Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 18

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 18

Wajah Khu Cie Kee berubah.

Cu Cong mahir mencuri dan mencopet, maka ia dijuluki Biauw Ciu Sie-seng, si Mahasiswa Tangan Lihai.

Dengan "Tangan Lihai" diartikan lihai mencopetnya.

Kepandaiannya menyembunyikan air adalah kepandaian umum kalangan pesulap Tiongkok, suatu ilmu turun-temurun yang hingga kini mengagumkan orang di Eropa dan kepulauan selatan.

Mungkin pembaca pernah menyaksikan pertunjukan sulap semacam itu.

Satu kali ia jungkir balik, di tangannya ada sepelas ikan emas, dua kali ia jungkir balik di atas pentas ditambah semangkuk air tawar, air mana dapat bertambah menjadi banyak.

Dan Cu Cong kini mempermainkan mata Tiang Cun Cu dengan ilmu kepandaiannya itu.

"Ah!" seru si imam kemudian.

"Kepandaianmu ini tidak dapat dibilang orang minum arak!" "Kau sendiri, Totiang, apakah kau juga minum arak?" tanya si Manusia Aneh membalikkan.

"Arakku berkumpul di dalam kendi, arakmu berkumpul di lantai!

Apa perbedaannya?" Ia lantas berjalan mondar-mandir sampai ia terinjak lantai yang basah oleh arak Khu Cie Kee, di situ ia terpeleset, tubuhnya roboh menabrak tubuh si imam.

Khu Cie Kee segera menyambar untuk menahan tubuh orang itu.

Setelah dapat berdiri kembali, Cu Cong lompat mundur, lalu ia memutar tubuhnya, sembari berputar, mulutnya mengeluarkan suara: "Syair yang bagus, syair yang bagus!

Sejak zaman purbakala di pertengahan musim gugur 'rembulan gilang-gemilang' ... Di waktu tibanya angin yang sejuk 'malam yang jernih terang' ... Suatu hari ... udara membuatnya.

Jalan susu bagaikan tenggelam ... Ikan dan naga di empat penjuru lautan ... megah seperti siluman air ...?" Panjang nada syairnya.

Khu Cie Kee heran hingga tertegun.

"Itulah syairku yang kutulis di harian Tiong Ciu tahun lalu, yang masih belum selesai," katanya dalam hati.

"Syair itu kusimpan, niatku adalah untuk nanti menyambungnya, belum pernah kutunjukkan syairku itu kepada orang, mengapa sekarang ia dapat mengetahuinya?" Lantas ia merogoh sakunya, untuk mencari syair itu, tetapi ia tertegun pula.

Tidak ada syair itu di dalam sakunya!

Cu Cong seolah tidak mempedulikan orang yang terheran-heran itu, ia membentangkan kertas di atas meja.

Itulah kertas berisi syair yang baru ia bacakan.

"Totiang lihai ilmu silatnya, tidak kusangka, kau juga pandai ilmu surat!" katanya memuji, "Sungguh aku kagum!" "Bagus!" seru Cie Kee yang mengerti bahwa benar-benar ia telah dipermainkan orang.

Tentu saja ia sangat penasaran bahwa orang itu telah mencopet syairnya tanpa ia sadari. "Kau benar-benar lihai!

Sekarang pintaku ingin memohon ajaran!" Rupanya barusan selagi ia pura-pura terpeleset, selagi si imam memegangnya, Biauw Ciu Sie-seng memanfaatkan waktu itu untuk merogoh kantong si imam.

Tidak lama kemudian, sebelah tangan si imam melayang.

Cu Cong berkelit ke samping.

"Totiang, benarkah kau berniat mencari penyelesaian dengan kepalan dan kaki?" ia menegaskan.

"Benar!" sahut si imam memberikan kepastian.

Dan menyerang pula, kali ini tiga kali beruntun serangannya itu, anginnya mendesir.

Thio A Seng melihat saudaranya sangat terdesak, sampai saudara itu sulit membela diri, ia melompat untuk menghalangi, sambil melompat, ia menyerang ke dada si imam.

Khu Cie Kee dapat melihat serangan itu, ia lantas menangkis.

Hebatnya, tangkisan si imam membuat tangannya sakit dan gemetar, terasa kebas.

Inilah lawan tangguh yang pertama kali ia temukan.

Coan Kim Hoat dapat menduga perasaan saudaranya itu.

"Totiang, harap kau jangan katakan kami tidak tahu aturan!" ia berkata sambil mengisyaratkan kepada Lam Hie Jin dan Han Siauw Eng, seraya ia melompat maju untuk menyerang.

Lam San Ciauw-cu si Tukang Kayu dari Gunung Selatan dan Wan Lie Kiam si Gadis Watsudah lantas menuruti ajakan saudaranya itu, Manusia Aneh yang keempat.

"Kalian majulah berdelapan!" tantang Tiang Cun Cu menyaksikan orang-orang mulai turun tangan.

"Jangan mencari gara-gara!" kata Kwa Tin Ok dengan dingin.

Khu Cie Kee tidak menggubris sindiran itu, ia menyerang Lam Hie Jin dengan tangan kirinya, yang ditangkis oleh Lam San Ciauw-cu dengan kedua tangannya, dibawa ke depan dadanya.

Tangkisannya hebat ini.

"Lam Sieya sungguh lihai!" puji si imam mendapatkan tangkisan itu.

Tapi justru itu sekonyong-konyong wajahnya berubah.

Ia pun segera berseru dengan ejekan: "Bagus sekali, kau masih menjanjikan bantuan!

Biar di sana ada ribuan tentara dan tidak peduli itu di matanya!" Thio A Seng merasa pihaknya diejek.

"Kita ada tujuh bersaudara!" katanya.

"Untuk apa menjanjikan bantuan lagi!" Kwa Tin Ok tidak sependapat dengan saudaranya yang kelima itu.

Ia cacat mata tetapi telinganya sangat awas.

Ia telah mendengar puluhan orang berlari-lari mendatangi restoran itu, suara mana bercampur suara bentrokan senjata-senjata tajam.

Maka ia segera berdiri.

"Semua mundur!" ia berseru.

"Siapkan senjata!" Thio A Seng dan yang lain segera lari kembali ke tempat duduk masing-masing, untuk mengambil senjata mereka.

Hampir pada saat itu, di tangga loteng terdengar hiruk pikuk langkah kaki yang keras, lalu beberapa puluh orang tampak bergegas naik.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment