggung, bukan maksud saya kurang ajar?" katanya sambil memberi hormat.

Yen Lieh bisa menduga maksud orang itu. "Pegang uang ini!" katanya menyela. Sambil berbicara, tangannya merogoh saku, tetapi segera ia terkejut. Ia ingat telah membawa bekal empat atau lima puluh *tail* perak, tetapi kini sakunya kosong. Jongos itu melihat raut wajahnya dan semakin menduga-duga. Kini ia tidak sungkan lagi. "Apa! Kau tidak membawa uang?" katanya.

"Tunggu sebentar, aku akan kembali ke kamar untuk mengambil," kata Yen Lieh. Ia mengira tadi ia lupa membawa uang karena terburu-buru. Setibanya di kamar, ia kembali terperangah. Ia mendapati buntalannya tidak berisi uang. Ia heran, tidak tahu ke mana uangnya menghilang.

Jongos itu mengikutinya ke kamar, berdiri mengintip di depan pintu sehingga ia dapat melihat bahwa pemuda itu memang tidak memiliki uang. Ia menjadi berani. "Apakah wanita ini benar istrimu?" tanyanya. "Apakah kau sedang menipunya? Jangan sampai kau melibatkan kami!" Sek Yok tidak tahu apa yang terjadi, tetapi ia menduga, wajahnya memerah. Ia merasa malu dan gelisah.

Tiba-tiba, Yen Lieh meloncat ke arah pintu dan menyambarnya. "Plok!" terdengar suara di wajah jongos itu, pipinya bengkak dan beberapa giginya tanggal. Tentu saja ia marah, sambil memegangi pipinya ia menjerit, "Bagus, ya bagus sekali! Kau sewa kamar tidak mau bayar, kau juga berani memukul orang!" Dengan murka, Yen Lieh menendangnya hingga orang itu terpelanting.

"Mari kita segera pergi!" ajak Sek Yok. "Jangan kita menginap di sini!"

"Jangan takut!" kata Yen Lieh sambil tertawa. "Kita tidak punya uang, tetapi kita bisa membuat mereka menyediakannya!" Ia kemudian menyambar sebuah kursi dan meletakkannya di ambang pintu, lalu duduk di situ.

Jongos yang tadi lari segera kembali bersama belasan orang. Mereka tampak seperti preman, membawa tongkat dan gada, dengan sikap garang.

"Apakah kalian hendak berkelahi?" tanya Yen Lieh sambil tertawa. Kata-kata itu diikuti dengan gerakannya yang cepat. Sekejap, ia telah merebut tongkat salah seorang dan langsung menghantam tanpa ampun. Dalam sekejap, empat atau lima orang telah terkapar. Melihat itu, sisa yang lain melemparkan senjata mereka, berputar tubuh, lalu berlari sambil menutupi telinga, diikuti oleh kawan-kawan mereka yang terluka dan susah payah bangun.

"Aduh, urusannya menjadi besar, mungkin nanti datang pembesar negeri," kata Sek Yok dengan cemas.

Yen Lieh tetap tertawa. "Itulah yang aku inginkan!" sahutnya. Nyonya Yo terdiam. Ia tidak mengerti maksud pemuda itu.

Sekitar setengah jam kemudian, hotel menjadi sunyi. Pihak hotel maupun tamu tidak ada yang berani banyak bicara lagi.

Baru kemudian, terdengar keributan dari luar, lalu muncul belasan orang polisi, bersenjatakan golok dan *thie-cio*—yaitu gada pendek dengan pegangan yang bergigi atau berantai. Mereka juga membawa borgol dengan rantai yang bergemerincing.

"Sudah menipu wanita, masih berani garang, aturan dari mana?" kata salah seorang dari mereka dengan pongah.

"Di mana penjahat itu!" Yen Lieh duduk tenang tanpa bergeming. Menyaksikan sikap pemuda itu, rombongan polisi tidak berani maju dengan lantang.

"Hei, kau ini siapa?" tegur kepala polisi. "Mau apa kau datang ke Kee-hin ini?" Yen Lieh tetap tidak bergerak.

"Pergi panggil Khay Oen Cong ke sini!" katanya dengan suara tegas.

Hamba negeri itu terkejut. Khay Oen Cong adalah sebutan untuk pembesar mereka, *tiehu* atau residen Kee-hin. Mereka menjadi gusar. "Apakah kau gila?" tanya kepala polisi. "Bagaimana berani kau menyebut nama Khay Tua kami sembarangan?"

Yen Lieh merogoh sakunya, mengeluarkan sepucuk surat, lalu melemparkannya ke atas meja. Sambil memandang ke langit, ia berkata, "Bawa suratku ini, berikan kepada Khay Oen Cong. Aku ingin melihat apakah ia datang ke sini atau tidak!"

Orang polisi itu mengambil surat tersebut. Setelah membaca sampulnya, ia terkejut, tetapi tampaknya ia masih ragu. "Kau jaga dia, jangan biarkan dia kabur?" pesannya kepada anak buahnya, lalu ia segera pergi.

Sek Yok menyaksikan semua itu, hatinya terus berdebar kencang. Ia tidak tahu bagaimana akhir urusan ini nantinya. Setelah menunggu sekitar setengah jam, terdengar lagi keributan di luar hotel. Ternyata itu adalah suara puluhan polisi yang mengiringi dua pembesar berseragam dinas.

Ketika keduanya tiba di hadapan Yen Lieh, mereka langsung memberi hormat sambil menekuk lutut.

"Hamba adalah Khay Oen Cong, *tiehu* dari Kee-hin, dan Kiang Bun Kay, *tiekoan* dari Siu-sui-koan," kata mereka. "Hamba tidak tahu *tayjin* sudah tiba di sini, kami tidak datang menyambut, harap *tayjin* sudi memaafkan."

Yen Lieh mengangkat tangannya, sedikit membungkuk. "Aku kehilangan uang di wilayah ini, aku mohon Tuan-tuan sudi membantu memeriksanya dan mencarinya," katanya, terutama kepada Kiang Bun Kay, sang camat.

Khay Oen Cong segera menyahut. "Ya, ya," katanya, lalu menoleh ke belakang sambil memberi isyarat tangan. Dua polisi muncul membawa dua nampan. Satu nampan berisi emas yang berkilauan kuning, dan nampan lainnya berisi perak yang berkilau putih.

"Di tempat kami ada penjahat yang bertindak kurang ajar, itu adalah kelalaian kami," kata Khay Oen Cong. "Sekarang, sudilah kiranya *Tayjin* menerima dahulu jumlah yang tidak berarti ini."

Yen Lieh tertawa dan mengangguk. Dengan hormat, Khay Tiehu menyerahkan suratnya kepada pemuda itu. "Hamba telah menyiapkan tempat peristirahatan, silakan *Tayin* dan *hujin* singgah di sana," pinta *tiehu* itu.

"Tempat di sini lebih menyenangkan," kata Yen Lieh. "Aku lebih suka tempat yang tenang."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment