Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 88

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 88

Terpaksa ia berkelit, kepalanya menunduk, kedua tangannya ditekuk, untuk membalas menyikut dada penyerangnya itu.

Pheng Lian Houw menyerang dengan hebat, namun ia waspada, maka dari itu ia dapat melihat perlawanan gadis itu.

Dengan gampang ia membebaskan dirinya, setelah itu, ia melanjutkan dengan jurusnya yang kesepuluh.

Ia menggunakan jurus silat "Binatang jatuh di tengah udara".

Tapi ia tidak menyerang habis, saat gadis itu hendak memusnahkannya.

Ia berhenti di tengah jalan sambil terus berseru: "Kau muridnya Hek Hong Siang Sat!" Dan seruan ini disusul oleh gerakan tangan kanan, yang membuat Oey Yong terhuyung ke belakang, terpental tujuh-delapan langkah!

Semua orang terkejut mendengar perkataan Pheng Lian Houw itu, kecuali Chao Wang.

Sebab mereka semua adalah para pendekar berpengalaman dan terhadap Hek Hong Siang Sat, rata-rata orang merasa gentar.

Tersiar kabar bahwa Tong Sie Tan Hian Hong si Mayat Perunggu telah meninggal dunia, akan tetapi tidak ada di antara mereka ini yang pernah menyaksikan sendiri, mereka menjadi ragu-ragu.

Pheng Lian Houw telah dapat membuktikan ilmu silat Oey Yong di jurus kesembilan, karena itu pada jurus kesepuluh ia membatalkan niatnya menghajar gadis itu, ia hanya mendorongnya dengan keras.

Oey Yong dapat mempertahankan diri, setelah kembali berdiri tegak, mendadak ia merasakan sakit pada dada kirinya.

Sebenarnya ia hendak bicara, ketika tiba-tiba.

Di malam yang tenang itu, ia mendengar suara keras dari kejauhan, bahkan ia segera mengenali suara Kwee Ceng, suara yang bernada kaget dan gusar.

Ia menjadi kaget, wajahnya menjadi pucat.

Ia menduga temannya itu telah menghadapi malapetaka.

Memang pada saat itu, Kwee Ceng telah dibuat tak berdaya oleh Nio Cu Ong.

Ia telah ditekan ke tanah, tangan dan kakinya telah dicekal kuat, hingga tenaganya habis, ia tak dapat berkutik.

Ia sangat terkejut, ketika ia merasakan mulut orang bermarga Nio itu mengenai lehernya.

Entah dari mana datangnya, mendadak saja ia mendapatkan tenaga kembali, ia terus memberontak sekuat-kuatnya, hingga Nio Cu Ong tidak dapat menguasainya lebih lama.

Ia tidak langsung menyadari bahwa ia mendapatkan tenaga besar berkat darah ular yang bercampur latihan tenaga dalam dari Tan Yang Cu Ma Giok.

Dengan satu gerakan "Ikan gabus meletik" ia mengeluarkan jeritannya.

Nio Cu Ong bukan hanya membuat cekalannya terlepas, tetapi kedua telapak tangannya juga pecah dan berdarah, darahnya mengalir keluar.

Ia menjadi kaget sekaligus gusar.

Segera ia maju, Kwee Ceng berkelit dengan melompat ke belakang, tetapi Nio Cu Ong sangat gesit, tangannya tiba di pantatnya.

Kali ini, pukulan Nio Cu Ong tidak seperti pukulan Wanyen Kang, pukulan ini mendatangkan rasa sangat sakit.

Karena itu, saking sakit dan kagetnya, Kwee Ceng segera lari sekencang-kencangnya.

Tubuhnya memang ringan. Setelah meminum darah ular, tenaganya bertambah, sehingga Nio Cu Ong tidak dapat segera menangkapnya. Mereka pun berlari-lari di taman, di antara pepohonan dan gundukan-gundukan batu.

Suatu ketika Cu Ong melompat, tangannya menjambak.

Kwee Ceng berayun, bajunya terpegang, baju itu pun robek sebagian. Pantatnya tercakar hingga berdarah, meninggalkan bekas lima jari, sakitnya luar biasa.

Saking takutnya, Kwee Ceng terus berlari.

Kebetulan ia tiba di depan rumah petani milik onghui, ia melompat masuk ke dalam rumah itu.

Di situ ia bersembunyi.

Nio Cu Ong tidak dapat mencari.

Kemudian ia disusul oleh Wanyen Kang, dengan siapa ia berbicara.

Selama itu Kwee Ceng terus diam, hanya telinganya yang mendengar pembicaraan orang-orang itu.

Di dalam hatinya ia berpikir: "Onghui berhati baik, mungkin ia bisa menolongku?" Karena itu, ia keluar dari tempat persembunyiannya, lalu lari ke dalam kamar nyonya besar.

Ia menemukan sebuah kamar yang diterangi lilin, tetapi penghuninya tidak ada. Onghui kebetulan berada di kamar lain.

Ia melihat ke seluruh kamar.

Di sebelah timur ada sebuah lemari besar, ia mendekatinya, hendak membuka pintunya, lalu ia masuk ke dalamnya untuk menyembunyikan diri.

Dengan masih mencekal goloknya, ia menghela napas lega.

Segera terdengar langkah kaki perlahan masuk ke dalam kamar.

Dari sela-sela lemari, Kwee Ceng mengintai.

Ia melihat yang datang itu adalah onghui sendiri.

Nyonya besar itu duduk di samping meja, matanya kosong menatap lilin.

Tidak lama kemudian, Wanyen Kang melangkah masuk.

"Ibu," sapanya.

"Apakah tidak ada orang jahat masuk ke sini?" Onghui menggeleng kepala.

Hanya begitu jawabannya.

Putra itu kemudian keluar, untuk bersama Nio Cu Ong dan yang lainnya pergi mencari ke bagian-bagian lain dari istana itu.

Sebentar kemudian, onghui mengunci pintu.

Ia hendak beristirahat.

"Setelah sebentar ia meniup lilin, aku akan lari dari jendela," pikir Kwee Ceng.

"Aku yakin Adik Yong sudah lama pulang." Hampir pada saat itu, di jendela terdengar suara keras, disusul oleh terbukanya daun jendela dan kemudian melompat masuklah seorang.

Kwee Ceng terkejut, begitu juga onghui. Bahkan nyonya itu mengeluarkan jeritan tertahan.

Orang yang datang itu adalah Yo Tiat Sim yang menyebut dirinya Bok Ek.

Kedatangannya ini pastilah di luar dugaan Kwee Ceng dan onghui.

Kwee Ceng menyangka orang itu sudah mengajak kekasihnya pergi menyingkir.

Onghui dapat menenangkan diri, ia mengamati Bok Ek.

"Sebaiknya kau segera pergi," katanya kemudian.

"Tidak boleh mereka melihat kita." "Terima kasih atas kebaikan onghui," kata Yo Tiat Sim.

"Jika aku tidak datang sendiri untuk menyampaikan terima kasihku, meskipun aku mati, aku tidak akan dapat memejamkan mata." Suara itu bernada sedih.

"Ya, sudahlah," onghui itu menghela napas.

"Dalam kejadian itu, anakku yang salah, dia membuat kalian berdua, ayah dan anak, bersusah hati." Tiat Sim tidak menyahut, ia hanya memandang ke seluruh kamar.

Tiba-tiba ia menjadi sangat berduka, kedua matanya menjadi merah, tanpa dapat ia tahan, air matanya mengalir turun.

Dengan ujung bajunya, ia menyeka air matanya.

Ia melangkah ke tembok, di situ ia menurunkan tombak besi yang tergantung.

Ia meneliti gagang tombak itu.

Tepat enam dim dekat ujung tombak, di situ terukir empat huruf "Tiat Sim Yo-sie", yang artinya, "Istri Yo Tiat Sim".

Lalu ia pegang tombak itu, ia mengusap-usapnya.

Akhirnya, sambil menghela napas ia berkata, "Tombak ini sudah karatan, pertanda sudah lama tidak pernah digunakan lagi." Rupanya onghui heran atas tingkah laku orang itu.

"Aku mohon janganlah kau sentuh tombak itu," katanya perlahan.

"Kenapa?" Tiat Sim bertanya.

"Itulah barang yang paling aku hargai," sahut nyonya besar itu.

"Ah?" Tiat Sim bersuara perlahan, lalu ia gantung tombak itu.

Sekarang ia mengamati mata tombak yang berada di pinggiran tombak itu.

"Ujung mata tombak ini sudah rusak, biarlah besok suruh Thio Bok-jie dari dusun timur memperbaikinya dengan menambah setengah kati besi?" katanya perlahan.

Mendengar kata-kata itu, tubuh onghui bergetar.

Ia hanya diam mengamati Tiat Sim.

Setelah sekian lama, barulah ia dapat membuka mulutnya.

"Kau... kau berkata apa?" tanyanya.

"Aku bilang mata tombak ini sudah rusak," Tiat Sim menyahut, "maka besok sebaiknya suruh Thio Bok-jie dari dusun timur memperbaikinya, dengan menambah setengah kati besi?" Tiba-tiba saja onghui merasa lemas kedua kakinya, ia roboh di kursi.

"Kau... kau siapa?" tanyanya, suaranya bergetar.

"Kenapa... kenapa kau tahu perkataan suamiku pada malam saat kematiannya?" Hancur hati onghui ini yang sebenarnya tidak lain dari Pauw Sek Yok, atau nyonya Yo Tiat Sim.

Rumah tangganya telah runtuh, keluarga pun tidak ada. Bagaimana ia bisa percaya suaminya telah meninggal dunia? Dengan terpaksa ia mengikuti Wanyen Lieh pergi ke Utara.

Ia tidak dapat menampik bujukan pangeran itu yang memperlakukannya dengan sangat baik. Akhirnya, ia menyerahkan diri dan dijadikan onghui atau selir.

Sudah delapan belas tahun ia tinggal di istana. Selama itu, wajahnya tidak banyak berubah.

Sebaliknya, Yo Tiat Sim yang harus hidup dalam pengembaraan, ia tidak lagi seperti masa mudanya. Karena itu, sekalipun mereka berada di dalam sebuah kamar, Pauw Sek Yok tidak dapat langsung mengenali suaminya.

Yo Tiat Sim tidak menjawab, ia hanya melangkah ke samping meja, untuk menarik laci meja itu.

Di dalamnya tersimpan beberapa potong pakaian pria, baju dan celana biru.

Itulah pakaian yang ia pakai dulu.

Ia mengambil sepotong baju, lalu mengukurkannya pada tubuhnya: "Bajuku sudah cukup dipakai.

Tubuhmu lemah, kau pun sedang mengandung. Sebaiknya kau beristirahat, tak usah kau membuatkan pakaian lagi untukku?" Sek Yok terkejut.

Ia ingat betul, itulah kata-kata suaminya dulu ketika ia sedang hamil membuatkan sepotong baju baru.

Ia kemudian bangkit, mendekati Tiat Sim, lalu menarik baju pria itu. Kemudian ia menggulung lengan bajunya, hingga ia dapat melihat sebuah tanda bekas luka di lengan kiri pria itu.

Sekarang ia tidak ragu lagi, maka langsung saja ia menerjang suaminya itu dan merangkulnya erat-erat seraya menangis sangat sedih.

"Aku tidak takut!" katanya kemudian.

"Cepat kau bawa aku pergi. Aku akan mengikutimu ke dunia lain, untuk mati bersama. Aku lebih suka menjadi setan agar tetap bersamamu!" Tiat Sim merangkul istrinya, air matanya turun bercucuran.

"Kau lihat, apakah aku setan?" kata suaminya kemudian.

Sek Yok memeluknya erat-erat.

"Tidak peduli kau manusia atau setan, aku tidak dapat melepaskanmu!" katanya.

Hanya sejenak kemudian ia bertanya: "Mungkinkah kau belum mati? Mungkinkah kau masih hidup?" Tiat Sim hendak menyahut istrinya ketika mereka mendengar suara Wanyen Kang dari luar kamar: "Ibu, kenapa kau bersedih lagi? Dengan siapa kau berbicara?" Sek Yok kaget, tetapi ia kemudian menyahut: "Aku tidak apa-apa, aku hendak tidur." Wanyen Kang tidak langsung pergi, ia hanya berjalan mengitari rumah itu.

Ia menjadi curiga sebab tadi jelas ia mendengar suara orang berbicara.

Di pintu ia berhenti dan mengetuk perlahan beberapa kali.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment