Chapter 133
Ia tidak menangkis, ia berkelit, namun tak urung ia terkena hantaman juga. Hanya karena ia berkelit, sasaran serangan itu jatuh pada pundaknya.
Ia merasakan dorongan yang keras sekali hingga terpaksa mengayunkan tangannya untuk melepaskan cekalan.
Kwee Ceng menyerang sembari mencoba menarik diri untuk meloloskan tangan yang dicekal itu. Begitu cekalan terlepas, tubuhnya terpental. Sebaliknya, tubuh si Mayat Besi terdorong mundur akibat serangan itu. Keduanya sama-sama terhuyung mundur hingga punggung mereka membentur pilar.
Pilar itu besar dan tangguh, benturan tidak menyebabkannya patah atau roboh, tetapi akibat benturan tersebut, genteng dan batu pecah serta berjatuhan. Banyak *chungteng* menjadi kaget dan berlarian keluar sambil berteriakan.
Kanglam Liok Koay saling mengawasi, mereka heran sekaligus girang. "Dari mana anak Ceng mendapatkan pelajaran ini?" tanya mereka di dalam hati. Han Po Kie melirik ke arah Oey Yong karena menduga sang nonalah yang mengajarinya.
Pertempuran terus berjalan. Kedua pihak mengeluarkan kepandaian masing-masing. Tiauw Hong berkelahi dengan sengit karena gusar dan penasaran, sementara Kwee Ceng berlaku gesit dan waspada. Si Mayat Besi berlompatan ke delapan penjuru dengan angin serangan yang menyambar-nyambar.
Kwee Ceng teringat pelajaran Ang Cit Kong mengenai ilmu *Lok Eng Ciang*. Ia tetap bersilat dengan *Hang Liong Sip-pat Ciang* dan memutar balik kelima belas jurusnya. Ia berhasil dengan cara itu, bahkan pertempuran telah berlangsung hampir lima puluh jurus.
Tiauw Hong masih belum berhasil merobohkan atau menawan lawannya seperti semula. Bahkan untuk mendesak saja ia tak sanggup. Oey Yong menonton sambil tertawa atau tersenyum-senyum; wajahnya yang molek terlihat manis sekali, sementara Kanglam Liok Koay berdiri terbengong-bengong. Liok Seng Hong pun terpaku bersama putranya.
"Hebat sekali kemajuan Bwee Suci ini," pikir sang tuan rumah. "Kalau aku yang melawan dia, dalam sepuluh jurus saja pastilah aku telah kehilangan nyawa. Tapi Kwee Laotee yang masih muda ini, kenapa dia begitu lihai? Oh, sungguh mataku kabur! Syukur aku memperlakukannya dengan hormat, tidak sampai aku bersikap kurang ajar terhadapnya."
Tiba-tiba Oey Yong berseru, "Bwee Suci, sudah enam puluh jurus lebih! Masihkah kau tidak mau menyerah?"
Tiauw Hong mendongkol bukan kepalang. Dengan latihan selama puluhan tahun, ia tidak sanggup menjatuhkan seorang bocah. Lantaran itu, ia tidak memedulikan suara Oey Yong, bahkan ia menyerang dengan lebih hebat. Sambaran demi sambaran dilakukan saling susul dengan kecepatan luar biasa. Ia tidak merasa bahwa dengan begitu ia nyata kalah imbangan. Bukankah kedua matanya buta? Bukankah karena kemurkaannya ia jadi tidak dapat memusatkan pikiran?
Di pihak lain, Kwee Ceng awas dengan kedua matanya dan lincah tubuhnya. Pemuda ini telah menghisap darah ular dan memperoleh *Hang Liong Sip-pat Ciang*. Pertempuran berlanjut sampai seratus jurus lebih. Setelah ini, Wee Tiauw Hong mulai dapat berpikir. Ia mulai meraba-raba ilmu silat lawannya yang cilik ini dan merasa tidak bisa menyerang dari dekat. Maka, ia menjauhkan diri dari Kwee Ceng sejauh satu tombak lebih, ingin membuat lawannya letih.
Memang, disebabkan usianya yang masih muda dan latihannya belum sempurna, lama-kelamaan kelincahan Kwee Ceng berkurang. Oey Yong tahu kawannya bisa celaka, maka ia berteriak-teriak pula, "Bwee Suci, seratus jurus sudah lewat! Sudah hampir dua ratus jurus! Apakah kau tetap tidak hendak menyerah?"
Tiauw Hong berlagak tuli dan menyerang tak henti-hentinya. Oey Yong bingung, tetapi karena dasar licik, segera ia mendapat akal.
"Engko Ceng, lihat aku!" panggilnya. Ia melompat ke depan pilar.
Dua kali Kwee Ceng berkelit untuk menjauhkan diri, dan begitu mendengar suara Oey Yong, ia menoleh. Saat ia melihat orang lari memutarkan pilar, ia sadar dan segera melompat ke arah pilar itu. Tiauw Hong mengetahui ke mana orang menyingkir, ia melompat menyusul. Tepat di dekat pilar, Kwee Ceng berkelit lari ke belakang pilar. Baru saja ia berkelit, sambaran Tiauw Hong sudah tiba. Lima jarinya menancap di pilar itu karena dikiranya tubuh musuh.
Bukankah ia cuma mengandalkan suara angin? Kwee Ceng tidak hanya bersembunyi, ia pun membalas menyerang. Namun, tenaga tolak dari Tiauw Hong hebat sekali. Meski si Mayat Besi terpental, Kwee Ceng juga terpaksa mundur. Lima jari Tiauw Hong terlepas dari pilar.
Tiauw Hong bertambah gusar. Saking cepatnya, ia sudah melompat pula untuk menyerang lagi. Kwee Ceng yang belum sempat memperbaiki posisi kendati dapat berkelit, tidak urung bajunya tersambar hingga robek dan lengannya terkena senggolan. Syukur baginya, ia tidak terluka.
Kwee Ceng menjadi gentar, tapi ia melawan terus dan membalas menyerang. Setelah itu, ia melompat mundur ke belakang pilar lagi. Sengaja ia mengeluarkan suara agar Tiauw Hong menyambar. Kali ini lima jari si Mayat Besi kembali menancap di pilar itu. Barulah kali ini Kwee Ceng tidak menyerang.
"Bwee Cianpwee," katanya, "Kepandaianku tidak dapat melayani kau, sudilah kau menaruh belas kasihan padaku."
Dengan kata-kata ini, bocah itu telah memberi muka. Ia tidak kalah, bahkan mungkin lebih unggul. Dengan mengandalkan pilar itu, ia takkan mungkin kalah, tapi ia memilih untuk mengalah.
Bwee Tiauw Hong menyahut dingin, "Jikalau kita mengadu kepandaian, setelah tiga jurus aku tidak dapat mengalahkan kau, seharusnya aku mesti menyerah. Tapi sekarang kita bukan lagi mengadu kepandaian, aku hanya hendak menuntut balas. Meski aku sudah kalah bertaruh, toh aku mau berkelahi terus! Tidak dapat tidak, aku harus membunuh kau!"
Kata-kata ini disusul dengan serangan yang saling susul. Tangan kiri tiga kali dan tangan kanan tiga kali semuanya mengenai pilar. Sembari menyerang dengan hebat, ia berseru. Serangannya yang terakhir menggunakan dua tangan sekaligus dengan tenaga yang sangat hebat hingga pilar itu patah di bagian tengahnya!
Semua hadirin adalah orang-orang lihai; walaupun kaget, mereka dapat menolong diri sendiri. Semuanya lantas melompat keluar. Koan Eng melompat setelah menyambar ayahnya yang terus dipondongnya. Boleh dibilang dalam sekejap saja, runtuhlah sebagian ruangan itu. Celaka untuk Toan Tayjin, sang komandan tentara; hanya ia yang tidak keburu lari, maka kedua kakinya tertimpa dan tertindih. Ia menjerit-jerit meminta tolong.
Wanyen Kang lantas maju untuk menolong. Dalam kekacauan itu, seharusnya keduanya lantas melarikan diri, akan tetapi saat mereka memutar tubuh, mendadak mereka merasakan punggung mereka kaku. Mereka tidak tahu siapa yang telah menotoknya.
Bwee Tiauw Hong sendiri hanya memperhatikan Kwee Ceng. Waktu si anak muda itu melompat, ia pun melompat menyusul. Setibanya di luar ruangan di mana cahaya rembulan terlihat remang, keduanya sudah bertempur kembali. Angin dari gerak-gerik mereka berdesiran, dan tulang-tulang Bwee Tiauw Hong berbunyi bergemeretakan. Perempuan ini jauh lebih hebat daripada di dalam ruangan tadi.
Kali ini Kwee Ceng terdesak betul. Ia segera mengalami ancaman bahaya dari tendangan si Mayat Besi. Kaki kanan wanita lihai itu bergerak menyambar ke arah kaki lawannya. Kalau tendangan ini mengenai sasaran, pasti patahlah kaki si anak muda. Namun, Tiauw Hong tidak menendang terus; baru setengah jalan ia sudah menariknya pulang untuk diganti dengan uluran tangan kiri ke arah kaki kiri lawannya.
Koan Eng kaget hingga menjerit, "Hati-hati!" Ia ingat, itulah serangan berbahaya yang ia peroleh dari Wanyen Kang hingga ia kalah oleh pangeran itu.
Dalam bahaya seperti itu, Kwee Ceng menggerakkan tangan kirinya untuk menangkis tangan Tiauw Hong. Ia masih cukup gesit, tetapi tenaganya sudah berkurang. Tiauw Hong lihai sekali; begitu kedua tangan berbenturan, ia mengerti berkurangnya tenaga si bocah. Ia lantas memutar tangannya; tiga jarinya—kelingking, manis, dan tengah—langsung menggurat ke belakang telapak tangan lawan.
Kwee Ceng menginsyafi ancaman itu dan membalas menyerang dengan tangan kanannya dengan hebat. Kalau lawan tidak menyingkir, mereka akan celaka berdua! Tiauw Hong berkelit dengan melompat ke samping, lalu tertawa panjang. Kwee Ceng merasakan panas dan sakit sekali pada belakang tangannya. Saat ia melihatnya, tampak tiga guratan yang tidak mengeluarkan darah, namun berwarna hitam.
Mendadak ia ingat sembilan tengkorak yang ditinggalkan Tiauw Hong di puncak gunung Mongolia dan perkataan Ma Giok bahwa tangan itu mengandung racun. Ia menjadi kaget sekali.
"Yong-jie, aku terkena racun!" katanya pada sang kekasih.
Namun, tanpa menanti jawaban, ia melompat menyerang Tiauw Hong kembali dengan kedua tangannya. Ia hanya tahu perlu membekuk wanita lihai ini untuk memaksa mengeluarkan obat penawarnya; tanpa itu, nyawanya tidak akan tertolong lagi. Tiauw Hong merasakan sambaran angin dan melompat berkelit.
Oey Yong, begitupun yang lainnya, mendengar suara Kwee Ceng itu menjadi sangat kaget. Boleh dibilang serempak, dimulai dari Kwa Tin Ok, mereka melompat maju mengurung si Mayat Besi.
"Bwee Suci!" Oey Yong berteriak. "Kau sudah kalah, kenapa kau masih bertempur terus? Lekas kau keluarkan obat penawarnya untuk menolong dia!"
Tiauw Hong tidak menjawab, ia lebih memperhatikan serangan lawannya. Ia bergirang sekali dan membatin, "Semakin kau mengeluarkan tenaga, semakin hebat bekerjanya racun! Taruh kata hari ini aku terbinasa di sini, aku toh sudah berhasil membalaskan sakit hati suamiku!"
Kwee Ceng mulai merasakan matanya kabur dan kepalanya pusing. Seluruh tubuhnya terasa tidak enak, bahkan lengan kirinya lemas hingga ia mulai berpikir untuk tidak berkelahi lebih jauh. Itulah tanda bekerjanya racun. Kalau ia tidak minum darah ular, mungkin ia sudah lantas roboh dan binasa. Oey Yong melihat wajah orang itu tidak lagi wajar.