Chapter 114
"Umpama dalam beberapa tahun ini, Cianpwee tidak mendapat suatu sakit keras dan juga tidak menemui bahaya apa pun, aku mengundang Cianpwee untuk berkunjung ke Pek To San guna berdiam beberapa hari di sana," ucap Ang Cit Kong sembari tertawa.
"Nyata kau telah menantang aku!" katanya.
"Tapi aku, si pengemis bangkotan, tidak biasanya mengumbar janji! Pamanmu tidak takut padaku, dan aku juga tidak takut pada pamanmu itu! Dua puluh tahun yang lalu, kita sudah mengadu kepandaian, kita ibarat setengah kati sama dengan delapan tail, jadi tidak usahlah kita bertempur lagi!" Tiba-tiba ia menambahkan dengan membentak bengis, "Masih kau tidak hendak menyingkir jauh-jauh?" Auwyang Kongcu terperanjat, hatinya berpikir, "Kepandaian pamanku saja belum separuhnya aku wariskan, orang tua ini rupanya tidak berdusta, mana sanggup aku menjadi tandingannya?" Karena itu, ia segera menjura, lalu melirik mendelik kepada Oey Yong sebelum mengundurkan diri masuk ke dalam rimba.
Ketiga penggembala ular itu lantas membunyikan siulan aneh untuk mengusir ular-ular mereka. Semua binatang berbisa itu pun berbalik tubuh dan mengesot kembali ke dalam hutan. Sebentar saja, tempat itu bersih dari semua binatang berbisa, hanya menyisakan tanah yang penuh dengan lendir licin mengkilap.
"Cit Kong, belum pernah aku melihat ular demikian banyak," kata Oey Yong.
"Benarkah ular itu dipelihara mereka?" Cit Kong tidak lantas menyahut. Ia membuka mulut cupu-cupunya untuk menenggak arak beberapa tegukan, kemudian menyeka peluh di dahinya dengan lengan baju. Ia pun menghela napas panjang sebelum berkata berulang kali, "Sungguh berbahaya! Sungguh berbahaya!"
"Eh, Cit Kong, kenapakah?" tanya kedua pemuda-pemudi itu heran.
"Untuk sejenak aku dapat mengusir ular itu," sahut si pengemis kemudian. "Umpama tadi mereka benar-benar menerjang semuanya, bagaimana cara ribuan binatang itu ditangkis? Syukur beberapa bocah itu belum tahu apa-apa, mereka tidak mengetahui asal-usulku, jadi mereka terkena gertakanku. Coba si racun tua bangkotan itu ada di sini, oh anak-anak, kalian bisa celaka!"
"Jikalau kami tidak sanggup melawan, kami kabur!" ujar Oey Yong.
Cit Kong tertawa. "Aku si pengemis tua tidak takut padanya! Tetapi kalian berdua, meski ingin menyingkir, tidak bakal lolos dari tangan si racun bangkotan itu."
"Siapakah paman orang itu? Benarkah dia demikian lihai?" tanya Oey Yong.
"Kau sangka ia tidak lihai? Apakah aku belum pernah mendengar disebut-sebutnya Tong Shia See Tok, Lam Tee Pak Kay, dan Tiong Sin Thong?" Oey Yong pernah mendengar nama-nama itu dari pembicaraan Khu Cie Kee dengan Ong Cie It. Sekarang, mendengar perkataan pengemis itu, hatinya girang.
"Aku tahu, aku tahu!" sahutnya. "Kau sendiri, Lojinkee, adalah Pak Kay, dan Kauwcu dari Coan Cin Kauw ialah Tiong Sin Thong."
"Benar! Adakah ayahmu yang memberitahumu? Ayahmu itu ialah Tong Shia dan Auwyang Hong itulah See Tok! Orang nomor satu paling pandai di kolong langit ini, yaitu Ong Cinjin, sudah meninggal dunia. Maka sekarang tinggal kita berempat yang kepandaiannya rata-rata setengah kati sama dengan delapan tail, hingga kita jadi saling memalui! Ayahmu lihai tidak? Aku sendiri si pengemis lihai tidak?"
Oey Yong diam sejenak, agaknya ia berpikir. "Ayahku orang baik-baik, mengapa dia dipanggil Tong Shia?" tanya kemudian.
Ang Cit Kong tertawa. "Dia seorang yang kukuh dan licin, dia dari kaum kiri, mustahilkah dia bukan si sesat?" sahutnya. "Berbicara mengenai ilmu silat, Coan Cin Kauw adalah yang sejati. Terhadapnya, aku si pengemis tua takluk benar-benar dari mulut ke hati." Ia menoleh kepada Kwee Ceng untuk menegaskan, "Kau telah belajar ilmu dari Coan Cin Kauw, bukankah begitu?"
"Totiang Ma Goik telah mengajarkan teecu selama dua tahun," sahut si anak muda hormat.
"Nah, itu dia. Kalau tidak, tidak mungkin dalam tempo pendek satu bulan kau dapat mempelajari Hang Liong Sip-pat Ciang dari aku."
"Habis, siapakah itu Lam Tee?" tanya Oey Yong.
"Dialah seorang raja," sahut Cit Kong.
Kwee Ceng dan Oey Yong heran. "Eh, seorang raja demikian lihai ilmu silatnya?" tanya mereka.
"Memang ia seorang raja, tetapi dalam hal kepandaiannya, ayahmu dan aku jeri tiga bagian terhadapnya," sahut si pengemis. "Api dari Selatan mengalahkan Emas dari Barat, maka dialah si penakluk dari si bisa bangkotan, Auwyang Hong."
Dua muda-mudi ini kurang mengerti, tetapi mereka diam saja karena melihat si pengemis termenung, sehingga mereka tidak berani bertanya lebih jauh. Cit Kong memandangi mega, alisnya dikerutkan seolah sedang memikirkan soal besar yang belum ditemukan pemecahannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata, ia berjalan pulang ke pondok. Mendadak terdengar suara robekan; ternyata bajunya tersangkut paku di pintu dan sobek.
"Aih!" seru Oey Yong yang mengikuti. Namun, si pengemis seolah tidak menyadari hal itu. Oey Yong pun berkata, "Nanti aku tambalkan!" Ia lantas mencari nyonya pemilik pondok untuk meminjam benang dan jarum, kemudian menjahit baju sobek itu.
Cit Kong masih termenung ketika ia melihat jarum di tangan si nona. Tiba-tiba ia merampas jarum itu dan membawanya lari ke luar. Oey Yong dan Kwee Ceng heran, mereka segera mengikuti. Sesampainya di luar, Cit Kong mengibas tangannya yang memegang jarum, lalu terlihat satu sinar berkelebat. Nyata jarum itu telah dipakai untuk menimpuk. Oey Yong mengawasi jarum itu meluncur, lalu jatuh menancap di tanah. Ternyata jarum itu menancap tepat pada seekor walang. Saking kagum, ia bersorak.
Cit Kong mengeluarkan napas lega. "Berhasil! Berhasil!" katanya. "Ya, beginilah."
Oey Yong dan Kwee Ceng tercengang. Ang Cit Kong berkata, "Auwyang Hong si tua bangka beracun itu paling gemar memelihara ular dan ulat berbisa, semua binatang jahat itu dapat mendengarkan segala titahnya. Itulah usaha yang tidak gampang." Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, "Aku rasa bocah she Auwyang ini bukannya makhluk yang baik. Jikalau nanti ia bertemu pamannya, mungkin ia menghasut yang bukan-bukan. Maka berbahayalah kalau kita bertemu pamannya itu. Jadi, aku si pengemis tua mau tidak mau mesti mempunyai senjata untuk melawannya dan mengalahkan segala binatang berbisa itu!"
Oey Yong bertepuk tangan. "Jadi kau hendak menggunakan jarum untuk menancap setiap ular berbisa itu di tanah!" katanya.
Ang Cit Kong membuka lebar matanya ke arah si nona. "Ah, kau iblis cilik yang licin!" ujarnya. "Orang baru menyebut bagian atas, kau sudah lantas dapat mengetahui bagian bawahnya!"
"Bukankah kau telah mempunyai obat yang lihai?" tanya Oey Yong. "Bukankah kalau obat itu dicampuri arak, asal kau menyemburnya, ular berbisa itu tidak berani mendekat padamu?"
"Daya itu cuma dapat dipakai dalam waktu singkat," Ang Cit Kong memberi keterangan. "Sudah, jangan kau ngoceh saja, jangan mengganggu aku. Aku hendak melatih diri dalam ilmu Boan-thian Hoa Ie. Aku hendak mendapatkan kepastian bagaimana kesudahannya ilmu itu kalau memakai jarum."
"Kalau begitu, nanti aku menolongmu membeli jarum," kata si nona yang terus berlari keluar.
Ang Cit Kong menghela napas. Katanya seorang diri, "Sudah ada si tua bangkanya yang cerdik licin bagaikan iblis, sekarang ada gadisnya yang serupa cerdik licinnya!"
Tidak lama kemudian, Oey Yong kembali dari pasar dengan membawa dua bungkus besar jarum jahit dari keranjang sayurannya. "Semua jarum di kota ini telah kau beli hingga habis!" kata si nona sambil tertawa. "Maka besok semua orang laki-laki di sini bakal digerutu habis-habisan oleh istrinya!"
"Bagaimana bisa begitu?" tanya Kwee Ceng.
"Sebab mereka bakal dicaci tidak berguna kalau pergi ke pasar tetapi tidak mampu membeli jarum!" sahut si nona sambil tertawa. "Sebatang pun tidak ada!"
Ang Cit Kong tertawa tergelak. "Dasar aku si pengemis tua yang cerdik! Aku tidak menghendaki istri supaya tidak usah disiksa pihak perempuan! Nah, mari kita berlatih! Dua bocah, bukankah kau ingin aku si pengemis tua mengajarkan cara menggunakan senjata rahasia? Apakah kalian sanggup?"
Oey Yong tertawa dan mengikuti di belakang pengemis itu.
"Cit Kong, aku tidak mau belajar!" kata Kwee Ceng.
Ang Cit Kong heran. "Kenapa, eh?" tanyanya.
"Lojinkee sudah mengajari aku banyak ilmu, dalam sesaat ini aku tidak sanggup mempelajarinya semua," aku Kwee Ceng.
Ang Cit Kong melongo, namun sebentar saja ia mengerti. Ia tahu anak ini jujur dan tidak serakah akan banyak pelajaran, sehingga ia hanya beralasan tidak sanggup belajar lebih jauh. "Ah, anak ini baik hatinya," puji Cit Kong di dalam hati. Ia lantas menarik tangan Oey Yong, "Mari kita saja yang berlatih."
Kwee Ceng tidak mengikuti; ia pergi ke belakang bukit untuk memantapkan lima belas jurus ilmu silat Hang Liong Sip-pat Ciang miliknya sendiri. Ia merasakan kemajuan dan hatinya girang bukan main.
Berselang sepuluh hari, selesailah Oey Yong mempelajari "Boan-thian Hoa Ie Teng Kim-ciam", yaitu ilmu menimpuk dengan jarum. Dengan sekali ayunan tangan, ia dapat melepaskan belasan batang jarum, hanya saja ia belum dapat mengarahkan semua itu ke setiap jalan darah.
Pada suatu hari setelah berlatih, Cit Kong tidur mendengkur di bawah pohon cemara. Oey Yong membiarkannya. Mengetahui bahwa mereka segera akan berpisah, ia lari ke pasar membeli beberapa rupa barang serta bumbu untuk memasak hidangan lezat bagi si pengemis. Di tengah jalan pulang, sambil menenteng belanjaan dengan tangan kiri, tangan kanannya saban-saban diayunkan, berlatih kosong dengan timpukannya. Ketika hampir sampai di tempat penginapan, telinganya mendengar kelentengan kuda yang nyaring. Ia lantas menoleh.