Chapter 178
Oey Yong tidak mengetahui pikiran ayahnya, maka heranlah ia. Ia terus berdiam hingga ia mendengar pula perkataan ayahnya, "Loo Boan Tong dapat membaca kitab *Kiu Im Cin-keng* di luar kepala, dia hafal sekali. Begitu pun dengan si bocah she Kwee itu, yang menghafalnya tanpa salah. Sekarang aku mengirimkan jiwa mereka berdua, itu sama artinya dengan membakar habis kitab tersebut. Maka arwah kau di langit, aku percaya puas dan tenanglah kau. Hanya sayang si pengemis tua she Ang itu, tidak karuan turut mengantarkan nyawanya."
"Di dalam satu hari aku membinasakan tiga ahli silat kelas satu, dengan begitu aku telah memenuhi janjiku kepadamu. Maka jikalau di belakang hari kita bertemu pula, pasti kau akan bilang suamimu telah membuktikan perkataannya!"
Oey Yong kaget hingga ia bergidik. Ia belum mengetahui pasti, tetapi ia dapat menduga perahu berhias itu mestinya terpasang pesawat rahasia yang luar biasa. Ia tahu baik lihainya ayahnya ini. Maka mungkin Kwee Ceng dan dua lainnya sudah menjadi korban. Ia jadi sangat khawatir dan berduka, hampir ia melompat kepada ayahnya untuk memohon pertolongan bagi tiga orang itu. Tapi ia terpengaruh kekhawatiran yang sangat sampai kakinya menjadi lemas, hingga tak kuat ia melangkah untuk bertindak, dan mulutnya pun tak dapat mengeluarkan perkataan. Ia cuma mendengar suara tertawa ayahnya, yang terus berlalu.
Sekian lama Oey Yong berdiam diri, ia mencoba menenangkan diri. Ia cuma berpikir satu, "Aku mesti pergi menolong Engko Ceng! Jikalau aku tidak berhasil, aku akan menemani dia mati!" Anak ini mengerti, percuma ia meminta bantuan ayahnya. Ayah yang terlalu mencintai istrinya itu tidak akan bisa mengubah keputusannya. Maka ia lari keluar dari perkuburan, terus ke pinggir laut, lalu melompat naik ke sebuah perahu kecil. Ia membangunkan seorang bujang bisu yang menjaga perahu itu, menitahkan dia memasang layar dan mengayuh untuk berlayar ke tengah laut.
Sementara itu, terdengar derap kaki kuda yang lari kencang dan berbarengan terdengar pula suara seruling dari Oey Yok Su. Oey Yong berpaling ke darat, maka ia melihat kuda merah milik Kwee Ceng sedang berlari mendatangi. Rupanya binatang itu tak betah berdiam di pulau, malam itu ia keluar berlari-lari. Oey Yong lantas berpikir, "Di laut begini luas, ke mana aku mesti mencari Engko Ceng? Kuda kecil itu memang luar biasa, tetapi begitu ia meninggalkan tanah, ia pun tak dapat berbuat apa-apa lagi."
Begitu lekas Ang Cit Kong, Ciu Pek Thong, dan Kwee Ceng tiba di luar gubuk perahu, mereka merasakan kaki mereka basah. Nyata mereka telah menginjak air. Tentu sekali mereka menjadi sangat kaget. Tapi mereka sadar, maka dengan menjejak tanah dan menggenjot tubuh, mereka melompat naik ke tiang layar. Cit Kong bahkan sambil menenteng dua bujang bisu. Ketika ia memandang ke sekitarnya, yang tampak ialah laut yang luas, perahunya sudah tergenang air.
"Pengemis tua, Oey Lao Shia benar hebat!" teriak Pek Thong. "Bagaimana perahu ini dibuatnya?"
"Aku juga tidak tahu!" jawab Ang Cit Kong. "Eh, anak Ceng, kau peluk tiang itu, jangan kau lepaskan!"
Kwee Ceng belum menjawab ketika mendadak, di antara suara keras, badan perahu terbelah menjadi dua. Kedua anak buah kaget sekali sampai pelukannya kepada tiang layar terlepas dan tubuhnya tercebur ke air.
"Loo Boan Tong, kau bisa berenang atau tidak?" Cit Kong bertanya.
"Coba-coba saja!" sahut Pek Thong tertawa. Suaranya tersampuk angin hingga tak terdengar nyata. Mereka terpisah. Perlahan perahu tenggelam, sebagaimana tiang layar melesak perlahan ke dalam air. Hanya pasti, tidak lama lagi, tiang itu bakal tenggelam juga. Ang Cit Kong mendapat pikiran.
"Anak Ceng!" ia berkata. "Tiang ini menjadi satu dengan tubuh perahu, mari kita patahkan! Mari!"
Kwee Ceng menurut, maka keduanya lantas mengerahkan tenaga. Dengan berbarengan mereka menebas dengan tangan mereka ke batang tiang. Tidak peduli tangguhnya tiang, serangan dua orang itu membuatnya patah. Maka dengan memeluk potongan tiang, mereka terus jatuh ke air. Dengan terus memegang tiang itu, mereka tidak tenggelam. Mereka pun bisa berenang. Cit Kong mengeluh di dalam hati. Mereka sudah terpisah jauh dari tepian, di sekitarnya tak tampak daratan. Tanpa pertolongan, biar bagaimana pun saktinya, mereka toh akan mati kehausan dan kelaparan.
Di sebelah selatan, di tengah laut, terdengar suara tertawa terbahak-bahak. Itulah suara Ciu Pek Thong. "Anak Ceng, marilah kita hampiri dia!" Cit Kong mengajak. Kwee Ceng menurut, maka dengan berpegangan tiang sambil mengayuh, mereka berenang ke arah si tua berandalan itu. Beberapa kali mereka terdampar balik ombak yang keras. Angin keras, gelombang berisik, suara Pek Thong toh masih terdengar lamat-lamat. Maka mereka mencoba berenang terus.
Tidak lama, terdengar pula suara Pek Thong itu, "Loo Boan Tong telah berubah menjadi anjing kecebur ke air! Inilah sup asin yang dipakai untuk menggodok si anjing tua!"
Mau tidak mau, Kwee Ceng tertawa. Masih saja kakak itu bergurau. Tidakkah mereka sedang menghadapi bahaya maut? Sekarang terbukti benar-benar artinya "Loo Boan Tong", si bocah bangkotan yang nakal. Mereka mencoba terus, akhirnya tidaklah sia-sia usaha mereka. Tidak lama berselang, mereka pun datang berdekatan. Sekarang terlihat nyata, Pek Thong menolong diri dengan mengikat kakinya kepada papan perahu, dengan begitu ia bisa berdiri di atas air dan berjalan dengan bantuan ilmu meringankan tubuh sehingga gelombang tidak menjadi rintangan. Pantas ia bisa berkelakar seperti tidak menghiraukan bahaya kehausan dan kelaparan.
Kwee Ceng menoleh ke belakang. Perahunya sudah lenyap dari muka laut. Dengan begitu pasti hilang sudah semua anak buah perahu itu terkubur di dasar laut. Di saat itu, sekonyong-konyong terdengar teriakan Ciu Pek Thong, "Ayo! Hebat!"
Cit Kong dan Kwee Ceng menoleh dengan cepat, mereka bertanya ada apa. Pek Thong menunjuk ke arah jauh, "Lihat di sana! Cucut! Sebarisan ikan cucut!"
Kwee Ceng menjadi besar di gurun pasir, tak tahu ia hebatnya ikan cucut atau hiu, maka heran ia menampak gurunya berubah air mukanya. Kenapa guru itu tampak ngeri begitu pun Pek Thong, sedang keduanya sangat lihai? Cit Kong menghajar tiang layar hingga patah, lalu potongan yang satu ia pegangi sendiri, yang lain mau ia serahkan kepada Kwee Ceng. Hampir saat itu, air laut di depan mereka menjeblak, lalu tampak muncul seekor ikan cucut yang mulutnya terpentang hingga terlihat dua baris giginya yang putih mirip gergaji, berkilau di bawah sinar matahari. Hanya sebentar saja, dia sudah menyelam pula.
"Hajar kepalanya!" kata Cit Kong pada Kwee Ceng sambil menyerahkan potongan tiang layar itu untuk dijadikan pentungan.
Kwee Ceng menanggapi, "Teecu punya pisau belati!" ia melempar pentungan itu kepada Ciu Pek Thong yang menyambutnya. Lalu datang empat atau lima ekor ikan yang mengurung mereka. Mungkin belum jelas, binatang laut itu tidak segera menyerang. Pek Thong membungkuk, tangannya terayun. Hanya sekali kemplang, pecahlah kepala seekor ikan. Begitu membaui darah, ikan-ikan itu menyambar tubuh kawannya, kemudian mereka disusul sama yang lainnya, mungkin puluhan atau ratusan ekor. Mereka tak kenal kawan, mereka cuma tahu daging harus dicaplok.
Kwee Ceng terkejut melihat keganasan binatang-binatang itu! Selagi ia mengawasi, ia merasakan kakinya ada yang membentur. Lekas-lekas ia tarik kakinya. Dengan bergeraknya air, seekor cucut menyambar ke arahnya. Ia mendorong tiang layar dengan tangan kiri untuk berkelit ke kanan, sebaliknya tangan kanannya menyerang. Tepat serangan itu, pisau belatinya pun pisau belati mustika, maka sekali tikam saja, berlubanglah tubuh ikan dan darahnya mengucur keluar. Maka ia pun lantas diserbu kawan-kawannya!
Demikian tiga orang itu bertempur dengan kawanan ikan galak tersebut. Mereka terus berkelit, saban hajarannya meminta korban. Bagusnya untuk mereka, asal ada korban, korban itu dikepung ramai-ramai oleh ikan yang lainnya. Hanya menyaksikan keganasan ikan-ikan itu, hati mereka terkesiap juga. Ikan itu banyak sekali, tak dapat semuanya dibunuh habis. Mungkin mereka sudah membinasakan dua ratus ikan ketika matahari mulai condong ke barat.
"Pengemis tua bangka! Adik Kwee!" berseru Ciu Pek Thong. "Kalau sebentar langit gelap, tubuh kita bertiga, sepotong demi sepotong bakal masuk ke dalam perut ikan! Sekarang mari kita bertaruh, siapakah yang bakal paling dulu digegarés cucut?"
Cit Kong nyata tak kurang jenakanya, "Yang digegarés cucut itu yang menang atau yang kalah?" tanyanya.
"Tentu saja dia yang menang!"
"Oh!" teriak Cit Kong. "Kalau begitu, lebih suka aku kalah!"
Kata-kata ini disusuli sebatan tangan dengan jurus "Naga Sakti Menggoyang Ekor", maka seekor cucut yang mendadak menyambar kepadanya kena terhajar mampus. Setelah dua kali melejit, ikan itu berdiam, tubuhnya mengambang, kelihatan perutnya yang putih. Besar sekali ikan itu.
"Tangan yang lihai!" Pek Thong memuji. "Hayo, kau sebenarnya mau bertaruh atau tidak?"
"Maafkan aku, tidak dapat aku menemani kau!" Cit Kong menolak, tetapi ia tertawa lebar. Pek Thong pun tertawa terbahak-bahak.
"Eh, Adik, kau takut atau tidak?" ia bertanya pada adik angkatnya.
"Mulanya takut, tapi sekarang tidak lagi," sahut Kwee Ceng. Sebenarnya ia ngeri, tetapi menyaksikan keberanian guru dan kakak angkatnya yang demikian gembira, ia pun jadi tertarik hatinya. Ia tengah berkata begitu ketika seekor ikan menyambar ke arahnya. Ia lantas berkelit, tangan kirinya diangsurkan. Itulah pancingan. Ikan itu kena dijebak. Dia melompat ke muka air dan menerjang! Kwee Ceng menyingkirkan tangan kirinya yang hendak disambar itu, berbarengan dengan itu, dengan tangan kanannya ia menikam.