Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 44

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 44

Mereka baru berjalan lebih dari satu li ketika di depan mereka terlihat beberapa serdadu Kim sedang berkelahi dengan pengiring Khan yang baru saja menerima titah.

Penyebabnya adalah serdadu-serdadu Kim itu menghalang-halangi orang yang menjalankan tugasnya, sementara si petugas tidak berani mengabaikan kewajibannya.

Dua saudara Wanyen itu kemudian memerintah para serdadunya berhenti berkelahi.

Mereka berkata, "Kami sedang berdiam di sini, orang ini buta, dia menerjang kami!" Pengiring Wang Khan itu mendongkol dan tidak mau mengerti.

Ia pun diserang secara membabi buta dan dikeroyok.

Ia berkata dengan sengit, "Aku ada di depanmu, dan kau di belakangku!" Dua saudara Wanyen itu tidak ingin mereka adu mulut.

"Berangkat!" perintah mereka.

Jamukha melihat semua itu, ia menduga peristiwa itu terjadi karena ulah kedua Wanyen ini, maka ia menjadi waspada.

Tidak lama kemudian, mereka tiba di depan rombongan Tusaga yang ramai.

Dua ekor macan tutul telah lepas dari ikatan di lehernya, keempat kakinya sedang mengais-ngais tanah dan mulutnya meraung-raung tanpa henti.

Di depan mereka berdiri dua bocah, yaitu Tuli dan Kwee Ceng.

Temuchin dan keempat pahlawannya segera menyiapkan panah mereka, diarahkan kepada dua binatang liar itu.

Temuchin mengetahui dengan baik, binatang itu adalah binatang kesayangan Sangum, yang ditangkap sejak masih kecil dan dipelihara serta dididik dengan banyak kesulitan hingga menjadi besar dan dapat memahami. Oleh karena itu, selama putranya tidak terancam, ia tidak mau memanah macan itu.

Tusaga melihat datangnya banyak orang dan kakek beserta ayahnya juga ada di sana, ia menjadi semakin sombong, berulang-ulang ia menyuruh macannya segera menyerang.

Wang Khan murka melihat kelakuan cucunya itu, saat ia hendak mencegah, lalu terdengar suara kuda berlari-lari mendekat dari arah belakang mereka.

Tak lama kemudian, kuda itu, seekor kuda merah, tiba di antara mereka.

Penunggangnya seorang wanita paruh baya yang memakai mantel kulit indah dan menggendong seorang anak perempuan yang cantik rupanya, ia adalah istri Temuchin atau ibu Tuli.

Ia kemudian melompat turun dari kudanya.

Nyonya Temuchin sedang berbincang-bincang dengan istri Sangum di tenda mereka, ketika ia mendengar perihal putranya, ia mengkhawatirkan keselamatan putranya, maka ia kemudian menyusul.

Anak perempuan yang ia bawa itu adalah putrinya, Gochin Baki.

"Lepaskan panah!" Yulun Eke segera memerintah.

Ia sangat khawatir melihat putranya terancam macan tutul itu.

Gochin sebaliknya segera mendekati kakaknya.

Ia baru berusia empat tahun, rupanya cantik dan manis, ia belum tahu bahaya.

Ia tertawa cekikikan.

Kemudian ia mengulurkan tangannya, berniat mengusap-usap kepala seekor macan tutul.

Macan itu sedang bersiap-siap, melihat ada orang mendekat, segera ia melompat menerkam.

Semua orang kaget, sementara Temuchin tidak berani melepaskan anak panahnya, khawatir mengenai putrinya.

Keempat pahlawannya melemparkan panah mereka dan menghunus golok untuk maju menyerang.

Dalam saat yang mengancam itu, Kwee Ceng melompat, ia menerjang Gochin, memeluknya, lalu menjatuhkan diri, meski demikian, kuku macan telah mengenai pundaknya.

Di antara empat pahlawan, Boroul yang bertubuh kerdil dan kecil adalah yang paling gesit, ialah yang maju paling depan. Namun, baru saja ia maju, telinganya mendengar beberapa kali suara angin menyambar, setelah itu kedua macan itu rubuh bersamaan, rubuh telentang lalu tidak berkutik lagi.

Ia menjadi heran, apalagi ia mendapati, kedua binatang itu masing-masing berlubang di kedua pelipisnya, dari mana darah mengucur keluar.

Jelas itu adalah pekerjaan orang yang lihai.

Ketika ia berpaling ke arah dari mana suara angin itu datang menyambar, tampak enam orang Han, pria dan wanita, sedang mengawasi dengan sikap yang sangat tenang.

Ia kemudian mencurigai mereka.

Yulun Eke kemudian langsung memeluk putrinya, yang ia ambil dari pelukan Kwee Ceng.

Anak itu menangis karena terkejut, maka ia dihibur ibunya, yang juga menarik Tuli, untuk dirangkul dengan tangannya yang lain.

Sangum sangat murka.

"Siapa yang membunuh macanku?!" tanyanya dengan bengis.

Semua orang terdiam.

Walaupun kejadian terjadi di depan mata mereka, tidak ada seorang pun yang mengetahui siapa penyerang misterius itu.

Boroul sendiri memilih diam.

"Sudahlah, Saudara Sangum!" berkata Temuchin sambil tertawa.

"Nanti aku akan menggantikanmu dengan empat macan tutul terbaik ditambah dengan delapan pasang burung elang." Sangum masih mendongkol, ia tetap membungkam.

Wang Khan gusar, ia mendamprat Tusaga.

Cucu ini didamprat di depan orang banyak, ia merasa malu, ia pun merajuk, terus menangis sambil berguling-guling di tanah, ia tidak peduli meskipun kakeknya memerintahkannya berhenti menangis.

Diam-diam Jamukha membisiki Temuchin tentang apa yang baru saja terjadi di tengah jalan antara pengiring Wang Khan dan serdadu-serdadu Kim.

Hati Temuchin menjadi panas.

Ia menyadari peranan kedua saudara Wanyen itu.

Di dalam hatinya, ia berkata, "Kalian hendak mencelakakan kita, kita justru akan berserikat untuk menghadapi kalian!" Maka ia menghampiri Tusaga, untuk dibangunkan dengan dipeluk.

Anak itu mencoba meronta tetapi tidak berhasil.

Sambil tertawa, Temuchin menghampiri Wang Khan dan berkata, "Ayah, ini hanyalah permainan anak-anak, tidak perlu diperpanjang. Aku lihat anak ini berbakat baik, aku berniat menjodohkan dia dengan anakku, bagaimana pendapatmu?" Wang Khan girang, ia melihat, meskipun masih kecil, Gochin sudah cantik, setelah dewasa, pasti dia akan menjadi sangat cantik.

Ia tertawa dan menyahuti, "Tidak mungkin aku tidak setuju. Marilah kita pererat persaudaraan kita. Cucuku yang perempuan akan kujodohkan dengan Juji, putramu yang sulung. Bagaimana, kau setuju?" Dengan girang, Temuchin berkata kepada Sangum.

"Saudara, sekarang kita menjadi besan!" Sangum yang angkuh, ia sangat bangga akan keturunannya. Terhadap Temuchin ia iri hati dan memandang enteng, ia tidak senang berbesan dengannya, akan tetapi di situ ada keputusan ayahnya, terpaksa ia menyambut sambil tertawa.

Wanyen Lieh menjadi sangat tidak puas.

Tipu dayanya gagal.

Selagi ia berpaling, ia melihat rombongan Kwa Tin Ok dan Cu Cong rebah di atas unta.

Ia terperanjat dan heran sekali.

"Eh, kenapa beberapa manusia aneh ini berada di sini?" katanya dalam hatinya.

Tin Ok dan rombongannya tidak ingin menarik perhatian orang, mereka berdiri agak jauh.

Mereka tidak melihat Wanyen Lieh, itulah kebetulan bagi pangeran itu yang kemudian pergi duluan.

Temuchin kemudian mengetahui enam orang itu yang telah menolong putranya, ia menyuruh Boroul memberikan hadiah bulu dan emas, sementara Kwee Ceng, yang kepalanya ia usap-usap, ia puji keberaniannya.

Tuli menunggu sampai Wang Khan semuanya berlalu, ia menceritakan kepada ayahnya penyebab ia berkelahi dengan Tusaga, ia pun berbicara tentang Kanglam Cit Koay (yang sekarang menjadi Kanglam Liok Koay karena jumlah mereka telah berkurang satu).

Temuchin berpikir sebentar, lalu ia berkata kepada Coan Kim Hoat, "Baik, kamu berdiamlah di sini untuk mengajari ilmu silat kepada putraku. Berapa gaji yang kamu inginkan?" Coan Kim Hoat senang dengan tawaran itu.

Mereka memang sedang memikirkan tempat untuk mendidik Kwee Ceng.

Ia kemudian menyahuti, "Khan Agung bersedia menerima kami, itu pun sudah sangat baik, mana kami berani meminta gaji besar? Terserah kepada Khan sendiri berapa yang bersedia dibayarkan." Temuchin girang, ia menyuruh Boroul melayani enam orang itu, untuk diberi tempat tinggal, setelah itu ia memacu kudanya, untuk menyusul kedua saudara Wanyen, guna mengadakan perjamuan perpisahan untuk mereka.

Kanglam Liok Koay berjalan perlahan-lahan, untuk merundingkan urusan mereka.

"Mayat Tan Hian Hong dipotong dada dan perutnya, entah itu perbuatan kawan atau lawan?" kata Han Po Kie.

"Itulah aneh, aku tak dapat menerkanya," kata Tin Ok.

"Yang paling perlu ialah mencari tahu di mana Tiat Sie berada."

"Memang selama ia belum disingkirkan, kita selalu terancam bahaya," kata Cu Cong.

"Rasa sakit hati ini memang mesti dibalas!" kata Siauw Eng.

Karena itu, kemudian Po Kie, Siauw Eng, dan Kim Hota kemudian pergi mencari.

Mereka mencari bukan hanya di sekitar tempat itu, bahkan dilanjutkan hingga beberapa hari, tetapi mereka tidak memperoleh hasil.

"Mata wanita itu rusak terkena tok-leng toako, seharusnya racun senjata itu bekerja, maka mungkin ia mati di dalam selat!" kata Po Kie kemudian setelah mereka pulang.

Dugaan ini masuk akal.

Namun Tin Ok tetap khawatir. Ia baru akan merasa tenang jika dengan tangannya sendiri ia bisa meraba mayat Tiat Sie si Mayat Besi itu.

Ia menyadari kelihayan Bwee Tiauw Ong.

Tentang perasaannya ini ia tidak mengutarakan, ia khawatir saudara-saudaranya bersusah hati.

Sejak itu Kanglam Liok Koay menetap di gurun pasir, untuk mengajari ilmu silat kepada Kwee Ceng, dan Tuli juga diajari ilmu perang.

Dan Jebe bersama Boroul turut memberikan petunjuk juga.

Hanya pada malam hari, Kwee Ceng dipanggil belajar sendirian untuk diajari ilmu pedang, senjata rahasia, dan meringankan tubuh.

Sebab pada siang hari mereka diajari menunggang kuda, memanah, dan ilmu tombak.

Kwee Ceng bebal, di samping itu ia memiliki sifat yang baik.

Ia tahu ia harus membalas sakit hati ayahnya, oleh karena itu ilmu silat penting, maka dari itu, ia belajar dengan rajin sekali.

Oleh karena itu ia dapat disebut, pisau tumpul jika terus digosok bisa menjadi tajam.

Cu Cong bersama Coan Kim Hoat dan Han Siauw Eng mengajarkan ilmu kegesitan, kemajuannya sedikit, tetapi ajaran Han Po Kie dan Lam Hie Jin tentang pokok dasar silat, ia mengerti dengan cepat, bahkan ia segera menangkap maknanya.

Waktu berjalan dengan pesat, sepuluh tahun telah berlalu.

Sekarang Kwee Ceng telah menjadi seorang pemuda tanggung berusia enam belas tahun.

Dua tahun lagi akan tiba saatnya janji *pibu* itu, adu kepandaian.

Maka Kanglam Liok Koay memperhebat pengajarannya, sehingga untuk sementara muridnya dilarang belajar menunggang kuda dan memanah, dan siang dan malam ia terus belajar silat tangan kosong dan pedang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment