Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 69

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 69

"Kau minggir!" katanya sengit.

"Hari ini aku mesti mengadu jiwa dengannya, atau aku tidak hendak berhenti!" Wajah si nona tampak muram; ia memandang tajam kepada si pemuda.

Tiba-tiba tangannya merogoh ke saku, mengeluarkan sebilah pisau belati yang langsung ia tusukkan ke dadanya sendiri.

Bok Ek kaget bukan main. Ia lupa pada tangannya yang sakit, lalu menangkis tusukan itu. Akibatnya, ia melukai anak itu karena si nona tidak sempat membatalkan tikamannya.

Para penonton merasa dongkol dan berduka. Mereka tidak menyangka kejadian akan seperti ini dan tidak berani mencampuri urusan tersebut.

Kwee Ceng tidak dapat berdiam diri lagi. Selagi si kongcu hendak menaiki kudanya, Kwee Ceng melangkah ke tengah kalangan dan berseru, "Halo, sahabat! Perbuatanmu ini tidak tepat!"

Kongcu itu berpaling. Ketika melihat anak muda itu, ia sempat tercengang, namun hanya sebentar, lalu ia tertawa.

"Memangnya kau mau apa?" tantangnya. "Bagaimana yang baru dianggap tepat?"

Semua pengiring kongcu itu tertawa keras. Mereka melihat penampilan orang yang tampak polos, ditambah logat bicaranya yang berbeda. Sikap dan logat itu telah ditiru oleh kongcu mereka. Tentu saja mereka menganggapnya lucu.

Kwee Ceng melongo sejenak. Ia tidak segera menyadari bahwa orang itu sedang mempermainkannya.

"Kau harus menikah dengan baik-baik dengan nona ini!" jawab Kwee Ceng kepada si kongcu.

Si kongcu memiringkan kepalanya lalu tertawa mengejek. "Bagaimana jika aku tidak sudi menikahinya?"

"Jikalau kau tidak sudi menikah dengannya, apa perlunya kau maju dalam pertandingan?" tanya Kwee Ceng. "Apakah kau tidak melihat bendera yang menjelaskan bahwa ini adalah pibu untuk pernikahan?"

Kongcu itu tidak menjawab, ia hanya mengawasi dengan tajam. "Sebenarnya kau hendak main gila denganku atau bagaimana?" tanyanya tegas.

Kwee Ceng tidak menjawab, melainkan balik bertanya, "Nona ini cantik dan ilmu silatnya pun sempurna, kenapa kau tidak sudi menikah dengannya? Jikalau kau tidak hendak menikah dengan nona seperti ini, di belakang hari ke mana lagi kau hendak mencarinya?"

"Eh, kau tidak mengerti urusan! Bicara denganmu sia-sia saja!" kata si kongcu. "Kau sebenarnya murid siapa? Apa sebutanmu kepada Oey Yok Su dari Pulau Tho Hoa To?"

Kwee Ceng menggelengkan kepalanya. "Siapa guruku, tidak dapat aku beritahukan padamu! Aku tidak tahu Oey Yok Su itu orang macam apa."

"Habis, siapa yang mengajarkanmu ilmu menotok istimewa dari Pulau Tho Hoa To itu?" tanya si kongcu lagi.

"Ilmu menotok jalan darah itu diajarkan oleh guruku yang kedua," jawab Kwee Ceng.

"Siapa gurumu yang kedua itu?"

"Aku tidak mau memberitahu," jawab Kwee Ceng pula.

"Baiklah, masa bodoh!" kata pemuda itu sambil memutar tubuh.

Kwee Ceng mengulurkan tangan untuk mencegah. "Eh, kenapa kau hendak pergi begitu saja?"

"Habis kenapa?" tanya si kongcu.

"Bukankah aku telah memberimu nasihat agar kau menikahi nona ini?" kata Kwee Ceng.

Kongcu itu tertawa dingin, lalu melangkah lebar untuk pergi. Melihat itu, Bok Ek menghampiri Kwee Ceng. Sedari tadi ia mendengar percakapan mereka. Meskipun dongkol terhadap si kongcu, ia tahu anak muda ini berniat baik dan berpihak kepadanya. Ia hanya merasa orang ini terlalu muda dan belum mengenal dunia.

"Saudara kecil, jangan kau ladeni dia!" katanya. "Asal nyawaku masih ada, sakit hati ini tidak dapat tidak dilampiaskan!"

Ia kemudian berkata dengan suara nyaring, "Anak muda, kau tinggalkan saja dia!"

Kongcu itu berpaling dan tertawa. "Aku sudah bilang, tidak mungkin aku memanggil mertua kepadamu, maka kenapa kau begitu gigih ingin mengetahui marga dan namaku?"

Kwee Ceng mulai hilang kesabaran. Ia melompat ke arah pemuda itu. "Kalau begitu, kau bayar kembali sepatu si nona!" bentaknya.

Kongcu itu menatap tajam. "Kau gemar mencampuri urusan yang bukan urusanmu!" katanya. "Bukankah kau menaruh hati kepada nona itu?"

"Bukan!" jawab Kwee Ceng sambil menggelengkan kepala. "Sebenarnya kau hendak membayar kembali sepatu itu atau tidak?"

Dengan mendadak, Kwee Ceng menggerakkan kedua tangannya, mencekal kedua nadi si kongcu. Ia menggunakan salah satu jurus dari ilmu silat Kim-na-ciu yang berjumlah tujuh puluh dua jurus, sebuah ilmu untuk menangkap tangan lawan.

Kongcu itu terkejut sekaligus gusar. Ia memberontak tetapi tidak berdaya. "Kau mau mati, ya?" tanyanya sambil melayangkan tendangan ke arah bawah perut si anak muda.

Kwee Ceng tidak menangkis atau berkelit. Dengan gesit, ia menarik tangan si kongcu hingga tubuh orang itu terlempar; dengan begitu, ia bebas dari tendangan tersebut.

Kongcu itu memiliki tubuh yang ringan. Walaupun terlempar, ia hanya terpelanting dan tidak sampai jatuh ke tanah. Meski begitu, ia sudah kalah satu babak. Ia menjadi sangat gusar.

"Kau sudah bosan hidup, bocah?" serunya.

Kwee Ceng mengawasi dan menggelengkan kepala. "Buat apa aku bertempur denganmu?" katanya. "Jika kau tidak mau menikahinya, sudah saja. Kau bayar kembali sepatunya!"

Orang banyak menyangka pemuda ini hendak menegakkan keadilan, tetapi mereka kecewa karena akhirnya Kwee Ceng hanya meminta hal sepele itu.

Kongcu itu sebenarnya gentar terhadap Kwee Ceng. Keinginan Kwee Ceng untuk tidak berkelahi sebenarnya cocok dengan keinginannya. Namun, ia tidak mau mengalah begitu saja dan menyerahkan sepatu si nona, sebab ia sedang berada di depan orang banyak. Maka, seraya menyingkap jubahnya, ia memutar tubuh dan tertawa dingin.

"Apakah kau hendak pergi?" tegur Kwee Ceng seraya menyambar jubah orang itu.

Si kongcu lantas menggunakan kelincahannya. Ia berkelit dan mengibaskan jubahnya untuk menutupi kepala Kwee Ceng. Kwee Ceng gelagapan, dan saat itu pula tulang rusuknya dihajar dua kali oleh si kongcu yang tidak menyia-nyiakan kesempatan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment