Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 101

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 101

"Suhu, mari perkenalkan," katanya kemudian. "Inilah beberapa cianpwee Rimba Persilatan yang diundang ayahku."

"Hm!" suara imam itu. Ia segera menghampiri kakaknya yang sudah tidak berkelahi lagi. Ia terkejut melihat tangan kanan kakaknya itu menghitam sampai ke lengan.

"Ha, racun ini hebat sekali!" serunya.

Lantas ia berpaling kepada Pheng Lian Houw dengan suara lantang, "Keluarkan obat penawarnya!" Pheng Lian Houw ragu, ia melihat orang itu segera mencapai ajalnya.

Ma Giok terus mengerahkan tenaga dalamnya. Ia berhasil mencegah menjalarnya racun itu, yang perlahan-lahan mulai turun.

Wanyen Kang lari kepada ibunya dan berkata, "Ma, akhirnya kita dapat menemukanmu!"

Namun, Pauw Sek Yok berkata dengan keras, "Untuk memaksaku kembali ke istana, tidak bisa!" Wanyen Kang dan Wanyen Lieh menjadi heran.

"Apa?!" seru mereka.

Pauw Sek Yok menunjuk kepada Yo Tiat Sim, lalu berkata nyaring, "Suamiku masih belum mati. Meski ia pergi ke ujung langit dan pangkal laut, akan aku ikuti dia!"

Wanyen Lieh heran, tetapi ia segera menoleh kepada Nio Cu Ong dan memberi isyarat dengan kedutan mulutnya. Nio Cu Ong mengerti. Sejurus kemudian, ia menyerang Yo Tiat Sim dengan tiga batang paku.

Khu Cie Kee yang waspada melihat serangan itu dan menjadi kaget. Ia tidak memiliki senjata rahasia untuk menangkis paku tersebut. Tiat Sim tentu tidak dapat menghindar. Namun, ia tidak putus asa. Ia menyambar seorang serdadu di dekatnya dan melemparkan tubuh orang itu ke arah lintasan paku. Segera terdengar jeritan serdadu yang menjadi korban ketiga paku tersebut.

Melihat itu, Nio Cu Ong menjadi gusar. Ia melompat ke arah si imam untuk menerjang. Pheng Lian Houw memahami situasi; ia memang tidak sudi menyerahkan obat penawar. Tanpa ragu, ia melompat ke arah Pauw Sek Yok untuk menangkap wanita yang dicari Wanyen Lieh itu.

Khu Cie Kee melihat sepak terjang orang itu dan langsung melompat menyerang. Mulanya ia menikam Nio Cu Ong, lalu membabat orang bermarga Pheng tersebut. Keduanya terpaksa melompat mundur.

Khu Cie Kee segera menghadapi Wanyen Kang. Ia membentak, "Anak tidak tahu diri! Kau mengakui penjahat sebagai ayahmu selama delapan belas tahun. Hari ini kau bertemu ayah kandungmu, mengapa kau masih tidak mau mengenalinya?"

Wanyen Kang sebenarnya telah mendengar penjelasan ibunya dan mulai mempercayainya. Sekarang, mendengar perkataan gurunya, ia menoleh kepada Yo Tiat Sim. Ia melihat seorang pria berpakaian compang-camping yang kotor dengan tanah. Kemudian, ia berpaling kepada Wanyen Lieh, pria tampan dengan pakaian indah. Keduanya bagaikan langit dan bumi.

Ia berpikir, "Mustahil aku meninggalkan kekayaan dan kemuliaan untuk mengikuti orang melarat dan hidup merantau. Tidak, seribu kali tidak!" Maka, ia berseru, "Suhu, jangan dengarkan ocehan iblis ini! Suhu, tolonglah ibuku!"

Khu Cie Kee menjadi sangat murka. "Kau sesat! Kau tidak sadar, kau lebih buruk dari binatang!" dampratnya.

Pheng Lian Houw melihat guru dan murid bentrok, mereka pun memperkeras serangan. Wanyen Kang melihat gurunya dalam bahaya, tetapi ia berdiam diri saja.

Imam itu menjadi sangat marah. "Binatang, lihat aku!" bentaknya. Wanyen Kang terdiam, hatinya ciut. Ia memang paling takut kepada gurunya itu. Maka, ia berharap Pheng Lian Houw menang agar gurunya terbinasakan, dengan begitu ia akan selamat.

Tak lama kemudian, lengan kanan Khu Cie Kee tertusuk ujung gunting Nio Cu Ong. Lukanya tidak fatal, tetapi mengeluarkan darah. Ma Giok melihat bahaya mengancam, ia mengeluarkan sebiji liu-seng, menyulutnya, lalu melemparkannya ke udara hingga meluncur sinar api biru. Itulah tanda dari kaum Coan Cin Pay.

"Imam tua itu memanggil kawan!" seru Pheng Lian Houw. Ia meninggalkan Khu Cie Kee untuk menyerang Ma Giok, dibantu oleh See Thong Thian.

Baru saja mereka bergebrak, di jurusan barat laut terlihat meluncurnya sinar biru juga. "Ong sute di arah kiri sana!" seru Khu Cie Kee girang. Ia menggeser pedangnya ke tangan kiri dan menyerang hebat hingga berhasil membuka jalan.

"Ke sana!" seru Ma Giok sambil menunjuk ke arah barat laut. Yo Tiat Sim bersama Liam Cu, putrinya, melindungi Pauw Sek Yok dan lari ke arah yang ditunjuk. Ma Giok menyusul di belakang, sementara Khu Cie Kee menunjukkan kepandaiannya dengan menghalangi musuh dari belakang. See Thong Thian berniat mencegat Pauw Sek Yok, tetapi semua usahanya sia-sia karena selalu dirintangi oleh Khu Cie Kee atau Ma Giok.

Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah hotel kecil tempat Ong Cie It berada. Khu Cie Kee heran, "Mengapa Ong Sute belum menyambut?" Baru saja berpikir, ia melihat adik seperguruannya muncul dengan dibantu tongkat. Kedua pihak terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa dari kaum Coan Cin Pay, justru mereka yang paling tangguh yang terluka.

"Mundur ke dalam hotel!" seru Khu Cie Kee.

"Serahkan wanita itu baik-baik, aku akan mengampuni kalian semua!" seru Wanyen Lieh.

"Siapa yang menghendaki pengampunanmu, bangsat anjing dari negara Kim!" damprat Tiang Cun Cu. Sambil berseru, imam ini memberikan perlawanan hebat hingga Pheng Lian Houw dan yang lainnya merasa kagum.

Yo Tiat Sim menyaksikan pertempuran itu. Ia merasa tidak seharusnya Khu Cie Kee bersaudara menjadi korban karenanya. Maka, tiba-tiba ia menarik tangan Sek Yok untuk keluar sambil berseru, "Berhenti semuanya! Di sinilah ajal kami!"

Di tangannya, Tiat Sim mencekal tombaknya, lalu menikam ulu hatinya sendiri. Ia roboh bermandikan darah. Sek Yok tidak berduka, ia tidak menghampiri suaminya, melainkan tertawa menyeringai. Ia mencabut tombak dari tubuh suaminya dan menancapkan gagangnya ke tanah.

Ia menghadap Wanyen Kang seraya berkata, "Anak, masih kau tidak percaya ini ayah kandungmu?" Tanpa menunggu jawaban, ia menjatuhkan dirinya ke ujung tombak tersebut dan roboh bermandikan darah.

Kejadian ini sangat hebat; semua orang tidak menduganya sehingga pertempuran berhenti dengan sendirinya. Wanyen Kang sangat kaget sambil menjerit, "Ibu!" Ia lari untuk menolong ibunya dan menangis melihat dada ibunya tertancap tombak.

Khu Cie Kee memeriksa luka kedua orang itu, namun ia putus asa. Wanyen Kang memeluk ibunya, sementara Liam Cu memeluk ayahnya. Keduanya meraung-raung.

"Saudara Yo," kata Tiang Cun Cu kepada Tiat Sim. "Apa pesanmu? Katakanlah padaku, nanti aku akan melakukannya."

Belum sempat Tiat Sim menjawab, mereka menoleh ke arah suara langkah kaki orang banyak. Mereka melihat kedatangan Kanglam Liok Koay bersama Kwee Ceng. Keenam manusia aneh itu melihat See Thong Thian berkerumun dan menduga akan terjadi pertempuran lagi, maka mereka menyiapkan senjata masing-masing.

Ketika mereka sudah dekat, mereka heran. Di sana ada dua orang terluka yang tengah dipeluk, sementara yang lain mengawasi dengan raut wajah tidak wajar. Kwee Ceng mengenali Yo Tiat Sim dan segera menghampirinya. "Paman Yo, kau kenapa?" tanyanya.

Napas Tiat Sim sudah lemah. Ia mengenali anak muda itu dan tersenyum. "Dulu ayahmu dan aku telah berjanji, kalau kami mendapat anak lelaki dan perempuan, kami akan berbesanan. Anak pungutku ini pun sudah seperti anakku sendiri..." Ia menoleh kepada Khu Cie Kee dan melanjutkan, "Totiang, tolong kau urusi perjodohan ini. Aku mati pun akan tenang."

"Tenangkan hatimu, Saudara Yo," sahut imam itu.

Pauw Sek Yok rebah di samping suaminya. Tangan kirinya mencekal erat tangan suaminya seolah takut ia akan pergi. Ia seperti sudah tidak sadarkan diri, namun samar-samar masih bisa mendengar pesan suaminya. Tiba-tiba ia mengangkat tangan, merogoh sakunya, dan mengeluarkan sebilah pisau belati. "Ini buktinya," katanya, lalu ia tersenyum dan embusan napasnya berhenti.

Khu Cie Kee mengambil pisau itu. Ia mengenali pisau yang dulu ia berikan di Gu-kee-cun, Lim-an. Pada pisau itu terukir jelas dua huruf: "Kwee Ceng". Yo Tiat Sim berbisik kepada anak muda itu, "Masih ada sebilah lagi di tangan ibumu. Mengingat ayahmu, aku minta kau perlakukan anakku ini dengan baik."

"Aku akan mengurus semuanya, tenangkan dirimu," janji Khu Cie Kee.

Yo Tiat Sim benar-benar menutup kedua matanya dengan tenteram. Kwee Ceng berduka sekaligus pusing. "Yong-jie begitu baik terhadapku, mana bisa aku menikah dengan orang lain?" katanya dalam hati. Lalu ia kaget dan berpikir, "Mengapa aku melupakan putri Gochin? Khan Agung telah menjodohkan putrinya kepadaku! Ini... ini bagaimana?" Selama hari-hari belakangan ini, Kwee Ceng sering ingat akan putri Gochin.

Cu Cong dan kawan-kawan berdiam diri atas pesan Tiat Sim itu. Mereka tidak berniat menolak pesan terakhir tersebut, tetapi karena tidak paham duduk perkaranya, mereka tidak berani bertindak lancang.

Wanyen Lieh menghadapi kejadian hebat itu dengan duka yang mendalam. Ia segera memutar tubuh dan meninggalkan tempat itu. Sejak mengambil Pauw Sek Yok sebagai istrinya, ia telah mencoba segala daya untuk merebut cinta nyonya itu, namun tidak pernah berhasil sepenuhnya. Selama belasan tahun, Pauw Sek Yok tidak pernah melupakan Yo Tiat Sim.

Menampak pangeran itu berlalu, See Thong Thian dan kawan-kawan segera pergi juga karena ragu untuk kembali bertempur. Ketiga imam dari Coan Cin Pay itu sudah cukup tangguh, ditambah lagi sekarang ada Kanglam Liok Koay.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment