Chapter 223
Oey Yong cerdas, telinganya lihai. Dari suara pecahnya kotak itu, ia mengetahui bahwa kotak tersebut sebenarnya terdiri dari dua lapis, yang berarti ada lapisan di dalamnya.
"Ah, siapa sangka kotak ini ada lapisannya?" katanya dalam hati.
Ia dapat menduga demikian, tetapi alih-alih merasa girang karena dugaannya tepat, ia justru menjadi masygul.
Percuma berhasil menduga, ia sendiri tidak bisa bertindak untuk mendapatkan kepastian.
Tetapi tidak perlu ia bergelisah terlalu lama, sebab Wanyen Lieh tampak sudah kembali ke mejanya seraya berkata, "Aku sangka kotak itu ada lapisan dalamnya, ternyata tidak ada isinya?" Ia lesu sekali.
Lian Houw dan semua orang lainnya heran, mereka ramai membicarakan kotak itu.
"Ah, siapa sangka!" pikir Oey Yong, hatinya lega, hingga dalam hatinya ia menertawai mereka.
Ia berbisik kepada Kwee Ceng, akan memberitahukan bahwa Wanyen Lieh belum berhasil mendapatkan surat wasiat Gak Hui.
Kwee Ceng pun lega hatinya mendengar keterangan itu.
"Aku lihat kawanan penjahat ini belum mati hatinya, meski mereka akan pergi lagi ke istana," Oey Yong mengutarakan dugaannya.
Karena ini ia menjadi mengkhawatirkan gurunya, yang masih berada di dapur istana.
Ada kemungkinan guru itu akan dipergoki.
Benar di sana ada Ciu Pek Thong yang melindungi, tetapi Pek Thong adalah seorang berandalan yang sembrono.
Dugaan Nona Oey ini jitu juga.
Segera terdengar suara Auwyang Hong, "Kegagalan kita ini tidak berarti banyak. Malam nanti kita pergi lagi ke istana untuk mencari lebih jauh!"
"Malam ini tidak bisa," Wanyen Lieh mencegah.
"Tadi malam keadaan kacau sekali, tentu karena itu penjagaan diperketat."
"Memang penjagaan tetap dilakukan, itu pun tidak berarti," kata Auwyang Hong.
"Ong Ya bersama Sie Cu malam ini tidak perlu ikut. Baiklah Ong Ya berdua beristirahat di sini bersama keponakanku."
"Dengan begitu kembali Siauw Ong membuat Sianseng kecapaian," kata Pangeran Kim itu sambil memberi hormat.
"Baiklah Siauw Ong menanti kabar baik saja."
Pembicaraan mereka berhenti sampai di situ.
Habis bersantap, Wanyen Lieh merebahkan diri di hamparan rumput, ditemani putra angkatnya dan Auwyang Kong Cu, sementara Auwyang Hong bersama yang lainnya lalu pergi memasuki kota untuk menyerbu ke istana.
Wanyen Lieh tidak bisa tidur, ia berguling-guling saja.
Ia memikirkan surat wasiat dan kepergian semua pahlawannya itu.
Ia merasa tidak enak ketika telinganya mendengar seekor anjing kampung melolong dan meratap, suaranya sangat menyedihkan, tidak enak didengar telinganya.
Ia menjadi tidak tenteram dan masygul.
Tidak lama kemudian, terdengar suara di pintu.
Rupanya ada yang mendorong daun pintu, sebab segera terlihat masuknya seseorang.
Ia menggerakkan tubuhnya untuk bangun duduk, tangannya memegang gagang pedang.
Yo Kang telah melompat ke belakang pintu, menyembunyikan diri, bersiap siaga.
Yang datang itu seorang nona dengan rambut acak-acakan, mulutnya melantunkan nyanyian perlahan.
Ia mendorong pintu lalu masuk.
Dialah Sa Kouw, yang tadi pergi bermain di semak-semak dekat rumahnya dan baru saja kembali.
Ia melihat ada orang asing di rumahnya itu, ia tidak ambil pusing, langsung ia pergi ke tumpukan rumput tempat ia bisa tidur.
Begitu ia merebahkan diri, segera terdengar suara napasnya mendengkur.
Melihat bahwa yang datang adalah seorang nona dusun yang bodoh, Yo Kang tertawa sendiri lalu ia pun kembali tidur.
Wanyen Lieh tetap berpikir, ia masih tidak bisa pulas.
Maka kemudian ia bangun untuk menyalakan sebatang lilin yang ia letakkan di atas meja.
Ia mengeluarkan sebuah buku untuk dibaca, membolak-balik lembarannya.
Selama itu, Oey Yong terus mengintai dari lubang temboknya.
Kebetulan ia melihat seekor ngengat terbang memutari api lalu menyerbunya, maka terbakarlah sayapnya dan roboh tubuhnya di atas meja.
Wanyen Lieh menjumput ngengat itu.
"Jikalau Pauw Sie-huju ada di sini, pastilah kau akan ditolong dan diobati," katanya perlahan.
Ia pun lalu mengeluarkan sebuah pisau kecil serta sebuah botol kecil berisi obat, ia pegang itu di kedua tangannya untuk dimainkan.
Ia tampaknya sangat berduka.
Oey Yong menepuk perlahan pundak Kwee Ceng, ia memberi isyarat supaya pemuda itu melihat kelakuan sang pangeran.
Kwee Ceng lalu mengintai, hingga sesaat kemudian ia menjadi gusar sekali.
Samar-samar ia ingat, pisau dan obat itu kepunyaan Pauw Sek Yok, ibu Yo Kang.
Semasa di dalam istana Chao Wang, Sek Yok pernah menggunakan itu untuk mengobati luka seekor kelinci.
Selagi ia mengawasi terus, ia mendengar pangeran itu berkata sendiri dengan perlahan, "Pada sembilan belas tahun lalu, di kampung ini yang untuk pertama kali aku bertemu denganmu. Ah, aku tidak tahu sekarang entah bagaimana dengan rumahmu yang dulu itu?" Selesai berkata, pangeran itu bangkit, ia mengambil lilinnya, lalu ia berjalan keluar pintu.
Kwee Ceng berdiam.
"Mustahilkah kampung ini Kampung Gu Kee Cun, kampung halaman ayah dan ibuku?" ia bertanya dirinya sendiri.
Ia lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Oey Yong untuk bertanya.
Oey Yong mengangguk.
Tiba-tiba Kwee Ceng merasakan dadanya berguncang, darahnya berdesir keras, hingga tubuhnya bergerak-gerak karenanya.
Tangan kanan Oey Yong menempel pada tangan kiri anak muda itu, ia merasakan guncangan keras dari hati anak muda itu, ia menjadi khawatir.
Guncangan itu bisa mencelakai anak muda ini.
Cepat-cepat ia mengulurkan tangan kanannya, lalu ditempelkan pada tangan kiri pemuda itu, kemudian ia mengerahkan tenaganya untuk menekan.
Kwee Ceng pun turut menekan, ini justru ada baiknya.
Dengan begitu, perhatiannya terpusat pula, tidak terbagi dengan perasaan yang mengguncangkan hati itu.
Perlahan-lahan hatinya menjadi tenang kembali.
Tidak lama kemudian tampak sinar api, lalu Wanyen Lieh berjalan masuk sambil menghela napas panjang.
Kwee Ceng mengawasi dengan tenang.
Sekarang ia dapat menguasai dirinya.
Oey Yong dapat merasakan ketenangan hati temannya ini, ia membiarkan temannya terus mengintai, hanya sebelah tangannya itu tetap ia tempel pada tangannya sendiri.
Sekarang ini tangan Wanyen Lieh memegang sebuah senjata berwarna hitam.
Itu bukan golok, bukan pula kampak.
Dengan tercengang sang pangeran mengawasi senjata itu di samping api lilin.
Setelah sekian lama, ia kembali memperdengarkan suaranya yang perlahan, "Rumah keluarga Yo rusak hingga tak tersisa sepotong genteng pun. Keluarga Kwee masih meninggalkan tombak pendek yang dahulu dipakai Kwee Siauw Thian."
Hati Kwee Ceng tercekat mendengar nama ayahnya disebut oleh musuh yang telah membunuh ayahnya itu.
Seketika itu juga ia berpikir, "Jahanam ini terpisah dariku tidak sampai sepuluh langkah, dengan sebuah pisau belati aku dapat menikamnya sampai mati."
Kemudian dengan tangan kanannya ia bertanya, "Yong Jie, bisakah kau memutar dan membuka daun pintu dengan sebelah tanganmu?"
"Jangan!" cegah nona itu, yang dapat menerka maksud pemuda tersebut.
"Mudah untuk membunuh dia, tetapi dengan begitu orang akan mengetahui tempat sembunyi kita."
"Dia... dia memegang senjata ayahku?" kata Kwee Ceng, suaranya bergetar.
Seumur hidupnya Kwee Ceng belum pernah melihat wajah ayahnya, ia hanya mengetahuinya sebagian dari penuturan dan lukisan ibunya, yang lain berkat kekhawatiran hatinya memikirkan ayahnya itu, yang sering ia bayangkan.
Ia sangat memuja ayahnya itu.
Karena itu melihat ujung tombak ayahnya, hatinya berguncang keras karena kebencian dan kemarahannya yang hebat.
Oey Yong mengalami kesulitan.
Memang sulit untuk membujuk pemuda ini.
Tetapi ia mencoba.
Ia berbisik lagi ke telinga anak muda itu, "Ibumu dan Yong Jie menghendaki hidupmu?"
Kata-kata ini besar pengaruhnya.
Kwee Ceng terkejut, lalu ia kembali menyimpan pisau belatinya di pinggangnya.
Ia kembali mengintai.
Wanyen Lieh telah merebahkan kepalanya di meja.
Pemuda itu menghela napas.
Bukankah ia tidak dapat membalas sakit hati ayahnya? Karena lesu, ia lalu berkonsentrasi lebih dalam.
Tetapi, belum lagi ia mengalihkan pandangannya dari lubang angin, ia melihat seorang duduk di tumpukan rumput.
Wajah orang itu tidak terlihat karena terhalang sinar api.
Hanya setelah ia bangkit berdiri dan mendekati Wanyen Lieh, akan mengambil botol obat dan pisau kecil tadi, saat memutar tubuh, ia dapat dikenali sebagai Yo Kang.
Untuk sesaat Yo Kang memandangi dengan bengong botol obat dan pisau kecil itu, kemudian dari sakunya ia mengeluarkan sebuah tombak.
Ia pun mengawasi tombak itu.
Tidak lama ia berdiam, bersamaan dengan perubahan air mukanya, ia menjumput tombak pendek yang terletak di tanah, dengan itu ia menikam ke arah punggung Wanyen Lieh.
Kwee Ceng melihat itu, girang hatinya.
Ia mengerti, Yo Kang tentu mengingat ayah dan ibunya dan sekarang hendak menuntut balas.
Asal tombak itu diturunkan, habislah nyawa Pangeran Kim itu.
Tetapi, tangan Yo Kang terangkat naik dan diam, tidak juga diturunkan untuk menikam.
Setelah beberapa saat, tangan itu pun diturunkan tanpa tikaman.
"Bunuh, bunuhlah!" Kwee Ceng berseru dalam hatinya.
"Sekarang jika kau tidak turun tangan, kau akan menunggu sampai kapan lagi?" Lalu ia menambahkan, "Jika kau menikam, kau tetap saudaraku yang baik. Urusanmu di dalam istana sudah menikamku, akan kubereskan saja."
Tangan Yo Kang bergetar, tangan itu diturunkan perlahan sekali, maka kemudian, tombak itu menggeletak pula di tanah.
"Anak haram!" Kwee Ceng memaki dalam hatinya.
Ia menyesal dan mendongkol sekali.
Yo Kang melepaskan bajunya yang panjang, ia gunakan itu untuk menutupi tubuh Wanyen Lieh, rupanya ia takut ayah angkat itu masuk angin.
Kwee Ceng lalu melengos.
Tidak sudi ia mengawasi lebih lama lagi.
Ia sungguh tidak mengerti sikap Yo Kang ini.
"Jangan bergelisah tak keruan," Oey Yong menghibur. "Jangan terburu nafsu. Setelah kau sembuh, meskipun jahanam ini lari ke ujung langit, kita akan mengejarnya!"
Kwee Ceng mengangguk, setelah itu ia terus berlatih.
Ketika sang fajar datang, beberapa ekor ayam jago kampung memperdengarkan kokok mereka yang saling bersahutan, di sisi lain muda-mudi itu sudah berlatih tujuh rintisan hingga mereka merasakan tubuh mereka sangat segar.