Chapter 149
Tanpa ragu, ia melompat maju. Sesaat kemudian, mereka berdua berhasil mengangkat tutup peti yang belum dipaku itu.
Kwee Ceng mengangkat tutup peti sambil bersiap untuk menyerang jika ia menemukan mayat hidup. Namun, ia terkejut saat melihat Bok Liam Cu terbaring di dalam peti mati tersebut. Yo Kang pun heran dan segera mengulurkan tangan untuk membantu wanita itu bangkit.
"Yong-jie, kemarilah!" seru Kwee Ceng.
"Kau lihat siapa ini?"
"Tidak, aku tidak mau melihat-lihat!" sahut sang gadis.
"Tapi ini adalah Kakak Bok!" desak Kwee Ceng.
Baru saat itulah Oey Yong berpaling. Ia melihat Yo Kang menggendong seorang bayi yang wajahnya mirip dengan Liam Cu. Ia pun maju ke arah peti dan melihat Liam Cu terbaring dengan wajah pucat, air mata meleleh, dan tubuh yang tidak bergeming.
Sebagai ahli totok, Oey Yong segera menolong Nona Bok itu dengan menotok beberapa bagian tubuhnya.
"Kakak Bok, mengapa kau berada di sini?" tanya Oey Yong kemudian.
Rupanya, Liam Cu telah lama tertotok sehingga jalan darahnya terhambat, tubuhnya kaku, dan napasnya tidak lancar. Setelah Oey Yong membantu memulihkan aliran darahnya, barulah gadis itu bisa membuka mulut.
"Aku ditawan oleh seseorang," katanya.
Oey Yong menyadari bahwa jalan darah di telapak kaki Liam Cu, yaitu titik *yongcoan-hiat*, telah ditotok. Karena jarang ada ahli silat Tionghoa yang menggunakan ilmu totok semacam itu, ia segera menduga siapa penyerangnya.
"Bukankah si keparat itu adalah Tuan Muda Auwyang dari Wilayah Barat?" tanyanya.
Liam Cu tidak menjawab, ia hanya mengangguk.
Dahulu, ketika Liam Cu hendak menolong Yo Kang untuk memberi kabar kepada Bwee Tiauw Hong, ia ditawan oleh Tuan Muda Auwyang dan dibawa pergi oleh pemuda yang sempat diusir oleh Oey Yok Su itu. Beberapa kali ia dipaksa oleh tuan muda tersebut, namun ia terus melawan. Baru kemudian, setelah pemuda itu menggunakan ilmu lunak dan bujuk rayu, ia tidak berdaya dan akhirnya menyerah.
Kemudian, saat Tuan Muda Auwyang tergila-gila pada Nona Thia hingga ia diusir, ia tidak sempat membawa Bok Liam Cu saat melarikan diri. Beruntung, Kwee Ceng dan kawan-kawan yang sedang mencari Wanyen Lieh menemukannya sehingga ia tertolong; jika tidak, ia pasti sudah tewas di dalam peti mati tersebut.