Chapter 127
"Senior Kiu sungguh hebat. Kebetulan sekali dia datang kemari sekarang, sehingga selanjutnya aku tidak perlu mengkhawatirkan kedua musuh besarku itu lagi. Sebentar lagi silakan kalian beristirahat di dalam kamar, jangan keluar. Setelah lewat malam ini, bahaya tidak akan ada lagi!" Oey Yong tertawa.
"Aku ingin menonton keramaian, bolehkah?" tanyanya jenaka.
Tuan rumah berpikir sejenak. "Aku hanya khawatir musuh datang dalam jumlah banyak sehingga aku tidak dapat melayani kalian," katanya. "Tetapi baiklah, asalkan kalian tetap berada di sampingku dan jangan menjauh. Dengan adanya Senior Kiu di sini, segala tikus itu tentulah tidak berarti!"
Oey Yong bertepuk tangan dengan gembira. "Aku memang paling gemar menonton orang berkelahi!" katanya. "Saat kemarin kau menghajar pangeran cilik itu, sungguh menyenangkan untuk menyaksikannya!"
"Namun, yang akan datang malam ini adalah gurunya," Liok Chungcu memberitahu. "Dia sangat hebat, karena itulah aku khawatir."
"Ah, Tuan Rumah, mengapa kau bisa mengetahui hal itu?" tanya Oey Yong heran.
"Nona, kau belum mengerti tentang hebatnya ilmu silat," kata tuan rumah. "Saat pangeran cilik melukai anakku dengan totokan jarinya, kepandaian itu sama dengan totokan lima jari pada tengkorak."
"Aku mengerti sekarang!" kata Oey Yong. "Sama halnya dengan tulisan Souw Tong Po yang berbeda dengan tulisan Oey San Kok, seperti bedanya lukisan Too Koen Hong dari lukisan Cie Hie! Hanya ahli yang segera dapat membedakannya!"
"Kau sungguh cerdas, Nona!" tawa tuan rumah.
Oey Yong menarik tangan Kwee Ceng. "Mari kita lihat orang tua berkumis ubanan itu!" katanya. "Sebenarnya ilmu apa yang sedang ia yakinkan?"
"Eh, jangan, Nona!" cegah tuan rumah terkejut. "Jangan membuatnya gusar!"
"Oh, tidak apa-apa!" kata Oey Yong sambil tertawa. Ia bangkit untuk berlalu.
Liok Chungcu hanya bisa duduk di tempatnya. Ia tidak dapat bergerak leluasa sehingga merasa gelisah. "Nona ini sangat nakal!" katanya. "Mana boleh orang diintai?"
Terpaksa ia menyuruh bawahannya menggotongnya ke ruang tulis untuk mencegah Oey Yong. Dari kejauhan, ia melihat Oey Yong dan Kwee Ceng sedang mengintai melalui jendela. Oey Yong mendengar orang datang, ia menoleh dan menggoyangkan tangannya untuk memberi tanda agar tidak berisik, lalu memberi isyarat agar tuan rumah mendekat. Liok Chungcu bimbang, tetapi akhirnya mendekat juga. Ia khawatir jika menolak, nona itu akan bertingkah. Dibantu kedua pengawalnya, ia turut mengintai.
Oey Yong membuat sebuah lubang kecil di kertas jendela. Tuan rumah seketika merasa heran. Kiu Cian Jin duduk bersila dengan kedua mata tertutup rapat. Dari mulutnya terus-menerus keluar hawa yang menyerupai asap atau kabut. Meskipun luas pengetahuannya, ia tidak mengerti ilmu apa itu. Maka, ia menarik ujung baju Kwee Ceng untuk menyuruhnya berhenti mengintai.
Kwee Ceng yang berbudi pekerti menghormati tuan rumah. Ia sadar bahwa tidak pantas mencuri lihat orang lain, maka ia segera menarik Oey Yong pergi. Bersama tuan rumah, mereka masuk ke bagian dalam rumah.
"Bagus sekali permainan orang tua itu!" kata Oey Yong tertawa. "Di dalam perutnya seolah ada api yang menyala!"
"Kau tidak tahu, Nona," kata tuan rumah. "Itulah sejenis ilmu yang sangat hebat!"
"Mungkinkah mulutnya nanti dapat menyemburkan api dan membakar orang sampai mati?" tanya Oey Yong sungguh-sungguh karena ia heran melihat asap yang keluar dari mulut tamu tua itu.
"Kalau itu benar-benar api, rasanya tidak mungkin," kata tuan rumah. "Aku percaya itu adalah sejenis latihan tenaga dalam. Bukankah bunga dan daun pun dapat digunakan sebagai senjata rahasia untuk melukai orang?"
"Ya, menghajar orang dengan kuntum bunga!" seru Oey Yong.
"Nona benar-benar cerdas!" puji tuan rumah lagi.
Kemudian, ia memerintahkan Koan Eng untuk meronda di sekitar rumah dengan saksama. Pesannya, jika ada orang yang bersikap tidak biasa, mereka harus disambut dengan hormat dan diundang masuk. Menjelang sore, Liok Chungcu memerintahkan untuk menyalut puluhan lilin besar agar ruang utama menjadi terang benderang. Di tengah ruangan, meja perjamuan telah disiapkan.
Kiu Cian Jin diundang dan dipersilakan duduk di kursi utama. Kwee Ceng dan Oey Yong menemani, sedangkan tuan rumah dan putranya duduk di posisi paling bawah. Liok Chungcu memberi hormat kepada tamunya dengan secawan arak. Ia tidak berani menanyakan maksud kedatangan orang itu dan hanya membicarakan urusan lain yang tidak berkaitan.
"Saudara Muda Liok," kata Kiu Cian Jin kemudian. "Kau adalah pemimpin di Desa Kwie-in ini, ilmu silatmu pun tidak sembarangan. Apakah kau sudi memperlihatkan satu atau dua jurus kepadaku agar mataku terbuka?"
"Kepandaianku tidak berarti, aku tidak berani mempertunjukkannya di hadapan Senior," kata tuan rumah dengan hormat. "Lagipula, aku sudah lama cacat. Sedikit pelajaran yang kudapat dari guruku pun sudah lama kulupakan."
"Siapakah gurumu itu, Saudara Muda?" tanya tamu itu. "Jika kau menyebutkannya, mungkin aku mengenalnya."
Liok Chungcu menghela napas panjang, wajahnya menjadi pucat. "Kelakuanku tidak layak, aku tidak dapat diterima lagi oleh guruku. Karena itulah aku malu menyebut namanya," katanya setelah terdiam sejenak.
Mendengar itu, Koan Eng berduka. Baru sekarang ia tahu bahwa ayahnya telah diusir oleh sang guru. Ia benar-benar tidak tahu bahwa ayahnya memiliki ilmu silat yang hebat dan menyimpan kisah yang menyedihkan.
"Tuan Rumah Liok," kata si orang tua, "kau adalah pemimpin di sini. Mengapa kau tidak menggunakan kesempatan ini untuk membangun diri dan melampiaskan ketidakpuasanmu? Dengan jalan ini, kau bisa membuat tetua partaimu sadar dan menyesal."
"Aku cacat dan bodoh. Meskipun kata-kata Senior adalah nasihat yang sangat berharga, aku menyesal tidak dapat menerimanya," sahut Liok Chungcu. Ia selalu berbicara dengan rendah hati.
"Tuan Rumah terlalu rendah hati. Di depan mataku ada satu jalan, hanya saja entahlah, apakah Tuan Rumah memang tidak melihatnya atau tidak memikirkannya."
"Mohon Senior memberi petunjuk."
Kiu Cian Jin tersenyum, lalu menyantap hidangannya tanpa menyahut. Tuan rumah menduga pasti ada sebabnya orang tua ini muncul setelah menghilang selama dua puluh tahun, namun ia tidak dapat menerka maksudnya. Karena orang tersebut berasal dari kalangan persilatan tinggi, ia tidak berani bertanya dan membiarkannya bicara sendiri.
"Tidak apa-apa jika Tuan Rumah tidak sudi memberitahukan nama guru atau perguruanmu," kata Kiu Cian Jin kemudian. "Desa Kwie-in begitu tersohor, pengelolanya pasti murid dari guru yang hebat."
"Segala urusan di sini diurus oleh Koan Eng, anakku," terang tuan rumah. "Ia adalah murid Kouw Bok Taysu dari Kuil Kong Hauw Sie di Kota Lim-an."
"Ah, Kouw Bok Taysu adalah ahli waris yang menjadi ketua cabang selatan Partai Hoat Hoa," kata Kiu Cian Jin. "Dia adalah ahli ilmu luar. Maukah Tuan Rumah Muda menunjukkan sesuatu untuk memperluas pandanganku?"
"Senior sudi memberi petunjuk, ini adalah keberuntungan bagi anakku," kata Liok Chungcu.
Koan Eng memang sangat ingin diberi petunjuk, maka ia segera menuju ke tengah ruangan. "Mohon Kakek Guru mengajariku," katanya. Lalu ia mulai bersilat dengan jurus kegemarannya, yaitu Loo-han Hok-houw-kun (Ilmu Arhat Menaklukkan Harimau). Setiap pukulannya mengeluarkan suara angin yang kuat, gerakannya pun gesit dan mantap. Menjelang akhir, ia berseru keras bagaikan harimau mengerum, hingga api lilin bergoyang dan orang-orang merasakan hembusan angin dingin. Itulah gambaran arhat yang bertempur melawan raja hantu. Akhirnya, ia menghantam batu bata hingga hancur, lalu berdiri tegak dengan tangan kiri diangkat tinggi menunjang langit dan kaki kanan ditendangkan ke depan, memperlihatkan sikap arhat.
"Bagus! Bagus!" seru Kwee Ceng dan Oey Yong memuji.
Setelah itu, Koan Eng memberi hormat kepada Kiu Cian Jin. Saat kembali ke kursinya, wajahnya tidak berubah dan napasnya tidak terengah-engah; ia duduk dengan tenang seolah tidak baru saja bersilat hebat. Kiu Cian Jin tidak berkata apa-apa, ia hanya tersenyum.
"Apakah kemampuan anakku ini masih layak dilihat?" tanya Liok Chungcu.
"Begitulah," sahut si orang tua.
"Mohon Senior memberi petunjuk di bagian yang perlu," pinta tuan rumah.
"Ilmu silat putramu ini, jika dipakai untuk memperkuat tubuh, sungguh tidak ada yang menandinginya," sahut tamu itu. "Namun, jika digunakan untuk merebut kemenangan, dapat dikatakan itu tidak ada gunanya."
Sebelum tuan rumah sempat menyahut, Kwee Ceng merasa heran. Ia membatin, "Memang ilmu silat tuan rumah muda ini tidak terlalu hebat, tetapi tidaklah tepat untuk mengatakan tidak ada gunanya."
Tuan rumah lantas berkata, "Mohon Senior memberikan petunjuk untuk membuka pandangan kami yang sempit."
Kiu Cian Jin bangkit dan berjalan keluar ruangan. Saat kembali, di kedua tangannya masing-masing memegang sepotong batu bata. Orang-orang tidak melihatnya mengerahkan tenaga, namun tiba-tiba terdengar suara berderak, dan kedua batu bata itu sudah remuk lalu hancur menjadi tepung. Sambil duduk kembali di kursinya dan tertawa, ia berkata:
"Tuan Rumah Muda dapat menghancurkan batu bukanlah pelajaran sembarangan; tidak mudah untuk mencapainya. Namun harus diingat, musuh bukanlah sepotong batu. Musuh tidak mungkin diam saja saat diserang. Maka dalam ilmu silat, yang terpenting adalah menggunakan kesempatan lebih dulu untuk menaklukkan musuh. Inilah yang oleh orang dahulu disebut: diam bagaikan anak dara, gesit bagaikan kelinci."
Koan Eng terdiam, merenungi kata-kata itu. Kiu Cian Jin menghela napas.