Chapter 25
Kita membuatnya pesta, sesudah puas makan minum, baru kita suruh kedua anak itu adu kepandaian. Di situ nanti kita lihat, murid pinto yang berhasil atau muridnya tuan-tuan bertujuh! Tjuh bersaudara itu saling memandang, tidak ada satu jua yang segara menjawab imam itu.
Bukankah syarat itu ada sangat luar biasa? "Jikalau tuan-tuan bertujuh yang bertempur sama aku, umpama kata kamu yang menang, itu tidak ada artinya," Cie Kee berkata pula. "Bukankah tuan-tuan menang karena jumlah yang banyak lawan jumlah yang sedikit? Kemenangan itu bukan kemenangan yang mentereng!
Dengan syarat kita ini aku nanti turunkan kepandaianku kepada satu orang, tuan-tuan pun mewariskan kepandaian kamu kepada satu orang juga, setelah itu mereka bertanding satu lawan satu, sampai itu waktu, andaikata muridku yang menang, bukankah tuan-tuan akan merasa puas?" Akhirnya Tin Ok ketruki tongkat besinya ke lantai. "Baiklah, secara demikian kita bertaruh!" katanya.
Tapi Coan Kim Hoat campur bicara. Ia tanya: "Bagaimana kalau pertolongan kami terlambat, dan Lie-sie keburu dibikin binasa oleh Toan Thian Tek?" "Biarlah kita sekalian adu keberuntungan juga!" sahut Cie Kee. "Jikalau Thian menghendaki aku yang menang, apa hendak dibilang?" "Baik!" Han Po Kie juga turut bicara. "Memang menolong anak piatu dan janda juga adalah perbuatan yang mulia, umpama kami tak dapat lawan kamu, kami toh telah lakukan juga satu perbuatan yang baik." Cie Kee tonjolkan jempolnya. "Han Samya benar!" pujinya.
"Tuan-tuan berkenan menolongi abak yatim piatu dari keluarga Kwee itu, untuk ini sekarang pinto wakilkan saudara Kwee menghanturkan terima kasih terlebih dahulu!" Dan ia lantas menjura dalam. "Cara pertaruhan ini adalah terlalu licin," berkata Cu Cong kemudian. "Cuma dengan beberapa kata-katamu ini, kau hendak membikin kamu bercapek lelah selama delapan belas tahun!" Wajahnya Khu Cie Kee berubah, akan tetapi ia berdongak dan tertawa besar.
"Apakah yang lucu?" tanya Han Siauw Eng. "Selama dalam dunia kang-ouw telah aku dengar nama besar dari Kanglam Cit Koay," sahut si imam yang ditanya, "Orang umumnya bilang mereka itu gemar sekali menolong sesamanya, mereka gagah perkasa dan mulia, tetapi hari ini bertemu dengan kamu... hahaha!" Kanglam Cit Koay menjadi panas hatinya. Han Po Kie segera menghajar bangku dengan tangannya. Ia hendak bicara tetapi si imam dului dia.
"Sejak zaman dahulu hingga sekarang ini," kata Cie Kee. "Kalau satu orang gagah sejati bersahabt, dia bersahabat untuk menjual jiwanya, ialah denagn segala urusan ia bersedia untuk mengorbankan dirinya. Pengorbanan itu tidak ada artinya! Bukankah kita belum pernah dengar bahwa di jaman dahulu ada Keng Ko dan Liap Ceng berhitungan?" Wajahnya Cu Cong menjadi pucat, tak ada sinarnya. "Tidak salah apa yang totiang bilang!" katanya sambil goyang kipasnya. "Aku mengaku keliru! Baiklah, kita bertujuh akan terima tanggung jawab kita ini!" Khu Cie Kee lantas berbangkit.
"Hari ini adalah tanggal dua puluh empat bulan tiga," ia berkata pula, "Maka itu lagi delapan belas tahun, kita akan bertemun pula di rumah makan Cui Siang Lauw, untuk orang-orang gagah di kolong langit ini menyaksikan siapa sebenarnya laki-laki sejati!" Habis berkata, seraya kibaskan tangannya, ia bertindak pergi. "Nanti aku susul Toan Thian Tek!" kata Han Po Kie. "Dia tak dapat dibiarkan menghilang, hingga pastilah sulit kita mencari padanya!" Di antara Cit Koay, dialah yang tidak terluka.
Setelah berkata begitu, ia lantas lari keluar, untuk terus menaiki kudanya, guna susul Thian Tek. "Sha-tee! Sha-tee!" Cu Cong memanggil-manggil. "Kau tidak kenal mereka itu!". Dengan mereka, orang she Cu ini menyebutkannya Thian Tek dan Lie Peng. Tetapi Po Kie si tak sabaran telah pergi jauh. Thian Tek telah angkat kaki dengan naik perahu. Ketika ia tarik Lie Peng keluar dari tempat berbahaya itu, lega hatinya apabila ia menoleh ke belakang, ia tak tampak ada orang yang kejar atau susul padanya.
Ia cerdik, maka itu segera ia menuju ke sungai, malah tanpa memilih kenderaan air lagi, ia lompat naik ke sebuah perahu, ia ajak Lie Peng bersama. "Lekas berangkat!" ia membentak tukang perahu sambil ia cabut goloknya. Kanglam adalah daerah air, disana ada banyak sungai atau kali, dari itu, kendaraan air adalah alat penghubung atau pengangkut yang paling umum, sama saja dengan kuda atau keledai di Utara. Begitu muncul kata-kata: "Orang Utara naik kuda, orang Selatan naik perahu." Tukang perahu itu ketakutan lihat orang demikian galak, ia buka tambatan perahunya, ia lantas mengayuh. Dengan lekas ia keluar dari daerah kota.
Thian Tek lantas asah otaknya: "Aku telah terbitkan onar besar, tak dapat aku pulang untuk pangku pula jabatanku. Baiklah aku pergi ke Utara untuk menyingkir dulu dari ancaman bahaya. Semoga itu imam bangsat dan tujuh siluman dari Kanglam itu bertempur hingga mampus semuanya, supaya aku dapat kembali ke Liman." Kudanya Po Kie lari pesat, tetapi ia hanya mondar-mandir di darat, tentu sekali ia tak dapat cari Thian Tek, apapula ia kenali roman orang itu. Ia tanya-tanya orang akan tetapi pertanyaannya tidak jelas. Thian Tek tunjuki terus kelicinannya. Ia menukar perahu beberapa kali.
Berselang belasan hari, tibalah ia di Yangciu. Paling dulu ia mencari rumah penginapan. Ia telah memikir untuk cari suatu tempat untuk bertinggal buat sementara waktu. Sebab bukanlah soal yang sempurna untuk terus-terusan berkelana dengan hati tidak tentram. Itu hari selagi berada di dalam kamar, ia dengar suara Han Po Kie tengah berbicara sama pemilik penginapan, menanyakan tentang dia dan Lie Peng. Ia kaget tetapi ia berlaku tenang. Dari dalam kamarnya ia mengintai, memasang mata. Ia lihat tegas seorang kate dampak yang romannya jelek sekali yang berbicara dengan lidah Kee-hin.
Setelah merasa pasti bahwa orang adalah salah satu Cit Koay, ia tarik tangannya Lie Peng untuk diajak segera menyingkir dari pintu belakang. Kembali ia menyewa sebuah perahu. Tak sudi ia berjalan sedikit juga. Ia berlayar terus ke Utara, hingga mereka sampai di perhentian Lie-kok-ek, di tepi telaga Bie San Ouw di wilayah propinsi Shoatang. Belum sampai setengah bulan ia berdiam di tepi telaga itu, Han Po Kie dapat susul ia. Malah Po Kie ada bersama dengan satu nona. Adalah pikirannya Thian Tek, untuk keram diri di dalam kamarnya, akan tetapi Lie Peng, yang merasa ada bintang penolongnya, sudah lantas menjerit-jerit.
Akan tetapi ia adalah satu wanita lemah, ia diringkus Thian Tek, dibekap mulutnya dengan selimut. Ia pun telah dipukuli. Setiap kali ia berlepas tangan atau mulutnya, ia terus berontak dan berteriak-teriak. Syukur untuk Thian Tek, Po Kie bersama kawannya yaitu Siuaw Eng, adiknya, tidak mendengar apa-apa. Dalam sengitnya, saking khawatirnya, Thian Tek berniat membunuh Nyonya Kwee itu. Ia telah hunus pedangnya, ia dekati Lie-sie. Nyonya Kwee telah tawar hatinya sejak kebinasaan suaminya, ia sebenarnya sudah memikir untuk bunuh diri, lebih baik bia ia bisa binasa bersama musuhnya itu, maka itu, menampak sikapnya Thian Tek itu, ia tidak takut, ia justru diam-diam memuji kepada roh suaminya: "Engko Siauw, engko Siauw, aku mohon kepadamu, ingin aku supaya sebelum datang saatnya, aku bertemu pula denganmu, kau lindungi kepadaku, agar dapat aku membinasakan manusia jahat ini!" Lalu dengan diam-diam, ia siapkan pisau belati atau badik yang Cie Kee hadiahkan kepadanya.
Thian Tek tersenyum aneh, ia angkat tangannya untuk dikasih turun dengan bacokannya. Lie Peng tidak mengerti silat, tetapi telah bulat tekadnya, maka itu sebaliknya dari ketakutan, ia justru mendahului sambil menubruk, ia menikam! Thian Tek kaget dan heran. Inilah ia tidak sangka. Maka terpaksa ia gunai goloknya untuk menangkis. "Trang!" demikian satu suara nyaring. Untuk kagetnya manusia busuk ini, ujung goloknya putus dan jatuh ke tanah dan ujung pisau belati menyambar terus ke dadanya. Dalam kagetnya ia buang diri ke belakang, tetapi tak urung, bajunya kena terobek, dadanya kena tergurat, hingga darahnya lantas mengucur keluar.
Coba Lie-sie bertenaga cukup, dadanya itu pasti telah tertancap pisau belati itu. Untuk bela diri terlebih jauh, Thian Tek sambar sebuah kursi. "Simpan senjatamu!" ia membentak. "Aku tak akan membunuh padamu!" Lie Peng sendiri telah lemas kaki dan tangan dan tubuhnya, ia telah keluarkan tenaga terlalu besar, ia sudah umbar hebat hawa amarahnya tanpa merasa ia membuat kandungannya tergerak, hingga bayi di dalam perutnya itu meronta-ronta. Dengan letih ia jatuhkan diri ke kursi, napasnya memburu. Tapi ia masih ingat akan pisau belatinya yang ia pegangi keras-keras.
Thian Tek tetap jerih untuk Han Po Kie beramai, ia juga tak dapat lari seorang diri, sudah kepalang tanggung, ia terus membawa Lie Peng. Kali ini ia kembali naik perahu, tetap ia menuju ke Utara. Ia melalui Lim-ceng dan Tek-ciu dan tiba di propinsi Hoopak. Selama itu rasa takutnya tak jadi berkurang. Setiap ia mendarat, selama tinggal di penginapan, saban-saban ada orang mencari dia. Syukur ia waspada dan cerdik, selalu dapat ia menjauhkan diri dari mereka itu.
Ia peroleh kenyataan, kecuali si kate terokmok dan si nona, ada lagi seorang lain yang cari padanya, ialah seorang pincang dan bermata buta yang membawa-bawa sebatang tongkat besi. Syukur untuknya, tiga orang itu tidak kenali dia, walaupun kedua pihak bertemu muka, mereka itu tidak kenali padanya. Ini yang menyebabkan ia selamanya dapat lolos. Tidak lama kemudian, Thian Tek dapat godaan lain. Dengan tiba-tiba otaknya Lie Peng terganggu, baik selama di penginapan, maupun di tengah perjalanan, nyonya Kwee suka ngoceh tidak karuan, ada kalanya ia robek bajunya atau bikin kusut rambutnya, hingga mereka jadi menarik perhatian orang.
Ia menjadi masgul dan bingung sekali. Kelakuan si nyonya itu gampang menimbulkan kecurigaan orang. Kemudian ia menjadi mendongkol.