Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 99

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 99

"Sebentar kita bicara." Ia lantas berlari.

Pauw Sek Yok tersadar seketika.

Ketika itu fajar sudah menyingsing. Di antara cahaya pagi yang remang-remang, ia melihat orang yang menggendongnya adalah suami yang ia pikirkan siang dan malam.

Ia heran hingga menyangka dirinya sedang bermimpi.

Ia mengulurkan tangan untuk meraba wajah suaminya.

"Toako, apakah aku sudah mati?" tanyanya.

Ia percaya suaminya itu sudah meninggal dunia.

Tiat Sim gembira hingga air matanya bercucuran.

"Kita tidak kurang suatu apa pun," sahutnya halus.

Ia tiba-tiba berhenti karena pendengarannya menangkap suara gaduh berupa teriakan-teriakan dan cahaya terang dari banyak obor.

Satu barisan serdadu sedang berlari mendatangi mereka.

Ia mendengar dengan jelas, "Jangan biarkan lolos penjahat yang menculik onghui!"

Tiat Sim menjadi kecil hati. Ia menoleh ke sekeliling, tetapi tidak menemukan tempat untuk bersembunyi.

Dalam hatinya ia berkata, "Thian mengasihani aku hingga hari ini aku dapat bertemu kembali dengan istriku. Jika sekarang aku harus binasa, tak usah aku menyesal!"

Lantas ia berkata kepada anaknya, "Liam Cu, anakku, peluklah ibumu!"

Sejenak itu, terbayang di mata Pauw Sek Yok pengalamannya delapan belas tahun yang lampau di dusun Gu-kee-cun, kota Lim-an, kampung halamannya.

Saat itu ia digendong oleh suaminya dan dibawa lari sekuat tenaga dalam gelap petang ketika mereka dikejar tentara.

Delapan belas tahun lamanya mereka berpisah dalam duka dan kehinaan. Baru saja ia bertemu kembali dengan suaminya, peristiwa dahulu kini terulang pula.

Maka ia merangkul leher suaminya erat-erat, tidak mau melepaskannya.

Melihat tentara pengejar semakin dekat, Yo Tiat Sim menjadi nekat. Daripada terhina, ia rela binasa dalam pertempuran.

Ia pun memaksa melepaskan rangkulan istrinya dan menyerahkannya kepada anak gadisnya. Ia segera berlari memapaki tentara pengejarnya.

Dalam dua hingga tiga gebrak saja, ia telah berhasil merampas sebatang tombak. Senjata itu membangkitkan semangatnya; ia bagaikan harimau yang tumbuh sayap.

Opsir yang memimpin pasukan itu, Thung Couw Tek, tertusuk pahanya hingga terjungkal dari kuda, yang membuat tentaranya lari berhamburan karena ketakutan tanpa pemimpin.

Lega hati Tiat Sim karena pasukan itu tidak dipimpin oleh opsir yang tangguh, meskipun ia menyesal tidak sempat merampas kuda musuh.

Tanpa membuang waktu, ia mengajak istri dan anaknya terus berlari.

Setelah hari terang, Pauw Sek Yok melihat suaminya berdarah di sana-sini. Ia kaget sekali.

"Kau terluka?" tanyanya.

Ditanya begitu, Tiat Sim baru merasakan sakit pada punggung telapak tangannya. Ia baru teringat bahwa tangannya tadi disambar oleh sepuluh jari Wanyen Kang hingga mengeluarkan darah. Karena repot melarikan diri, ia tidak merasakannya.

Sekarang, ia merasakan kedua lengannya sakit dan sukar digerakkan. Pauw Sek Yok segera membalut tangan suaminya.

Hampir pada saat itu juga, terdengar kembali suara sangat gaduh, disusul debu yang mengepul tinggi. Itulah pertanda satu pasukan besar lainnya sedang mendatangi.

"Sudahlah, tak usah dibalut!" kata Tiat Sim sambil menyeringai.

Ia menoleh kepada gadisnya dan berkata, "Anak, kau menyingkirlah seorang diri! Ibumu dan aku akan berdiam di sini."

Liam Cu tidak menangis, hatinya tegang sekali. Ia menginsafi bahaya, namun ia menjadi tenang. Ia mengangkat kepalanya.

"Biarlah kita bertiga mati bersama!" katanya gagah.

Sek Yok heran dan mengawasi nona itu. "Dia... mengapa dia anak kita?" tanyanya.

Tiat Sim hendak menjawab, tetapi tentara itu sudah semakin dekat. Di lain jurusan, ia melihat datangnya dua orang imam. Yang satu berkumis dengan rambut beruban, wajahnya sangat welas asih; yang lain kumisnya abu-abu, sikapnya gagah, dan di belakangnya terselip sebatang pedang.

Melihat mereka, Yo Tiat Sim tercengang, lantas ia sadar. Dalam kegirangan yang sangat, ia berseru menyapa salah satu imam itu, "Khu Totiang, hari ini kembali aku bertemu denganmu!"

Imam itu memang Tiang Cun Cu Khu Cie Kee serta saudara seperguruannya, Tan Yang Cu Ma Giok. Mereka hendak menepati janji dengan Giok Yang Cu Ong Cie It untuk bertemu di kota raja guna membicarakan urusan pibu dengan pihak Kanglam Liok Koay.

Mereka datang dengan terburu-buru dan di luar dugaan bertemu dengan Yo Tiat Sim dan istrinya.

Khu Cie Kee telah mencapai tingkat Iweekang yang sempurna. Meski delapan belas tahun telah berlalu, wajahnya tetap seperti dahulu, hanya rambutnya yang berubah. Karena itu, ia tidak langsung mengenali Tiat Sim dan hanya mengawasinya.

Tiat Sim menduga sang imam lupa padanya, lalu ia berkata, "Apakah Totiang masih ingat peristiwa delapan belas tahun yang lampau di dusun Gu-kee-cun di Lim-an, tatkala kita menumpas musuh sambil minum arak?"

"Tentu saja!" tegas imam itu.

"Aku yang rendah ialah Yo Tiat Sim," kata Tiat Sim cepat. "Semoga Totiang tidak kurang suatu apa pun."

Setelah berkata demikian, orang bermarga Yo itu menjatuhkan diri berlutut di depan orang suci itu.

Tiang Cun Cu lekas membalas hormat, tetapi ia masih ragu. Setelah hampir dua puluh tahun, karena penderitaannya, wajah dan suara Tiat Sim telah berubah.

Tiat Sim mengerti keraguan sang imam. Di lain pihak, hatinya tegang melihat tentara pengejar semakin dekat. Mendadak ia menggerakkan tombaknya dan menikam imam itu dengan jurus tombak keluarganya.

Ia berseru, "Khu Totiang, kau telah melupakan aku, tetapi kau tentu tidak dapat melupakan ilmu tombak keluarga Yo ini!"

Tiang Cun Cu terkejut dan mundur. Ia lantas mengenali ilmu tombak keluarga Yo itu dan ingat peristiwa delapan belas tahun lalu ketika ia mencoba ilmu silat orang tersebut. Ia menjadi girang bercampur terharu.

"Oh, Yo Laotee!" katanya. "Kau masih hidup!"

Tiat Sim menarik pulang tombaknya. Ia tidak menyahut, hanya berkata, "Totiang, tolonglah aku!"

Imam itu mengerti keadaan sang lawan. Ia menoleh ke arah tentara pengejar, lalu tertawa. "Suheng, hari ini kembali aku harus membuka pantangan membunuh!" katanya kepada saudara seperguruannya. "Aku harap kau tidak gusar padaku!"

Ma Giok mengerti, lalu menjawab, "Kurangilah pembunuhan! Gertak saja mereka!"

Khu Cie Kee tertawa nyaring, lalu maju ke arah tentara yang sudah sampai. Mereka menerjang dengan buas, namun dengan hanya membentangkan kedua tangannya, ia menarik roboh dua serdadu berkuda dan melemparkan tubuh mereka ke arah serdadu lainnya yang sedang mendatangi.

Dalam waktu singkat, delapan serdadu roboh pingsan karena ditimpa rekan-rekan mereka sendiri. Kejadian ini membikin kaget serdadu lainnya hingga mereka memutar kuda untuk melarikan diri.

Belum lagi semua serdadu kabur, di antara mereka muncul seorang yang bertubuh besar dan kekar dengan kepala plontos mengilap.

Ia membentak, "Dari mana datangnya si bulu campur aduk ini!"

Ia melompat ke depan Tiang Cun Cu dan menyerang. Kata-kata "bulu campur aduk" adalah hinaan untuk seorang imam.

Tiang Cun Cu tidak menghiraukan, namun melihat orang itu lincah, ia hendak menguji kemampuannya. Ia menangkis serangan tersebut. Kedua tangan beradu dengan keras dan bersuara nyaring, lalu keduanya mundur tiga langkah.

Khu Cie Kee heran, "Kenapa di sini ada orang sehebat ini?"

Kwie-bun Liong Ong —si pria itu— merasakan tangannya sakit. Ia kaget sekaligus mendongkol, lalu menyerang lagi. Kali ini Khu Tiang Cun melayani dengan sabar. Setelah belasan jurus, tangannya menyampok kepala lawannya hingga membekas lima jari berwarna merah.

Orang bermarga See itu insyaaf bahwa dengan tangan kosong ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia segera meraba pinggangnya dan mengeluarkan pengayuh besi yang berat. Dengan senjata itu, ia menghajar pundak sang imam dengan jurus "Souw Cin menggendong pedang".

Khu Cie Kee tetap bertangan kosong. Setelah berkelit, ia membalas menyerang dengan maksud merampas senjata lawan. Namun, See Thong Thian memiliki latihan bertahun-tahun sehingga senjatanya tidak mudah dirampas.

Tiang Cun Cu heran atas kegagahan orang itu dan hendak menanyakan nama. Namun, belum sempat ia membuka mulut, dari belakang terdengar pertanyaan nyaring, "Kau dari perguruan mana di Coan Cin Kauw?"

Ia melompat dan menoleh, lalu melihat empat orang berdiri berjajar. Itulah Nio Cu Ong bersama Pheng Lian Houw, Auwyang Kongcu, dan Hauw Thong Hay yang menyusul See Thong Thian.

Khu Cie Kee mengangguk kepada mereka seraya menjawab, "Pinto bermarga Khu. Pinto mohon tanya nama mulia dari tuan-tuan."

Nama Tiang Cun Cu tersohor sekali, maka Pheng Lian Houw dan kawan-kawan saling mengawasi, "Pantaslah ia bernama besar, ia memang gagah."

Pheng Lian Houw berpikir lebih jauh, "Kita sudah melukai Ong Cie It, itu berarti ganjalan dengan Coan Cin Kauw. Sekarang kita bertemu dengan Khu Cie Kee, sebaiknya ia dibunuh saja!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment