Chapter 164
"Siapa yang bermain-main denganmu?" dia berkata.
"Kau menjodohkan putrimu kepada dua keluarga. Apa artinya ini?" Ia lantas menoleh kepada Auwyang Hong. Ia berkata, "Akulah orang perantara dari Keluarga Kwee! Kau sendiri, mana orang perantaramu?"
Auwyang Hong tidak menyangka bakal ditanya begitu rupa; ia tidak dapat menjawab dan tercengang. Baru kemudian ia berkata, "Saudara Yok sudah menerima dengan baik, aku pun sudah setuju, maka itu, perlu apa lagi orang perantara?"
"Apakah kau tahu masih ada satu orang yang tidak menerima dengan baik?" tanya Cit Kong.
"Siapakah dia?" Auwyang Hong menegaskan.
Ang Cit Kong menyahuti, "Maafkan aku, itulah aku, si pengemis tua!"
Auwyang Hong berdiam. Ia mengerti bahwa ia tidak mungkin tidak bertempur dengan pengemis ini, maka ia lantas memikirkan daya perlawanan.
Ang Cit Kong tertawa, lalu berkata pula, "Keponakanmu itu tidak bagus kelakuannya, mana dia cocok untuk dijodohkan dengan putri yang cantik manis dari Saudara Yok ini? Umpama kata benar kamu berdua memaksa mereka menikah, bagaimana kalau mereka sendiri tidak akur dan setiap hari hanya berkelahi? Apa artinya itu?"
Tertarik hati Oey Yok Su mendengar perkataan pengemis itu, ia lantas melirik kepada putrinya. Ia mendapati Oey Yong, dengan sinar mata penuh kecintaan, sedang mengawasi Kwee Ceng. Sebaliknya, melihat Kwee Ceng, timbul pula rasa jemunya. Oey Yok Su adalah seorang yang terang otaknya, pandai ilmu silat dan sastra, pandai juga memainkan khim, menulis aksara, serta melukis. Sedari masih muda, semua sahabatnya adalah orang-orang cerdik pandai. Pun istri serta putrinya ini adalah orang-orang pintar. Maka, mengingat anaknya yang cantik dan pintar itu mesti dipasangkan dengan Kwee Ceng yang tolol itu, sungguh ia tidak mufakat. Dibandingkan dengan Auwyang Kongcu, Kwee Ceng kalah berlipat ganda. Maka itu, ia lebih condong kepada keponakan See Tok itu.
Namun, di situ ada Ang Cit Kong. Maka akhirnya, ia memikirkan satu jalan.
"Saudara Hong," katanya kemudian, "Keponakanmu terluka, baik kau obati dulu dia, urusan nanti kita damaikan pula."
Inilah yang Auwyang Hong harapkan, maka lantas ia menggapai keponakannya, lalu bersama-sama mereka masuk ke dalam hutan bambu. Lewat sesaat, mereka sudah kembali ke paseban. Auwyang Hong telah berhasil mengeluarkan jarum emas dan menyambung tangan keponakannya itu.
Oey Yok Su lantas berbicara, katanya, "Anakku bertubuh lemah dan nakal, sebenarnya sulit baginya untuk melayani seorang budiman, maka di luar dugaanku, Saudara Cit dan Saudara Hong telah memandang wajahku dan sama-sama melamarnya. Hal ini adalah suatu kehormatan untukku. Sebenarnya anakku ini sudah dijodohkan dengan pihak Auwyang, tetapi sekarang ada titah Saudara Cit, sukar bagiku untuk menolak. Kejadian ini menyulitkan aku. Sekarang, aku pikir, baik diatur begini saja. Coba kedua Saudara lihat, pemecahan ini dapat dilakukan atau tidak?"
"Lekas bilang, lekas bilang!" kata Ang Cit Kong. "Aku, si pengemis tua, paling tidak suka bicara pakai segala aturan!"
Oey Yok Su tersenyum, ia berkata pula, "Sebenarnya anakku tidak mengerti segala apa, akan tetapi meskipun demikian, aku masih mengharap dia nanti menikah dengan seorang suami yang baik. Auwyang Sieheng adalah keponakan Saudara Hong dan Kwee Sieheng adalah murid pandai dari Saudara Cit. Kedua-duanya baik, sukar bagiku untuk memilih, tidak dapat aku membuang salah satunya. Karena itu, aku pikir baiklah mereka diuji saja. Di sini aku mempunyai tiga macam syarat. Pendeknya, siapa yang lulus, anakku akan dijodohkan dengannya, aku tidak akan berlaku berat sebelah. Bagaimana, sahabat-sahabatku?"
Auwyang Hong lantas bertepuk tangan. "Bagus, bagus!" serunya. "Cuma sekarang keponakanku sedang terluka, kalau mau adu silat, aku minta supaya itu ditunda sampai ia sudah sembuh."
Mendengar itu, Ang Cit Kong berpikir, "Kau, si Oey tersesat, kau banyak akalnya. Jikalau kau mengajukan ujian ilmu surat, syair, atau nyanyi, tentulah muridku yang tolol gagal. Kau bilang kau tidak mau berat sebelah, sebenarnya pikiranmu sudah lain. Maka tidak ada jalan lain, baiklah aku ambil caraku!"
Ia lantas tertawa sambil berlenggak, terus berkata, "Kita semua tukang silat, kalau kita tidak adu silat, apa kita mesti adu main gembul-gembulan? Keponakanmu terluka, kau sendiri tidak, marilah, mari kita berdua yang bertarung lebih dulu!"
Begitu ia selesai bicara, tanpa menantikan jawaban, Ang Cit Kong sudah lantas menyerang ke bahu lawannya. Auwyang Hong berkelit, ia mundur. Ang Cit Kong meletakkan tongkat bambunya di meja kecil di sampingnya. "Kau balaslah!" tantangnya.
Ia menantang, tetapi kembali ia menyerang beruntun hingga tujuh jurus. Auwyang Hong berkelit berulang-ulang, ke kiri dan ke kanan. Habis tujuh serangan itu, dengan tangan kanannya ia menancap tongkatnya, sedangkan dengan tangan kirinya ia pun membalas tujuh kali. Oey Yok Su menyaksikan itu, ia bersorak memuji. Ia tidak mau memisahkan, karena ingin melihat kemajuan mereka setelah berselang dua puluh tahun sejak mereka mengadu kepandaian. Keduanya, Ang Cit Kong dan Auwyang Hong, adalah ketua partai. Dua puluh tahun lalu mereka sudah lihai, dan setelah menguji kepandaian di Hoa San, mereka masing-masing meyakinkan lebih jauh kepandaian mereka. Dapat dimengerti bahwa mereka telah maju banyak. Maka sekarang, bertarung di Tho Hoa To ini, kepandaian mereka jauh berbeda daripada waktu di Hoa San.
Mereka saling serang dengan cepat sekali, tetapi semua itu adalah permulaan saja, untuk saling menggertak. Kwee Ceng menonton dengan perhatian penuh. Ia melihat gerakan kedua pihak sangat lincah. Kegirangannya memuncak karena ia mengerti semua jurus itu. Ia telah hafal kitab Kiu Im Cin-keng, dan sekarang ia mendapat kenyataan bahwa semua gerak-gerik mereka mirip dengan isi kitab tersebut. Untuk menyaksikan ini, ia mimpi pun tidak. Semua yang ia lihat termuat dalam kitab bagian atas. Semua itu ilmu silat yang lihai. Tanpa disadari, tangannya menjadi gatal.
Dengan cepat, kedua jago itu sudah bertempur hingga tiga ratus jurus lebih. Baik Ang Cit Kong maupun Auwyang Hong kagum, mereka saling memuji secara diam-diam. Oey Yok Su yang menonton pun kagum dan menghela napas. Di dalam hatinya ia berkata, "Aku berdiam di Tho Hoa To ini dengan melatih diri sungguh-sungguh, aku percaya setelah Ong Tiong Yang meninggal dunia, aku bakal jadi orang gagah nomor satu di kolong langit ini. Siapa tahu sekarang si pengemis tua bangka ini dan si biang racun tua telah mengambil jalannya masing-masing yang hebat sekali!"
Auwyang Kongcu dan Oey Yong sama-sama tegang hatinya; mereka mengharapkan kemenangan pihak masing-masing. Mereka mengerti silat, tetapi tidak mengerti ilmu silat dari kedua jago yang sedang bertarung itu. Sama-sama mereka terus mengawasi dengan perhatian penuh.
Satu kali Oey Yong melirik ke samping, lantas ia menjadi heran. Ia melihat bayangan orang di sampingnya, bayangan yang sedang bergerak-gerak, terutama kaki tangannya, seperti orang menari. Ia lantas menoleh, maka ia kenali itulah bayangan Kwee Ceng. Wajah si pemuda tegang dan tampak seperti korban kegirangan luar biasa.
"Engko Ceng!" panggilnya perlahan. Ia heran dan khawatir, apalagi panggilannya itu tidak disahuti si anak muda, yang terus bergerak tak henti-hentinya. Nyata sekali ia sedang bersilat seorang diri. Mau tidak mau, Oey Yong mengawasi. Lama juga ia memperhatikan, baru ia mengerti. Terang sekarang, Kwee Ceng berlatih silat menuruti gerak-gerik kedua jago tua itu.
Perubahan terjadi dalam cara bertempur kedua jago itu. Kalau tadinya mereka berperang cepat sekali, sekarang mereka menjadi lambat; ada kalanya mereka menyerang setelah berpikir lebih dahulu. Bahkan anehnya, ada kalanya setelah bergebrak, mereka sama-sama duduk bersila untuk beristirahat, kemudian bangkit pula untuk mulai bertempur lagi. Mereka bukan seperti mengadu silat, bahkan juga bukan seperti dua saudara seperguruan yang sedang berlatih. Namun, wajah mereka menunjukkan ketegangan yang bertambah-tambah.
Oey Yong berpaling kepada ayahnya, ia mendapati ayahnya itu bengong mengawasi kedua jago tersebut. Ayahnya tampak tegang. Ketika nona ini menoleh kepada Auwyang Kongcu, ia mendapati kenyataan pemuda itu tenang seperti biasa, kipasnya dipakai mengipas perlahan-lahan.
Kwee Ceng berhenti bersilat, ia mengawasi kedua orang itu, lalu seperti lupa pada dirinya sendiri, ia bersorak dengan pujiannya.
"He, bocah tolol, kau mengerti apa?!" Auwyang Kongcu menegur, murka. "Apa perlunya kau membuat banyak berisik?!"
"Apa perlunya kau banyak rewel?!" Oey Yong balas menegur. "Kau pun mengerti apa?!"
Ditegur begitu, pemuda ini tertawa. "Bocah ini bergerak secara tolol!" katanya. "Dia masih sangat muda, mana dia tahu kepandaian istimewa dari pamanku ini?"
"Kau toh bukan dia, mana kau tahu dia mengerti atau tidak!" Oey Yong menegur pula.
Selagi muda-mudi ini berselisih mulut, Oey Yok Su tidak mempedulikan, dia tetap mengawasi sepak terjang kedua sahabatnya itu. Kwee Ceng pun memperhatikan dengan diam-diam. Gerakan Ang Cit Kong dan Auwyang Hong menjadi lebih lambat lagi. Yang satu mengangkat tangan kirinya, dengan jari tengahnya menyentil perlahan batok kepalanya sendiri. Yang lainnya, dengan kedua tangan di kuping, berjongkok di tanah dengan roman berpikir keras. Hanya sejenak kemudian, keduanya sama-sama berseru, terus melompat bangun untuk saling serang pula.
"Bagus! Bagus!" Kwee Ceng berseru melihat serangan itu. Habis itu, kedua lawan itu berpisah pula. Kembali mereka berpikir. Terang sudah, masing-masing seperti sudah mengetahui ilmu silat lawan, maka perlu memikirkan cara penyerangan baru. Dua puluh tahun sejak kedua lawan ini berpisah sehabis bertempur di Hoa San, mereka masing-masing satu tinggal di Tionggan, satu yang lain di See Hek, Wilayah Barat.